Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
116. Namanya juga orang hamil


__ADS_3

POV Tiara


Siapa yang tak ingin hamil. Hampir semua wanita mendambakan momen ini, momen saat mual, merasakan detak jantungnya hingga saat membahagiakan yaitu lahirnya si mungil. Hasil buah cinta yang di tunggu selama ini telah tumbuh dirahimku.


Suatu anugerah yang tak terkira yang diberikan tuhan pada kami berdua. Seperti yang kalian tahu, suamiku sempat divonis mandul. Rasanya bagaikan petir disiang bolong ketika suamiku mengumumkan hal ini.


Ajaib! memang kado yang tak terlupakan. Walaupun sampai sekarang aku masih penasaran kenapa suamiku bisa divonis mandul. Kenapa dia kemarin sangat yakin tentang vonis itu? Padahal dia belum mengecek kebenarannya.


Tergambar diwajahnya saat aku mengumumkan kehamilanku. Tak henti-hentinya dia selalu bilang


"Aku akan jadi seorang ayah." bahkan dalam tidurnya di mengatakan hal yang sama.


Klik


"Yang..."


Tiara memandang suaminya yang baru pulang dari sebuah acara. Tadi saat berangkat suaminya sangat rapi dan bersih. Tapi sekarang, suaminya kucel, dasinya tidak dipakai, kemejanya tidak masuk kedalam lagi.


Ilham yang baru sampai langsung disambut muka cemberut dari istrinya.


"Kok kucel dari mana saja!" ucapnya sambil mengunyam keripik pisang.


"Tadi abis acara ngumpul bareng teman-teman, yang." Ilham ikut menikmati keripik pisang yang disantap istrinya.


Dengan cepat Tiara mengambil toples, seperti tidak iklas kalau suaminya memakan miliknya.


"Ini punya ku!" protesnya meninggalkan suaminya yang masih bengong.


"Kamu kenapa?" Ilham manis duduk disamping istrinya. Tiara masing asyik dengan keripik pisangnya.


"Yang..." rengeknya manja pada istrinya.


"Aku tuh sebel sama kamu! Aku sudah capek-capek bikin baju kamu rapi dan wangi. Tapi kamu pulang malah kayak gini." Protesnya masih maling muka.


Ilham menggaruk kepalanya.


"Jadi cuma karena itu?" Ilham tertawa mendengar protes sang istri.


Tiara menoleh kearah suaminya yang masih tertawa.


Pletak!


"Aaaaawwwww!" Pekiknya saat sang istri memukul kepalanya menggunakan toples tupperware.


Tiara tertawa saat melihat ringisan dari wajah suaminya. Entah kenapa wajah suaminya menjadi hiburan seru dalam sekejap.


"Kan cantik kalau senyum."


Cup!


Tiara mendaratkan kecupan di pipi suaminya. Suasana hatinya yang kadang gampang sensi kadang juga gampang baik.


"Kamu kenapa, sayang?"


"Mas, aku tuh sebel sama kamu. Aku capek-capek buat kamu keren dimata kolega. Kamu malah ngancurin perasaan aku dengan berpenampilan seperti ini!"


Ya, Allah aku salah lagi sepertinya.


"Ti, aku kan kayak gini sudah selesai acara. Bukan masih di acara. Gerah pake jas berjam-jam."

__ADS_1


"Ya, udah kalau kamu ada acara atau rapat di rumah sakit, aku juga ikut biar kamu langsung pulang kerumah, bukan kumpul bareng teman-teman kamu!"


Hembusan nafas berat terdengar dari suara pria itu. Seketika dia ingin membuka kemeja karena merasa gerah.


Seminggu yang lalu istrinya menyuruh dirinya tidur di luar karena kesal tidak dibelikan martabak aceh.


"Sabar, ya, ham. Namanya juga orang hamil. Bawaannya sensi terus, hormonnya kadang bagus kadang buruk." Mama Mila menenangkan putranya.


Usia kandungan Tiara sudah memasuki 6 minggu. Ilham merasakan banyak perubahan sikap istrinya. Seperti suka marah, cemburuan, dan kadang bisa lembut. Dia harus menahan sabar saat sikap istrinya berubah terus, mirip kondisi cuaca.


Dan setiap dirinya curhat dengan sang mama pasti jawabannya sama.


"Namanya juga orang hamil"


Selama kehamilan ini Ilham memperlakukan istrinya seperti ratu. Tidak boleh banyak aktivitas, Ilham juga selalu menuruti apa ngidam istrinya. Bahkan saat pagi, Ilham selalu mengajak istrinya jalan pagi, dirinya pun kadang harus mengalah saat makannya dilahap istrinya.


"Ini bolehkan buat aku, mas."Ucap Tiara saat melihat bakso suaminya lebih menggoda daripada


bakso miliknya.


"Boleh, sayang. Berarti yang kamu buat aku, kan."


Tiara menggeleng. Dia malah menghabiskan baksonya terlebih dahulu baru setelah itu dia mengambil bakso porsi suaminya.


Ilham hanya memegang perutnya, pasalnya rutinitas rumah sakit membuatnya lupa makan. Terakhir dia hanya minum kopi dan sekarang saat hendak makan dia kembali harus mengalah dari istrinya.


"Namanya juga ibu hamil, mas. Kamu harus ngerti itu."


"Kapan sih aku nggak pernah ngertiin kamu, ti?" ucap Ilham yang masih kesal saat hak laparnya lagi-lagi diserobot istrinya.


"Sejak kamu hamil, kamu tuh nggak pernah ngertiin aku, ti. Pernah nggak kamu nanya kabar aku gimana? pernah nggak kamu nanya aku sudah makan apa belum? Enggak kan!


Tiara menghentikan makannya, bukannya merasa iba pada suaminya. Dia mulai kumat drama queennya.


"Papa jahat, nak. Dia lebih mentingin dirinya sendiri daripada kamu."


Ilham kaget mendengar ucapan sang istri.


Apakah ini karakter bayiku nantinya? Jangan sampai nanti anakku seperti ini. Aku harus didik Tiara agar jangan menuruti ngidamnya. Dia harus bisa melawan.


Klik


Di rumah sakit Kasih Bunda, Ruang obgyn


"Wah, ham selamat. Kantung janinnya ada dua." Ucap Toni saat memeriksa kandungan Tiara.


Mereka saling menatap "Kembar!"


Ilham mencium kening istrinya menandakan rasa bahagianya. Matanya terus menatap layar monitor 4D milik Dokter Toni.


Kembar!


Lagi-lagi Ilham membayangkan rumahnya akan rame dengan suara anak kecil.


"Tapi bayinya belum kelihatan, mas." Ucap Tiara yang penasaran seperti apa bentuk anaknya.


Keduanya masih tidak percaya karena diberikan bayi kembar. Toni masih sibuk mengarahkan monitor memperlihatkan sebuah pergerakan meskipun wujudnya belum jelas.


Matanya tak terasa berlinang, melihat suara detak jantung calon anaknya.

__ADS_1


"Aku masih tidak percaya kalau akan menjadi ayah."


Ucapnya penuh haru.


Selesai memeriksa kondisi kehamilan istrinya. Ilham mengajak Tiara istirahat diruang kerjanya. Sementara itu, Ilham mengecek email di laptopnya.


Ilham sempat berniat mengambil kuliah s2 untuk menunjang karirnya.


"Sayang nanti kalau anak kita lahir kita pindah ke belanda, ya."


Tiara yang tadinya cuek-cuek saja mendadak fokus menatap suaminya.


"Belanda?" Tanya Tiara untuk memperjelas pendengarannya.


Ilham mengangguk. Rencana itu sempat bergulir saat Tiara menghilang setelah kejadian disukasari. Hingga saat mereka bertemu kembali ilham melupakan rencana itu dan fokus mengejar cintanya yang hilang.


University of Amsterdam sudah menjadi incaran Ilham sejak lama. Sebuah universitas yang menurutnya terbaik di belanda. Kampus yang berada di negeri kincir angin tersebut begitu menjanjikan dirinya untuk fokus sekolah disana.


"Jauh amat, mas. Emang diindonesia nggak ada, ya?"


Ilham menggeleng. Dia sudah terlanjur memasukkan formulir ke kampus itu. Jika lulus pastinya akan memboyong anak dan istrinya untuk menetap disana.


"Sayang, aku mau nanti setelah lulus kuliah. Aku mau buka praktek mandiri. Biar aku banyak waktu dirumah dan biar aku selalu menjaga kamu." Tangan Ilham menjentik hidung istrinya.


"Mas"


"Hmmm apa sayang?"


"Kalau aku nanti gendut, nggak cantik lagi kamu masih mau kan sama aku."


"Pasti dong. Kenapa kamu nanya gitu?"


"Nggak ada. Pengen tahu aja. Seberapa besar cinta kamu sama aku."


"Kamu tenang saja. Aku pasti...."


Hueeeeekk Hueeeeek Hueeeekkk


"Kamu mual lagi sayang? Makanya kamu tadi disana makan lahap banget. Kasihan debay jadi terlalu kenyang." Omel Ilham.


"Namanya juga orang hamil, mas."


Jiaaaaahhh Itu terus dijadiin alasan.



####


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2