Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
55. Sebuah pertemuan


__ADS_3

Alam menatap suasana disekelilingnya. Sebuah keramaian di tempat tamasya terkenal dijakarta.


Sambil mendorong stroller bayi dengan penuh percaya diri dia berjalan tanpa peduli dengan tatapan orang. Telinganya terus mendengar pujian-pujian dari kaum hawa.


Matanya menatap sebuah struk es krim berlambang hati. Sambil membawa sang putri yang usianya masuk 6 bulan. Vanesha atau biasa dipanggil shasa, menggeliat melihat wajah ayahnya. Senyumnya menampakkan keceriaan, membuat sang ayah yang masih berduka menjadi sedikit senang.


"Shasa mau eskrim. Nanti ya kalau sudah satu tahun. Shasa tahu nggak kalau ini kesukaan bundamu. Waktu hamil kamu tiada hari tanpa es krim." Alam menikmatan sebuah eskrim berbentuk kerucut.


aaauuu.. iiii ...


Terdengar celotehan shasa yang juga ingin berkomunikasi dengan sang Ayah.


"Om, Shasa kayaknya pengen tuh makan eskrim." sahut gery yang ikut menemani Alam ke sebuah taman bermain.


"Jangan, ah. Masih bayi juga." Alam protes saat Gery mencuil es krim untuk diletakkan ke bibir shasa.


"Gery salut coklat!" Pekik Alam saat melihat bekas es krim di bibir shasa.


Owweeeeek ooweeeeekkk


"Tuh, kan shasa nangis. Kamu sih!" omel Alam sambil menggendong shasa.


"Om, kayak ini persis emak- emak." Ledek gery


"Kan aku single parent bisa jadi emak sekaligus bapak. Cup cup cup, nak sayang. Sayangnya ayah." Alam masih sibuk mengayunkan Shasa ditambah tatapan para hawa.


"Enak ya, jadi om. Bisa viral, coba kalo onty masih ada..."


"Kalo onty mu masih ada yang ada sepanjang hari aku dipelototin. Kamu tahu pas dia nyamperin aku ke kantor. Kebetulan aku ada klien cantik, ya sudah, sampai klien itu pulang aku sudah seperti mau diterkam."


Gery tertawa "Enak dong om, diterkam istri. Auuumm"


"Makanya ger, cari pasangan. Jangan nungguin yang itu mulu." Alam membalas gery


"Siapa? Nabila? Emang kenapa? Kan kalian yang buat dia sampai bisa dipenjara." Gery mulai nyolot tak suka kekasihnya disudutkan.


"Sebentar? Yang buat aku hampir cerai sama onty mu siapa?"


Gery diam saja. Nabila pernah bilang kalau dia hanya kagum saja dengan Alam. Bukan berarti cinta. Gery merasa onty saja yang salah paham.


Lama dia menatap langit.


"Onty Gita apa kabar? Kami rindu padamu. Onty pasti sedang berada disurga. Liat onty shasa sudah besar. Tapi nggak mirip onty lebih mirip papanya. Kalau mirip onty kan cantik"


Pletuk


Gery merasa ada yang menjitak kepalanya. Wajahnya menatap kearah si pemukul.


"Iyalah mirip. Aku kan bapaknya. Kalo mirip sama kamu baru aku curiga."


"Ih, si om. Sakit tau! Udah ah, aku kayak nyamuk kalau sama om terus. Itu shasa udah tidur, om. nggak pegel di gendong terus."

__ADS_1


Alam meletakkan shasa ke dalam stroller. Lama ditatapnya wajah anaknya. Ada tetesan air matanya, seolah meratapi yang sedang terjadi.


Alam baru menyadari tidak mudah menjadi orang tua tunggal.


"Aku rasa mungkin inilah yang ibu rasakan saat membesarkanku. Maafkan aku, bu. Maafkan aku yang dulu sempat membencimu, bu. Gita sayang kamu apa kabar sudah enam bulan sejak kepergianmu. Aku sangat merindukanmu, sepi rasanya tanpa kamu."


Alam memandang photo gita sambil duduk disamping shasa.


"Wah, adeknya imut, ya." sebuah suara menyapa shasa yang masih tertidur.


"Na, jangan di ganggu, itu bayinya masih tidur." Suara lelaki disampingnya.


"Tapi, kak dodo. Anaknya lucu banget, rasanya pengen cepat-cepat menikah kalau bayi seimut ini."


Alam merasa terganggu saat ada suara yang didekat stroller anaknya. Tanpa melihat si pemilik suara, alam menegur orang yang mengusik tidur putrinya.


"Maaf, mas dan mbak. Anak saya sedang istirahat. mohon jangan diganggu."


"Tuh dengar, sayang. Bapaknya marah, udah jangan di usik lagi." dodo menarik kekasihnya agar jauh dari sibayi.


Ina menahan dadanya. Jantungnya berdegup dengan kencang. Dia merasa seperti tidak asing dengan bayi tersebut.


Sejak mendapatkan donor jantung, yang ina sendiri tak tahu siapa orangnya. Dia sering mengalami hal aneh, didatangi oleh seorang wanita yang mirip dirinya dalam mimpi. Setiap didekat ilham dia merasa lelaki itu seperti tidak asing. Sekarang, hanya melihat seorang bayi yang baru dijumpainya, ina sudah merasa dekat.


Lama dia menatap ke belakang untuk mengendalikan degup jantungnya yang semakin kencang.


"Ina, kamu kenapa? Jantung kamu kumat lagi." Dodo yang melihat wajah ina pucat.


"Ya, udah kita pulang, ya." Dodo memapah ina yang hampir pingsan.


Klik


"Eh, ada tamu rupanya. bi, siapkan minuman untuk tamu." sapa tante fatimah dengan ramah.


"Sitinya ada tante?" ilham masih kaku saat bertemu dengan tante fatimah.


"Ada. Belum bangun. Kalian mau jalan, ya. Ah, anak itu masih molor."


Sebenarnya sudah bangun sejak subuh. Tapi entah kenapa dia terlintas mengerjai ilham. Siti tahu kalau ilham mau mengajaknya jalan, tapi saat ini siti ingin ilham berkenalan dengan tantenya.


"Nama kamu siapa, nak?"


"Ilham Ramadhan, tante."


Anaknya sopan, kok.


"kerja?"


"Saya dokter di rumah sakit kasih bunda, tante."


Waaw dia seorang dokter

__ADS_1


"Eh, kamu sudah lama datang. Maaf, ya ketiduran." sapa Tiara yang langsung duduk disamping ilham.


Mata ilham melotot saat siti hanya memakai kaos dan celana pendek.


"Dia siapa kamu, ti?" tanya tante Fatimah


"Teman!"


"Pacar!"


Siti dan ilham menjawab bersamaan.


"Ih, kalian nggak kompak. Jadi yang benar mana nih. Kalian pacaran apa enggak!"


"Tidak!"


"Iya!"


Lagi-lagi mereka menjawab bersamaan. Mereka saling menatap seolah tidak mau kalah satu sama lain.


"Ya, udah. Terserah kalian deh. Kalau boleh tahu, nak ilham ini single atau duda."


"Saya duda, tante. Istri saya meninggal saat keguguran."


"Innalillahi wa innalillahi rojiun. Kamu yang sabar, ya. Kalau boleh tahu apa yang menyebabkan mendiang istrimu bisa keguguran."


Deg! Ilham terkejut mendengar pertanyaan tante fatimah. Bagaimana dia bisa menjelaskan pada tante fatimah perihal penyebab keguguran raisa. Sedangkan dia saja tidak tahu kalau ternyata raisa sudah meninggal. Dia baru tahu dari gita. Siti menatap ilham yang terlihat pucat.


"Maaf kalau pertanyaan saya terdengar sensitif. karena ini menyangkut siti, dari kejadian istrimu, apakah bisa membuktikan kamu itu lelaki siaga apa bukan. Saya tidak mau yang terjadi pada istrimu juga menimpa anakku." Suara tante Fatimah lantang.


"Ham." Siti mencoba menguatkan lelaki disampingnya.


Ilham yang sedari tadi down atas ucapan tante Fatimah.


Aku memang bukan suami yang baik buat raisa. Selama ini aku dirudung ego yang tinggi karena obsesiku terhadap gita.


Bahkan saat Raisa keguguranpun aku tidak ada disampingnya.


"Maaf." Terdengar suara berat dari siti.


"Ti, sepertinya hari ini aku tidak jadi menemanimu ke tempat Gita. Maaf, ya."


"Kamu mau kemana? Aku ikut ya."


Siti takut saat ilham down malah tidak fokus menyetir.


"Ya, udah kamu ganti baju. Masa pake baju tidur."


Tante Fatimah menatap ilham dari jauh.


Aku tahu, ti. Itu adalah lelaki yang diceritakan kak Aisyah. Maaf sepertinya memang benar yang diceritakan kak Aisyah. ilham bukan lelaki yang bertanggung jawab.

__ADS_1


__ADS_2