
"Ham."
Papa Adolf datang menjenguk sang cucu yang masih dalam inkubator. Pandangan lurus pilu pada salah satu sosok mungil cantik.
"Pa, Apa kita pindahkan saja ke rumah sakit yang lebih bagus." Pinta Ilham pada papa mertuanya.
"Ham, papa juga mau ngomongin ini. Papa lihat dislini Tiara belum juga ada perubahan. Kita bawa Tiara ke Brunei saja. Di rumah sakit milik keluarga."
"Aku ikut saja, Pa. Yang penting Siti sembuh dan bisa bangun lagi."
Ilham duduk didepan ranjang istrinya. Tangannya membelai rambut istrinya.
"Ti, aku mohon bangun. Tidakkah kau lihat betapa lucunya anak-anak kita. Tidakkah kau ingin menggendongnya. Aku mohon bangun, Ti."
"Apa Siti belum ada perubahan, Ham?" Tanya mama Mila saat menjenguk ke rumah sakit.
Ilham hanya melemas saat menatap tubuh yang masih terbaring di ranjang rumah. Sudah satu minggu sejak melahirkan, Tiara belum juga sadarkan diri. Sementara itu putri mereka mengalami permasalahan pada pernafasan karena bobotnya lebih besar dari adik lelakinya.
Ujian apa lagi ini, ya Allah.
__ADS_1
Suasana diruang rawat begitu hening. Ibu Aisyah, mama Fatimah dan Mama Mila terus melantunkan ayat-ayat suci. Begitu juga dengan Ilham yang tak pernah beranjak dari sisi istrinya melantunkan kalam cinta untuk kesembuhan Tiara. Semua keluarga besar, termasuk Edwar yang datang dari Jambi. Saat dikabari soal adiknya melahirkan. Edwar juga dikabari komanya sang adik.
Saat pertama Edwar sampai dirumah sakit, dirinya hanya mendengar tangisan bayi tampan. Ilham selalu mencoba mendekatkan sang bayi supaya ibunya terbangun, tapi nihil tak ada reaksi apapun. Edwar yang dulu pernah menentang hubungan mereka, sekarang luluh melihat kesungguhan lelaki saat merawat Tiara.
"Ham."
Ilham memutar tubuhnya melihat siapa yang datang. Lekas dia menghamburkan tubuhnya kepelukan sang abang ipar. Lama dirinya meresapi pelukan Edwar. Dia butuh seseorang yang menguatkannya, butuh sandaran, karena sandarannya kini terbaring lemah di tempat tidur.
"Kamu yang kuat, Ham. Ingat masih ada anak kalian yang membutuhkan kamu. Kamu tahu, ham? Siti itu sama dengan Gita, gampang sakit, apalagi kalau lagi ada masalah, dia suka kepikiran sampai lupa makan, dulu waktu dimusuhi sama Gita pas SMA, dia sampai demam. Adikku yang satu ini emang perasa orangnya, ham."
"Kak, kenapa masalah selalu bertubi-tubi menimpa kami berdua. Apa tuhan tidak sayang pada kami. Sakit rasanya, kak. Melihat dia terbaring lemah disana. Kami baru saja bahagia saat Siti bilang soal anak kami. Seandainya aku ngikuti kata Siti supaya melahirkan secara normal, mungkin tidak akan begini jadinya. Mungkin Siti saat ini masih menggendong bayi kami."
Ya Allah berilah kesembuhan untuk adik hamba. l dia bahagia bersama orang-orang yang menyayanginya. Hamba hanya ingin melihat mereka bahagia ya Allah.
Siti, aku tahu kamu pasti kuat. Kamu ingat, saat orang-orang mengejek mu karena ulahku dulu, kamu berusaha kuat walaupun kamu akhirnya menangis di rumah. Kamu bahkan merelakan lelaki cinta pertamamu menikah dengan sahabatmu.
Abang disini, ti, abang mohon kamu bangun. Banyak yang ingin abang ceritakan tentang keadaan desa sekarang.
Klik
__ADS_1
Pagi ini Ilham membersihkan tubuh Siti dengan handuk basah. Detak monitor tetap berbunyi seperti biasa.
"Ah, istriku sudah segar sekarang." Ucap Ilham sambil memandang istrinya yang masih terlelap.
"Kamu cantik kalau tidur kayak gini. Tapi jangan tidur terus sayang. Emang kamu nggak kangen sama aku. Tuh lihat baby boy kita, lucu 'kan. Ganteng pula? Iya dong, siapa dulu papanya. Kalau anak gadis kita mirip mamanya pastinya." Ilham terus berceloteh pada Siti. Walaupun dari hatinya merasa kegetiran yang mendalam.
"Ti, bangun dong. Kangen sama ambekan kamu, omelan kamu, kangen sama ******* kamu, kan biasanya kamu bangunin aku buat sholat dhuha."
Ilham mendengar suara langkah kaki, tubuhnya berbalik saat beberapa petugas rumah sakit memeriksa kondisi istrinya.
"Mon, kenapa Siti sampai sekarang belum sadar?"
"Kamu yang sabar, ya, ham. Harusnya sih cepat dia sadar. Tapi entah kenapa ini belum, ya. Padahal kalo dilihat dari peredaran darahnya dan kondisi detaknya aman kok. Banyak berdoa, ham, Yakin Allah tidak akan menguji melebihi kekuatan umatnya. Saya pamit dulu, ham."
Ilham pergi ke ruang inkubator sang putri. Ada rasa haru menatap sosok mungil yang sedang berjuang untuk tetap hidup.
Cepat sehat sayang.
Setelah Ilham menengok sang putri, kakinya melangkah ke kamar sang istri. Sebuah pemandangan yang membuat kakinya kaku tak bisa bergerak.
__ADS_1
Apa yang dilihat ilham?