
Sinar matahari menerobos masuk kedalam kamar. Pantulan cahaya yang berwarna kuning emas menyilaukan pandangan Tiara di sela-sela jendela kamar yang terbuka lebar.
"Aku dimana?"
Tiara menatap ruangan yang asing dimatanya. Matanya berputar menatap disekelilingnya. Tak ada suaminya. Sebuah ranjang bertutup kelambu dimana dirinya berbaring saat ini.
"Mas" Pekik Tiara mencari suaminya.
Tapi tetap saja yang dicari tak menampakkan batang hidungnya.
Tiba-tiba Tiara merasa ketakutan.
"Apa karena mama mila dan papa Pram tidak bisa menerima kehamilanku, suamiku membuangku ke tempat ini? Sekarang aku ditinggal sendiri disini!"
"Hiks ... hiks ... hiks kamu jahat, mas!" Tiara mulai menangis kencang.
Kepalanya menunduk dibawah lipatan tangannya. Merasa diasingkan karena kehamilan yang mendadak ditengah merebaknya isu kalau suaminya mandul.
Kaki melangkah menatap jendela, membuka daun jendela yang langsung menatap langit terang.
Tunggu bentar!
Ini bukannya hotelnya Ine, ya.
Bukankah tempat ini banyak kenangan dengan Gita?
Kenapa dia selalu membawaku ke tempat kenangannya bersama Gita?
Kenapa kamu masih belum move on dari gita!
Kenapa selalu ada dia disetiap permasalahan kita!
Tiara terus bermonolog berpikir bahwa suaminya memang belum move on dari Gita. Dia merasa suaminya masih membawa kenangannya bersama Gita, padahal sekarang sudah berumah tangga.
"Mas, kamu dimana?" Tiara keluar dari kamar mencari suaminya.
Kejadian di hotel dulu yang membuat dirinya trauma. Masih lekat dibenaknya saat suaminya meninggalkannya di hotel, mendapat gangguan gaib di kamar pengantinnya.
Tak lama Ilham sampai dikamar mereka membawa satu nampan berisi makanan. Kaget dia lihat sang istri tak ada dikamar. Dengan cepat berlari mencari Tiara, tapi tak menemukannya. Rasa putus asa mendera di pikirannya takut terjadi sesuatu pada istrinya, karena masalah dinginnya sikap kedua orangtuanya.
"Saayaaang" Ilham berlari mencari istrinya.
"Maaf mbak lihat istri saya?" Tanya Ilham sambil memperlihatkan photo istrinya.
"Nggak lihat, pak."
"Makasih, mbak." Ilham melanjutkan langkahnya mencari Tiara.
"Sitiiiii!"
"Sitiiii! Kamu dimana sayang?" panggil Ilham berharap istrinya menampakkan batang hidungnya.
__ADS_1
Ilham membungkukan kakinya. Sesekali mengacak rambutnya. Ada sesal meninggalkan istrinya sendiri di kamar hotel. Apalagi saat ini psikis Tiara gampang down.
Matanya tertuju pada sosok wanita yang sedang melamun di gazebo pinggir pantai. Ilham berlari mendekati wanita yang sedari tadi dicarinya. Ada rona bahagia melihat istrinya baik-baik saja.
"Sayang, kamu kemana saja?" Ilham duduk disebelah istrinya.
"Pantai itu kalau dipandang sangat indah, ya, mas. Langit cerah, air ombak yang menggulung, seolah deburannya menarik kita untuk bermain bersama mereka. Tapi kalau kita terlalu dekat pantai itu bahaya, gulungannya yang terlihat menarik akan menerkam kita. Menggulung tubuh kita masuk ke dalam laut.
Seperti kita, kita yang berharap sesuatu yang indah di depan mata. Ternyata tak seindah yang sebenarnya. Aku tidak menyangka sikap mama dan papa berbalik 180 derajat hanya karena kehamilanku." Tiara terus berceloteh sambil menatap deburan ombak yang menghantam batu karang.
Ilham memeluk Tiara dengan erat "Ti, maafkan mama dan papa, ya. Mereka masih syok, pasalnya mereka tahunya aku mandul. Aku juga tidak menyangka kalau ternyata aku normal. Bisa memberimu keturunan."
Saat Tiara mengutarakan perasaan yang kalut, Ilham menarik kepala istrinya untuk bersandar dengan lembut. Dengan segenap cinta yang dimilikinya, Ilham mencoba menguatkan Tiara dan meyakinkan bahwa dia selalu ada. Tangannya mengusap lembut punggung.
"Kamu tenang saja, sayang. Aku akan ada buat kamu, melindungimu, menjagamu, selama ada aku kamu akan aman, selama aku masih bernafas kamu akan baik-baik saja.
Ilham mendekap tubuh Tiara semakin erat. Tiara merasakan kenyamanan yang paling dalam. Dia percaya suaminya tidak akan pernah mengecewakannya. Dia juga yakin selama mereka menyelesaikan masalah dengan kepala dingin pasti akan ada jalan keluarnya.
"Percaya sama aku, ti." Bisik Ilham.
Tiara menganggukkan kepalanya "Aku percaya sama kamu, mas. Kamu juga percaya kan nak sama papa?" Ucap nya sambil mengelus perutnya.
Dugh!
Mereka menempelkan tangan bersama diatas perut Tiara. Senyum merekah di bibir keduanya, wajah yang tadinya sendu berubah menjadi tawa bahagia.
"Aku mencintaimu sekarang dan selamanya" ucap mereka bersama-sama. Ilham mengecup kening Tiara.
"Aku lapar, mas." Tiara mengelus perutnya.
"Anak papa lapar juga, ya. Papa mau kamu makan yang banyak supaya kamu sehat." Ilham mengajak berkomunikasi dengan janin yang dikandung istrinya.
"astaga! Aku lupa menuntup pintu kamar kita." Ilham menarik istrinya untuk ikut kembali ke kamar hotel.
Klik
"Pa, aku nggak mau nikah sama Rangga." Protes jihan saat papa Alex tetap memaksa sang putri menerima Rangga sebagai calon suaminya.
"Kamu mau nya apa? dari semua lelaki yang papa kenal cuma Rangga yang bibit, bebet, bobotnya bagus. Dengan kondisi kamu yang sekarang bersyukur masih ada yang mau sama kamu, Jihan!"
"Kondisi aku yang gimana, pa?"
"Kondisi kamu yang pernah hamil di luar nikah. Bikin malu saja!"
"Pa, Rangga yang membatalkan perjodohan ini bukan Jihan. Papa mau jihan menikah dengan lelaki yang tidak mencintainya." Bujuk mama Kiki.
Jihan hanya bisa menunduk lemah. Dia sadar diri kalau sejatinya bukan lagi wanita seutuhnya, dimana mahkotanya sudah terenggut akibat kesalahannya sendiri.
"Papa yakin kalau Donal bisa membujuk anaknya agar mau menikah dengan Jihan. Bagaimanapun aku yang menaikan derajat keluarga itu." Ucap papa dengan lantang.
Bagi papa Alex, Rangga sudah menjadi paket komplit untuk menjadi menantunya. Rangga lulusan universitas ternama di Belanda. Seimbang dengan sang putri yang lulusan Harvard.
__ADS_1
Tapi bagi Jihan, menerima Rangga sama saja mengulang kesalahan yang sama. Kesalahan menjadi duri bagi hubungan Ilham dan Siti. Dia pun tak ingin menjadi duri dalam hubungan Ina dan Rangga.
"Sudah bagus kita membesarkannya. Harusnya dia berterimakasih sama kita. Entah dia dari kalangan keluarga miskin." Ucap papa Alex yang masih kesal.
"Mas, kenapa diungkit soal itu, sih." Mama kiki kaget saat papa Alex keceplosan.
"Pa, aku tetap nggak mau nikah sama Rangga!"
Jihan masuk ke kamar sambil membanting pintu dengan keras.
Jihan hanya bisa menangis meratapi kisah cintanya.Tapi untuk hubungan dia dengan Rangga belum termasuk percintaan, karena sama-sama tak punya rasa. Jihan mencoba menghubungi akbar yang akhir-akhir ini tak ada kabar. Entah kenapa dirinya rindu akbar yang ceplas ceplos dan apa adanya.
Jihan masuk kamar mandi duduk di toilet sambil terus menghubungi lelaki itu. Tapi ternyata tidak diangkat. Hingga akhirnya Jihan menyerah. Dia merasa Akbar sudah tak ingin berteman dengannya lagi.
Zreeeeet Zreeeet
"Assalamualaikum" sapa suara manis diseberang sana
Kok yang angkat perempuan, ya
"Ini siapa, ya? kok ngangkat telpon Akbar"
"Oh, saya mayang istrinya Akbar."
"Istri?"
"Oh, ini pasti mbak Jihan, ya. Bang akbar sudah banyak cerita tentang anda."
"Selamat ya, Akbar kok nggak ngabarin kalau mau nikah."
"Kami baru saja melangsungkan ijab kabul."
Jihan berusaha menekan perasaannya. Dulu memang dirinya pernah menolak Akbar. Jihan tahu diri kalau lelaki itu pasti akan kecewa kalau dirinya sudah tak perawan lagi.
Apa yang harus aku lakukan?
Bagaimana aku bisa membatalkan rencana pernikahan ini?
...####...
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung
__ADS_1