
Sore ini kota Amsterdam tampak tertutup salju. Tak ada cahaya matahari yang terlihat dari langit. Tampak.tumpukan salju menutupi atap-atap rumah, gedung-gedung pertokoan dan kendaraan yang ikut membeku.
Di atas salju yang menutupi tanah, anak-anak masih bermain gembira. Terbayang dibenak Siti seandainya anak-anaknya ikut pasti seru sekali. Ilham sedang asyik membuat bola salju sesekali memercikkan salju ke tubuh istrinya.
"Sayang?" Sahut Ilham.
"Iya, mas." Siti mengambil salju yang dia buat menjadi bola kecil.
"Pulang, yuk. Aku jadi rindu mereka." Jawab Ilham setelah selesai membuat manusia salju.
"Hai, Olaf. Perkenalkan aku ilham dan ini Siti." Ilham berbicara dengan manusia salju buatannya.
Pluuuuuukkkk
Siti melempar satu bola salju kearah suaminya. Ilham meringis karena lemparan yang sangat kuat. Tangannya menangkap tubuh Siti. Pelukan erat membuat Siti sedikit risih, Ilham menyembulkan kepalanya dari balik leher istrinya. Wangi parfum lavender khas dari tubuh suaminya membuat Siti tersenyum kecil.
"Kau tahu Olaf. Aku punya istri yang sangat cantik. Baik hati, rajin menabung, menabung anak maksudnya.. seperti kata pepatah banyak anak banyak rezeki. Usia siti sudah 36 tahun tapi masih kasih aku sumber kebahagiaan. 3 bidadari dan dua pangeran di Ramadan Family." Cerocos Ilham tanpa memperhatikan ekspresi kesal istrinya.
"Iya dan aku suami nyebelin sedunia. Bagaimana tidak? dia bahkan lupa hari ini hari apa? Gila kan? Dan di hari ini dia malah mementingkah partner bulenya daripada aku!" Omel Siti sembari menjelit kearah suaminya.
Aku tidak lupa, ti.
Langit ditengah salju membuat mereka memilih kembali ke mobil. Ilham melihat istrinya kedinginan memilih membalutkan jaket double tubuh istrinya.
"Mas, kita jadi pulang 'kan?"
Ilham hanya tersenyum simpul " Tidak. Kita tetap melanjutkan perjalanan untuk ke tempat rahasia." Ilham kembali fokus dengan setirnya.
"Maaaaaas." Siti teriak ditelinga suaminya. Namun, tidak menggoyahkan kebungkamannya.
"Nyebelin!" Ambek Siti memalingkan wajahnya menatap hamparan salju yang masih memadati negara penghasil keju tersebut.
__ADS_1
"Nyebelin tapi cinta kaaan..." Goda Ilham menyikut lengan istrinya.
"Apaan sih... genit!" Elaknya saat Ilham hendak mencium pipinya.
Ilham terkekeh melihat wajah kesal sekaligus merah merona istrinya.
"Sayang, kamu tuh kayak gitu mukanya makin cantik. Makin aku tambah cinta."
"Udah, nyetir yang bener. Nanti bukannya sampai ketujuan malah nyampe ke Alam baka lagi." Ujar Siti dengan tampang yang masih ditekuk.
Ilham kembali fokus dengan setirannya. Waktu sudah menunjukan pukul 19.00 (GMT+1) Bagian Belanda. Siti pun terlelap tanpa melepas genggaman tangan Ilham.
Ilham tersenyum lalu mengecup jari istrinya.
Tak lama mobil berhenti di sebuah rumah pohon. Ilham pun keluar menggendong Siti. Tapi tak lama istrinya terbangun dan ikut naik ke rumah pohon.
"Ini ... Kan."
"Iya, sayang. Itu rumah yang kamu impikan dulu."
Ilham menggeleng "Rumah itu aku bangun bekerja sama dengan Ina. Kamu nggak lupa kan waktu Ina ke Belanda karena mau ngambil Magister."
Siti tersenyum tipis mendengar cerita suaminya. Dua tahun yang lalu memang Ina datang ke Belanda untuk kuliah magister di Swiss. Saat itu gadis itu menginap ditempat mereka. Bahkan Ilham dan Ina sering keluar bersama membuat Siti di landa cemburu besar.
Siti menunduk malu karena sudah berpikiran negative pada Ina.
"Aku merasa bersalah pada Ina, mas. Dulu aku sempat memarahinya karena kecemburuanku padanya."
"Minta maafnya nanti pas kita pulang ke Indonesia. Sekarang kita nikmati hasil kerja keras kami." Ilham menggendong Siti dengan gaya ransel.
Mereka berdiri menatap jendela saling memegang pinggang. Tangan Ilham menekuk kepala Siti agar bersandar di bahunya.
__ADS_1
"Indah sekali, Mas. Terimakasih"
Cup!
Lama kecupan itu menempel di kening Siti. Kecupan pun berpindah tempat dari kening ke bibir. Ciuman yang tidak terburu nafsu, mereka meresapinya dengan santai dan penuh cinta. Cinta yang mereka hadapi begitu rumit, suka duka dalam rumah tangga telah mereka lalui.
"Happy Anniversary, sayang. Sudah tujuh tahun kita melaluinya. Semoga tahun-tahun berikutnya kita masih seperti ini. Sampai anak-anak kita tumbuh dewasa. Punya cucu hingga cicit." Ucap Ilham pada istrinya.
"Kamu tidak lupa, mas?"
Ilham menggeleng "Aku tidak pernah lupa momen kita. Momen pernikahan kita. Tanpa anniversary pun aku selalu ingat perjalanan cinta kita yang lumayan rumit. Tanpa anniversary aku selalu ingat momen pernikahan kita yang penuh kejutan. Dan dari perjalanan itu yang membuat aku yakin kalau kamu memang takdirku.
Buat apalah susah cari kesana kesini. Sudah didepan mata kamulah takdirku."
"I love you Ilham Ramadhan. Terimakasih kamu masih sabar menghadapi aku yang cemburuan. Maaf aku belum menjadi istri yang sempurna buat kamu."
"Love you forever sekebon mawar seluas laut samudera. Kamu adalah istri yang terbaik buat ku. Sikap posesifmu melambangkan rasa cintamu padaku." Ilham mendekap kepala istrinya. Wangi parfum khas kesayangan Ilham membuat Siti betah bersembunyi disana.
Ilham menggendong Siti masuk kedalam kamar. "Malam ini kita menginap disini dulu, sayang. Besok kita lanjutkan perjalanan."
"Jadi ini bukan tujuan utama kita?"
Ilham menggeleng "Bukan. Tujuan utama kita masih jauh."
"Tapi aku kan lagi hamil, mas."
"Kalau kamu capek kan kita bisa cari penginapan."
"Ya, kasihan anak-anak kalau ditinggal terus" Sungut Siti sambil membalikkan badan.
__ADS_1
Satu part lagi ya ... Bonchapnya
Maaf lama post nya