
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam."
Semua diruangan menoleh pada sosok wanita berhijab diikuti dengan seorang pria.
"Sheila." sahut Siti.
Keduanya langsung saling memeluk melepas rindu. Sheila yang sudah dianggap Siti seperti adiknya sendiri.
"Andi?" Sahut Ina mengenal lelaki yang datang bersama Sheila.
"Hey, Chubby ... kamu disini rupanya." Ina menggaruk kepalanya saat Andi memanggil ejekan masa kecilnya.
"Please jangan panggil itu, disini." Bisik Ina.
"Miane..." Andi tersenyum simpul melihat temannya malu dengan julukannya.
"Ini bukannya pacar kamu yang ...." Ilham mengingat sosok lelaki yang datang bersama Sheila.
"Berdua aja, la."
"Aku sama Andi naik motor. Kak jo sama Istri bentar lagi nyusul."
"Istri???" Sahut mereka bersamaan.
Sungguh berita yang mengejutkan bagi mereka. Sebab tak ada kabar tentang siapa gadis yang sedang dekat dengan Jonathan. Hari ini kabar tentang pernikahan Jonathan menghebohkan satu ruangan.
"Beneran?" Jawab Alam masih tidak percaya.
"Hahahhahaa... kau kalah, lam. Makanya cari." Ejek Edwar.
"Kenapa aku yang jadi sasaran sih?"
"Karena disini cuma kamu yang jomblo." Balas Edwar.
Alam hanya mencibir ucapan sahabatnya. Dia tak terlalu panas saat diledek jomblo, karena dia pun sudah pernah menikah. Tangannya melirik jam tangan menandakan ada jadwal lain diluar.
"Ma, aku ada rapat hari ini. Aku duluan, ma titip Sasha, ya."
"Lam, aku boleh nebeng." Ucap Ina.
"Mau kemana?"
"Ke pusat rehabilitasi, Lam. Ada seseorang yang akan kutemui disana sebelum aku berangkat ke Jepang."
__ADS_1
"Ehmmm, anterin tuh." Ledek Edwar.
Entah kenapa Mama Yulia memasang wajah tidaksuka.
"Na, biar pak sopir aja yang mengantarmu." Ucap Yulia.
"Iya, kak". Ina menurut saja saat Ilham mengantarkan Ina sampai pintu masuk rumah sakit.
"Terimakasih, Na. Kamu mau menemui Dodo, aku harap kamu mau memaafkan dia."
"Iya, kak Ilham." Ina hilang dengan masuk dalam mobil. Namun didalam mobil Ina melihat Jihan sampai dirumah sakit.
Itu kak Jihan kok sama laki laki lain, ya. Bukannya kak Jihan nikah sama kak Rangga. Ah, tidak beres ini, kak Jihan pasti selingkuh dibelakang kak Rangga.
Ina yang tadinya berencana menjenguk Dodo. Mengurungkan niatnya mencari tahu siapa yang sedang bersama Jihan. Rasa penasarannya saat melihat Jihan menggandeng seorang lelaki lebih besar daripada menjenguk Dodo.
"Pak, saya balik kedalam dulu." Pamit Ina langsung masuk kembali ke dalam ruangan.
Klik
Assalamualaikum
"Waalaikumsalam." Sahut semua yang berada diruangan.
Tampak Jihan dan Akbar memasuki ruang rawat Siti. Semua yang ada di ruang saling bersalaman.
"Bu."
Ibu Aisyah menatap Jihan yang sudah berlinang air mata. Tubuhnya langsung membungkuk mencium kaki Ibu Aisyah. Ibu Aisyah bingung dengan sikap Jihan, lalu menaikkan tubuh wanita muda didepannya.
"Nak Jihan. Kenapa menangis?"
"Apakah Ibu mengenal Kalung ini?"
Jihan mengeluarkan sebuah kalung yang berlabel nama Almira. Ibu Aisyah terkejut saat melihat kalung yang diserahkan Jihan. Kalung itu seakan membuka memori tentang anaknya yang hilang. Anak yang selama ini dia cari.
"Dimana kamu menemukannya, nak?" Tanya Ibu Aisyah.
"Ibu, itu punyaku."
Ibu Aisyah mencoba memastikan apa yang didengarnya.
"Iya, itu kalungku. Aku Ira, anak yang Ibu cari selama ini."
"Benarkah kamu, Ira?" Jihan mengangguk lalu memeluk ibu Aisyah.
__ADS_1
"Anakku .... Maafin ibu, nak. Ibu teledor tidak bisa menjagamu hingga hilang. Maafkan ibu! jangan benci ibu!" Ucap Ibu Aisyah memegang wajah Jihan.
"Jihan tidak marah pada ibu. Jihan tahu bahwa semua yang terjadi adalah takdir. Takdir yang dulu memisahkan kita dan takdir pula yang mempertemukan kita.
"26 tahun yang lalu tanpa sengaja mama dan papaku menabrak seorang anak. Anak yang mereka tak tahu siapa orangtuanya, anak yang mereka tidak tahu darimana asalnya. Anak yang mereka rawat sampai sekarang, bu. Papa Alex bilang ibu pernah mendonor darah buat aku. Terimakasih, bu. Kalau tidak seperti itu, aku tidak bisa berdiri didepan ibu saat ini."
"Ya Allah, anakku telah kembali. Siti ini kakakmu, nak. kakakmu telah kembali. Akhirnya aku bertemu denganmu, nak. Anakku Ira yang selama ini aku cari dan sekarang berada didepanku. Ya Allah terimakasih sudah mengembalikan Ira-ku."Ucap Ibu Aisyah disela isak tangisnya. Jihan pun hanya menangis dalam pelukan Ibu Aisyah.
"Ibu, maukah tinggal bersamaku dirumahku. Ibu tinggal sama Jihan, ya. Mas, bolehkan aku ajak Ibu tinggal sama kita. Iya aku tahu kalau itu rumah orangtuamu. Tapi kalau kamu mengizinkan."
Akbar mendekati Jihan.
"Han, ibumu kan orangtuamu juga orangtuaku. Aku nggak keberatan kalau kamu ajak tinggal bersama. Tapi aku juga harus diskusikan pada Mayang juga. Biar bagaimanapun Mayang berhak tahu."
"Iya, mas. Aku paham."
Braaakkkkk!
"Jadi benar yang aku lihat. Kak Jihan selingkuh dibelakang kak Rangga. Aku nggak nyangka! Kenapa kakak tega sama kak Rangga. Kurang baik apa kakakku itu."
"Na." Alam menarik Ina yang masih emosi.
"Apaaaa!"
"Na, dengar dulu." Ina melepas tangan Alam dengan kasar.
"Ikut aku!"
Alam menarik Ina dengan kasar lalu mendorong tubuh Ina disudut toilet.
"Kamu mau bela dia jelas jelas dia..."
"Kekasihmu itu tidak pernah menikah dengan Jihan. Dia tidak datang di hari pernikahannya, dia kabur Ina, kabur! Apakah lelaki seperti itu yang kamu harapkan, Ina" Bentak Alam.
"Sekarang kamu minta maaf sama Jihan. Cepat temui jihan dan minta maaf!" perintah Alam sambil menarik tubuh Ina dengan kasar.
Sementara di ruang rawat Siti. Mama Yulia meminta maaf atas kelakuan adiknya. Ada rasa tak enak karena Ina sudah membuat keributan. Jihan memaklumi karena Ina tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Tante, aku paham apa yang dirasakan Ina. Dia pasti mengira aku dan Rangga sudah menikah. Biar aku yang bicara sama Ina dari hati ke hati. Tante jangan marahi Ina. Ina dan Rangga saling mencintai tante."
Tak jauh dari lorong rumah sakit
"Apakah mereka mau memaafkan mama, Jo?"
Jo tahu mamanya takut mendapatkan penolakan dari keluarga Siti. Tapi Jo mencoba menguatkan mama Linda supaya menerima resiko yang terjadi nanti.
__ADS_1
"Ma, Jo yakin Siti dan Ilham mau memaafkan kita. Buktinya Ibu Aisyah masih baik sama aku dan Sheila."
"Bismillah ya Ma .. Semoga yang kita lakukan diijabah Allah."