Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
82. Satu jam sebelum Akad


__ADS_3

Alam menelepon mama Yulia. Karena sang mama mertua berjanji menyusulnya ke sukabumi. Apalagi Alam akan memperkenalkan sang putri, vanesha, kepada keluarga yang disukabumi.


"Assalamualaikum, ma." sapa Alam saat menelepon mama Yulia.


"Waalaikumsalam, lam. Ada apa?"


"Kok ada apa sih, ma? Mama jadikan kesini bawa shasa."


"Maaf, lam. Nggak bisa nyusul, mama mau nemenin Ina dulu."


"Emang Ina kenapa, ma? Dia kan udah gede."


"Lam, mamanya Ina meninggal dunia karena HIV aids. Ina masih terpukul atas meninggalnya mamanya."


"Innalilahi wa innalilahi rojiun."


Alam menghela nafas panjang. Gagal sudah rencananya memamerkan sang putri yang berusia enam bulan. Sejak kehadiran Ina dikeluarga Gunawan, perhatian mama tertuju dengan gadis itu.Apalagi rupa gadis itu sama dengan mendiang Gita. Entah kenapa Alam takut shasa akan terabaikan.


Entah kenapa aku merasa Ina itu caper sama keluarga Gunawan. Sebegitunya mama sayang sama gadis itu. Hanya karena mirip dengan Gita. Gara-gara dia, aku nggak jadi mengenalkan shasa ke Opanya.


"Lam, kamu masih disana." Suara mama Yulia membuyarkan lamunannya.


"Iya, ma. Aku masih disini. Shasa mana, ma." Alam menanyakan putri semata wayangnya.


"Ini, tadi rewel banget mama kasih susu nggak mau. Eh, pas digendong Ina dia diam lo. Mungkin karena Ina mirip mamanya kali, ya. Jadi dapat chemistry nya." Cerita mama Yulia.


Alam mendengus kesal saat lagi-lagi mama Yulia menceritakan Ina.


"Jangan suruh dekat-dekat, ma."


"Loh, kenapa, lam? Kamu kayaknya mama lihat dari awal kehadiran Ina, kayak kurang suka sama dia."


"Nggak tahu, ma. Aku punya feeling nggak enak sama dia. Aku yakin dia ada maksud tertentu masuk ke keluarga kita."


Mama Yulia tertawa "Ngaco kamu! Jangan terlalu membenci lam, nanti malah kena batunya."


"Udah, ah, ma. Aku mau siap-siap dulu, ngecek si penganten dulu." Alam menutup teleponnya, apalagi dia mulai jengah saat mama Yulia membanggakan si "kembaran" istrinya. Dengan perasaan kesal membuatnya malas untuk beranjak dari kamar tidurnya.


"Kenapa, kak?" Ilham melihat Alam dengan wajah mendung.


"Nggak papa, kok kamu belum siap?" Alam melihat Ilham belum mandi.


"Aku baru bangun, kak! Kakak tahu kan tadi malam aku tidur jam berapa? Jam dua pagi! Ini aja masih ngumpulin nyawa. Kak Ronal enak pas pulang langsung molor. Sedangkan aku? Nggak bisa tidur."


Alam terkekeh mendengar celotehan adiknya.


"Siapa suruh keluyuran malam-malam?Sekarang lihat kan! Kamu kesiangan! salah siapa hayo!" Alam meninggalkan Ilham yang menguap.


"Oh iya tadi mama menelepon katanya nyokapnya Ina meninggal dunia."


"Innalilahi wa innalilahi rojiun"


"Aku yakin nanti dia cari kesempatan caper sama keluarga Gunawan." Ucap Alam seperti ada kekesalan yang mendalam.

__ADS_1


"Jangan terlalu benci, Kak. Awas ntar jatuh cinta. Hahahahhhahaha."


Alam mendengus kesal,kakinya berjalan kearah kamar mandi. Tapi langkahnya terhenti melihat sang calon pengantin kembali tertidur.


Alam menggeleng lalu menarik ilham yang setengah sadar untuk masuk ke kamar mandi.


Byuuuuurrrr


Ilham menatap Alam dengan tatapan kesal. Dirinya sedang nyenyaknya dibangunkan dengar guyuran air dingin. Tersungging bibir berbentuk bulan sabit di bibir duda beranak satu tersebut. Lalu meninggalkan Ilham yang masih menggigil. Dengan terpaksa ilham melanjutkan mandi karena sebentar lagi akan akad nikah.


klik


POV Siti


Aku menatap diri didepan cermin kamarku. Para perias sudah berusaha mengubahku menjadi sosok yang cantik. Baju kebaya putih pemberian Gita dan sepatu high heels sudah membungkus tubuhku.


Mereka bilang aku cantik. Mereka bilang aku pasti bahagia.


Iya aku cantik, cantikku untuk seseorang yang beberapa jam lagi menjadi suamiku. Bahagiaku juga hanya untuk lelaki yang sudah menikahiku. Halal patuhku hanya pada suamiku, haram rinduku pada dia yang sekarang menjadi masa laluku.


"Mbak jangan nangis, nanti make upnya luntur lo." ucap mbak perias yang masih sibuk menghias wajahku.


Aku tidak bisa menahan air mata ini jatuh. Terdengar suara kak Jihan masuk dengan balutan kebaya senada.


"Ti, udah siap?" tanya kak Jihan.


"Kamu nangis?"


"Nggak kok, kak. Ini tangisan bahagia. Karena ada lelaki yang sungguh-sungguh meminangku." Elakku.


" Ya, udah kalo gitu jangan nangis lagi dong. Ntar luntur make upnya. Nggak cantik lagi nanti."


Aku berusaha senyum. senyum, ti! senyum! ini hari bahagia kamu, ti! kamu harus terima kenyataan kalau kamu dan ilham nggak jodoh. INGAT, SITI! KAMU DAN ILHAM NGGAK JODOH!


Aku meminta perias untuk membenarkan make up ku yang sedikit luntur karena tetesan air mataku. Kudengar mbak perias mengomel karena menambah waktunya.


"Maaf" hanya itu yang bisa kukatakan pada mbak perias.


"Ti, matamu di tutup dulu, ya."


Seketika pandanganku gelap. Aku tidak bisa melihat. Tapi kudengar kalau pengantin pria sudah sampai di altar pernikahan kami.


Seperti apa wajahnya, tampankah dia aku tidak tahu. Aku hanya bisa menerima bahwa dialah jodohku.


"Anak ibu cantik sekali" Kudengar suara ibu yang memujiku.


"Bu, kok gelap, ya."


POV Author


Tiara melangkahkan kakinya meninggalkan kamar riasnya, suasana rumah masih ramai dengan orang-orang yang menyiapkan perlengkapan menuju ke altar untuk ijab qabul nanti.


Tampak disekitar villa orang-orang memasang tarub (hiasan janur) yang terpasang tak jauh dari villa, keramaian terus bergulir menandakan adanya aktivitas untuk proses pernikahan.

__ADS_1


Saat Tiara keluar dari kediamannya, semua orang yang beraktivitas pun berhenti. Seakan tersihir dengan kecantikan gadis itu. Jihan yang berada disamping Tiara pun tak kalah cantik. Sampai Jonathan dan Akbar ( Bodyguard Papa Adolf) pun ikut terkesima.


Karena ini adalah pernikahan putri tunggal mereka. Wajar kalau mereka mengadakan besar-besaran.


Resepsi langsung dilaksanakan di tempat akad. Akan ada resepsi kedua di Jakarta minggu depan.


Tiara memasuki mobil menuju lokasi akad nikah. Perasaannya makin tidak menentu. Jihan dengan sabar menguatkan Tiara yang masih grogi.


"Tarik nafas" Tiara mengikuti instruksi jihan.


"Lepaskan"


Bruuuuuuttt


Sebuah suara kencang ditambah aroma parfum mewangi didalam mobil "Astaga, Siti!"


Yang diomel hanya bisa nyengir "Maaf kak jihan"


Jihan menghela nafas panjang, kejadian barusan bisa menjadi kenangan untuk anak cucunya suatu saat nanti. Di tatapannya Tiara yang menghadap kaca.


Perjuangan Ilham dan Siti sangat berat. Maka sayang sekali kalau akhir kisah mereka jadi seperti ini.


Pada akhirnya mobil mereka sampai di tempat akad nikah. Jihan mendampingin Tiara sebagai pengapit pengantin, Jihan menelan salivanya saat melihat siapa lelaki yang mendampingi mempelai pria.


Sound instrument A thousand years-nya milik Christina Perry mengiringi langkah kaki Tiara menuju meja akad nikah. Tanpa Tiara sadari sosok pria yang duduk di sebelahnya, juga merasakan hal yang sama.


Suara mc pun terdengar


"Kedua pengantin sudah berada di altar akad nikah. Sebentar lagi kita akan menyaksikan sepasang dua anak manusia yang akan mengikrarkan janji sehidup semati. Berjuang bersama mengarungi kehidupan baru yaitu rumah tangga.


Kepada pendamping pengantin harap membuka penutup mata keduanya."


Kepala mereka yang tadinya menunduk kini terangkat. Keduanya pun akhirnya saling menoleh. Hening, itulah terjadi diantara keduanya. Tatapan mereka belum beranjak kearah penghulu. Raut wajah mereka menggambarkan kebahagiaan, antara rasa tidak percaya, bahwa pasangan yang akan mereka nikahi adalah pacarnya sendiri.


Terdengar instruksi dari wali nikah


"Saudara Ilham Ramadhan. Apakah anda sudah siap?"


Ilham membalikkan badannya kearah tuan Adolf yang sudah duduk didepannya.


Hmmmm ...


kira kira apa yang terjadi selanjutnya ..


Siap siap besok siang kita bakalan menjadi saksi dua insan menuju halal.


Udah dulu, ya soalnya tanganku udah pegel nulis


sampai jumpa besok


ini undangannya


__ADS_1


__ADS_2