
Pov Tiara
"Sasono bilang kamu menolak menangani pasien anak dari Barata, benar itu, ham?"
"Iya, Pa."
Kutatap mas Ilham yang sepertinya takut saat menjawab. Lebih sesaknya lagi papa menatapku seperti akan menerkam.
"Dengan alasan menjaga perasaan istrimu. Alasan apa itu, ham? apakah istrimu melarang kamu memeriksa pasien wanita?"
aku?
Melarang mas Ilham memeriksa pasien wanita?
Kapan aku pernah seperti itu?
Kenapa mereka menuduhku seperti itu?
Ya Allah kenapa hidupku semakin rumit. Kenapa dimasa - masa ini semakin banyak masalah?
kenapa mereka menuduhku seperti itu?
Aku mencoba menghindari mereka. Karena semakin aku disana, semakin mereka memojokkanku. Aku tahu kalau aku yang membuat mas Ilham dimutasi. Andai saja aku tidak ikut arisan itu, andai saja saat itu aku tidak tertipu keramahan kak Lani, mungkin endingnya nggak begini.
"Ma, pa, ini tidak hubungannya dengan siti. Ini karena putri pak Barata yang mengira aku adalah mendiang suaminya. Sehingga dia mulai terobsesi sama aku. Apakah salah aku mencobq mencegah sebelum hancur nantinya."
Putri pak Barata?
Siapalagi itu? Wanita mana lagi?
Ya Allah kepalaku mendadak pusing.
"Maafkan papa dan mama, ti. Bukan maksud kami menyalahkanmu atas semua masalah ini. Tapi papa kaget dengan keputusan Ilham yang mendadak ini."
Maaf? Aku sudah memaafkan mereka. Tapi kenapa masih terasa sakit.
Ku langkahkan kakiku menuju kekamar. Setelah teror surat tadi, sekarang mereka menyalahkanku atas rencana resignnya suamiku. Sekarang mereka dengan gampang bilang maaf.
Kakiku melangkah ke satu pijakan pintu kamar. Aku merasa penglihatanku bermasalah.
Ya Allah kepalaku sakit sekali.
Mas tolong kenapa tubuhku lemas sekali.
Aku akan sampai mendekati ranjang.
Aku sudah tidak kuat lagi.
Bruuuuuk.
Aku terjatuh dan tubuh mengenai salah dekorasi ranjang jati dikamarku.
__ADS_1
Sakit! sakit sekali! Sebisa mungkin aku bangkit.
Tatapanku mengarah kecairan merah yang mengalir di pahaku. Tubuhku lemas dan gelap.
...🍇🍇🍇🍇...
Suara derap langkah kaki memecahkan keheningan rumah sakit Kasih Bunda. Si pemilik kaki seperti panik mengikuti roda ranjang rumah sakit yang menyambutnya didepan pintu. Si pemilik kaki pun tak hentinya membasahi wajahnya, tersirat rasa cemas pada sosok yang sedang terbaring lemah.
Sebenarnya dia tak ingin membawa istrinya dirumah sakit ini. Tapi kalau dia mencari rumah sakit, akan ada prosedur yang membuat istrinya lama ditangani. Sedangkan dirumah sakit ini dia sudah dikenal sehingga mempermudah penanganan sang istri.
"Dokter!!!!!"
Ilham berlari membawa istrinya menuju ruang ICU.
Rasa cemas membaur dalam dirinya ketika melihat darah menetes di pelipis kaki Tiara. Ilham yang kacau saat melihat wajah pucat tertidur dipangkuannya.
Mama mila menenangkan putranya yang masih syok.
"Ti, aku mohon kamu bertahan." Ilham terus menangis saat teringat darah mengucur dipaha istrinya.
"Ham."
"Ini semua karena mama dan papa. Bisakah kalian memberinya ketenangan selama dia hamil. Bisakah kalian tidak terus-terusan memojokan siti." Suara Ilham mulai berat. Emosinya memuncak mengingat kedua orangtuanya memojokkan istrinya.
"Tapi faktanya memang begitu kan, ham. Kalau siti tidak nekat pergi ke arisan itu, kamu tidak terancam di mutasi, kamu juga masuk penjara karena siti juga." Mama tidak mau kalah.
Menurut mama menantunya lah penyebab Ilham bermasalah dirumah sakit. Bagi mama, perempuan yang sedang mengandung nggak bagus sering keluyuran.
"Cukup!" suara papa pramono menggelegar membuat mama Mila dan Ilham menghentikan debatnya.
Bagaimana mungkin aku menghubungi mereka. Yang ada aku bakal habis sama papa Adolf.
Ya, Allah kenapa bisa kejadian seperti ini.
klik
"Mona!" Panggil Ilham saat melihat teman sejawatnya keluar memeriksa istrinya.
"Siti, memang pendarahan, tapi bayi kalian selamat. Hanya .."
Mona belum melanjutkan ucapannya.
"Salah satu dari janin kalian tidak ada pergerakan, ham. Kali ini aku mohon izin mengangkat janinnya. Tapi kami harus mengangkat keduanya. Karena kalau tidak yang satu lagi akan meminum ketuban saudaranya. Dan itu bahaya."
Kaki Ilham lemas. Bagaimana mungkin dirinya sanggup menyetujuinya? Bayi ini adalah simbol cinta mereka. Bayi yang mematahkan anggapan kalau dirinya mandul.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika siti sadar menanyakan bayinya. Aku harus bagaimana ya Allah. Maafkan aku yang teledor tidak bisa menjaga istriku."
Sebuah kursi roda masuk berjalan ke kamar rawat Tiara. Senyumnya mengembang saat melihat kondisi wanita didepannya. Tangannya mengarahkan kursi roda mendekati ranjang Tiara.
"Jadi kamu istrinya Sakha. Nggak cantik, masih cantik aku. Sakha selalu bilang kalau hanya aku yang paling cantik. Sakha selalu bilang kalau cuma aku yang dia cintai. Dan kamu mau menggeser posisiku sebagai istri pertama. Jangan mimpi."
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan pada istriku Risma? Kenapa kau meneror kami? aku tidak punya masalah denganmu." Sebuah suara yang membuat Risma sedikit terpojok.
Wanita itu hanya tersenyum licik bergantian menatap Tiara dan Ilham. Tak lama wajah malaikatnya terlihat. Seolah memiliki rasa simpati dengan keadaan Tiara.
"Aku hanya menjenguknya, apa itu salah Sakha." Ucap Risma dengan lembut.
"Sekali lagi ku tekankan! Aku bukan Sakha, aku Ilham. Paham!"
Ilham menarik kursi roda Risma, membawa keluar dari kamar rawat istrinya. Risma kaget saat Ilham tanpa ekspresi membawanya kembali ke kamar.
Tiba diruangannya ada keluarga Barata yang menyambut dirinya.
Ilham membawa Risma kembali ke kamarnya. Menatap wanita itu dengan penuh amarah. Ibu Barata yang melihat perlakuan Ilham pada putrinya tersulut emosi. Dia tidak terima sikap Ilham pada Risma. Tapi lelaki itu tidak peduli, baginya kedatangan Risma keruang istrinya termasuk tanda bahaya. Mungkin saja kalau dirinya tidak tepat waktu, Risma sudah melakukan sesuatu pada istrinya.
"Bilang sama anak anda, agar tidak membahayakan nyawa oranglain."
Ilham beranjak dari ruang rawat Risma. Terdengar amukan wanita itu yang terus menyebut dirinya Sakha. Tapi itu tidak menggoyahkan Ilham untuk tetap berjalan keluar.
"Sakha, kalau kamu seperti ini, ingat! Aku tidak akan membiarkan istrimu tenang!" Pekik Risma.
"SAKHA JANGAN PERGI! JANGAN TINGGALKAN AKU LAGI!SAKHAAAAAAA!"
Bruuuuk!
Ilham menghempaskan tubuhnya ke dinding pintu. Tangannya menekuk kepalanya, sesekali mengacak rambutnya.
"Maafkan aku, ti. Maafkan aku yang akhir -akhir ini membawa bahaya dalam hidupmu. Maafkan aku yang tidak bisa memberimu kebahagiaan selama kita menikah. Aku sadar kejadian ada hubungannya dengan sikap mama dan papa.
Aku mohon kamu kuat,ti. Demi aku, demi cinta kita, demi anak-anak kita. Karena kalau mamanya kuat, anak-anak kita juga ikut kuat."
"Masalah apa, ham?"
Ilham terkejut saat mendengar suara yang memanggilnya. Pemilik suara yang sangat diseganinya.
Tetap terus pantengin cerita ini.
Teimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
*
*
*
*
__ADS_1
*
Buat para reader masih di tunggu partisipasinya. Othor benar - benar sangat membutuhkan jempol kalian agar novel ini masih bisa eksis.