
Pov Jihan
Mataku terbuka ketika sinar matahari menyilaukan pandanganku. Seorang lelaki manis tertidur disampingku menjadi lelaki pertama yang kulihat saat membuka mata. Lelaki yang mendadak menikahiku setelah ketidakhadiran Rangga di pernikahan kami. Tangannya melingkarnya diatas perutku, membuatku puas memandangnya. Aku pun malas beranjak dari tempat tidur, aku juga enggan membangunkannya.
"Pagi, istriku." Dia mengecup keningku.
"Pagi, suamiku. Sepertinya kamu nyenyak sekali, padahal kita belum ngapain."
Seketika wajahnya tersenyum, tangannya membelai wajahku dengan lembut. Ada rasa kedamaian saat dia meletakkan kepalaku diatas bahunya.
"Kenapa nggak dulu aja kita nikah, han?" ucapnya yang kembali mendaratkan bibirnya ke arah bibirku.
"Kamu mau dipanggil apa? Mas apa abang?"
"Jangan abang, nanti kamu saingan sama adekku." Cebiknya sambil mencubit hidungku.
"Udah, bangun dong. Udah siang, mama dan papa pasti sudah menunggu untuk sarapan bareng." Ku tarik tangannya agar beranjak dari kasur.
Tapi ternyata dia menarik tubuhku hingga posisinya diatasku. Aku mulai mengikuti irama jantung yang berdetak kencang, wajahnya mulai mendekatiku, serangan yang dilakukannya membuatku terbuai.
Ku rapatkan tanganku ke arah pinggangnya, sesak tapi aku menikmatinya.
"Aku mau sekarang, han."
Aku perlahan melepaskan eratan tubuhnya. Ketakutan itu kembali mendera, aku takut dia kecewa dengan keadaanku.
"Maaf, aku belum siap."
Kembali ku tatapan wajahnya yang masih berharap. Tapi aku masih takut mengecewakannya.
"Kenapa menatapku seperti itu, han. Kalau kamu belum siap nggak papa. Aku tetap nunggu, kita kan sudah suami istri."
Mataku mengerjap menyadari suamiku sudah masuk ke kamar mandi. Kembali Fokusku mencari pakaian ganti untuknya. Sebuah jas hitam dengan kemeja biru langit menjadi pilihanku.
"Han, Tolong ambil handuk." Pekiknya dari dalam kamar mandi.
"Nih" Kusodorkan handuk padanya.
"Akbaaaaaarr!"
Guyuran air shower membasahi tubuhku. Mataku membelalakan ketika tubuh polosnya terpampang nyata dihadapanku. Seketika ku tutup wajahku, malu dengan pemandangan dihadapanku.
"Kamu udah liat kan. Masa aku nggak boleh?"
"Apaan sih?" Ku cubit pinggang lelaki yang sudah menjadi suami dadakanku.
Aku bahagia karena lelaki ini adalah lelaki yang aku cintai. Hanya aku takut kalau dia tahu keadaanku yang sebenarnya.
Akbar melingkarkan tangannya dileherku. Kembali melakukan penyatuan bibir. Merasakan indahnya cinta kami berdua yang akan kami mulai setelah menikah.
" I love you, Jihan."
"Love you to, Akbar syahputra."
Flashback on
Seperti guratan takdirku memang bukan untuk Rangga. Hanya saja yang tidak kusuka darinya ketidaktegasan Rangga dalam hubungan ini, kalau tidak mau bilang dari awal, aku tidak masalah.
Bayangkan perasaan keluargaku yang hancur, undangan sudah tersebar, bahkan lokasi resepsi sudah ditentukan, sekarang dengan enaknya dia tidak muncul ke pernikahan.
Sakit! Sakitku bukan karena tidak jadi menikah dengannya. Melainkan karena ikut merasakan yang orangtuaku rasakan. Susah payah mereka mempersiapkan semuanya, pada akhirnya jadi begini.
Aku melihat rasa tidak enak di wajah tante Raya. Dia mengabarkan bahwa Rangga mengabari sudah berada di jepang.
"Maafin Rangga, Jihan. Tante nggak nyangka dia melakukan ini. Padahal tadi pagi dia masih sarapan bareng sebelum berangkat."
Aku tidak bisa menjawab. Ada sesak mendera di dada, tapi aku bisa apa. Menangis? tangisanku tidak akan membuat Rangga bisa kembali, karena yang aku tahu dia cuma cinta sama Ina. Tapi bagaimana dengan perasaan mama dan papa.
__ADS_1
Aku yakin papa saat ini sedang uring-uringan.
"Jihan"
"Ibuuu!" Ku peluk wanita yang sudah seperti ibuku sendiri.
"Kamu yang sabar ya, nak. Mungkin dia bukan jodohmu."
"Aku .... malu .. apa ini karma buatku? karena pernah menjegal Ilham untuk menikahi siti."
"Jihan, ini bukan karma, nak. Ini takdir yang harus kamu terima. Kamu ingat, mereka dijegal pun pada akhirnya mereka tetap menikah. Suatu saat kamu akan menemukan pendamping hidup."
"Rangga tahu masa laluku, bu. Tapi jika laki-laki lain, aku tak yakin dia mau menerima keadaanku. Keadaan seorang wanita yang pernah hamil di luar nikah."
Ceklik
"Jihaannn"
Clara muncul langsung memelukku. Dia satu-satunya sahabatku yang selalu ada dalam suka maupun duka.
"Kurang ajar si Rangga! Kalau aku ketemu dia gue patahin badannya terus gue lempar ke lobang buaya." Ucapnya penuh emosi.
"Sudahlah say. Berarti dia nggak jodohku, itu aja."
"Ya, tapi jihan. Aku kesel sama tuh orang, nyakitin sahabatku. Kalau dia nggak mau ya bilang dari awal.
Eh, tadi aku melihat Jonathan. Kamu pernah bilang kalau dia sekarang jadi sekretarismu. Kalau dia minta gantiin Rangga, jangan mau! Pokoknya jangan mau!"
"Kenapa?"
"Ya, karena dia nggak tulus sama kamu, Jihan. Kamu lupa kalau papamu pernah bermasalah dengan keluarga Jo. Pokoknya kalau kamu masih sayang dengan orangtuamu jauhi Jonathan."
Klik
POV Akbar
Aku baru saja bernafas saat baru menyelesaikan sholat Zuhur. Sari datang dengan paduan kebaya gold yang membuat terlihat cantik.
"Kok ajak aku? Ajak pacar kamulah"
Tentu saja aku menolak. Dikira aku lelaki apaan.
"Tolong aku, bos ku hari ini menikah. Aku malu nggak punya pasangan."
"Tapi, Sari.."
"Please..." Sari terus memohon padaku agar menjadi pendampingnya di pesta bosnya.
Sebentar! Bos! Apakah Jihan? Ah, kenapa aku tidak berpikir kesana?
"Aku ganti baju dulu." Pamitku pada Sari.
Aku dan Sari berangkat ke pernikahan Jihan dan Rangga. Kami di jemput mobil grab di depan gang rumahku. Sengaja tak kubawa motor karena takut merusak dandanan Sari.
Bismillahirohmanirrahim, kuatkan aku ya Allah. Kuatkan hatiku saat melihat mereka bersanding.
Ikhlas hatiku untuk menerima kenyataan kalau aku dan Jihan tidak berjodoh.
"Kamu kenapa, bar?"
"Emangnya aku kenapa, sari?"
"Kamu kayak orang lagi berdoa. Doain apa? Doain supaya kita nyusul ... dulu emang aku suka sama kamu, bar. Tapi ...."
"Tapi kenapa?"
"Tapi, orang itu suka sama perempuan lain. Hanya saja dia tidak percaya diri, sampai nyuruh adiknya ngaku jadi istri lelaki itu."
__ADS_1
" assssh, Mayang udah cerita sama kamu, ya? aku jadi malu. Maaf, ya."
"Nggak papa. Kalau boleh tahu siapa gadis itu."
"Dia ..."
"Pak, bu apakah ini tempatnya?" Pak sopir berhenti di depan rumah Jihan.
"Berapa pak?"
"20 ribu, pak."
"Ini pak" Kusodorkan Uang lima puluh ribuan.
"Kembaliannya buat bapak saja."
Si bapak menerima bayaranku lalu mengucapkan terimakasih.
Aku tatapan pantulan cermin didepan rumah Jihan. Merapikan baju dan wajahku agar terlihat rapi. Sesekali aku menghempas nafas, agar terlihat siap.
"Yuk"
Sari menggandengku berjalan masuk ke acara pesta. Terlihat orang mulai sibuk lalu lalang mempersiapkan acara. Tak ada yang kukenal, sari menarikku ke ruang belakang.
"Mbak Clara aku sudah bawakan orangnya."
"Bentar! Ini maksudnya apa, Sari."
"Nanti aku jelaskan didalam, Akbar. Kamu ikut aku ke ruang make up. SEKARANG!"
Clara langsung menarik tanganku ke sebuah ruangan.
"Pak, pengantin prianya sudah datang. Jadi tolong dandani dia setampan mungkin."
"Tunggu!"
Clara berlalu meninggalkanku diruang pengantin. Aku yang masih bingung memberanikan diri bertanya pada perias.
"Sebenarnya ini ada apa sih, mbak?"
"Mas itu menggantikan calon pengantin pria yang kabur."
"Kabur?"
"Nah, mas. Udah ganteng mirip Ali syakieb. Cocok sama mbak Jihan yang cantik."
Ya Allah, apakah ini jawaban doaku selama ini. Terimakasih ya Allah. Aku janji akan mencintainya sepenuh jiwa ragaku.
"Kamu sudah siap, bar"
Clara datang kembali menemuiku. Kali ini dia tidak sendiri melainkan bersama Sari dan kedua orangtua Jihan. Mereka akhirnya menjelaskan maksud yang sebenarnya.
"Satu yang harus kamu tahu Akbar. Jihan itu mencintaimu, hanya saja dia minder karena ...."
"Karena apa?"
"Karena putri kami pernah hamil diluar nikah, nak. Tapi terserah nak Akbar. kalau keberatan silahkan pulang, kami tidak memaksa." ucap mama Kiki.
Ceklek!
"Saudara Akbar Syahputra, saya nikahkan dan kawin putri saya yang bernama Jihan Almira binti Alex prasetyo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Jihan Almira binti Alex Prasetyo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saaaah"
"Saaaaaah" Teriak para undangan.
__ADS_1