
1 minggu kemudian
Tiara bangun pagi, membuka jendela kamarnya, menatap suaminya yang masih bergelayut dengan guling.
"Mas, udah siang."
Ilham menjelit kearah sinar matahari yang terang. Membuatnya silau menatap sang istri. Tiara langsung duduk didekat suaminya.
"Duh, bayi gedeku. Jam segini belum bangun." Tangan Tiara mencubit pipi suaminya.
Iya gemes! Gemes karena suaminya memilih kembali tidur setelah sholat subuh. Ilham menarik tubuh istrinya seolah menjadikan guling.
"Morning, sayang." Ilham mengecup leher sang istri dengan rakus.
"Mas aku sudah mandi, nih. Masa aku harus mandi lagi karena kemesummu." Tiara berontak saat suaminya memeluknya layaknya guling. Membuat dirinya susah bernafas.
Sekarang Tiara tinggal di rumah orangtua Ilham. Sebagai istri dia harus ikut kemana suaminya pergi.
Untungnya, mama Mila sangat welcome padanya.
Tiara dan mama Mila sering masak bersama, kadang mama Mila yang diajarin masak garang asem sama Tiara.
"Mas" Tiara sesak dalam dekapan suaminya.
"Jam berapa sekarang, sayang?"
"Jam delapan, mas."
Ilham terlonjak kaget, seketika dia baru ingat ada janji menangani pasien dirumah sakit.
"Kenapa nggak dari tadi, ti?" Ilham langsung terbirit-birit masuk kamar mandi.
Tiara heran dengan sikap suaminya. Tiara berasumsi kalau suaminya pasti ada janji urgen dirumah sakit.
"Mas, aku mau ke abang sayur didepan, ya. Kalau mau makan itu sudah aku siapkan dibawah tudung nasi."
"Iyaaaa! Siapin bajuku, hari ini ada yang mau operasi." Pekik ilham dari kamar mandi.
Astaga, suamiku ini. Udah tau mau operasi pasien, tapi masih molor jamnya.
Tiara menyiapkan pakaian suaminya yang sudah digantung dengan hanger. Tiara akan menyemprotkan parfum ke baju suaminya, tapi diurungkannya.
Nggak usah ah, ntar banyak suster centil yang caper sama mas ilham.
Tiara menyimpan parfum ke dalam lemari. Beberapa ibu-ibu sudah berkumpul mengerumuni abang sayur. Mereka menatap Tiara yang masih asing, karena baru hari ini bertemu.
"Pembantu barunya bu mila, ya?" Tebak ibu yang bernama Novita.
__ADS_1
Tiara hanya senyum-senyum saja saat mereka mengira dirinya pembantu.
"Dek, katanya si Ilham nikah lagi, ya?" tanya ibu yang bernama Dila.
"Iya, bu." Jawab Tiara masih mengulum senyum.
"Istrinya mana sih? Kok ngga pernah keluar?" Tanya bu Dila.
"Ada. Mas ada kangkung nggak? Sama ini mas apa ya namanya?" Tiara berpikir ulang nama bahan yang mau dibeli.
"Ini mbak kangkungnya. mbak mau apalagi?" tanya abang sayur.
"Ada daging kambing nggak. Soalnya mau masak tongseng, nih."
"Nggak ada mbak, daging kambing susah, kalo nggak dekat lebaran haji. Ganti sama daging sapi aja mbak. Saya ada kok? mbak mau?"
Tiara menggeleng sambil memilih bahan lainnya. Tak lama sebuah mobil berdiri didepan rumah. Tiara dengan sigap membuka pagar. Tapi ternyata mobil tersebut hanya berhenti didepan rumah.
"Ti" Mama Mila keluar dari mobil.
"Iya." jawab Tiara sambil tersenyum.
"Kok kamu yang buka pagar? indro mana?" Mama Mila merangkul menantunya.
"Nggak tahu, aku nggak lihat Indro."
"Ilham sudah berangkat"
Indro datang terbirit-birit meminta maaf pada mama Mila.
"Kamu kemana saja, sih? Masa menantu saya yang buka pagar." omel Mama Mila pada Indro.
Para ibu-ibu saling berpandangan menatap Tiara dari atas sampai bawah." Whaaaat! Menantu!" Pekik mereka membuat mama Mila dan Tiara bingung. Tak lama mereka tertawa sambil melenggang masuk ke dalam rumah. Sementara Indro yang akan memasukkan mobil mendapat interogerasi dari para ibu.
"Ndro, itu beneran menantu bu Mila?" tanya bu Dila masih tidak percaya.
"Iya, emang kenapa?Cantikkan, orang baik dan sederhana. Beda dengan istri mas Ilham yang dulu." Indro memuji istri majikannya.
Para ibu-ibu langsung bubar setelah menyelesaikan belanjanya. Terbayang dibenak mereka tampilan Tiara yang hanya memakai oblong dan celana baggy pants. Karena yang mereka dengar kalau istri Ilham adalah putri seorang CEO maskapai penerbangan.
Mereka tidak menyangka tampilan Tiara yang sederhana ternyata anak seorang konglomerat.
Sementara itu, di kediaman Pramono
Dua pria beda generasi itu sudah siap berangkat kerja. Papa Pramono dengan gagah menggunakan jas abu dan kemeja putih lengkap dengan dasinya, lain halnya dengan Ilham yang menggunakan kemeja biru muda dan jas dokternya.
Mama Mila tampak rapih karena akan ikut papa kekantor. Mama mila memang ikut mengatur pekerjaan dikantor karena itu dulunya adalah peninggalan orangtua mama Mila. Sayangnya, karena skandal Ilham, perusahaan tersebut mengalami kemerosotan dan hampir bangkrut. Beruntung Oma menyelamatkan perusahaan
__ADS_1
dengan mengganti nama keluarga Pramono.
Sementara Ilham mencari parfumnya yang sebenarnya disembunyikan Tiara. Mendengar suaminya sibuk mencari parfum, Tiara pun ikut pura pura sibuk didapur.
Sesekali bibir tipisnya terkikik mendengar omelan suaminya.
Siapa suruh tebar pesona dengan para suster dan pasien cewek disana. Batin Tiara.
"Udahlah, nanti aku cariin. Kamu berangkat! katanya operasi. Jangan santai, ingat itu nyawa lo taruhannya." Omel Tiara.
Mendengar celotehan sang istri, ilham mendadak curiga. Pasalnya dua hari yang lalu Tiara minta untuk tidak memakai parfum tersebut. Kecemburuan akut yang di idap sang istri sejak kejadian di rumah sakit sukabumi terbawa sampai sekarang. Bahkan Ilham berpikir, kalau itu efek dari haid.
"Belum berangkat, mas." Tiara melihat suaminya mengganti bajunya dengan kaos oblong.
"Nggak jadi." Ilham duduk menyantap brownies yang diambil dari kulkas.
"Kenapa? jangan banyak alasan,deh." Tiara menjewer telinga suaminya. Matanya melotot, tapi ilham tidak takut, tangan Ilham mendekap erat tubuh istrinya.
"Mana parfumku? Kamu kan yang sembunyiin?"
Tiara tersenyum, rupanya suaminya ini ngambek karena nggak menemukan parfum lavendernya. Bukan Tiara namanya yang gampang kepancing sama suaminya.
"Ya, ampun ikannya gosong!" Pekik Tiara berlari melepaskan diri dari ilham.
"Mau ngelak lagi? Kamu kan tadi udah pindahin ikannya. Sini aku kasih hukuman!"
Tiara berlari dari kejaran ilham. Mereka saling kejar-kejaran seperti anak kecil berebut mainan. Sesekali Tiara menjulurkan lidah karena ilham belum bisa menangkap dirinya.
"Nggak kena, weeeeeeek"
Pak Indro yang melihat sepasang pengantin baru saling kejar-kejaran cuma bisa menggelengkan kepala.
Mereka kayak anak kecil aja. Tapi biasanya memang pengantin baru lagi mesranya.
Tiara kaget Ilham menangkap dirinya lalu mengangkut dirinya. Ilham menggendong Tiara ala panggul. Membawa istrinya ke kamar lalu menghempas ke ranjang.
Zreeeet zreeeet zreeet
Ilham membuka handphonenya.
"Kamu dimana? Sebentar lagi Ibu Farida mau Operasi."
"Astaga! Maaf aku lupa. Iya sebentar lagi aku kesana."
Selamat .... selamat .... batin Tiara.
Ilham langsung pamit pergi ke rumah sakit pada istrinya, lalu berbisik " Hukumannya masih berlaku nanti malam. Bukankah kita belum melakukannya?"
__ADS_1
Tiara menelan salivanya, pasalnya dia masih beralasan sedang haid, padahal haidnya sudah kering dua hari yang lalu.
Dasar otak mesum! Batin Tiara.