Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
BONCHAP 3


__ADS_3

"Mas, kamu mau dibawakan bekal apa? sekalian aku mau kontrol dengan dokter Scott."


"Apa aja deh, asal itu masakan kamu,ti."


Siti tersenyum saat mendengar jawaban suaminya diseberang sana. Langkah kakinya melangkah ke dapur, dengan cekatan dia mempersiapkan bekal untuk suaminya. Sambil menghidupkan musik Siti pun mengikuti lirik lagu tersebut.


Kisah iki


Kesimpen rapi


Neng jero sepi


Udan tanpo mendung


Gawe ati bingung


Ra iso tak bendung


Banyu tibo gowo teko roso


Roso seng wes tau tak kon lungo


Aku wong seng ora gampang sayang


Mergo aku wedi kroso peteng neng gon padang


Sakwise udan terang


Abot ati iki


Arep ninggalke perasaan


Awakdewe tau duwe bayangan


Besok yen wes wayah omah-omahan


Aku moco koran sarungan


Kowe blonjo dasteran


Ee... Tapi...


Udan tanpo mendung


Gawe ati bingung


Ra iso tak bendung


Banyu tibo gowo teko roso

__ADS_1


Roso seng wes tau tak kon lungo


Aku wong seng ora gampang sayang


Mergo aku wedi kroso peteng neng gon padang


Sakwise udan terang


Yen pancen kowe jodhoku


Gusti, bapak, lan ibu


Kulo nyuwun pengestu


Aku wong seng ora gampang sayang


Mergo aku wedi kroso peteng neng gon padang


Sakwise udan terang


Abot ati iki


Arep ninggalke perasaan


Walaupun lagunya sebenarnya sedih, tapi Siti malah menikmatinya dengan sedikit menari. Zalika yang melihat mamanya joget-joget pun menggelengkan.


"Lagunya aneh, mama lebih aneh joget-joget." Ucap Zalika yang kembali ke kamarnya bermain dengan rumah barbienya.


"Nggak mau, disana membosankan." Ucap Zalika cuek.


"Temenin mama dong, sayang. Masa mama sendirian, nanti kalau ada yang nyulik mama gimana." Bujuk Siti pada si bungsu.


Zalika menoleh kearah mamanya. "Culik ltu apa, ma?" Siti duduk dilantai sambil membelai rambut putrinya "Culik itu kalau orang dibawa lari tapi nggak pake izin." Jelasnya. "Sama kayak maling, ya?" Siti mengangguk.


"Itu kalau dapat penculiknya diapain, ma?" Siti menghela nafas, rupanya rasa ingin tahu putrinya sangat tinggj. "Di bawa sama polisi, terus dihukum sama polisi, selamanya." Jelas Siti lagi. "Dah ya, nak. Kamu mandi dulu. Kita kerumah sakit ketemu papa."


"Ma, satu pertanyaan lagi." Zalika masih menahan sang mama dengan pertanyaan anehnya. "Apa, nak?" Siti kembali duduk lalu memangku Zalika.


"Kalau mama diculik terus nggak ketemu aku takut, ma." Siti menatap sang putri menandakan keheranan "Takut kenapa?"


Zalika teringat sama Dokter Mauren yang katanya caper sama papanya "Aku nggak mau dokter Mauren jadi mamaku? nanti kayak Hera, punya mama baru suka mukulin dia." Siti tersentak mendengar cerita Zalika.


Siti mengenal keluarga Downa yang terkenal harmonis dikalangan kompleks mereka. Siti dan keluarganya memang tinggal di kompleks elit di kota Amsterdam. Hampir semuanya dikompleks mereka adalah orang sibuk. Tapi setiap sabtu minggu ada pertemuan sejenis arisan kompleks, Siti termasuk sering ikut, hanya saja Siti selalu datang siang, karena sebelumnya para warga mengadakan acara keagamaan mereka.


Saat ini hanya Siti dan keluarganya yang beragama muslim. Walaupun begitu, para tetangga mereka saling menghormati. Termasuk keluarga Downa yang punya anak seumuran Zalika, yaitu Hera. Mereka bahkan yang dulu merekomendasi sekolah Dita yang berbasis islami. Karena Siti dan Ilham melihat potensi mengaji Dita sejak kecil.


Klik


Rumah sakit Sint lucas Andreas

__ADS_1


Beberapa dokter berdiri berjejer di sebuah ruangan. Dimana akan ada pembentukan kordinasi untuk dokter-dokter magang. Ilham yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya pun ikut bergabung dengan para Senior.


Beberapa Dokter senior menyalami Ilham sebagai sambutan bergabungnya lelaki itu sebagai pembina muda.


Dokter Maureen membagikan beberapa makanan pada rombongan Dokter yang sudah ditunjuk sebagai pembina. Hanya saja untuk Dokter Ilham dia memberikan dalam porsi jumbo.


"Makan dulu, dok. Membina anak baru harus punya tenaga lebih." Maureen meninggalkan Ilham yang menikmati makanan tersebut.


"Enak, ya, dok." Sebuah suara menyahuti Ilham masih asyik makan.


"Enak banget. Pokoknya dokter Mauren the best masakannya." Sahut Ilham tanpa tahu siapa yang memanggilnya.


"Oooo... jadi punya dokter Mauren lebih enak, ya."


"I...ya!" Ilham membeku saat tahu siapa yang menyapanya.


Mampus aku! Dia pasti ngambek lagi seperti yang sudah-sudah.


"Zalika disini dulu, ya. Zalika lapar nggak, itu papa ada banyak makanan dimeja." Gadis kecil itu menurut dan mulai melahap makanan pemberian Mauren.


Ilham langsung lari mengejar istrinya yang ngambek. Lama dia berkeliling rumah sakit pada akhirnya menemukan Siti sedang termenung di koridor rumah sakit. Ilham mendekati Siti, lalu berusaha membujuk istrinya.


"Ma"


"Enak, ya masakan dokter Mauren?"


"Nggak gitu, ma. Papa cuma menghormati Dokter Mauren, lagi semua dokter dapat kok, bukan hanya aku saja."


"Mas, seberapa lama kalian dekat?"


"Maksudnya apa, Ti?"


"Aku nanya seberapa lama kalian dekat!"


"Siti, dia cuma partner kerja aku. Nggak lebih!"


"Iyakah? Kalau aku minta kalian nggak satu partner lagi, apakah kamu mau menuruti? Sama saat kamu melarang aku kerja."


"Nggak gitu juga, ti. Kamu itu ibu rumah tangga, aku kepala rumah tangga. Aku yang wajib menafkahi kalian, aku juga tidak mau kamu capek kerja dikantor."


"Egois kamu, mas!"


Istri manapun tidak akan rela suaminya memuji wanita lain.


"Pa, mama masih ngambek, ya?" Ucap Zalika saat Ilham menemui anaknya yang menunggu diruangan.


"Iya"


"Kasih ini,Pa. Dijamin mama nggak ngambek lagi"

__ADS_1


Mau tahu apa yang dikasih Zalika



__ADS_2