
Satu bulan kemudian
"Sayang, bantu benerin dasinya, dong." Panggil Ilham.
Siti yang baru selesai memandikan si kembar langsung mendekati suaminya. Dengan senyum terbaiknya, Siti mengambil bangku kecil agar sampai sejajar dengan Ilham.
"Aku lagi fokus, mas. Nggak usah ngeliatin segitunya."
"I love you."
"We love you. Thank you papa." Balas Siti sambil mengecup pipi suaminya.
"Kamu yakin nggak ikut, Ma. Ini hari pelantikanku lo."
Siti sebenarnya mau sekali ikut ke acara pelantikan dokter dirumah sakit. Melihat suaminya dilantik menjadi dokter lagi setelah masalah membuat suaminya memilih resign.
Tapi dia minder dengan kondisi tubuhnya yang sekarang. Bobotnya naik 5 kilo sejak melahirkan, apalagi sejak menyusui daya makannya menjadi naik. Dia mau diet tapi keluarganya melarang.
"Bobot kamu naik karena efek menyusui,ti. Selama anakmu masih membutuhkan ASI. selama itu daya makanmu semakin naik. Nikmati saja, Ti. Toh suamimu nggak protes sama kondisimu saat ini." Ucap Mama Mila menenangkan sang menantu yang mulai minder sama bentuk tubuhnya.
"Nanti diluar sana mas Ilham ketemu cewek cantik. Yang lebih bohay dari aku."
"Ti, kalau seperti itu, dari dulu dia udah nerima Jihan. Tapi nyatanya dia tetap mengejar cinta seorang gadis yang bernama Siti Marlina. Kamu tenang saja, nak. Nanti kalau Ilham bandel bilang sama mama. Biar mama yang hukum."
"Makasih, ma." Peluk Siti pada mertuanya.
Kembali ke masa sekarang
"Mama ... maukan nemenin Papa ke acara pelantikan rumah sakit?" Bujuk Ilham pada istrinya.
Ilham tahu sejak bobot tubuh Siti naik, istrinya jadi minder keluar rumah. Padahal orang-orang disekitarnya tidak pernah mempermasalahkan tentang body istrinya. Ilham paham kalau menyusui itu energi yang besar. Apalagi Daffa putra mereka Asi nya lebih kuat dari kakaknya, Dita. Ilham pernah membaca kalau wanita menyusui tidak boleh banyak pikiran, sekarang banyak sekali kasus baby blues menimpa para ibu setelah melahirkan. Dia tidak ingin hal itu menimpa sang istri, sebisa mungkin dia berusaha membuat istrinya senang. Ilham juga sudah meminta keluarga yang agar bersikap manis pada sang istrinya. Tapi saat ini istrinya selalu mengungkit bobotnya yang naik.
__ADS_1
"Tapi, Pa. Mama malu.. badan mama kayak karung.." Ilham menutup bibir Siti. Menikmati nikmatnya bibir istrinya dengan rakus. Lama mereka menikmati pagutan itu.
"Ma... mau kamu bentuk seperti apapun aku tetap cinta sama kamu. Kamu itu cahaya keluarga, cahaya hidupku dan anak-anak kita. Jadi please jangan bilang seperti itu lagi. Aku nggak suka dengarnya.
Ikut, Ya. Kan kalau orang tahu siapa istri papa, nggak ada lagi yang berani macam-macam sama rumah tangga kita dan anak-anak kita."
Siti tersipu malu saat suaminya memuji. Ya, walaupun dia tahu kalau suami raja gombal. Tapi tetap saja dia gampang kemakan gombalan suaminya.
"Jadi gimana? Mau ikut nggak?" Ilham menjentik hidung istrinya.
"Iya, tapi Daffa dan Dita gimana?"
"Sayang, mereka pasti ikutlah. Masa ditinggal."
"Tapi mereka belum genap 40 hari mas. Pamali dibawa keluar. Udahlah mas, aku minta maaf nggak bisa ikut. Nggak papakan."
"Kalian pergi saja, Daffa dan Dita biar sama mama saja. Ti, tinggalkan stok ASI-mu."
Ilham bukan saja menjadi dokter, tapi sekaligus mendapat kesempatan beasiswa di Belanda. Mau tidak mau, Siti dan Si kembar akan diboyong ke Belanda.
"Mas, kita dibelanda berapa lama?"
"Paling sekitar 4 atau 5 tahun. Kenapa? Kamu nggak mau ikut?"
"Emang kamu tahan jauh dari aku?"
"Sejauh ini aku belum menemukan yang lebih dari kamu." Cetus Ilham.
"Oooo ... berarti ada niat cari yang lebih dari aku. Yang tahan dengan sikap manja kamu, yang tahan dengan ketidakpekaan kamu, yang dengan suami jarang pulang, Yang tahan dengan..."
"Dengan istri bawel, cerewet, sensitif dan ngangenin." Sambung Ilham.
__ADS_1
"Apapun makanannya minumnya tetap teh Sosro. Apapun yang terjadi, cintaku hanya untukmu, Ti. Apa sampai sekarang kamu masih meragukan aku? Apa kurang cukup perjuanganku selama ini?" Lagi- lagi Ilham mencoba merayu sang istri.
Ini kedua anak kami yang bernama Anindita Azarin Saputri Ramadhanti dan Abyan Daffa saputra Ramadhani. Dari nama itu kami berharap mereka menjadi penerang dalam rumah tangga kami, seseorang yang bisa menjadi pembela bagi saudaranya.
Sejak Daffa dan Dita pulang kerumah, kediaman Pramono selalu rame, tentu saja para oma dan buyut yang silih berganti menengok sang cucu. Rona bahagia diwajah mereka terpancar. Terkadang para Oma dan Opa membujuk Ilham agar membawa sang cucu ke kediaman mereka.
Dan pagi ini
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Para Oma datang menjenguk sang cucu. Suasana rumah yang baru saja hening, tiba-tiba rame kembali.
"Cucu ganteng Oma..." Mama Fatimah menggendong Daffa sambil mengayunkan sang cucu.
"Cucu cantik Oma..." Mama Mila menggendong Dita lalu mencium bayi berusia 30 hari tersebut.
"Cepat gede ya, nak. Biar bisa main sama oma dan opa."
"Mama, papa, Mama mila dan papa Pram. Kami berangkat ke acara pelantikan mas Ilham. Kami titip Daffa dan Dita, ya." Pamit Siti.
"Ti, kamu nggak pake korset, kah. Kok tubuhmu masih terlihat melar." omel mama Fatimah.
"Enggak, ma. Sesak nafasku pake itu."
"Pake dong, nak. Supaya tubuhmu tetap singset dan tidak melar. Lagian kamu itu masih 30 hari. Pamali keluyuran."
Siti dan Ilham saling memandang.
Apakah Siti urung berangkat ke pelantikan Ilham?
__ADS_1