Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
BONCHAP 10


__ADS_3

Apartemen Ford Family


Jihan sudah satu minggu menginap bersama Ibu Aisyah. Sejak Akbar ke Bandung mengusur sekolah pesantren Azka, sejak itulah Jihan pulang ke rumah ibu kandungnya. Awalnya dia ingin pulang ke rumah mama Kiki. Tapi diurungkan karena takut kedua orangtua angkatnya banyak bertanya perihal rumah tangganya.


Tapi kenyataannya berbalik, justru dia merasa dirundung sejak Siti mengumumkan kehamilan anak ketiganya. Ibu Aisyah rajin mengontrol keadaan Siti, tapi juga sering menanyakan kenapa dirinya tak kunjung hamil.


"Jihan, Kamu harus rajin kontrol ke dokter. Usiamu itu sudah rawan untuk hamil."


"Iya, bu. Aku dan mas Akbar selalu mengontrol ke dokter. Kata dokter kesuburanku dan mas Akbar bagus tidak ada masalah." Jawab Jihan.


"Tapi kenapa sampai sekarang kamu belum juga hamil. Kamu lihat Siti, anaknya sudah mau empat lo."


Jihan hanya tersenyum tipis. Dia malas banyak berdebat dengan ibunya. Jihan bukan iri pada Siti, tapi terus dibandingkan rasanya nyesek juga.


"Bu, aku mau sholat isya dulu." Pamit jihan pada ibunya.


"Suamimu belum pulang dari bandung?"


"Belum,bu. Dia masih mengurusi keperluan Azka untuk masuk pesantren." Jawab Jihan.


"Suamimu baik banget,ya. Padahal cuma anak sambung. Kenapa nggak keluarga mamanya Azka yang mengurus?" Tanya Ibu Aisyah yang terdengar julid.


"Tia sakit, Bu. Tabungannya habis untuk berobat. Makanya mas Akbar yang turun tangan. Mumpung dia tidak ada dinas luar." Jelas Jihan.


"Emang Akbar ada biaya. Dia kan cuma tentara, berapalah gaji tentara, han. Masih besar pengahasilan Ilham."


"Bu, Jihan sholat isya dulu, ya." Jihan mencoba menghindari omongan ibu Aisyah. Dinda yang sekarang tinggal bersama ibu Aisyah mencoba menenangkan kakak iparnya.


"Kak Jihan omongan ibu jangan didengarkan. Mungkin dia tidak bermaksud seperti itu. Jadikan motivasi saja."


"Nggak papa, Dinda. Aku nggak marah kok lagian maksud ibu baik kok. Dia mau menyemangati anaknya supaya tidak putus asa." Jihan berusaha kuat walaupun dia merasa sangat sakit.


"Suamimu belum pulang?" Tanya Jihan mengalihkan pembicaraan.


"Belum, kak. Kakak tahu sendirilah dia bukan hanya sopir kantor tapi sekaligus sopir keluarga. Cuma ya itu, suamiku tidak sebebas sewaktu Alam masih ada."


Dinda teringat saat Alam masih tinggal di keluarga Spencer, Edwar hanya datang untuk mengantar Alam saja. Tapi sejak Roki kembali ke keluarga Spencer, Alam memilih mengundurkan diri dari perusahaan. Mengabdikan hidupnya di desa Sukasari, Jambi. Edwar sering mengeluh perlakuan Bobby tidak seloyal Alam.


"Kalau Edwar tidak betah. Kerja di kantorku saja jadi sopir kantor." Tawar Jihan.

__ADS_1


"Nanti kubicarakan sama Abang. Kakak istirahat saja dulu."


"Ah, aku keasyikan mengobrol sampai lupa kalau mau sholat isya. Aku kekamar dulu,ya." Jihan keluar dari kamar Bella dan Aura.


Jihan mengambil mukena yang tergantung di hanger belakang pintu. Memulai salat dengan khusyuk sebagai kewajiban utama umat muslim. Selesai salat, Jihan meminta doa kepada Allah agar dimudahkan segala urusannya.


Ya Allah, berilah taufik, kebajikan, atau kelembutan kepadaku dalam hal kemudahan pada setiap kesulitan, karena sesungguhnya kemudahan pada setiap yang sulit adalah mudah bagiMu, dan aku mohon kemudahan serta perlindungan di dunia dan di akhirat.


"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."


Selesai salat, Jihan membuka ponselnya untuk berkomunikasi dengan suaminya. Memantau perkembangan sekolah Azka. Tapi tak lama Akbar menelepon.


"Assalamualaikum, mas."


"Waalaikumsalam, sayang. Aku bisa minta tolong. Tolong datang ke rumah sakit Darmais untuk menemani Tia. Aku, Azka dan keluarga Tia sedang dalam perjalanan pulang.


"Emang Tia sakit apa, sih?"


" Tia sakit kanker hati, Jihan. Tadi aku dapat kabar kalau dia drop. Makanya pas dapat kabar kami langsung berangkat."


"Oke, mas.Aku langsung kesana. Kamu hati-hati jangan mengebut."


"Kenapa kamu mengurusi Tia? Dia kan ada keluarganya."


"Aku juga keluarganya, bu. Aku pamit, bu." Jihan menyalami ibu Aisyah.


Pukul 20:00


Jihan meninggalkan apartemen menuju rumah sakit Dharmais. Bagi Jihan, Tia pasti sangat membutuhkan orang-orang terdekatnya saat ini. Apalagi dengan kondisi parah seperti itu. Sekarang dia memang tak ada rasa benci atau cemburu sejak tahu Tia mulai sakit.


Tampak suasana rumah sakit terasa lenggang. Ada beberapa pasien masih mengantri tapi tak sebanyak saat pagi atau siang hari. Sedikit demi sedikit pengunjung mulai berkurang. Tak sedikit yang memilih menginap untuk menemani keluarga mereka yang sedang dirawat. Begitupun dengan Jihan, dia membawa beberapa baju untuk menginap dirumah sakit. Bagi Jihan dia lebih tenang di rumah sakit ketimbang di rumah.


Mobil Avanza Jihan pun memasuki pekarangan rumah sakit. Jihan turun dari mobil dengan membawa ransel kecil. Kakinya yang indah pun berjalan menuju gedung rumah sakit.


Setelah memasuki gedung rumah sakit, Jihan mendekati Resepsionis.


"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu, bu." Sapa resepsionis cantik dengan ramah.


"Saya mau tanya, ruang rawat atas nama pasien Mutiara yang dari rujukan rumah sakit Bhayangkara."

__ADS_1


"Bentar ya, bu." Si mbak resepsionis tampat berkutat pada catatan di hadapannya.


"Ini, Bu Mutiara ada ruang lantai dua no 7."


"Oh, ya terimakasih mbak."


"Sama-sama."


Jihan pamit meninggalkan meja resepsionis. Kakinya melangkah menuju pintu lift sambil memencet nomor tujuan. Tak lama pintu lift terbuka dan Jihan langsung menemukan kamar rawat Tia yang dijaga rekan seprofesinya. Sebelumnya Jihan diperiksa dulu oleh dua polwan yang berjaga didepan pintu. Setelah diperiksa, Jihan masuk ke dalam melihat kondisi Tia. Jihan mengatupkan kedua tangannya, Tubuh Tia yang tegap dan berisi telah habis digerogoti penyakitnya.


Jihan mengambil kursi lalu duduk disamping Tia. Wajah Tia sangat pucat, tapi tampak tenang tidurnya.


Salah satu polwan duduk disamping Jihan. Seakan mau mengenal sosok yang menjenguk teman sejawatnya.


"Mbak keluarganya?" Tanya polwan itu.


Jihan mengangguk "Iya, mbak." jawab Jihan ramah.


"Oh. Soalnya saya baru lihat mbak kesini. Yang biasanya sering jagain disini ayahnya Azka."


"Saya baru tahu Tia dirawat juga dari Ayahnya Azka." Jawab Jihan.


"Kak Jihan." Suara Tia terdengar lemah.


"Tia, kamu sudah sadar."


"Indah, bisa tinggalkan kami berdua." Indah pun menuruti permintaan Tia.


Jihan menggenggam tangan Tia seakan menguatkan mantan istri suaminya. Mereka saling tersenyum menandakan ada kedamaian dalam persahabatan mereka.


"Terimakasih kak Jihan." Suara Tia yang melemah tapi masih bisa tersenyum. "Terimakasih sudah mau menjengukku. Maafkan aku jika selama ini membuat kak Jihan dan Akbar renggang. Tidak ada maksud menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kalian. Akbar sama sekali tidak pernah mengkhianati kak Jihan. Justru dia sangat mencintai kak Jihan."


"Kamu ngomong apa sih, Tia. Aku dan Akbar baik-baik saja. Ya, memang aku sempat salah paham sama kamu. Tapi sekarang aku paham kalau kamu memang butuh seseorang yang menguatkan. Kamu harus sembuh Tia, Ingat Azka. Dia masih butuh kamu."


"Kak ada rahasia yang seharusnya kak tahu. Soal Azka."


Jihan menatap Tia menunggu cerita dari wanita di depannya.


"Azka bukan anak aku dan Wira. Tapi dia anakku dan ...."

__ADS_1


__ADS_2