Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
7. Enam


__ADS_3

Malam itu menjadi malam romantis bagi Siti dan Ilham. Dokter ganteng itu mengajak Siti dinner di sebuah cafe romantis. Sengaja Ilham meminta pegawai cafe itu menghias suasana cafe penuh mawar merah dan lilin yang bertuliskan i love you Siti.


Siti didandan oleh Gita. Penuh dengan gaun merah seperti tema dinnernya. Gaun merah yang pernah Gita pakai saat dinner bersama Ilham. Lama Gita terdiam melihat gaun itu, gaun yang dia pakai saat Ilham melamarnya untuk kesekian kalinya, saat Ilham melamarnya kembali setelah Ronal di nyatakan meninggal dunia.


"Kamu cantik, ti." ucap Gita saat melihat hasil make over nya pada sahabatnya.


"Gita, aku tidak pede pakai baju ini." Siti melihat baju gaun yang lumayan sexy. Dress membentuk lekuk tubuhnya.


"Kan sekali-sekali, ti. Nyenengin calon suami. Sudah siap, nih. Kamu mau dinner di cafe mana,ti?" tanya Gita mengajak Siti keluar kamar.


"Kata Ilham di cafe great kalo nggak salah." Siti mencoba mengingat nama cafe yang disebut Ilham.


Gita ingat kalau cafe itu tempat Ilham melamarnya dulu. Ah, memori indah itu datang lagi. Bahkan dirinya merindukan momen itu. Momen pada akhirnya dia menyadari itu hanya rentetan kenangan.


Mobil Gita sudah siap untuk mengantar Siti ke cafe yang dimaksud. Pak sopir yang mengantar pun ikut terpesona dengan kecantikan Siti. Dulu selama Siti tinggal di rumah Gita, belum pernah dia lihat Siti dandan secantik ini.


Tiba di cafe yang dimaksud. Siti sudah di tunggu Ilham di depan pintu masuk. Mata Ilham terpana melihat kecantikan Siti, entah kenapa dia seperti melihat Gita yang sedang berdiri di depannya.


Ya, gaun yang dipakai Siti membuka kenangannya saat melamar Gita setelah Keisya meninggal dunia. Setelah Gita mencoba membuka diri saat Ronal sempat di nyatakan meninggal dunia.


Ilham menggapai tangan Siti untuk duduk di kursi yang sudah dia pesan. Mata Ilham tetap tidak lepas dari apa yang dipakai Siti. Semua yang dipakai Siti persis apa yang dipakai Gita dulu.


"Cantik, ta." ucap Ilham saat mencium tangan Siti.


Siti terhenyak saat Ilham menyebutkan kata penggalan nama. Nama yang dia yakin bukan namanya. Dia mencoba positif thinking, menganggap salah mendengar.


Alunan musik mengiringi makan malam mereka. Ilham berdiri mengajaknya berdansa, penyanyi cafe pun mulai menyumbangkan suaranya.


"Aku tidak bisa dansa, ham." ucap Siti malu malu.


"Kamu cuma memegang pinggangku saja, lalu mengikuti gerak kakiku." instruksi Ilham.


Wajah Siti memerah saat jarak pandang mereka terlalu dekat. Jantungnya berdegup kencang saat Ilham mencoba mencicipi bibirnya. pelan tapi pasti Siti pun menikmati alunan musik. Buaian bibir dari Ilham pun membuat Siti terbang ke langit ketujuh.


"Gita, tatap ke lantai bawah." ucap Ilham berbisik membuat Siti tersentak.

__ADS_1


"Gita!" Ucap Siti penuh kemarahan.


"Eh .. maaf Siti." Ilham meralat ucapannya.


"Barusan kamu bilang Gita kan!" ucap Siti yang sudah terlanjur kecewa.


"Enggak kamu salah dengar! Aku manggil nama kamu Siti." Ilham masih mengelak.


"Aku nggak budek, ham. Masih jelas di telingaku kamu memanggil Gita. Aku kecewa sama kamu, ham." Siti pergi dari hadapan Ilham sambil menangis.


"Siti tunggu..." Ilham mengejar Siti yang sudah berlari keluar cafe. Merasa kesulitan dengan sepatunya Siti membuangnya ke jalanan. Hatinya sudah hancur, batas kesabarannya pun sudah habis.


Hujan deras pun mengguyur tubuhnya. Make up nya pun luntur saat tubuhnya basah kuyup. Dia tak peduli dengan tatapan orang dipinggir jalan. Tubuhnya lemas karena menghirup air hujan. Siti sudah tidak kuat lagi. Seketika tubuhnya ambruk.


Ham, aku punya batas kesabaran. Sudah berbulan-bulan kita pacaran tapi kamu belum move on juga. Lalu apa artinya kita. Lalu apa artinya kamu melamarku. Jahat kamu! jahat!


Kamu tahu, ham. Rasanya sakit sekali. Aku belum pernah sesakit ini.


Tak jauh dari lokasi Siti pingsan. Sebuah mobil melintas, Seorang lelaki turun melihat wanita pingsan di pinggir jalan. Lelaki itu turun, mengecek kondisi Siti. Di baliknya tubuh wanita itu.


klik


Dua hari kemudian


Siti membereskan barang-barangnya. Dia akan pulang ke Sukasari. Melepaskan semua yang sudah dimilikinya. Melepaskan cinta yang membuat dia sakit.


Sampai di terminal. Siti ke loket untuk memesan tiket ke Sarolangun.


Pikirannya melayang tentang kejadian malam itu, Sesekali memegang bibirnya teringat ciuman mesra dari Ilham. Walaupun sebenarnya bibirnya sudah di rebut Jonathan terlebih dahulu.


"Pak, tiket untuk ke Sarolangun masih ada." suara seorang lelaki mengagetkan lamunannya.


Siti seperti mengenal suara itu. Kaki beranjak mendekati lelaki itu. Dari kunciran rambutnya Siti sudah tidak asing lagi.


"Mau kemana, pak." ucap Siti mencoba menggoda lelaki itu.

__ADS_1


Lelaki itu menjawab tanpa menoleh kearah Siti. Sesekali Siti menggapai kunciran rambut gondrong lelaki itu, tapi yang ada malah dia hampir terpeleset, tangannya menarik baju lelaki itu.


Reflek dia membalikkan badan, tangannya menahan tubuh Siti. Mereka bertatapan lama. Menahan degup jantung masing-masing.


"Siti!" ucapnya dengan senyuman mautnya.


"Om tinggi amat sih. Aku jadi jatuh kan." ucap Siti setengah sewot.


"Hahahaha, salah sendiri jahil banget. Kamu mau pulang ya!" tanya lelaki itu.


"Nggak kok aku mau ke bulan." jawab Siti asal.


Udah tau aku mau pulang, dia pake nanya lagi.


"Mau kebulan! Ayooo! jangankan ke bulan, ke langit ketujuh akan ku bawa!" rayu Jo.


"Om mau ke Jambi juga.Ngapain?" tanya Siti masih penasaran dengan lelaki yang usianya jauh di atas dirinya.


"Mau ketemu calon mertuaku."


"Calon mertua? Om dapat orang Jambi juga. Selamat ya, Om." siti mengucapkan selamat sambil mengulurkan tangannya.


"Terimakasih, Siti." Jo mengulum senyum.


Tak lama bis sudah sampai. Jo dan Siti naik karena memiliki tujuan perjalanan yang sama. Siti duduk di dekat kaca, sementara Jo di kursi belakang Siti. Mata Jo terus menatap kaca yang ada di depannya.


Jo melihat seorang lelaki duduk di samping Siti dengan mata genitnya. Hati Jo panas, lalu meminta lelaki itu berpindah tempat.


"Enak saja! Saya pesan tiket nomornya disini!'' protes orang itu.


"Heh! itu istri saya! Ngapain kamu tadi genit genit sama istri saya." jawab Jo kesal.


"Benar itu suami kamu, mbak." tanya orang itu.


Siti tahu maksud Jo untuk menolong dirinya dari kegenitan orang disebelahnya. Kepalanya mengangguk. Orang itu langsung terdiam. Akhirnya Jo duduk disebelah Siti. Siti pun tertidur di pinggir kaca, Jo memindahkan kepala Siti ke bahunya. Siti tidak menyadari ketika Jo membetulkan posisi tidur.

__ADS_1


__ADS_2