
Siti dan mama Mila duduk di samping papa Pramono. Mama menjelaskan keadaan suaminya pada Siti.
"Papa drop waktu Ilham pergi ke Jambi bareng Gita dan suaminya. Mama mau mengabari Ilham tapi takut dia tidak fokus. Karena tujuannya ke Jambi untuk melamar kamu, ti. Saat Ilham bilang mengajak kami ke Jambi, tapi keadaan tidak memungkinkan. Maafkan Ilham ya, ti. Kalau dia tidak bisa menepati janjinya padamu."
Siti menunduk, perasaannya makin tidak karuan.
"Tapi kalau memang ini alasan Ilham tidak datang. Kenapa dia tidak mengabariku? kenapa dia hanya diam saja? apa ini cuma alasan dia saja? Ya Allah kenapa hatiku jadi kacau begini." ucap Siti dalam hati.
Netranya tak bisa dia sembunyikan. Siti merasa prihatin dengan kondisi papa Pramono. Karena menurut mama Mila, suaminya tidak ada perubahan yang lebih baik.
Siti ingat saat ayahnya sakit (ayahnya Edwar) Dimana berbulan-bulan tidak ada perubahan yang lebih baik. Pada akhirnya, ayahnya pergi untuk selama-lamanya.
Siti menatap jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 22:00. Itu tandanya sudah sangat larut.
"Mama sudah sholat isya." tanya Siti pada Mama Mila.
"Belum, nak. Mama tadi ketiduran. Sekarang tidak bisa tidur lagi."
"Sekarang kita sholat yuk, ma. Supaya kondisi papa Pram lebih baik." Ajak Siti pada mama Mila.
Selesai sholat isya. Siti pamit mengambil barang-barangnya di ruang kerja Ilham. Siti berjalan sendirian, pikirannya kemana-mana. Dari ucapan ibu, hingga kejadian-kejadian yang dialaminya akhir ini.
Memasuki ruang kerja Ilham, Siti membuka tasnya. Matanya tertuju pada sebuah map coklat yang ada di meja. Awalnya Siti cuek saja, tapi saat melihat nama di label map, dia tersentak.
"Kok ada nama Gita ya di map ini. Isinya apa sih? penasaran" Siti membuka map tersebut. Betapa terkejutnya melihat hasil lab yang dibacanya.
Ya Allah, Gita sudah stadium empat! Apakah penyakitnya sudah sebegitu parah. Tapi kelihatannya Gita baik-baik saja.
Apakah aku mimpi! ya Allah Gita sekarang sedang hamil pula. Aku harus tanyakan ini pada Ilham.
Siti kembali membereskan barang-barangnya. Tapi tetap saja pikirannya ke hasil lab nya Gita.
Sebagai sahabat Siti sangat terguncang dengan apa yang terjadi pada Gita. Dia tidak menyangka Gita sudah tahap serius. Kalau saja waktu bisa di putar, Siti ingin sekali membahagiakan sahabatnya. Tapi jangankan menyenangkan Gita, dirinya sendiri saja belum bisa menyelesaikan masalahnya.
Siti menangis meratapi nasib Gita. Tiba-tiba Ilham masuk ke dalam ruang kerjanya, mendekati Siti yang masih syok.
__ADS_1
"Kamu kenapa menangis, ti? masih syok dengan kejadian tadi ya?"
"Ham, ini bohong kan! Gita masih tetap sehat kan! jawab, ham! Kalian para lelaki tidak pernah membahagiakan Gita. Sekarang dia sekarat! Ya Allah kenapa kau beri penderitaan pada sahabatku."
Ilham menenangkan Siti yang masih syok.
"Iya,ti. Gita sudah stadium empat. Aku sebagai dokternya juga sudah berusaha membantu Gita. tapi akhir-akhir ini Gita mogok berobat. Kak Ronal pun sudah berusaha membujuk istrinya untuk berobat. Tapi tetap saja Gita menolak berobat. Ini saja surat persetujuan kemo dan operasinya belum di tanda tangani. Sepertinya Gita sudah menyerah dengan penyakitnya.
Ti, kamu kan orang terdekat Gita. aku mohon kamu bicara sama dia terkait kemo dan operasi pengangkatan kanker yang sudah bersarang di otaknya."
Tubuh Siti lemas saat mendengar penjelasan Ilham. Ilham menopang tubuh Siti, mata mereka saling bertatapan. Siti dan Ilham menata jantung mereka yang berdetak kencang. Sontak kepala Ilham ingin menyatu diatas kening Siti. Tangan Siti memegang erat jas dokter Ilham. Bibir mereka menyatu melepaskan perasaan rindu yang mendalam.
"Siti, menikahlah denganku."
"Jika kau ingin menyentuh tubuhku, sentuhlah! aku tidak akan menolaknya lagi. Aku sudah muak, ham! Aku sudah muak dengan semua yang terjadi! Aku ingin bebas dari semua tekanan yang ada." bisik Siti saat Ilham memeluknya erat.
"Maaf,ti. Kalau soal itu aku tidak bisa. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, akan menjaga wanitaku sampai saatnya tiba. Cukup kejadian Gita menjadi teguran buat aku, buat kamu dan buat Gita juga. Maafkan aku Siti, tidak bisa lebih lagi!" ucap Ilham melepas pelukan dari Siti.
"Aku janji, ti. Aku janji akan melepaskan Jihan demi kamu. Kamu juga harus janji melepaskan Jonathan demi cinta kita." Ilham memegang kedua tangan Siti menatapnya dengan penuh cinta.
"Ya, Allah maafkan aku. Aku lupa masih ada kak Jihan yang sangat berharap pada Ilham. Aku lupa masih ada kak Jo yang sangat mencintaiku. Maafkan aku, kak Jihan. Maafkan aku kak Jo." ucapnya dalam hati.
Siti menunduk sedih. Ada rasa bersalah karena sudah mengkhianati dua orang yang disayanginya.
Siti berdiri hendak keluar dari ruangan Ilham. Matanya tertuju pada sosok yang sudah terdiam mematung di depan pintu. Siti menelan salivanya, dia takut lelaki itu melihat semuanya.
"Kak Jo." Siti berhambur memeluk Jonathan.
"Ayo kita pulang." Ajak Jo yang masih dingin terhadap Siti.
Jo menggenggam tangan Siti dengan erat. Ada rasa sakit yang menderanya, sedikit merasa dikhianati. Jo menaikan koper Siti ke atas motor diikuti Siti yang naik dibelakangnya.
"Pegang kuat-kuat!"
Siti memeluk pinggang Jo dengan erat. Jo membawa motor dengan kecepatan tinggi. Pelukan Siti semakin erat karena takut dengan kebutan motor jo. Jo tersenyum melihat pegangan Siti.
__ADS_1
Tak berapa lama mereka tiba di kostan Jo. Siti kaget ternyata Jo tidak tinggal di rumah mewahnya, malah tinggal di kost kostan di gang kecil.
"Kak, kenapa tinggal disini? bukannya..."
"Kamu istirahat saja, ti. Aku tidur sama temanku di kamar sebelah. Kalau mau apa-apa, telpon saja." ucap Jo meninggalkan Siti di kamarnya sendirian.
"Kak bisa jelaskan yang sebenarnya? kenapa kak Jo tinggal disini?" Siti menahan Jo yang hendak keluar kamar.
"Besok aku jelaskan. Sekarang kamu istirahat. Mimpi yang indah ya sayang." Jo mengecup kening Siti.
Siti dan Jo saling termenung di kamar masing-masing. Entah kenapa mereka senyum senyum sendiri, mengingat masa-masa indah yang mereka alami. Baik Siti maupun Jo sama-sama tidak bisa tidur.
Jo mencoba menelpon Siti untuk mengecek gadisnya sudah tidur apa belum. Siti menatap layar ponselnya yang berkedip-kedip.
"Belum tidur." mereka berbarengan memulai pembicaraan.
"Tidur, ti. Besok aku antar kemana kamu mau?"
"Nggak bisa tidur, kak."
"Kok sama, ya. Dasar jodoh." Celetuk Jo.
Siti terkekeh mendengar ucapan Jonathan. Paling tidak dirinya lumayan terhibur dengan celotehan Jo.
"Hmmmm... tebak aku kamu pasti ketawa. Buka jendelanya dong."
Siti beranjak membuka jendela kamarnya. matanya melihat kesamping, dimana Jo juga sedang menelpon di jendela kamar sebelah.
"Kamu lihat langit,ti. Disana banyak sekali bertabur bintang. Kamu lihat aku dong, kamu itu ibarat bintang. Jauh tinggi, susah sekali kugapai. Jika sudah ku gapai, aku akan terus menyimpannya dan tidak akan ku lepas."
Aku senang melihat senyummu Siti. Karena sejak kamu menginjakkan Jakarta, kamu menjadi semakin jauh. Kamu tahu Ilham itu sudah ada tunangan. Tapi kenapa kamu masih berharap padanya. jika memang dia serius padamu, kenapa dia tidak datang sesuai janji tempo yang diberikan ibumu.
Suatu saat kamu akan tahu, kalau akulah pemenang hatimu. Pemenang halalmu.
__ADS_1