
"Jadi kak Nathan ditikung lagi"
Sheila duduk disamping sang kakak yang usianya sudah kepala empat. Sheila terkadang merasa kasihan pada Jonathan yang sudah beberapa kali dilangkah mantannya.
"Dulu, kak Vika menunggu kepastian dari kak Nathan. Tapi kak Nathan menggantungnya selama bertahun-tahun, hingga akhirnya kak Vika memilih lelaki lain yang lebih pasti. Lalu kakak bertemu kembali dengan kak Vika, mendekatinya dan kalian pun hampir menikah. Aku tahu kalau kakak mendekati kak Vika hanya pelarian semata. Tapi tindakan kak Nathan sudah terlalu jauh. Gara-gara kakak, Ibu kak Vika sampai drop. Di gantung itu sakit, kak. Nggak enak!"
Jo menunduk lemah. Ucapan sheila ada benarnya. Selama ini dia sudah banyak menyakiti perasaan Vika. Padahal Vika sudah banyak membantu dirinya saat susah maupun senang. Tapi karena cintanya pada Siti, dia lupa ada pihak tersakiti.
"Terus" Sheila kembali melanjutkan ucapannya.
"Dulu kak Siti sudah membuka hatinya untuk kakak, tapi karena campur tangan mama, kak Siti merasa sakit hati pada kakak. Kakak tahu kalau ibu Aisyah tidak berani pulang ke Jambi karena warga mengucilkan dia. Kata kak Siti, rumahnya hancur oleh warga setempat.
Sekarang kakak mau dekati kak Jihan, karena mau mengambil hak orangtua kita. Tapi apa akibatnya ditikung lagi, kan. Kak niat yang buruk tidak berkah hasilnya."
"Tapi aku tidak pernah punya niat buruk pada Siti. Aku tulus, tapi kenapa dia tidak bisa melihat ketulusanku. Kenapa dia lebih memilih Ilham yang kamu sendiri tahu bagaimana dia membuat Raisa menderita. Lagian Siti tidak pernah mencintaiku."
Sheila mendengus kesal "Ini membuat hubungan kakak dan Kak Siti nggak bahagia. Karena dalam diri kakak masih bersarang dendam. Jadi ketulusan yang kakak rasakan tertutup dengan rasa dendam kakak pada kak Ilham. Sheila minta sama kakak, tolong lupakan dendam kakak pada kak Ilham. Yang terjadi pada Raisa bukan salah kak Ilham. Itu karma buat kak Raisa karena obsesinya pada kak Ilham. Tobat kak, tobat."
Sheila berdiri meninggalkan Jo yang masih merenung.
Meresapi semua yang diucapkan adik bungsunya. Jo membuka beberapa photo kenangan masa mudanya bersama Vika.
Hubungan yang mereka bina saat pertama bertemu di ospek sekolah. Lalu berlanjut dengan pertemanan sampai akhirnya jadian. Masa SMA mereka lewati bersama-sama, cinta mereka bersemi hingga tamat kuliah.
Vika yang saat itu mulai minta kepastian. Tapi tetap saja Jonathan meminta menunggu. Bukan apa-apa, baginya menikah bukan sekedar karena cinta. Paling tidak dia harus punya penghasilan. Dia tidak ingin bergantung pada orangtuanya.
Tapi yang lebih menyakitkan, Vika datang memberi undangan pernikahannya dengan Erik, padahal mereka belum putus. Rasanya benar-benar menusuk sampai ke tulang. Sejak saat itu, Jo benar-benar menutup diri terhadap wanita. Hingga bertemu dengan Siti yang mampu mengubah pikirannya.
"Well berarti aku harus memperbaiki hubunganku dengan Vika. Aku yakin dia masih menungguku. Buktinya sampai sekarang dia belum memiliki pasangan."
"Jangan percaya diri dulu, kak Nathan. Perempuan sudah tersakiti pasti akan nolak masuk ke lobang yang sama." Sahut sheila.
"Kamu itu masih kecil, La. Nggak usah sok nasehati kakak." sanggah Jo sambil memasuki kamar mamanya.
Jo duduk disamping Linda yang sedang membaca. Kesehatan Wanita usia 65 tahun tersebut mulai membaik. Linda bahkan sudah lancar bicara, hanya saja hidupnya harus bertumpu pada kursi roda.
"Nathan, maafin mama, nak. Seharusnya kamu bahagia dengan gadis pilihanmu. Tapi gara-gara dendam mama kamu tak bisa meraih bahagia itu. Maafkan, mama." Suara Linda mulai terdengar beras.
Tes
__ADS_1
Ibu dan Anak saling berpelukan. Wajah keduanya terlihat sembab.
"Ma, Nathan sudah memaafkan mama. Sekuat apapun Nathan mempertahankan Siti, pada akhirnya Siti tetap kembali pada Ilham. Karena mereka saling mencintai,ma.
Karena obsesi Nathan pada Siti, ada hati yang lain sudah Nathan abaikan. Nathan begitu jahat sudah melukai perasaannya, ma."
Linda paham kalau yang dibahas putranya adalah Vika. Sebagai seorang ibu, dia ingin memberikan kebahagiaan untuk putranya yang sudah dia renggut. Tapi dia bisa apa? sekarang tubuhnya tak bisa beraktivitas seperti dulu lagi. Hidupnya bergantung pada kedua anaknya, bahkan putri bungsunya saja sekarang memilih berhenti kuliah karena tak ada biaya.
"Ma, besok kita jenguk papa. Sudah lama kita tidak menengok papa." Ajak Jonathan.
"Tidak usah lagi kita temui dia. Mama sakit hati sama Papa, kamu tahu dia menggelapkan uang perusahaan demi kebutuhan yang mubazir. Toh, pada akhirnya dia dibuang juga."
"Loh, bukannya mama yang sering minta transfer uang."
Linda tersenyum kecut. Suaminya pintar seolah dirinya yang menyebabkan semua itu.
"Papamu punya istri lagi, Nathan. Bahkan dia memakai nama mama untuk tabungan istri barunya. Makanya banyak yang mengira duit itu masuk ke rekening mama."
Jonathan langsung lemas. Dia tidak menyangka kalau papanya sudah sejauh itu. Selama ini papanya lah yang jadi panutan karena setia pada mama Linda.
"Nathan, maukah kamu pertemukan mama dengan siti dan keluarganya. Mama mau minta maaf pada mereka. Walaupun mungkin mereka belum tentu bisa memaafkan kesalahan mama."
klik
Vika berdiri didepan kaca, balutan set kebaya gold membuatnya terlihat cantik dan lebih muda di usia 39 tahun. Matanya menatap kaca sesekali menghempas nafas.
"Kakak sudah siap? keluarga Ivan sudah sampai." Nana sepupu sekaligus partner kerjanya, menyembulkan kepalanya dibalik pintu kamar milik Vika.
Vika menoleh pada adik sepupunya. Angukkan pelan menunjukan bahwa dia sudah siap.
"Akhirnya kak Vika bisa move on dari kak Nathan."
Vika keluar dari kamarnya lalu berjalan menemui keluarganya dan keluarga Ivan. Semua sudah berkumpul, tampak Ivan duduk didekat orangtuanya. Vika pun duduk diantara taufan sebagai pengganti almarhum kedua orangtuanya.
Ivan menatap calon istrinya dengan bahagia. Walaupun usianya 5 tahun dibawah Vika, tapi dia tak mempermasalahkan hal itu. Walaupun dia tahu kalau Vika adalah seorang janda.
"Assalamualaikum" Vika menunduk saat semua mata menatapnya.
"Hai, bidadariku." Sapa Ivan mengedipkan matanya kearah calon istrinya.
__ADS_1
Vika hanya tersenyum malu. Lesung pipinya terlihat saat senyum malunya.
"Terimakasih"
"Inikah calon menantuku. Cantik sekali. Van, kamu bilang calon istrimu jauh lebih tua darimu. Tapi ini, dia malah terlihat lebih muda darimu."
"Ah, tante terlalu berlebihan."
"Mulai sekarang panggil saya Ibu. Karena kamu akan jadi anak perempuan saya." Tatapan teduh mama Ivan membuat Vika nyaman. Karena sejak sang mama meninggal dunia hidupnya terasa hampa.
"Vika!"
Sebuah suara mengejutkan sakralnya acara tersebut. Beberapa pasang mata menatap tak suka dengan kehadiran tamu tersebut.
"Mau apa dia kesini?" Ucap Taufan yang emosi saat tahu siapa tamunya.
Vika menahan adiknya yang sudah terlanjur emosi. Dia minta waktu untuk bicara dengan lelaki itu. Vika pun mengajak tamunya ke teras rumahnya.
"Kamu mau nikah sama Ivan?"
"Iya. Emang kenapa?" jawabnya ketus.
"Vika, aku tahu kamu masih mencintaiku. Aku kenal kamu sudah bertahun-tahun. Kamu juga tahu Ivan itu tidak suka wanita."
Vika melepas tangannya yang di genggam Jonathan.
"Apa hak kamu mengatur hidupku? Ingat than, kamu bukan siapa-siapa aku. Ingat kamu yang sudah mencampakkan aku."
Jonathan bersujud dikaki Vika.
"Maafkan aku, Vika. Aku dibutakan oleh cintaku pada siti. Kamu pernah bilang seberapa kuat aku berjuang kalau hatinya bukan buat aku sama aja zonk. Aku sadar, itu kesalahan terbesarku."
"Aku sudah memaafkan kamu, Than. Tapi maaf, aku bukan Vika yang dulu. Aku bukan Vika yang beberapa kali dijadikan pelarian. kenapa kamu tiba-tiba datang? Apa karena Jihan sudah menikah makanya kamu mencariku? Sudah kutebak. Kamu selalu mencariku hanya untuk pelarian."
"Maaf calon suamiku sudah menunggu di dalam."
Vika berlalu meninggalkan Jonathan yang terdiam setelah mendengar ucapan mantan kekasihnya.
bersambung
__ADS_1
Siapa yang mau ikut ke resepsi pernikahan Jihan dan Akbar?