
Mama Linda berencana memecat bibi yang sudah bertahun-tahun bekerja di rumahnya. Karena menantunya akan tinggal bersama mereka. Entah apa yang direncanakan oleh wanita itu. Yang pasti si bibi sangat kaget dengan keinginan mama Linda memberhentikan dirinya.
"Bibi salah apa non Ela, sampai ibu mau pecat saya. Saya sudah bekerja disini sejak den Nathan masih bayi. Kalian sudah seperti anak bibi." Isak bibi saat diberikan pesangon terakhir.
Sheila yakin mama mau menjadikan kak Siti seperti pembantu. ini tidak bisa dibiarkan, tapi bagaimana menjelaskannya pada kak Nathan. Kalau aku cerita yang sebenarnya, nanti mereka berantem lagi. Terus kak Nathan minggat lagi.
Ya Allah, gimana ini. Aku tidak tega dengan kak Siti.
Sheila memutar otak untuk mencegah rencana orang tuanya. Tapi tetap saja buntu dipikirannya. Akhirnya Sheila pasrah.
" Akan ada waktunya aku bisa memberitahukan mereka."
Sheila membuka gawainya, melihat beberapa file tentang dunia anak-anak. Sheila saat ini sedang mendalami menjadi guru taman kanak-kanak. Jurusan yang sempat di tentang oleh orangtuanya.
Sedari kecil Sheila atau yang biasa dipanggil Ela suka sama anak-anak. Baginya dunia anak sangat menarik. Dimana mereka bermain tanpa beban. Ela membaca sebuah artikel di sebuah aplikasi google. Sambil menikmati cemilan yang ada disampingnya. Saat ini Sheila belum berniat kuliah.
Zreeeeet zreeeeet zreeeeet
Hp Sheila bergetar.
Ah, dini rupanya yang menelpon
π³ Dini
la kamu sibuk nggak. Hangout yuk ... tadi aku dapat konser Yovie and Nuno di sebuah cafe ternama.
π³ Sheila
Aduh, nggak ah ... malas sempit sempitan disana.
Kenapa nggak ajak Lila aja? dia kan fans Yovie and the Nuno. Pasti senang banget dia ketemu langsung sama Dikta.
π³ dini
lila nggak bisa ikut, la. Dia ada acara sendiri, taulah sejak dijodohkan sama orangtuanya, dia kemana-mana nempel sama calonnya.
Kamu ikut ya, aku jemput.
π³ Sheila
Ya, udah deh aku siap-siap dulu. Aku boleh ajak teman nggak?
π³ dini
tapi tiketnya cuma untuk kita berdua.
π³ Sheila
Ok deh. aku siap-siap dulu.
Sheila bersiap-siap untuk hangout bareng Dini, sahabatnya semasa sekolah. gadis berusia 19 tahun itu, memilih-milih baju yang pas serta me matchingkan dengan hijabnya.
Saat Sheila memutuskan untuk berhijab ketika SMP, orangtuanya menentang. Karena bagi mama papanya, kalau dirinya berhijab akan membatasi aktivitas putri bungsunya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, sejak berhijab Sheila membatasi dirinya dari kehidupan hedonis. Keputusan berhijabnya Sheila hanya didukung oleh Jo, bahkan Raisa kakak perempuannya suka mengolok olok dirinya.
Setelah selesai berdandan simple, Sheila langsung berangkat. Dengan mengandalkan grab car, Sheila sampai ke tujuan. Matanya berkeliling mencari temannya. Sebuah lambaian tangan mengode dirinya menuju ke meja temannya.
Sheila terkejut saat dini mengajak pacarnya. Kalau dia tahu dini bawa pacarnya, dia tak akan mau menerima ajakan sahabatnya itu. Dengan dongkol dia duduk diantara dini dan pacarnya.
"Andi!" Panggil dini
Sheila menelan salivanya, dia kenal lelaki yang di panggil Dini.
__ADS_1
Ya ampun, ngapain dia disini. Ini si dini ngapain sih ajak si Andi. malas banget.
Andi berjalan menuju meja mereka. Okan, pacarnya Dini berpindah tempat ke sebelah kekasihnya. Sheila hanya bisa menahan gondok, karena harus bersebelahan dengan mantan pacarnya.
"Kamu apa kabar, la?" tanya Andi yang duduk di sebelahnya.
"Baik." Sheila mencoba menetralisir hatinya.
Andi adalah cinta pertama Sheila sekaligus pacar pertamanya. Siapa yang tidak kenal Andi disekolahnya dulu. Ganteng sih tidak tapi manis dengan kulit kuning Langsat. Perawakan Andi yang sebenarnya jauh dari atletis, sosoknya yang sederhana membuat teman-temannya jatuh cinta.
Tapi siapa sangka lelaki malah melabuhkan hatinya pada Sheila. Padahal banyak yang mendekati Sheila. Hanya saja banyak yang minder ketika tahu siapa orangtuanya.
Hingga pada suatu hari, Sheila mendengar ceramah di mesjid saat sholat teraweh. Ceramah yang menjelaskan bahwa pacaran itu dilarang. Sheila mulai berkaca-kaca diri. Sheila akhirnya menyadari kalau hijabnya tidak akan berguna, jika tetap menjalankan larangan-nya.
Andi sempat tidak terima saat gadis itu memutuskannya. Malah Andi sempat mengajaknya menikah saat SMA, agar hubungan mereka menjadi halal. Tentu saja, Sheila menolak. Karena dia masih ingin mengejar cita-citanya.
Hingga Sheila memutuskan pindah ke sekolah Islam agar tidak sering bertemu Andi. Sejak itu, Sheila tidak tahu kabar lelaki itu. Belakangan dia baru tahu, kalau Andi kuliah di universitas Islam Indonesia, mengambil jurusan komunikasi.
klik
Hari-hari Jo disibukkan dengan pekerjaan di kantor. Dunia baru baginya, Jo yang biasa hidup bebas cukup stres karena harus seharian di meja kerjanya.
Perusahaan keluarga Jo adalah perusahaan yang bekerja di bidang retail. Mengelola tekstil baik import dan eksport.
"Pak Nathan hari ini ada meeting dengan perusahaan PT. Parmalex Corporation. Pak Nathan sudah di tunggu di ruang meeting sekarang." ucap Ica, sekretaris papa Hermawan.
"Makasih, Ica. Saya akan kesana sekarang." Jo langsung beranjak menuju ruang meeting.
Sepertinya aku pernah mendengar perusahaan itu. Tapi dimana, ya? Ah, nanti pas ketemu juga bakal tahu kok.
βοΈ Siti sayangku
Kak lagi sibuk, ya. Tadi aku Kirimkan bekal buat kak Jo.
βοΈ Kak Jo
Makasih istriku
Muuuuaah
βοΈ siti sayangku
Ih, dasar. Aku belum istrimu.
Jo tertawa membaca balasan Siti. Makin hari dirinya makin sayang pada gadis itu. Jo yakin Siti mulai menaruh hati padanya. Karena Siti mulai memberikan perhatian seperti mengirimkan bekal untuknya.
Jo menatap seorang wanita yang masuk ke ruang meeting. Papa Hermawan pun mengajak Jo berbaur dengan relasi bisnis mereka.
"Jihan?"
"Eh, kak Jo, apa kabar?" sapa Jihan menyalami Jo
"Alhamdulillah, baik. Jadi kamu perwakilan parmalex corporation."
"Iya, kak. Siti apa kabar, kak? udah lama nggak ketemu."
"Siti baik, Alhamdulillah sehat. Sekarang dia lagi fokus terapi kakinya."
"Ya, udah. silahkan masuk, Jihan. Sebentar lagi rapat segera dimulai."
Jihan dan Jo masuk ke ruang meeting. Papa terus memuji Jihan yang menurutnya cantik dan berkelas.
__ADS_1
"Cantik, ya anaknya Alex." Puji papa Hermawan saat melihat penampilan jihan mempresentasikan pekerjaannya.
"Iya cantik, pa. ini papa muji dia bukan untuk jodohin aku sama dia kan. Papa kan tahu aku sudah punya ...."
"Iya, papa tahu kamu punya Siti. Papa kan cuma bilang dia cantik. Emang salah kalau papa mengaguminya?" Papa langsung meralat ucapannya.
"Heh, iya, pa. Untung papa bilang ke aku, coba kalau ke mama."
Hermawan tak mau kalah " kalau di depan mama kamu, itu sama saja bunuh diri." Jawab papa Hermawan sambil tertawa bisik.
Jo mengulum senyum saat mendengar ocehan papanya.
βοΈ siti sayangku
Kak jadi nggak ke rumah sakit.
βοΈ kak Jo
Kamu duluan nanti aku nyusul.
βοΈ Siti sayangku
Tapi aku pergi sama siapa?
βοΈ Kak Jo
sudah aku minta Mbak Susi yang nemenin kamu.
Awas jangan tebar pesona.
Kamu itu cantiknya cuma buat aku.
βοΈSiti sayangku
Apaan sih.
βοΈ kak Jo
Bentar lagi aku susul ya sayang.
βοΈ Siti sayangku
Iyaaa! bawel!
Jo memasukkan hp nya kedalam kantong bajunya. Lalu kembali menyimak proses meeting perusahaan mereka. Papa tak jenuh memandang jihan, Jo mengingatkan papa agar tak lupa kalo ada mama Linda di rumah.
Andai gadis itu yang jadi menantuku.
klik
Siti dan mbak susi sudah berada didalam rumah sakit. Mereka menaiki lift rumah sakit.
Tiba-tiba Mbak Susi pamit ke toilet.
Siti disuruh duluan naik ke lantai atas. Saat dalam lift Siti hendak memencet tombol lift. tangannya susah menggapai tombol karena jarak kursi dan tombol.
Tiba-tiba sebuah tangan memencet tombol.
"Kamu mau ke orthopedi kan, ti?" Siti menelan salivanya saat mendengar suara tersebut.
...####...
__ADS_1
Bersambung