
"Ti"
Tiara mendengar suara mama mertuanya langsung keluar kamar. Di salaminya tangan halus wanita yang sudah melahirkan suaminya tersebut.
"Mama kapan sampai?" tanya Tiara saat keluar dari kamar.
"Tadi malam, nak. Bagaimana kondisimu?"
"Alhamdulillah, ma saya .. " Tiara mengelus perutnya memberi kode pada mama mertuanya.
Kode itu ternyata hanya ditanggapi selintas dengan mama Mila. Tiara mengendurkan nafasnya, terbersit kenapa mama mertuanya cuek padanya.
Tiara menepis perasaannya, tak ingin suudzon lebih jauh.
Mungkin mama Mila masih capek. Makanya sikapnya begitu.
Kakinya melangkah ke dapur. Sudah ada suaminya, mama Mila dan papa Pram. Mereka sudah duduk di meja makan.Ilham menuntun istrinya lalu membuka kursi lalu mendudukan Tiara.
Semua dimeja makan terlihat serius dengan keheningan. Tiara memandang semua yang berada di meja makan, terasa kaku tidak seperti biasanya. Setelah makan Tiara memilih membereskan bekas makan Tapi dilarang oleh suaminya.
"Nggak usah biar aku saja. Kamu itu nggak boleh banyak bergerak."
"Tapi ..."
"Tolong dengarkan kata aku. aku tidak mau terjadi sesuatu pada anak kita."
Mama Mila dan Papa Pram saling menoleh "Anak?"
Sepertinya aku memang harus membagikan kabar bahagia ini pada mereka. Mereka pasti senang sekali kalau siti hamil. Mereka pasti tidak menyangka kalau aku bisa kasih cucu. Semoga kabar bahagia ini bisa membuat mereka senang.
Ilham mengajak Tiara duduk dimeja makan. Mencoba menjelaskan pada kedua orangtuanya tentang kondisi istrinya. Mama Mila dan Papa Pram memberikan pandangan tidak mengenakkan dimata Tiara. Menurut Tiara, sepertinya kedua mertuanya tidak akan bisa menerima penjelasan Ilham. Tapi Tiara menepis prasangkanya dan berharap semoga yang ditakutkan tidak akan terjadi.
Ilham menarik nafas panjang untuk menjelaskan pada kedua orangtuanya.
"Mama.. papa.. Ada yang ingin Ilham sampaikan terkait kondisi siti saat ini dan juga kondisi ilham yang ada hubungannya dengan keadaan siti sekarang."
"Tidak usah berbelit, ham. Katakan apa yang mau kamu bicarakan?" Ucap Papa Pramono datar.
"Mama.. Papa ... sebentar kalian akan jadi nenek dan kakek!" seru ilham terdengar nada bahagia.
"Apaaaaaaa!" Seru keduanya.
Mama Mila menatap Tiara dengan pandangan penuh arti. Sedangkan Pram masih mencoba mencerna ucapan putranya.
"Kamu kan mandul, ham. Kok siti bisa tiba-tiba hamil. Aneh buat mama dan papa, atau jangan-jangan istri kamu hamil dengan laki lain." Tuduh mama Mila.
Tiara menangis saat mendengar tuduhan mertuanya. Sakit hatinya ketika mama Mila melontarkan kata itu. Sedikit tidak terbersit dalam pikirannya untuk menyerahkan tubuhnya dengan laki-laki lain. Tiara masuk kekamar meninggalkan suami dan kedua mertuanya. Ilham mengejar istrinya masuk ke kamar, dia yakin istrinya sedih mendengar tuduhan orangtuanya.
__ADS_1
"Sayang." Ilham memeluk Tiara mencoba menenangkan.
"Mas, sedikitpun aku tidak pernah memikirkan untuk hamil dengan laki-laki lain. Ini anak kamu, mas, ini cucu mereka." isak Tiara yang masih syok mendengar reaksi mertuanya.
"Kan aku belum menjelaskan pada mereka kalau aku tidak mandul. Jadi wajar mereka kaget. Kamu disini saja dulu biar aku kasih pengertian pada mereka. Tolong pahami semua ini,ti."
Tiara menatap kearah suaminya. Perasaannya makin kesal setelah mendengar penjelasan Ilham. Begitu mudahnya suaminya minta dirinya tenang padahal ucapan mama Mila menusuk perasaannya.
"Ini semua gara-gara kamu, mas.Seandainya kamu tidak gegabah mengumumkan kemandulanmu, seandainya kamu mau berpikir sebelum bertindak, ini semua tidak akan terjadi, mas. Sekarang mereka berpikiran jelek tentang aku. Kamu yang sudah merusak semuanya, mas." Pekik Tiara memukul dada Ilham.
"Maafkan aku, sayang. Bukan maksudku untuk menghancurkan perasaan mereka, bukan juga maksud aku melukai perasaanmu. Aku cuma takut jika kamu berharap terlalu jauh pada akhirnya kamu juga lebih terluka. Makanya aku menjelaskan lebih cepat daripada kamu mendengar dari oranglain." Ilham menceritakan kelemahannya.
"Aku sudah bilang berkali-kali. Aku mencintaimu dan aku tidak mau kehilanganmu. Makanya aku belum bisa jujur saat kita belum menikah."
Ilham memeluk istrinya dengan erat. Mencoba menenangkan pikiran istrinya yang sedang kacau. Tangan kekarnya terus membelai rambut panjang istrinya. Perasaannya ikut bercampur aduk setelah mendengar ucapan mama Mila. Dia juga ikut merasakan apa yang istrinya rasakan.
Ilham duduk disudut ranjang, menyandarkan tubuh Tiara yang mulai lemas setelah masalah tadi.
"Kamu nggak papa aku tinggal dulu, sayang. Biar aku kasih mereka pengertian kalau bayi ini memang buah cinta kita. Mungkin setelah ini mereka akan mengerti. Kamu sabar dulu, ya sayang." Ilham meninggalkan Tiara sambil mengecup kening istrinya.
Kakinya melangkah kearah ruang makan, dimana kedua orangtua sudah mulai berpencar meninggalkan meja makan. Ilham menahan kedua orangtuanya untuk mendengarkan penjelasannya.
"Apalagi, ham? mama tahu kalian pengen cepat punya anak. Tapi nggak gini juga, nak."
"Mama baca ini dulu baru berkomentar." Ilham menyerahkan sebuah amplop besar yang berlabel nama rumah sakit tempat dia bekerja.
Ilham mendekati istrinya yang sudah tertidur. Lama dia menatap wajah istrinya. Tangannya membelai pucuk rambut Tiara sambil mengecup kening istrinya. Ilham memindahkan kepala istrinya diatas lengan tangannya yang berotot. Sesekali menghela nafas panjang, ada rasa sesal karena membuat istrinya terbebani pikiran, apalagi dengan kondisi hamil muda saat ini.
"Sayang, maafkan aku, ya. Hari ini lagi-lagi aku memberikan luka dihatimu. Seharusnya saat kita pulang aku memberikan sesuatu yang membahagiakanmu.
Aku tidak pernah memiliki tuduhan seperti yang dituduhkan mama dan papa. Aku percaya kuasa tuhan, jika yang di atas sudah berkehendak kita tidak bisa menolaknya. Aku percaya, ti kalau tuhan sudah memberikan amanat yang harus kita jaga. Sebagai mataharimu aku akan berjanji menyinari hidupmu dan menghangatkanmu dengan cinta yang aku miliki.
Karena apa? Karena kamu sudah menjadi rembulanku untuk menyinari hidupku yang kelam."
klik
Kediaman Spencer
Pukul 12.30
Assalamualaikum
Tak ada sahutan dari dalam rumah besar tersebut. Mata Ina terus memandang kearah sekitar rumah gedongan tersebut. Ada rasa kagum saat berdiri di kediaman spencer. Bahkan menurutnya lebih besar dari rumah kediaman Gunawan.
Waaaaaaaw, rumahnya keren sekali. Lebih besar dari rumahku dan rumah keluarga kak Yulia. Hmmm... benar kata tante Raya, mereka keluarga konglomerat no 5 se-jakarta.
Andai mereka punya menantu bujangan, aku akan jadi pendaftar yang pertama.
__ADS_1
Ina memberanikan diri kembali mengetuk pintu rumah kediaman Spencer.
Ceklis
"Assalamualaikum, mbak saya Ina yang ditugaskan ibu Yulia menjaga Shasa." Sapa Ina pada si pembuka pintu.
Mbak Dia menatap Ina dengan rasa terkejut. Wajahnya mendadak pucat saat melihat Ina yang masih berdiri didepan pintu.
Ya Allah apa itu mbak Gita. Tapi namanya beda, ya.
Subhanallah mirip sekali.
"Mbak, bisakah saya menemui Shasa." Sapa Ina yang membuyarkan lamunan Mbak Dia.
"Oh, iya. Biar saya antar ke kamar pak Ronal."
Ina mengikuti Mbak Dia menuju kamar Ronal. Matanya berkeliling melihat suasana rumah yang mewah. Decak kagum terus terucap dalam hatinya.
"Nyonya, ini ada utusan mertua pak Ronal yang akan menjaga non Shasa." Sahut Mbak Dia diiringi langkah kaki memasuki kamar Ronal.
Waaaawwww ini kamar kak Alam? Besar, ya. Lebih besar dari kamar kak Rangga.
Ina ingat saat ulang tahun pernikahan tante Raya yang ke 10. Ina diajak Rangga menginap di rumah mantan istri papa tirinya. Ina malah tidur dikamar Rangga yang tidak jauh besarnya dengan kamarnya dirumah. Saat itu Ina masih SMP kelas tiga. Ina bersyukur punya kakak penyayang seperti Rangga. Walaupun pada akhirnya dia mengakui kalau ada rasa cinta pada kakak tirinya.
"Assalamualaikum, bu." Sapa Ina pada mama Marni yang masih asyik bercengkrama dengan cucunya.
"Waalaikumsa ......" Mama Marni terpaku menatap sosok yang ada di depannya.
Apa aku bermimpi? Apakah arwah Gita datang karen merindukan putrinya? Tapi kakinya napak ke tanah, berarti dia manusia bukan hantu.
Mama Marni memeluk Ina "menantuku .. kamu pasti datang karena merindukan putrimu, kan. Lihat lah anak kalian tumbuh dengan baik. Wajahnya mirip dengan Alam. Kamu tenang saja, Nak."
Ina terdiam karena merasa aneh dengan sikap Mama Marni.
"Tante ... saya bukan ..."
"Nak, mama tahu yang kamu rasakan, nak. Kesini nak mainlah dengan putrimu." Mama Marni keluar kamar.
"Maaaas ... Gita pulang..." Mama marni berlari memasuki kamar suaminya.
Semua yang ada dirumah berkumpul mendengar mama Marni heboh.
Semua yang ada dikamar Ronal berkumpul mengerumuni Ina.
Subhanallah ... Apakah kamu benar-benar gita?
Mereka ini kenapa sih? Apakah ada yang aneh diwajahku? kenapa mereka menatapku seperti ini?
__ADS_1