
...Cinta akan menuntunmu kembali pada pemiliknya...
...by author...
...****************...
Buuuughhh!!
Dua laki-laki menghajar Ilham secara bersamaan. Kemarahan yang mereka rasakan sangat besar. Apalagi kalau bukan tentang adik dan tunangannya yang sedang terbaring di rumah sakit. Alam dan Jo meluapkan emosinya pada Ilham.
Siti dinyatakan kritis setelah menyelamatkan nyawa jihan. Siti kehilangan banyak darah, sehingga harus di rawat khusus.
klik
Jihan mengabari Jo terkait kecelakaan yang menimpa Siti.
"Assalamualaikum kak Jo. Aku mau mengabari Siti kecelakaan tabrakan barusan. Sekarang sedang ditangani Ilham dan rekannya."
"Kok bisa? Apa yang terjadi?"
"Ini kak Jo. Kalau informasi yang aku dengar, sebelum kecelakaan Siti sedang bersama Ilham."
"Apa! Kurang ajar Ilham! Sudah menggoda calon istriku, lalu membuat Siti celaka!" Jo mengeluarkan amarahnya.
Si penelepon mengeluarkan senyum penuh arti. Sedangkan Jo bergegas mengambil jaket dan kunci motor gedenya. Pikirannya berkecamuk antara kecewa Siti masih dekat dengan Ilham, tapi juga ada kekhawatiran dengan keadaan Siti sekarang.
Sampai di rumah sakit, ada Alam dan Gita yang sudah lebih dulu sampai. Jo mendekati Alam menanyakan keadaan Siti. Semua yang disana menggeleng karena belum ada kepastian tentang kondisi Siti.
"Lam, ibu sudah dikabari belum?" tanya Jo pada Alam.
"Aku sudah kabari Edwar tadi. Besok mereka berangkat ke Jakarta." jelas Alam.
Dua lelaki itu beranjak mencari Ilham. Dari keterangan suster, mereka baru tahu kalau yang membawa Siti adalah Ilham. Alam mengepalkan tangannya, sebagai seorang kakak, Siti adalah tanggung jawabnya. Jo menatap lelaki di depannya, dia tahu Alam mengemban tanggung jawab terhadap Siti. Jo juga menyesalkan tindakan Siti yang sering menemui Ilham.
Ya Allah, Siti. Tolong bertahan, demi orang-orang yang menyayangimu. Demi aku, demi ibu.
Ya Allah, selamatkan calon istriku. Dia orang baik, bahkan terlalu baik.
__ADS_1
Jo lemas saat dokter mengatakan Siti butuh golongan darah, yaitu golongan darah B yang saat itu kosong di rumah sakit. Jo mencoba mencari tahu melalui sosmed. meminta bantuan teman-temannya. Tubuhnya terduduk di kursi panjang depan ruang ICU.
klik
Kediaman keluarga Alex
"Jihan, mama minta kamu mengenal calon yang akan kami kenalkan. Reputasinya lebih baik dari Ilham. Kamu tahu tidak bagaimana masa lalu Ilham?" mama Kiki menulai pembahasan inti, dia tidak ingin Jihan melanjutkan hubungan dengan ilham.
"Tapi, ma. setiap orang pasti punya masa lalu. Mama lupa bagaimana kehidupanku dulu! Sampai mama mengungsiku ke Inggris. Mama lupa! Aku berasa egois kalau hanya menyalahkan Ilham saja."
"Termasuk pernah melecehkan seorang wanita! Apa kamu bisa menerima? Bagaimana Ilham melecehkan seorang wanita, hanya karena tidak terima wanita itu sudah memilih orang lain. Apa kamu bisa terima, kalau Ilham meninggalkan istrinya yang sedang hamil muda demi mantan pacarnya! Mama tidak mau kamu bernasib sama seperti Raisa!"
Jihan tersentak "Ra... Raisa!"
Sebuah kenyataan pahit saat dirinya tahu kalau Ilham pernah menikah dengan Raisa teman satu sekolahnya. Dari SMP sampai SMA Raisa selalu lebih unggul darinya. Karena keunggulannya membuat Raisa di kenal sombong.
Ya, walaupun semua orang tahu keluarga Hermawan memang terkenal arogan. Tapi dia baru tahu kalau tidak semua keluarga Hermawan seperti itu. Mengenal Jo membuat nya mengerti bahwa Jo tidak seperti keluarganya yang lain.
Yang Jihan tahu, mama Kiki dan mama Mila berteman baik. Bahkan kata mamanya, kalau ilham bukan anak pak Pramono melainkan anak dari suami pertama mama Mila.
"Aku tidak peduli dengan masa lalu Ilham. Aku akan mempertahankannya. Ilham lelaki yang baik, beda dengan Jo yang slengean. Kalau mama dan papa tetap ngotot menjodohkan aku dengan orang pilihan kalian, lebih baik aku yang angkat kaki dari rumah ini."
Kaki jihan terpaku saat mendengar ancaman Papa. Karena dia tahu orangtuanya tidak main-main kalau bertindak. Jihan lemas, dia bingung harus berbuat apa. Kaki nya melangkah memasuki kamar, hanya menangis yang bisa dia lakukan.
Ini bukan yang pertama Papanya mengancam lelaki yang sedang dekat dengannya. Beberapa tahun yang lalu, Jihan juga sempat hampir menikah dengan seorang pria. Karena ketahuan berasal dari keluarga biasa, pernikahannya batal. Lelaki itu malah tidak datang di hari pernikahan mereka. Belakangan baru dia ketahui, kalau si calon suaminya diancam Papa Alex.
Parahnya, papa nya juga memacari adik calon suaminya. Mama Kiki sempat down. Tapi lama-lama kelamaan, mama sudah bersikap masa bodoh.
Jihan takut kalau papanya melakukan hal yang sama pada Ilham.
"Kalau aku mengalah lagi, bisa-bisa Ilham mencari kesempatan kembali pada Siti. Tidak! tidak akan aku biarkan! Aku sudah terlanjur mencintainya.
Siti... ya ... Siti ... aku akan bicara dari hati ke hati padanya. Aku yakin Siti akan mengerti."
Jihan mengambil kunci mobil berangkat menuju rumah sakit.
Sampai disana Jihan mendapat kabar kalau Siti belum sadar. Jihan juga mendengar kalau Siti belum menerima donor darah karena di rumah sakit sedang kosong.
__ADS_1
Kaki jihan melangkah ke ruang praktek Ilham. Ada suster yang baru keluar dari ruangan. Jihan menanyakan keberadaan ilham.
"Dokter Ilham mana, sus?"
"Tadi sehabis menangani pasien yang dibawanya, dokter ilham langsung ke PMI mencari darah yang kosong."
Pasti itu darah untuk Siti
"Pak, darah untuk mbak Siti sudah dapat." suster memberitahukan ke keluarga Siti.
"Alhamdulillah. Kapan adik saya bisa dapatkan donor itu?" tanya Alam.
"Sebentar lagi ada petugas yang membawa mbak Siti ke ruang operasi, untuk melakukan transfusi darah."
Tak lama rombongan petugas mengeluarkan Siti dari ruangan rawat menuju ke ruangan operasi.
Dari jauh Ilham menatap Siti dengan pilu. Ada rasa bersalah menancap hatinya. Ilham tersentak ada Jihan yang memeluknya dari belakang. Tubuhnya tidak bergeming sedikitpun. Tak peduli seberapa agresifnya Jihan padanya, yang pasti di relung hatinya ada satu orang.
Ilham masuk ke ruangannya. Kepalanya mendadak pusing. Seketika tubuhnya ambruk.
Jihan melihatnya lalu memapah Ilham untuk tidur di kasur prakteknya.
Klik
Keesokan harinya
Siti terbangun menatap di sekelilingnya.
Matanya menatap seorang wanita yang duduk disamping Jonathan. Siti menyepit matanya seperti penasaran kenapa wanita itu datang.
"Mama .. mama Linda..?" ucap Siti masih melemah.
"Iya, sayang ini mama Linda. Kamu sudah sadar, nak. Syukurlah menantu mama sudah melewati masa kritisnya. Jo sini!"
Tangan mama mengambil tangan Jo dan Siti. Lalu menatap keduanya. Senyum mengembang di wajah wanita itu, Mama Linda menyatukan tangan Siti dan Jo.
"Maafkan mama ya, nak. mama tahu sumber kebahagiaan Jo ada padamu, Siti. Mama merestui hubungan kalian." Mama Linda memeluk keduanya.
__ADS_1
...#####...
Bersambung