Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
100. Di rumah sakit 2#


__ADS_3

Suasana di kamar rawat begitu hening, keluarga Ford yang sedang menemani Tiara yang sampai saat ini belum sadar. Mereka masih senantiasa menunggu sang putri sadar dari tidur panjangnya.


Papa Adolf menatap sang putri dengan perasaan pilu. Terselip rasa marah pada sang menantu. Berdasarkan keterangan Indro, Ilham sedari tadi susah di hubungi dan susah di temui.


"Suami macam apa dia! istri lagi sakit, dia malah sibuk nggak jelas" ucap Papa Adolf.


Jika harus ada yang disalahkan maka Adolf memilih menyalahkan menantunya. Dimata Adolf yang dilakukan Ilham sudah keterlaluan. Bahkan menurut petugas kesehatan disana, mereka sempat melihat ilham berdiri mengobrol dengan para dokter. Dari situ Adolf sudah menyimpulkan kalau Ilham bukan pria bertanggung jawab.


Flashback on


"Mas, aku kangen sama Tiara." ucap mama Fatimah saat sedang menemani suaminya makan siang di resto langganan mereka.


"Ya, sudah kamu telepon saja." Jawab Adolf masih menyantap nasi rendang favoritnya.


"Masalahnya aku sudah beberapa kali menghubunginya. Tapi tidak diangkat, mas. Perasaanku nggak enak. Takut terjadi sesuatu pada Tiara."


Adolf meletakkan sendok makannya. Menatap sang istri yang masih gelisah.


"Sayang, kalau terjadi sesuatu pada anak kita, pasti suaminya sudah memberi kabar. Kalau diam kayak gini berarti Tiara baik-baik saja."


Tetap saja hal itu tidak membuat dirinya tenang. Apalagi kemarin Tiara bilang padanya kalau mertuanya sedang di cibubur karena omanya Ilham sedang sakit. Tiara juga pernah bilang kalau suaminya disibukkan dengan membludaknya pasien covid di rumah sakit. Kadang Ilham pulang dini hari, kadang nggak pulang semalaman.


Sekarang sang putri tidak memberinya kabar lagi. Entah kenapa dirinya terus gelisah.


"Mas, aku langsung ke tempat Tiara sekarang. Kasihan dia sendirian dirumah. Nggak papa kan, mas."


Adolf mengiyakan permintaan istrinya. Dia berjanji akan mengantar Fatimah ke tempat Tiara.


Pukul 18:30


Adolf dan Fatimah berangkat menuju kediaman pramono untuk menengok putri mereka. Rasa rindu yang mendalam serta ada firasat tentang sang putri bercampur padu menjadi satu.


Dalam perjalanan ke tempat besan, Fatimah dan Adolf ditelepon oleh besan mereka mengabari kalau Tiara masuk rumah sakit karena jatuh dikamar mandi.


Fatimah dan Adolf berlari menuju ruang rawat yang sudah di alamatkan besannya. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Fatimah terus menangis. Firasat yang sedari tadi menganggunya ternyata memang nyata.


"Bar, tolong antarkan kak Aisyah ke rumah sakit Kasih Bunda. Tiara masuk rumah sakit jatuh dari kamar mandi." Adolf langsung menutup teleponnya. Tangannya tak berhenti menyabarkan sang istri yang terus bersedih.


"Sabar, sayang. Bentar lagi kita sampai semoga Tiara baik-baik saja."


"Mas tahu kan tidak ada yang baik-baik kalau kasusnya jatuh di kamar mandi. Kita baru saja bertemu anak kita. Menebus kesalahan yang kita lakukan padanya dulu... Aku takut Tiara tidak selamat." isak Fatimah.


Mereka tiba di rumah sakit langsung memasuki ruangan milik Tiara. Mama Fatimah menatap pilu sang putri yang berbalut infus. Adolf mengajak Indro keluar ruangan. Sudah pasti menanyakan kronologis kejadian yang membuat putrinya berakhir dirumah sakit.


"Tolong ceritakan kejadian sebenarnya"


Indro dengan takut akhirnya menceritakan.

__ADS_1


"Tadi saya baru pulang dari bengkel. Lalu saya lihat rumah masih gelap. Akhirnya saya berinisiatif mengecek kondisi rumah dan saat saya hendak memasuki kamar mandi di dekat dapur, disitulah saya menemukan non Tiara tergeletak di kamar mandi. Saya juga menemukan seperti bekas muntahan yang berserak sekitar lobang toilet."


"Muntah?" ucap Adolf setengah kaget.


Indro hanya menggangguk. Entah kenapa dia menebak menantu majikannya menunjukkan tanda-tanda mulai mengandung.


"Terus apa sudah mengabari ilham?"


"Saya sudah beberapakali mengabari den Ilham. Tapi tidak diangkat. Saya juga sudah beberapakali menemui den ilham. Tapi ternyata dia tidak ada diruangannya. Menurut keterangan dokter, Den ilham sedang menangani beberapa pasien covid."


Jelas indro.


"Apa Ilham sudah ada menemui anakku?" Tanya Adolf yang mulai panas setelah mendengar cerita Indro. Indro hanya menggeleng, sepanjang dia menjaga Tiara, belum ada lelaki itu menampakkan diri.


"Apa dokter menjelaskan sesuatu tentang keadaan anak saya?" tanya adolf lagi.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tiba-tiba dokter sasono muncul ditengah-tengah mereka.


"Dok, saya ingin tahu keadaan anak saya?"


"Anak anda?" Tanya dokter sasono.


"Pak, ini adalah mertuanya dokter Ilham." jawab Indro untuk memperjelas arah pembicaraan. Indro mengenal dokter Sasono kerabat dekat keluarga Pramono.


"Oh, anda orangtua siti. Senang bertemu dengan anda, pak." Dokter sasono berjabat tangan dengan Adolf.


Adolf lemas saat mendengar kondisi sang putri. Langkahnya gontai saat memasuki ruangan Tiara.


Belum ada tanda-tanda akan sadar.


"Imah, besok kalau seandainya Tiara belum juga sadar, kita bawa dia pulang ke apartemen. Percuma kalau dia pulang ke tempat Pramono. Kamu lihat kan, imah. Menantumu sampai sekarang belum ada menengok anak kita. Suami macam apa itu!"


Fatimah mencoba menyabarkan Adolf yang sudah tersulut emosi. Dia bingung kenapa suaminya sebegitu marahnya pada ilham.


Flashback off


Klik


Masih dirumah sakit Kasih Bunda


Pukul 22:00 WIB


Tiara membuka matanya. Setelah setengah hari dirinya tertidur indah. Matanya memandang dua wanita yang sedang terlelap di sofa kursi kamar rawatnya.


"Aku kenapa ada disini?"


Tiara menatap tangannya yang masih di gelangi jarum infus. Entah kenapa dia tak menyukai aroma rumah sakit. Padahal sebelumnya tidak seperti ini. Tiara merogoh hp nya. Tak ada panggilan apa pun. Matanya menerawang mencoba mengingat apa yang terjadi hingga sampai dirumah sakit.

__ADS_1


"Maaamaaa.."


"Ibuuuu"


Kedua wanita yang tadinya asyiknya dibuai mimpi pelan-pelan membuka matanya. Menatap sang putri yang sudah terduduk di hospital bed. Sontak keduanya langsung memeluk Tiara.


"Alhamdulillah, nak. Kamu akhirnya sadar juga, nak. Selamat ya, nak. Kamu hamil 3 minggu."


Deg!Tiara kaget saat kedua orangtua mengabarkan kehamilannya. Ada rasa tidak percaya, pasalnya yang dia tahu suaminya tidak bisa memberi keturunan. Jadi mana mungkin dirinya bisa hamil. Tapi melihat mamanya begitu bahagia, dirinya terpaksa mengikuti perasaan hati mereka.


Benarkah aku hamil? Apakah aku sedang bermimpi? bagaimana bisa aku hamil sedangkan suamiku mandul? Ya, jika ini memang nyata terimakasih Ya Allah.


Mas, apakah kamu tahu kalau kita akan punya anak?


"Ma, antarkan aku ke ruangan mas ilham. Aku mau mengabari hal ini."


"Nanti saja, nak. Kamu harus istirahat."


Fatimah kembali menuntun tiara ke tempat tidur. Mama fatimah membuka apel untuk sang putri. Sementara ibu Aisyah keluar ruangan mencari Adolf.


"Ma, apakah mas ilham ada kesini?"


Mama Fatimah hanya menggeleng. Karena seingatnya dirinya belum ada lihat ilham.


Sementara Ilham sedang berjalan menemui istrinya. Perasaan bahagia saat mengetahui dirinya tidak mandul. Ilham mempercepat langkahnya, tak sabar memberitahukan hal ini pada Tiara.


"Dokter Ilham ada pasien masuk?" Pekik seorang suster.


Ilham berlari bersama beberapa suster. Tampak jejeran pasien yang masuk silih berganti di rumah sakit.


"Apakah covid lagi?" Tanya ilham saat berjalan menuju ruangan pasien tersebut.Suster mengiyakan pertanyaan Ilham.


"Minta dokter lain saja. Saya sedang ada urusan." Tolak Ilham.


"Semua dokter disini sedang mengurusi pasien, dok."


Ilham menghela nafas panjang. Mau tidak mau dia kembali turun tangan. Ilham mengekori langkah suster.


Klik


Masih dirumah sakit Kasih Bunda


Pukul 08.00 WIB


Ilham berjalan menuju ruang inap Tiara. Semalam kepalanya terasa sakit sehabis memeriksa pasien. Arman teman sejawatnya menemaninya istirahat di ruang kerjanya. Kalau saja mamanya tidak mengingatkan soal Tiara, mungkin saat ini dirinya masih menikmati tidurnya.


ciiiiiiit

__ADS_1


ilham membuka pintu kamar inap Tiara. Netra nya membulat saat mendapati kamar istrinya sudah kosong.


__ADS_2