
Sebelum pergi ke monas.
"Ma."
Mama Fatimah baru selesai membersih wajahnya didepan meja rias. Fatimah menatap aneh pada lelaki yang terlentang manja di atas ranjang.
"Ada apa, pa?"
Adolf tersenyum tanpa merubah posisinya. Tangannya melambai meminta sang istri mendekatinya.
Fatimah melangkah ke atas ranjang. Dengan cepat Adolf menangkap tubuh istrinya, tanpa kode langsung melancarkan serangannya di setiap inci tubuh sang istri.
"Iiih, mas. Malu." Fatimah mendorong pelan tubuh suaminya.
"Kenapa malu?" Adolf kesal melihat istrinya menjauh dari dekapannya.
"Kita ini sudah tua mas." Jawab Fatimah.
Adolf merubah posisi duduknya. Memandang wajah istrinya dengan lekat. Wajah wanita yang sudah puluhan tahun mendampinginya. Fatimah yang dulu dinikahinya adalah gadis berusia 19 tahun.
Awal pertama mereka bertemu saat Adolf berkunjung ke rumah kerabatnya. Dimana Fatimah yang saat itu masih baru beberapa bulan bekerja. Cinta pada pandang pertama menancap di hati Adolf yang saat itu sudah menduda.
Tapi ternyata mendapatkan hati Fatimah dan restu keluarga besar tidaklah mudah. Adolf harus mengenyampingkan prinsipnya tentang bibit bebet dan bobot, baginya saat ini dia sedang jatuh cinta gadis muda yang usianya 10 dibawah dirinya.
"Pa" Fatimah menepuk pundak Adolf yang masih bengong.
Seketika Adolf tersadar "aku mengantuk. Kita istirahat yuk." Ajaknya sambil menarik tubuh Fatimah merebah bersama.
"Ma, nggak nyangka, ya. Sebentar lagi kita bakal jadi kakek dan nenek. Perasaan baru kemarin aku menikahimu, baru kemarin kamu ngumumkan kehamilan setelah 2 bulan pernikahan kita."
Fatimah tersenyum mendengar cerita suaminya. Terbayang saat Adolf nekad mengajaknya kawin lari karena keluarga kerajaan tak merestui. Saat itu dia sadar diri, suaminya adalah keluarga dari raja Brunei, sedangkan dirinya hanyalah seorang pembantu. Dia malah terancam dipulangkan jika masih dekat dengan Adolf. Dia tak pernah mendekati Adolf, malah lelaki itu yang terus menemuinya.
"Aku serius sama kamu, Fatimah. Tak peduli kalau mereka mencabut namaku dari silsilah. Aku akan ikut kamu pulang ke indonesia. Mengganti kewarganegaraan kalau bisa. Asalkan sama kamu, imah."
"Maaf, tuan. Sebaiknya jangan temui saya lagi. Jangan memberatkan saya dengan sikap anda." Tolak Fatimah saat itu.
"Lagian saya belum mau menikah muda tuan." Tambahnya.
Bukan Adolf namanya yang pantang menyerah. Uang dimilikinya bisa membantu segalanya termasuk mengubah hidup wanitanya.
Kembali kemasa sekarang dimana mereka masih mengenang perjuangan cinta mereka.
"Seharusnya dari pengalaman kita dulu kamu bisa belajar. Menerima pernikahan Tiara dan Ilham, aku perhatikan mas terlalu ikut campur. Tiara itu sedang hamil, mas. Orang hamil butuh kenyamanan bukan tekanan. Mama perhatikan Ilham itu sayang sama Tiara."
"Tapi, ma. Kamu lihat bagaimana dia memperlakukan Tiara. Wajah anak kita memar begitu. Masa aku harus diam saja."
"Pa, Tiara sudah menjelaskan kalau Ilham tidak sengaja. Sudahlah, pa nggak usah ikut campur lagi urusan mereka. Mama nggak suka!" Fatimah membalikan tubuhnya lalu menarik selimut.
"Sayang." Adolf mengguncang tubuh istrinya. Tapi sepertinya Fatimah sudah berada dialam mimpi. Dengan kesal lelaki itu menarik selimut.
"Mama cuma tidak ingin Tiara mengalami apa yang aku alami dulu, pa. Papa tidak lupa kan bagaimana mereka dulu menekanku agar meninggalkanmu. Padahal aku sedang hamil saat itu. Apalagi papa selalu bilang ingin anak laki-laki. Saat Mama tahu bahwa bayiku perempuan, mama takut kalau papa akan meninggalkanku sama seperti mantan istrimu dulu."
Adolf terdiam saat mendengar ucapan istrinya. Penyesalan terdalam akibat keegoisannya. Adolf sadar dia masih terkukung dengan kebiasaan keluarga bahwa anak lelaki adalah kebanggaan.
"Maafkan papa, ma. Papa bukan ayah dan suami yang baik buat kalian. Aku terseret dalam aturan keluarga yang menganggungkan anak lelaki. Karena itu sudah jadi tradisi keluarga. Tapi aku senang, karena Tiara di didik orang yang tepat. Sekarang dia tumbuh menjadi anak yang sopan dan santun. Tidak sombong saat berada diatas. Semoga dia terus begini ya, ma."
"Amin, pa."
Adolf dan Fatimah saling berbicara masih dalam posisi membelakangi. Tak lama mereka terlelap.
klik
Hueeeek Hueeeeek
Pukul 04.00
Tiara berlari ke kamar mandi. Perutnya terasa mual membuatnya memuntahkan isi perutnya. Tiara menatap suaminya yang masih terlelap. Ada rasa kesal karena lelaki itu tak terbangun saat mendengar suara dirinya dikamar mandi.
__ADS_1
Dasar nggak peka!
Setelah selesai dengan drama morning sicknessnya. Tiara keluar kamar, sebelumnya dia membuat bantal dan guling, agar suaminya tidak menyadari dirinya bangun.
Tok tok
Ceklek
"Tiara?" mama Fatimah membuka pintu mendapati putrinya berdiri.
"Ma, papa ada?"
Fatimah menunjuk kearah suaminya yang masih terlelap. Tanpa basa basi Tiara mendekati papanya.
"Pa, bangun aku mau ke monas" rengek Tiara yang sukses membuat Adolf terbangun.
"Ti, papa masih ngantuk, nak? kenapa nggak suruh suamimu aja."
"Nggak mau aku maunya papa! Ayo, pa aku mau ke monas." Tiara terus menarik tangan Adolf.
Adolf menatap Fatimah, meminta penjelasan apa yang terjadi pada putri mereka. Sekilas Fatimah tertawa melihat reaksi suaminya.
"Pa, cucu mu mau jalan ke Monas." Bisik Fatimah.
"Maksudnya?" Adolf masih belum paham.
"Ngidam, pa. Udah turutin aja daripada cucunya ileran." Fatimah ikut menarik Adolf untuk bangun.
"Haduh, ada ada aja." Gerutu adolf.
Adolf membersihkan diri. Mengganti pakaiannya lebih rapi, sambil menarik resleting jaketnya. Adolf pun mengambil sepatu sportnya.
"Pa, jangan pake sepatu" Protes Tiara.
Adolf kaget saat Tiara melepas sepatu yang sudah terpasang. Tiara menarik papanya keluar tanpa menunggu respon lelaki itu.
"Ti, papa capek! Kita istirahat dulu yuk."
Adolf menyandarkan tubuhnya disebuah dinding disekitar monas. Kakinya merasa seperti patah-patah karena mengikuti kemauan putrinya.
Bayangkan mereka mengelilingi sekitar monas tanpa alas kaki.
"Ih, papa. Nggak seru." Rutuknya sambil melanjutkan perjalanannya mengitari monas.
Seakan tak peduli dengan keluhan papanya yang kelelahan, kakinya terus melangkah mengitari monas. Beberapa orang sudah memenuhi jantung kota jakarta tersebut.
"Coba papa ikut, ya twins. pasti seru." Seketika dia merasa rindu suaminya.
"Ah, kalau dia peka pasti dia nyusul kesini. Mama sebel sama papamu."
Dugh!
"Hai, cewek boleh ikutan nggak."
Tak ada respon dari Tiara dia yakin itu adalah anak muda yang menggodanya.
"Ah, sombong amat sih?"
Tunggu kok aku kenal ya suaranya seperti....
Tiara membalikkan badannya. Sosok lelaki berbadan kekar menatap genit lalu mengedipkan matanya.
"Mas"
Ilham mendekati istrinya dengan riang. Tiara masih tidak percaya kalau suaminya tahu dirinya di monas.
"Kok tahu aku disini?"
__ADS_1
"Namanya insting cinta. Kalau sehati kemanapun kamu pergi aku pasti tahu."
"Alah..paling juga kamu ketemu papa tadi. Atau jangan-jangan kamu ada janjian dengan perempuan lain, karena melihat aku makanya kamu ..."
Cup!
"Maass" Tangannya langsung mencubit perut Ilham.
Yang dicubit hanya terkekeh mendengar tuduhan istrinya. Wajah memerah saat Ilham mengecup bibirnya.
"Ayo, nak. Kita jalan lagi biar sehat. Biar kamu cepat keluar dan biar mamamu nggak sensian lagi."
Naik kereta api, tut-tut-tut
Siapa hendak turut?
Ke Bandung, Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo kawanku lekas naik
Keretaku tak berhenti lama
Lekas, keretaku jalan, tut-tut-tut
Banyak penumpang turun
Keretaku sudah penat
Karena beban terlalu berat
Di sinilah ada stasiun
Penumpang semua turun
Naik kereta api, tut-tut-tut
Siapa hendak turut?
Ke Bandung, Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo kawanku lekas naik
Keretaku tak berhenti lama
Lekas, keretaku jalan, tut-tut-tut
Banyak penumpang turun
Keretaku sudah penat
Karena beban terlalu berat
Di sinilah ada stasiun
Penumpang semua turun
Penumpang semua turun
Ilham dan Tiara mulai bernyanyi bersama. Sambil tertawa riang karena istrinya lupa lirik, Ilham terus mengulang lagunya sampai istrinya bisa.
Mata mereka saling bertemu. Senyum mengembang dibibir keduanya. Hingga Tiara menghentikan hapalannya dan memeluk suaminya.
"Nggak marah lagi?"
__ADS_1
Tiara menggeleng lalu menenggelamkan wajahnya dibalik dada suaminya.