Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
99. Di Rumah Sakit


__ADS_3

Kediaman Pramono


Pukul 18:00 WIB


Indro baru saja pulang dari bengkel. Siang tadi Ilham memerintahkan agar satpamnya membawa motor ke bengkel langganan. Bahkan memberikan uang tips pada lelaki yang sudah 7 tahun mengabdi pada keluarga Pramono.


Kakinya terhenti melihat rumah dalam keadaan gelap gulita. Dia mencoba mengecek keadaan rumah. Lalu menghidupkan lampu diruang tamu.


Matanya mencari Tiara yang sedari tadi tidak kelihat.


"Apa non Tiara tertidur?"


Indro memaklumi hal itu karena rutinitas rumah tangga dikerjakan sendiri oleh Tiara. Apalagi majikannya sudah lama tidak memperkerjakan pembantu.


Dia juga menilai kalau hidup Tiara beruntung punya suami sukses serta mertua yang baik.


"Enak mah non Tiara punya suami yang sayang sama dia. Punya mertua yang sayang sama dia. Eh, tapi mungkin ya, bisa jadi karena dia anak orang kaya kali, ya."


Indro terus memutarkan pikirannya terhadap Tiara. Kakinya melangkah masuk ke rumah untuk menghidupkan penerang cahaya di rumah itu. Sesekali dia mencicipi cemilan pisang goreng di dapur.


Indro hendak ke kamar mandi untuk BAB. Tangannya menggoyang pintu agar bisa dibuka. Tapi tetap saja tak bisa dibuka, pada akhirnya indro mendobrak pintu.


Braaaaaak


Mata indro terbelalak melihat siapa yang tergeletak dikamar mandi.


"Non Tiara!"


Indro langsung memapah istri majikannya, meletakkan di sofa ruang tamu. Sebab dia tak berani masuk ke kamar majikannya.


"Non pucat sekali. Non bangun!" keluhnya. Indro terus mengguncangkan tubuh Tiara agar terbangun. Tapi tetap saja hasilnya nihil, tak ada reaksi apapun dari wanita itu.


Indro berkali-kali menghubungi Ilham, tapi tetap tak ada respon. Pada akhirnya indro menelpon ambulan rumah sakit kasih bunda.


Suara ambulan terdengar di depan gerbang kediaman Pramono. Para tetangga yang mendengar suara ambulan itu langsung keluar. Jiwa kepo mereka meronta, ingin tahu siapakah yang akan dibawa ke rumah sakit.


Para warga komplek perumahan keluar. Mereka melihat posisi ambulan di depan rumah Pramono.


"Siapa ya yang sakit?" Tanya bu Ida.


"Paling juga pak pramono, kan dia beberapa kali masuk rumah sakit karena jantung." sahut mbak inong, asisten rumah tangga Bu Ida.


"Bisa jadi,nong."


Tak lama para petugas ambulan menggotong Tiara yang masih tidak sadarkan diri.


"Eh, bu kayaknya yang dibawa itu istrinya ilham. Bukan pak Pramono." inong kembali bersuara.


"Masa? kamu lihat?" sahut ibu ida.


"Kalau nggak percaya tanya saja sama si Indro, bu."


Bu ida melihat Indro berdiri di depan ambulans. Wanita itu langsung menghampiri Indro.

__ADS_1


"Ndro, si Tiara kenapa?"


"Sepertinya jatuh di kamar mandi, bu. Maaf, bu saya masuk ke ambulan dulu. Tolong titip rumah ya, bu."


"Eh, majikan kamu mana?"


"Pak Pram dan Bu Mila ke cibubur. Oma sakit."


Bu ida terdiam setelah mendengar penjelasan Indro. Dia pun tidak menyadari ambulan sudah pergi sedari tadi.


"Buu.." Sahut Inong.


Panggilan Inong membuyarkan lamunannya. Segera wanita itu pulang ke rumah.


Kasihan Tiara. Dia pasti sendirian di rumah. Apalagi Ilham itu dokter yang memiliki jam terbang yang tinggi. Harusnya mereka menyediakan pembantu untuk membantu pekerjaan Tiara. Apalagi yang saya dengar pekerjaan rumah tangga dikerjakan sendiri.


Semoga dengan kejadian ini bisa jadi pelajaran untuk keluarga Pramono. Supaya suatu saat nanti tidak kecolongan lagi.


Untung ada Indro, coba kalau nggak diselamatin lebih cepat bisa nyawanya yang melayang. Si Ilham di tinggal mati lagi sama istrinya.


Mobil ambulans akhirnya berhenti di rumah sakit bunda. Indro ikut turun menemani Tiara. Matanya berkeliling mencari Ilham. Beberapa suster yang ikut membawa Tiara berbisik-bisik.


"Ini bukannya cewek OB yang kegatelan sama dokter Ilham, ya." bisik salah satu perawat


"Iya, memang dia. Tapi dia nggak akan bisa kegatelan lagi sama dokter Ilham. Kan dokter Ilham sudah menikah dengan anak konglomerat."


Tiara pun ke dalam ICU untuk segera ditangani. Indro tak ingin duduk diam. Dia langsung mencari Ilham untuk mengabarkan keadaan Tiara.


Tak berapa lama Tiara selesai diperiksa. Para petugas akan meletakkan Tiara di ruang kelas 1, tapi suster tadi menyuruh meletakkan Tiara di ruang bangsal kelas 3.


"Siapa yang meletakkan nona Tiara di ruang bangsal itu, tidakkah kalian tahu nona Tiara itu siapa?" protes Indro pada staf rumah sakit.


"Cewek OB itu, ya?" jawab suster tersebut.


"Dia bukan OB, dia itu .."


"Ada apa ribut-ribut?" suara dokter Nanda mengalihkan ketegangan di ruangan itu.


Pada akhirnya Nanda mendatangi ruang bangsal tersebut. Mengetahui ternyata pasien adalah istri rekannya. Nanda memerintahkan staf rumah sakit memindahkan Tiara di ruang VIP.


"Kalian tahu kesalahan kalian apa?"


Para suster hanya menunduk. Dia belum paham kenapa pasien tersebut mendapat ruang perawatan khusus. Karena dulu yang dia dengar, siti adalah gadis miskin dari desa.


"KALIAN TAHU ITU TADI SIAPA?"


Mereka kembali menggeleng.


"Itu istri dokter Ilham Ramadan!" Amuk dokter Nanda.


"Kalau dokter Ilham tahu, kalian bisa dipecat. Mau!"


Bentak dokter Nanda.

__ADS_1


"Maaf." ucap mereka menunduk malu.


Dokter Nanda membaca hasil pemeriksaan Tiara. Dengan senyum simpul lalu berjalan menuju ruang prakternya.


Sementara itu ilham baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Kakinya berjalan ke arah ruang prakteknya. Membuka baju APD nya, tangannya meraih handphonenya. Netra membulat saat melihat banyak sekali panggilan untuknya.


Ilham membuka voice note dari istrinya.


" Mas, Sepertinya aku mau demam. Pulang, mas"


Ilham terlonjak kaget. Dia langsung mengambil tas nya. Meninggalkan ruangan kerjanya, perasaan cemas langsung menyergapnya. Saat berlari menuju gerbang rumah sakit, Toni langsung menghadangnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Toni saat melihat Ilham buru-buru.


"Tiara demam. Mama dan Papaku lagi di rumah Oma. Dia pasti sendirian dirumah."


Toni tertawa melihat kepanikan Ilham. Lalu mengeluarkan map kuning.


"Kamu baca ini, ham." Toni menadahkan map itu ke tangan Ilham.


Ilham bingung, menatap sahabatnya seolah meminta penjelasan.


"Kamu lupa sebelum resepsi lalu kamu periksa sama aku tentang mandul atau tidak. Di dalam map ini mempengaruhi tentang kondisi Tiara saat ini. Lalu temui pasien kamar VIP no 5."


"Kenapa hasilnya baru kamu kasih sekarang, ton?


Toni berlalu dari hadapan ilham sambil berbisik.


"Selamat, ya."


Ilham meletakkan tasnya di ruangannya. Dia mendaratkan bokongnya diatas kursi kerjanya. Membuka pelan-pelan isi map tersebut. Dengan perasaan berdebar dia mencoba membaca hasil lab tersebut.


Dan hasilnya


Zreeeeet zreeeet


Ilham belum sempat membaca hasilnya, harus mengangkat telepon dari mama mila.


"Iya,ma?"


"Gimana keadaan Siti?"


"Ilham masih dirumah sakit, ma. Belum pulang ke rumah. Ini sudah mau pulang."


"Ngapain kamu pulang? Indro dari tadi nyariin kamu. Sekarang dia dirawat di ruang VIP no 5. Cepat kamu temui dia. Sebelum keduluan sama mertua kamu."


Suasana di ruang rawat milik Tiara sudah dipenuhi keluarga. Tadi saat mama Mila mengabari putri tunggal mereka pingsan di kamar mandi, tentu saja kabar itu membuat Adolf, Fatimah dan Aisyah khawatir. Tapi hingga saat ini sang putri belum membuka matanya.


Adolf sepertinya emosi, putri semata wayang sedang kondisi berjuang maut, tapi sang menantu belum juga menemui Tiara.


Dokter Toni masuk ke ruangan Tiara. Matanya berkeliling mencari temannya yang belum juga sampai. Lalu memberikan hasil pemeriksaan pada mama Fatimah.


Sepeninggal Toni, mama Fatimah, papa Adolf dan ibu Aisyah membuka surat tersebut. Senyum mengembang diwajah ketiganya.

__ADS_1


Sementara Ilham langsung sujud syukur setelah membaca hasil Lab nya. Dia langsung berlari menuju ruang rawat istrinya.


__ADS_2