Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
122. Ngambek


__ADS_3

"Silahkan pergi. kalau itu membuatmu senang. pergilah! cuma satu selangkah kamu pergi itu artinya kamu siap kehilangan aku dan anak kita. Aku pikir kamu lelaki yang bertanggung jawab.


Ternyata bukan."


Tiara berdiri didepan pintu kamarnya. Tangannya layaknya seorang pelayan yang meminta orang untuk melewati pintu.


"Ti." Ilham kaget melihat reaksi Tiara.


"Kenapa, Ham? Kamu berharap aku menahanmu lagi? Buat apa? Toh kamu yang bersikeras mau pergi kan. Jadi aku kasih ruang buat kamu untuk keluar dari kamar."


Ilham terdiam, memang benar yang dikatakan istrinya. Sikapnya itu untuk memancing Tiara, apakah istrinya tetap menahan dirinya seperti biasa. Tiara menepis tangan suaminya yang mulai membujuknya lagi.


"Aku capek dengan kehidupan seperti ini. Bertengkar terus baikan, kamu bahkan pernah bikin down dengan prankmu itu. Sekarang mau kamu apa! Merengek seperti anak kecil ngancam minggat demi minta dibujukin. Kamu itu laki-laki, mas." Tiara menunjuk dada suaminya.


Ilham memeluk istrinya dengan mesra. Lagi-lagi Tiara melepas pelukan suaminya, perasaannya yang masih tak menentu. Hatinya yang luka karena merasa dipermainkan.


"Ti."


"Kenapa sejak aku hamil kamu semakin menjauh, mas. Kamu lebih sibuk dengan pekerjaanmu sampai lupa pulang. Kamu lebih fokuskan dengan pekerjaan, sementara aku? Hidup seperti burung dalam sangkar. Kadang aku pengen refresing, mas. Tapi aku menahan diri demi restumu."


"Burung saja terbang tak lupa pulang, masih ingat sama anak istrinya."


"Maaf, aku hanya menjalankan profesional kerja. Kamu kan tahu sendiri sekarang keadaan lagi gawat darurat. Tolong ngertiin aku, Sayang." kedua tangan Ilham mencakup wajah Tiara. Wajah yang tadinya menunduk sekarang terangkat.


Tiara enggan menatap wajah Ilham. Dia menyadari kelemahan gampang luluh pada suaminya, itu yang membuat dirinya lebih mudah diatur suaminya. Pelan-pelan dia melepaskan tangan Ilham. Kakinya melangkah kearah ranjang. Baginya rebahan menjadi obat pelipur lara.


"Tatap mataku, ti. Apakah aku seburuk itu dimatamu? sejak awal kita jadian sampai sekarang apakah stigma mu padaku masih sama. Oke dulu mungkin aku terobsesi pada Gita. Bukan obsesi tapi karena aku terbiasa ingin melindungi Gita, terbiasa selalu ada buat dia, sampai kebawa saat dia sudah menikah itu saja. Bukan aku masih mencintai Gita." Bela Ilham.


Baginya sampai saat ini istrinya masih mencemburui Gita. Walaupun Gita sudah meninggal.


"Kita tidak sedang membahas Gita, mas. Kita saat ini membahas kamu yang tidak pernah peka dengan perasaanku. Kamu yang tidak pernah mencoba meyakinkan papa bahwa kamu menantu yang bisa dia banggakan."


"Ti, aku tanya sekarang? yang sering ngambek pulang ke rumah orangtua siapa, aku atau kamu? Jadi kalau papa Adolf tiba-tiba masuk dalam rumah tangga kita, itu karena kamu yang memulainya duluan. Bukan aku, ti. Kamu lihat mama mila atau papa pramono, pernah nggak mereka ikut campur dalam rumah tangga kita. Enggak kan!


Sekarang kamu terus-terusan nyalahin aku. Bilang nggak peka lah. Mau kamu apa?"


Ilham sudah pusing melihat sikap istrinya yang selalu melibatkan orangtuanya. Dia saja tidak pernah mengadukan masalah rumah tangganya pada mama dan papanya.


Ilham bersujud didepan istrinya, memegang tangan lalu mengadahkan kepalanya. Menatap wanita yang saat ini sudah memenuhi relung hatinya.


"Ti, aku memang bukan suami yang sempurna. Tapi kalian yang bikin aku menjadi seperti sempurna. Aku, kamu dan anak kita.


Aku bukan suami yang selalu memberikan hal yang romantis dalam hidupmu. Tapi kamu yang membuat hidup kita menjadi seperti romantis."


Ilham kembali mengangkat tubuhnya. Berdiri mensejajarkan di depan istrinya. Tampak wajah Tiara mulai basah saat mendengar ucapan suaminya. Sebenarnya dia mulai tergugah dengan ucapan Ilham, tapi gengsi yang besar lebih berkuasa.


Tok tok

__ADS_1


"Ti...ham.. yuk makan malam. Mama sudah masak spesial buat kalian." panggil mama Fatimah dari luar kamar.


Tiara keluar dari kamar tanpa memperdulikan suaminya. Ilham mencoba menggoda sang istri. Walaupun dia tahu reaksi Tiara masih ketus padanya.


"Anak papa mau makan apa?"


Dugh!


"Mau ayam goreng, nak. Uenaaakk, nak. Apalagi kalau oma yang masak. Nyaaaam...nyaaaam!" Ilham memakan ayam goreng sambil mengelus perut istrinya.


Dugh!


"Tuh, yang. anak kamu suka tuh sama ayam goreng Omanya. Nanti kalau kamu sudah gede bantuin mama didapur. Tau nggak kalau mama kamu yang masak pasti enak dari oma."


Dugh!


Ilham mengambil banyak lauk pauk ke dalam piring istrinya. Tiara kaget dengan tumpukan lauk pauk diatas piring.


"Bagaimana aku bisa ngabisin sebanyak ini, mas? Emang perutku tong sampah."


"Udah makan aja dulu. Kalau kamu kenyang aku yang abisin." Jawab ilham menyuapkan nasi ke mulut istrinya.


"Ibu mana, ma?"


"Ibu kamu pergi ke rumah Jihan. Katanya Jihan hari ini mau nikah."


Tiara dan Ilham saling pandang. Mereka kaget saat mendengar Jihan akan menikah.


Mama Fatimah menaikan bahunya.


Hueeeekkkk Hueeeeekkk ...


Tiara berlari ke wastapel di dekat dapur. Dengan sigap Ilham mengurut tengkuk belakang istrinya. Tapi ditepis Tiara.


"Ma, aku ngantuk. Aku balik ke kamar duluan." Pamit Tiara meninggalkan suaminya yang masih bingung dengan sikap istrinya.


"Ham, kamu makan dulu, nak. Mama lihat kamu belum makan dari tadi."


"Iya, ma." Ilham duduk di meja makan menghabiskan sisa makan istrinya.


"Ini mama tambahin lagi. Masa mantu mama makan nasi sisa." Mama menyodorkan nasi komplit ke menantunya.


"Terimakasih,ma."


Klik


Didalam kamar Ilham dan Tiara masih dalam perang dingin. Ilham berupaya mendekati istrinya tapi tetap saja dicuekin.

__ADS_1


"Kenapa tidak jadi pergi! Tadi ngotot banget mau minggat." omel Tiara dibalik selimut.


"Sayang." Ilham sudah berada disamping Tiara, memeluk layaknya guling.


Tak ada sahutan. Tangannya melepaskan dekapan suaminya dengan kasar.


"Kamu masih marah dengan aku, yang." Bujuk Ilham.


Lagi-lagi tak ada respon dari Tiara. Ilham membalikkan badan. Keduanya saling terdiam dalam keheningan malam.


"Ti"


"Hmmm"


"Aku kangen sama kamu. Kangen manja kamu. Kalau di rumah sakit aku selalu mikirin kamu sedang apa, lagi ngapain. Aku sering membayangkan anak kita kalau liat anak-anak yang dirawat disana."


Tak ada respon dari istrinya. Ilham yakin kalau istrinya sudah tidur. Tubuhnya berbalik memeluk sang istri.


Cup!


"Selamat tidur sayang. Mimpiin aku, ya."


Klik


Ilham langsung bangun saat adzan berkumandang. Dengan setengah mengantuk dia berjalan kekamar mandi untuk berwudhu.


Tampak wajahnya terlihat lebih segar ketimbang saat bangun tadi. Ilham membiarkan istrinya beristirahat karena sudah terlanjur berwudhu. Setelah sholat subuh, Ilham melipat sajadah dan mengganti sarung dengan celana tidurnya.


"Sayang, bangun sholat subuh. Ntar keburu terang lo." Ilham mengguncang selimut bermotif mawar merah.


Tak ada sahutan.


Kakinya berjalan menuju ranjang. Lagi-lagi mencoba membangunkan sang istri untuk sholat subuh. Tetap saja tak ada sahutan. Ilham membuka selimutnya ternyata hanya ada bantal dan Guling.


"Dia kemana?"


Ilham mencari Tiara dari kamar mandi hingga ke dapur. Namun, dia tak menemukan keberadaan sang istri.


"Ham, kamu sudah bangun." Sapa mama Fatimah


"Sudah, ma. Aku dari tadi nyari siti, kemana ya?"


"Oh, siti. Sebelum subuh tadi siti merengek minta papa temenin dia jalan ke monas. Awalnya papa nyuruh bodyguardnya antar siti. Tapi ternyata dia ngotot minta papanya nganterin, kayaknya dia lagi ngidam, ham. Soalnya papa sempat pusing dengan permintaan siti."


Ilham mengerutkan keningnya "Permintaan?"


"Iya, ham. Dia bilang mau jalan kaki ke monas nggak pake sendal."

__ADS_1


Ilham langsung meneguk orange jus yang disiapkan mama mertuanya.


"Ma, Ilham pamit dulu, ya. Nyusul siti ke monas."


__ADS_2