
Jakarta, September 1994
"Ira, ibu mau ke toilet dulu, ya. Kamu jangan kemana-mana." Titah sang ibu pada seorang gadis kecil.
Anak itu hanya menggangguk. Matanya menjurus ke bawah searah dengan mata kakinya. Bajunya sederhana dengan rambut poni selamat datang. Lima menit berlalu, Ira mulai bosan menunggu. Matanya tertuju pada abang- abang penjual balon. Mencoba beranjak tapi takut sang ibu marah. Tapi kesabarannya habis, ira mulai berjalan mencari si abang balon.
Terminal bus yang luas membuatnya senang berjalan berkeliling. Matanya terus menjurus ke arah jalanan. Melihat yang menjadi tujuan pencariannya.
"Bang, es nya satu." Ira mendekati salah satu abang penjual es potong.
Sambil melahap es tangannya merogoh kekantong. Wajahnya yang polos berubah menjadi kecut ketika yang dirogoh tidak ada.
"Bang, aku nggak ada duit." ucapnya takut-takut.
Tubuh kecil itu mencoba mundur tatkala si abang sibuk melayani pembeli yang datang. Kaki kecilnya berlari ketika suara itu meneriakinya. Berlari dan terus berlari menjauh dari areal terminal. Matanya tertuju pada semak-semak yang tak jauh dari areal terminal. Matanya tertuju pada segerombolan orang yang masih mengejarnya. Dadanya berdegup kencang, dia hanya bisa meringkuk ketakutan.
Beberapa saat kemudian Ira keluar dari persembunyian. Memandang kesekeliling mencari celah untuk pulang. Tapi, sayangnya dia bingung kemana arah ke terminal. Rasa takut karena sudah jauh dari sang ibu, kakinya melangkah mencari arah pulang.
"Ibu, aku takut." isaknya.
Dari arah yang berbeda
"Bisa nggak sih kamu nggak mata keranjang. Aku malu sama teman-temanku saat kamu menggoda tamu disana." Protes seorang wanita.
Lelaki itu hanya mendengus kesal. Padahal dia hanya mengobrol biasa bukan menggoda seperti yang dituduhkan. Matanya tetap terfokus pada ban setir didepannya. Kecemburuan yang tidak mendasar sudah mendarah daging pada wanita disampingnya.
"Mas, dengar nggak sih aku ngomong." Usik wanita itu saat si lelaki fokus menyetir.
"Aku lagi, nyetir sayang. Nanti saja ngomelnya pas sampai dirumah."
"Iya, cuma aku masih kesal sama kamu, Mas. Sejak kita menikah kamu masih tidak berubah, masih mata keranjang. Apa karena aku belum memberimu keturunan makanya kamu masih seperti ini? Aku capek, mas. Capek sama kelakuanmu?"
__ADS_1
"Ya, kalau kamu capek makanya kamu cepat hamil. Suami mana yang betah setelah 8 tahun menikah tapi keturunan tak kunjung datang, Hah! beruntung aku nggak talak kamu, Kiki!" bentaknya pada istrinya.
Kiki merasa hancur saat suaminya mengatakan soal keturunan. Bertahun-tahun mereka menjalani rumah tangga, dalam suka maupun duka, pertama kalinya dia mendengar ucapan Alex, suaminya. Hubungan pernikahannya yang sempat ditentang keluarganya karena suaminya terkenal playboy. Bahkan Alex yang saat itu hampir menikah dengan seorang model ternama, rela meninggalkan tunangannya demi Kiki.
"Kamu jahat, Mas. Aku nggak nyangka kamu mikir seperti itu. Ternyata kamu nggak berubah dari dulu." Kiki memukul tubuh suaminya.
"Sekarang turunkan aku! Aku mau turun!" Kiki terus mendorong tubuh suaminya. Tangannya memaksa untuk memberhentikan mobil mereka.
Di arah yang berlawanan seorang kecil berlari melewati jalan. Nafasnya terengah-engah karena lagi-lagi bertemu dengan si abang penjual es. Kaki kecilnya berlari-lari tanpa menengok kanan-kiri. Tanpa disadarinya, ada sebuah mobil menghantam tubuh kecil tersebut.
BRAK!
Suara mobil seperti seperti membentur sesuatu. Kecelakaan yang tidak bisa dielakkan. Pemilik mobil merasa seperti menabrak sesuatu. Mereka berlari melihat apa yang terjadi diluar. Betapa terkejutnya saat melihat yang mereka tabrak seorang anak kecil. Tubuh anak itu terbentuk jok mobil. Alex mengecek kanan kiri takut ada yang melihat.
"Ya Allah, mas. Gimana ini?" Kiki kaget sekaligus merasa kasihan pada anak itu.
"Tinggalkan saja. Aku tidak mau masuk penjara karena menabrak orang."
"Mas, jangan gitu. Kasihan anak ini, nadinya lemah. Kita bawa saja kerumah sakit. Kalau ada yang nanya bilang saja anak kita."
Mereka mengangkut tubuh anak itu. Kepalanya terus mengeluarkan darah. Walaupun begitu, mereka masih tetap membawa anak itu kerumah sakit. Kiki memangku si anak. Matanya tertuju pada kalung yang menggantung di leher.
Almira
"Namanya Almira, mas. Kasihan dia, anak sekecil itu dibiarkan berkeliaran di jalanan, walaupun sepi kita tidak tahu bahaya yang mengintai."
"Ini gara-gara kamu, Ki. Seandainya kamu tidak ngamuk-ngamuk pas aku nyetir, mungkin tidak akan kejadian. Dasar!" Bentak Alex.
Kiki hanya menangis dalam hati. Sejak suaminya terlibat hubungan dengan seorang model. Sikap suaminya berubah, walaupun tidak pernah ringan tangan. Tapi kalau marah suka mengungkit soal dirinya yang belum hamil. Seperti saat ini, dirinya kembali menahan perih saat suaminya berkata kasar.
Di masa sekarang
__ADS_1
"Jadi aku bukan anak mama dan papa." Suara Jihan yang terus menangis sepanjang Alex menceritakan siapa dirinya.
Alex paham kalau putrinya pasti syok mendengar ceritanya. Tapi dia tak ingin menyimpannya terlalu lama. Rasa bersalah karena memanfaatkan amnesia Jihan akibat tabrakan dulu. Dengan alasan takut dilaporkan atas tuduhan tabrak lari. Tapi Alex sekarang yakin Jihan tak kan melakukannya.
"Maafkan papa dan mama, nak. Kami terlanjur sayang padamu. Kami tidak tahu siapa orangtuamu, nak. Tapi sekarang papa tahu siapa orangtuamu."
Jihan menoleh kearah Alex memastikan apa yang barusan dia dengar "siapa, pa? siapa orangtuaku, pa."
"Ada apa, pa? kenapa dari luar mama mendengar Jihan menangis?"
"Papa sudah menceritakan yang sebenarnya, ma. Jihan berhak tahu siapa ibunya. Mama ingatkan saat Jihan membutuhkan donor darah, sejak itulah papa mulai menyeledikinya. Mama ingat saat Jihan gagal menikah dengan Rangga, Ibu Aisyah mempertanyakan tanda lahir yang tengkuk Jihan."
"Jihan, temui ibu Aisyah. Dia sudah lama mencarimu, nak. Dia ibu kandungmu. Maafkan mama dan papa yang merahasiakan semua ini dari kamu dan Ibu kandungmu. Temui dia, nak."
"Satu lagi, nak. Perusahaan itu memang masih milik Jonathan. Ini permintaan Hermawan untuk mendidik keluarganya. Dia ingin Jonathan belajar dari bawah. Karena selama ini bagi Hermawan, Jonathan terlalu sibuk dengan urusan Siti."
Aku tidak tahu ini berita bahagia atau berita sedih. Semua terasa mendadak dan cepat. Jika memang ibu Aisyah ibu kandungku, mengapa aku masih ragu membuka hati padanya. Padahal ibu Aisyah sangat baik padaku. Aku harus bagaimana ya Allah.
Dengan langkah gontai Jihan memasuki kamarnya. Dia melihat suaminya menemani Azka yang sudah tertidur lelap. Entah kenapa dia melihat Azka dan Akbar memiliki kemiripan padahal Azka bukan anak kandung Akbar.
"Sayang." Jihan merasakan tubuhnya terdekap dari belakang. Tubuhnya berbalik kearah Akbar, berusaha tersenyum walau didadanya terasa sesak.
"Mas, kalau ternyata aku bukan anak orang kaya. Apa kamu masih mau menerimaku?"
"Han, kamu ngomong apa sih? Mau kamu orang kaya atau bukan aku tidak peduli. Aku cinta kamu apa adanya. Aku cinta kamu til jannah, sayang."
"Tapi .."
Akbar menempelkan telunjuknya ke bibir istrinya.
"Maaf, aku tadi mendengar pembicaraan kalian dikamar tadi. Kalau menurut aku ibu Aisyah itu orangbaik. Kamu beruntung punya dua ibu yang sayang padamu. Kamu tahu, banyak anak diluar sana yang mendamba kasih sayang orangtua, apalagi mereka yang lahir tanpa orangtua lengkap. Ibuku meninggal saat mayang berusia 2 tahun. Saat aku tamat SMA bapakku meninggal dan itu mayang masih SMP."
__ADS_1
"Ketika mendengar Wira meninggal dunia, Wira juga meninggalkan Tia yang berbadan dua. Maka saat aku merasa ada kasihan pada bayi itu. Saat Azka lahir aku langsung sayang padanya, tapi aku tidak punya perasaan apapun pada Tia."
"Sayang, besok kita temui Ibu Aisyah, ya. Aku akan menemanimu menemui ibu kandungmu."