
POV Author
Malam ini langit penuh bertabur bintang, tapi tidak bagi seorang lelaki yang sedang melamun. Lelaki itu sedang duduk di sebuah taman tak jauh dari rumahnya. Tak peduli dengan gelapnya suasana sekitar taman.
Namun pria tersebut asyik dalam kegalauannya. Sorot matanya hanya fokus satu arah, tapi raganya diam tak sejalan dengan hatinya.
Ilham masih memilih bertahan di taman, setelah papanya memohon untuk melupakan siti, menerima wanita pilihan mereka. Papa juga mengatakan dia akan menikahkan ilham dengan wanita itu. Wanita yang tak diketahui namanya, wanita yang tak diketahui seperti apa wujudnya.
Besok dirinya dan keluarga akan berangkat ke sukabumi. Untuk bertemu keluarga wanita itu, lusa dirinya sudah bukan milik Siti lagi. Tapi milik wanita lain. Ilham mencoba menghubungi Siti, ternyata aktif ponselnya.
"Halo, ti. Kamu dimana,ti?"
Tak ada jawaban, hanya diam membisu. Ilham tak patah semangat, berulang kali mencoba menghubungi, tapi tak diangkat.
"Ti, tolong jawab! Kamu dimana!"
"Ham" Suara siti terdengar habis menangis.
"Ti, mari kita bertemu. Aku mau bicara tentang kita."
Hening tak ada jawaban.
"Ham, lusa aku akan menikah dengan lelaki pilihan papa. Maafkan aku tidak bisa menepati janji kita. Maafkan aku ilham."
"Ti, dimana kamu akan menikah? Biar aku susul."
"Maaf, ham. Aku mohon kamu mengerti keadaanku. Kita memang tidak berjodoh, ham. Maafkan aku, ham."
"Setelah sejauh ini, kamu bisa dengan mudah bicara seperti itu, ti. Dimana perasaanmu, ti. Aku kecewa sama kamu, ti. Oke kalau itu mau kamu, lusa aku juga akan menikah dengan wanita pilihan orangtuaku."
"Maaf"
ilham membanting handphonenya, menendang semua yang ada didekatnya. Hatinya hancur setelah mendapat telepon dari siti. Tubuhnya terasa lemah, lalu kembali mendaratkan bokongnya di kursi taman. Menangis! hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.
Aaaaaaaaaarrrrgggh
POV Ilham
Saat ini aku merasakan kecewa yang sangat mendalam. Kamu meminta aku untuk mengakhiri hubungan kita. Setelah berhari-hari menghilang, kamu tiba-tiba menelepon meminta aku mengikhlaskan dirinya untuk menikah dengan laki-laki lain.
Aku bisa apa ... aku ingin sekali menyusulmu,ti. Aku ingin sekali menyusulmu menghentikan rencana pernikahanmu.
Apakah kita lagi-lagi harus berakhir seperti ini? Apakah aku harus mengikhlaskanmu untuk kesekian kalinya?
Siang tadi, papa mengumumkan akan menikahkanku dengan anak temannya di sukabumi. Entah kenapa aku merasa ada rencana terselubung dari mereka. Apa rencana mereka? aku sendiri tidak tahu.
Barusan siti meneleponku dan mengabari rencana pernikahannya dengan lelaki pilihan papanya. Syok! itu pasti. Setelah perjalanan panjang kisah kami, sekarang harus berakhir seperti ini.
__ADS_1
Apakah aku harus menyusulnya? sedangkan aku tidak tahu dimana Siti berada.
Ti, dimanapun kamu berada. Aku harap kamu tahu, kalau aku masih menunggumu disini. Berharap kamu mengatakan bahwa tidak ada perjodohan di keluargamu. Berharap kamu mengatakan "ilham tolong susul aku?", tapi kamu malah melarangku menyusulmu.
Kamu tahu,ti! Sakit rasanya saat kamu memintaku untuk melupakan yang terjadi diantara kita. Disaat aku menanti kabarmu, berhari-hari aku ke apartemen tapi keluargamu tak ada dirumah. Tiba-tiba kamu menelepon dan mengabari akan menikah.
Lebih mengejutkan lagi, papa pun memaksa menikahkanku dengan gadis yang tidak aku kenal.
Aku bisa apa ... mengajakmu kawin lari! Tapi bukankah kamu membenci hal itu. Aku masih ingin berjuang bersamamu, ti. Aku sadar, kalau aku bukan lelaki yang sempurna. Aku pernah menjadi sosok yang buruk dimasa lalu. Imaje ku sudah buruk dimata keluargamu.
Zreeet zreeet
Aku menatap layar handphone. Melihat siapa yang meneleponku. Mama, pasti dia cemas menunggu kabarku. Setelah tadi aku sempat berdebat dengan papa soal pernikahan dadakan itu.
"Ham, kamu dimana, nak?"
Aku mendengar nada kecemasan dari suara mama.
"Ilham ditaman dekat rumah, ma."
"Pulang, nak. Mama tahu ini berat buat kamu. Mama cuma ingin kamu berpikir realistis. Jangan terpaku dengan hal yang belum pasti, nak."
"Mama gampang bilang seperti itu. Padahal wanita pilihan papa juga belum pasti. Tolong, ma aku capek!"
"Wanita pilihan kami sudah pasti, ham. Karena dia tidak menolak rencana pernikahan ini. Mama yakin kamu akan menyukainya.Sekarang kamu pulang, mama ingin bicara."
Aku beranjak dari taman dengan jalan kaki. Karena lokasinya tak jauh dari rumah. 10 menit berjalan langsung sampai.
Aku menatap pagar rumahku. Sesekali menghempas nafas panjang, mencoba memantapkan langkah untuk masuk ke rumah.
"Ham"
Mama sudah menyambutku didepan rumah, membawa cemilan lalu mengajakku duduk di gazebo depan rumah. Aku duduk disamping mama menikmati cemilan yang ada didepan mata.
"Ham. Setelah menikah, mama mau kalian konsultasi ke dokter. Siapa tahu kamu nggak mandul. Bisa jadi ada masalah dikesehatanmu."
"Insyaallah, ma. Tapi apa perempuan itu mau menerima kondisiku? Aku takut dia malah minta cerai."
"Asal kamu bisa memberinya pengertian. Mama yakin dia bisa menerimamu."
"Mama ada photo gadis itu? Siapa namanya?"
"Tidak ada. Namanya Lina. Ham, semoga ini jadi yang terakhir, ya, nak. Mama tidak mau dengar lagi kamu mengejar wanita lain setelah menikah. Sekarang mama mau tanya sesuatu?"
"Apa, ma?"
"Kalau kamu memang mandul. Lalu siapa yang menghamili Raisa?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu, ma. Raisa tahu perihal kekuranganku, tapi dia malah datang meminta pertanggungjawabanku."
"Terus Jihan?"
"Sama, ma. Kak Jihan sudah mengakui kalau dia hamil dengan laki-laki lain."
"Pada dasarnya, perempuan memiliki sifat nrimo. Menerima apapun kekurangan pasangannya. Tapi yang kebanyakan tidak menerima kekurangan pasangannya adalah laki-laki. Kebanyakan mereka hanya mau dimengerti tapi tidak mau mengerti keadaan pasangannya.
Mama harap saat menikah nanti kamu jangan begitu, ya. Jangan ulangi kesalahan yang dulu pernah kamu lakukan."
Suasana malam ini mendadak hening. Mama memelukku dengan erat, wejangan dari mama sangat berarti untukku. Dulu, boro-boro aku dapat wejangan, yang ada mereka sangat murka padaku. Sampai papa Pramono mendiamkanku.
Mama, Papa, ilham janji akan menjadi suami yang baik. Maafkan ilham yang selama ini banyak mengecewakan kalian.
Siti, mungkin kamu benar. Kita tidak berjodoh. Buktinya sampai sejauh ini hubungan kita, kamu dan aku tetap saja berakhir dengan orang lain. Kita sudah berusaha memperjuangkan cinta kita, ti. Tapi sepertinya Tuhan memiliki rencana lain.
Aku membuka handphone untuk mengirim sebuah pesan. Pesan yang menandakan bahwa aku ikhlas merelakan siti untuk lelaki lain.
"Assalamualaikum, ti.
Selamat menempuh hidup baru.
Semoga pernikahan ini menjadi pernikahan yang terakhir buatmu.
Pernikahan adalah gerbang untuk memasuki tahap kehidupan baru, dan kamu baru saja memasukinya. Dengan penuh keikhlasan kudoakan semoga kehidupanmu kelak akan berbahagia selama-lamanya. Bisa menjadi keluarga SAMAWA selamanya.
Ting
Aku melihat tanda centang double, itu menandakan kalau Siti sudah membacanya. Terselip ada sesak didada, mungkin kalian akan menyebutku lebay. Tapi itulah yang kurasakan saat ini.
"Terimakasih, ham. Semoga kamu mendapatkan penggantiku."
Kubaca balasan dari Siti. Pasrah! Iya aku sudah pasrah. Bukan berarti aku tidak mau berjuang, kami sudah berjuang. Tapi sepertinya restu tak berpihak pada kami berdua.
...####...
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpakalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung
__ADS_1