Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
16. Enam belas


__ADS_3

Sudah satu Minggu Siti berada di Jakarta. Tapi Jonathan belum juga mengenalkan Siti pada keluarganya. Siti enggan mendesak calon suaminya itu.


Sudah seminggu kak Jo belum juga mengenalkan orangtuanya padaku. Protes? rasanya aku tidak etis mendesak kak Jo. Aku menunggu inisiatif darinya. Toh, masih banyak waktu, tapi aku berharap ini bisa buat kak Jo mengulur waktu untuk pernikahan kami.


Ah, Sheila apa kabar ya? apakah dia sudah sembuh. Padahal aku ingin sekali menjenguknya.


"Siti, kamu sayang kan. Kamu mau kan mendengarkan aku." Suara Jonathan langsung membuyarkan lamunan Siti.


Mata Siti menatap lelaki yang sudah melamarnya beberapa hari yang lalu. Tangan Jo langsung menelusup ke pinggang Siti. Sesekali Jo mengusap bibir Siti yang tipis. Kepalanya mendongak, serasa ingin menikmati ranumnya bibir wanita itu. Sontak Siti mendorong tubuh Jo.


"Bukan muhrim." tolak Siti. Perlahan Siti melepaskan tangan Jo dari pinggangnya.


Sudah beberapa kali dirinya mengingatkan Jo, agar tidak sembarang menyentuh dirinya. Siti selalu menjaga amanah ibu, agar tidak mudah menyerahkan diri kepada lelaki.


Jo ternyata tidak menyerah, di tariknya tubuh Siti kembali ke pelukannya. Siti berusaha melepaskan diri dari Jo. Lelaki itu makin erat, dan akhirnya Siti lepas kendali.


plaaaaak


"Ti, aku ini tunangan kamu, Lo." Jo sepertinya tidak suka dengan tamparan Siti.


"Baru, tunangan kan belum nikah. Kak Jo kenapa sih? Kok jadi agresif gini? Kayak..." Siti tidak melanjutkan pembicaraan. Dia memilih mengelak dari Jo.


"Kayak siapa, ti? kayak Ilham... yang masuk ke kamar kamu lalu kalian berciuman. Itu yang mau kamu bilang." nada suara Jo terdengar emosi.


Jo ingat malam itu, sambil menyeret langkah tubuhnya yang masih sakit. Dengan tongkat penopang, Jo akan pergi ke dapur yang searah dengan kamar Siti. Malam itu, Jo melihat siti dan Ilham berpagutan bibir. Kala itu hati Jo panas. Rasanya ingin melerai dua insan tersebut. Tapi di urungkannya, karena takut ada keributan.


"Kamu munafik, ti. Sok sok jaga kesucian. Atau jangan-jangan kalian sudah pernah ..."


plaaaaak


Siti menangis masuk kedalam rumah Jihan. Jo mengejar Siti karena merasa bersalah dengan ucapannya. Tapi terlambat, Siti tidak mau di temui. Hatinya sakit dengan ucapan Jo barusan. Baru satu Minggu dirinya berada di sini, tapi sudah ada masalah.


Siti mengambil barang-barangnya, dia ingin pulang saja.


Jo melihat Siti membawa koper langsung menahan tubuh gadis itu.


"Aku minta maaf, ti. Aku nggak ada maksud untuk menyinggung kamu. Aku cuma merasa kamu belum bisa melupakan Ilham. Tolong maafkan aku!"ucap Jo sambil memeluk Siti.

__ADS_1


"Sehina itu kah aku dimatamu." Isak Siti masih terasa perih dengan ucapan Jo.


"Maafkan aku, sayang. Sebagai gantinya, besok kita dinner. Mau kan?"Siti masih terdiam. Jo kembali mendekap tubuh bagian Siti dengan erat.


Om Jo, aku akan belajar menerimamu. Demi ibu, aku rela melupakan Ilham. Walaupun sampai sekarang aku belum bisa menggeser dirinya.


Maafkan aku, ham


Maafkan aku, ham


Siti meresapi pelukan erat Jonathan. Walaupun hatinya masih belum bisa menerima Jo. Walaupun hatinya masih mencintai Ilham. Tapi Siti bertekad akan belajar mencintai Jo. Demi permintaan ibu, Siti rela melepaskan perasaannya pada Ilham. Pokoknya yang Siti lakukan semua demi permintaan ibu. Termasuk saat ibu meminta Siti mengganti nomornya. Bulir air matanya menetes, Jo menyadari Siti sedang menangis. Tapi Jo tetap diam tak melepaskan pelukannya.


"Siti! kamu kenapa bawa koper!" Jihan yang baru pulang kerja melihat koper didekat kaki Siti.


"Ada yang ngambek tadi." Goda Jo. Siti cuma membalas sikutan pada Jo.


"Ti, besok ada pertemuan keluarga, kamu ikut ya. Ajak kak Jo juga." kata jihan.


"Ehmm, maaf besok kami ada pertemuan keluarga juga. Aku mau mengenalkan Siti pada orangtuaku."


"Di hotel trans kalo nggak salah."


"Loh, Sama kami juga mengadakan pertemuan disana. Bareng saja."


"Ya, udah. Besok tolong make over nyonya Abraham ya."


"Aman, kak Jo." Jihan mengacungkan jempolnya.


"Sayang aku pulang dulu, ya. Mimpi yang indah dan selalu mimpikan aku. Love you Mrs. Abraham." pamit Jo.


Siti terdiam meresapi ucapan Jo barusan. Teringat kata itu, setiap Ilham sehabis mengapelinya selalu mengucapkan kata yang sama:


"Sayang, aku pulang dulu ya. Mimpi yang indah dan selalu mimpikan aku. Love you Mrs. Ramadan."


"ti, melamun aja. Orangnya dah pergi tuh." goda Jihan


"Eh, iya, ham."

__ADS_1


"Ham? Mr. Abraham maksudnya. Ciyeeeee udah dibiasakan nih pake nama belakang suami." lagi-lagi Jihan menggodanya. Rona wajah Siti memerah.


klik


"Kamu yang sabar ya, ham. Mungkin Siti bukan jodoh kamu, nak."


Mama Mila melihat Ilham sering melamun saat mendengar Siti sudah menikah dengan Jonathan. Tapi mama penasaran, kenapa beritanya tidak heboh.


Pasalnya, Tante Rita masih keluarga besar Jonathan satu arisan dengannya. Rita juga tidak bilang kalau Jo sudah menikah. Karena yang dia dengar Jo akan menikah dengan mantan pacarnya yang bernama Vika.


"Ah, nanti ku tanyakan pada Rita." gumam mama Mila dalam hati.


"Ham, kamu mau kan mengenal Jihan?" Entah kenapa kata itu spontan terucap saat makan malam.


"Apa mama mau jodohin aku sama kak Jihan?" ilham kaget dengan permintaan mamanya.


Dia baru saja patah hati. Patah hati, karena gadis pujaannya menikah dengan lelaki lain. Sekarang mamanya minta dirinya mengenal wanita yang cocok jadi kakaknya.


"Ham, dengerin mama dulu. kamu coba mengenal Jihan dulu. Dia anaknya baik, kok. Karakternya juga tidak beda dengan Siti. Anggun, berkharisma, nggak neko-neko."


"Ilham butuh waktu, ma. Maaf ilham nggak bisa ikut. Lagian nanti papa siapa yang jaga."


"Soal papa tenang aja. Nanti mama suruh Tami yang menemin. Kamu tenang saja."


"Tapi, ma ..."


"Paling tidak temenin mama. Masa mama datang sendirian. Ya, nak please. Mama cuma pengen menghibur kamu, nak. Lupain Siti, dia sudah jadi istri orang. Masa kamu ngejar istri orang lagi, kayak kamu ngejar Gita dulu."


Ilham menunduk. Dia butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya. Dia butuh waktu untuk mentalnya menerima kenyataan. Nasi sudah menjadi bubur. Jauh harapannya bersatu dengan Siti.


Ilham masuk ke kamarnya membuka photo kenangannya bersama Siti. Lalu membuang semua yang berhubungan dengan Siti, Kecuali tasbih.


Ya Allah inikah pertanda darimu. Jika memang ini teguran mu, aku berterimakasih padamu ya Allah. Allah SWT berfirman,


وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216).

__ADS_1


__ADS_2