
Siapa yang tidak bahagia punya keluarga lengkap. Punya suami yang mencintaiku, sepasang anak yang lucu-lucu. Sungguh kado terindah yang tidak terkira.
Aku Siti Marlina, gadis desa dari kota Jambi. Sekarang sudah menjadi seorang ibu dari dua anak. Tak pernah terbayangkan kalau pada akhirnya aku menjadi istri seorang Ilham Ramadhan. Bagi yang sudah baca novel sebelah pasti tahu sepak terjang Ilham mengejar cinta Gita. Walaupada akhirnya Gita lebih memilih kak Alam, padahal Ilham sudah mau bertanggungjawab.
Ah, kalau diingat-ingat rasanya mau ketawa. Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada pria menyebalkan seperti dia. Menyebalkan? Iya menyebalkan karena tingkat kepekaannya dibawah rata-rata. Tapi itulah cinta, yang pahit jadi manis, yang bau jadi harum.
Siti tersenyum mengenang perjalanan cintanya yang cukup rumit. Kalau kebanyakan kisah lain, perebutan kekuasaan, tapi yang dialaminya adalah perebutan restu. Ibu Aisyah menentang hubungan mereka karena masa lalu Ilham, sementara keluarga Jonathan juga menentang hubungan mereka karena status sosial.
"Sayang"
Ilham sudah berada disamping Siti, saat wanita itu memberikan ASI pada little Rama. Suatu kebahagiaan tak terkira saat sang bayi tampannya tidur dengan nyenyak setelah kenyang. Tangannya membelai kepala plontos kecil. Sesaat dirinya tersentak karena ada tangan membalung dipinggangnya.
"Mas, ngagetin aja"
Ilham hanya tersenyum kecil tanpa melepas tangannya di pinggang istrinya. Suatu kebahagiaan tak terkira saat Tiara sudah sadar dari tidur panjangnya.
"Kangen"
Siti hanya sedikit tertawa, disambut dengan mata genit Ilham. Dua insan yang tengah berbahagia ini hanya saling melempar senyuman.
"Kamu tuh, ya. Sekarang kurangi omesnya, malu sama anak duo little." Siti mencubit hidung Ilham.
"Biarin. Biar mereka bangga punya orangtua bahagia seperti kita. Ya, kan jagoan papa." Ucap Ilham tidak mau kalah.
"Mas, bantu aku letakkan little Rama di box." Ilham langsung memindahkan sang putra ke box bayi. Lama dirinya menatap tubuh kecil tersebut. Dikecupnya kening putranya dengan lembut.
"Kamu istirahat, ya nak. Sekarang giliran papa melepas rindu sama mamamu."
Siti mendengar ucapan suaminya hanya menggelengkan kepalanya. Tak lama tubuh Ilham langsung memeluk Siti, menghujani kecupan leher, wajah dan bibir berkali-kali. Rasa rindu keduanya yang terbendung lagi, sampai mereka lupa kalau saat ini masih berada di rumah sakit.
"Mas."
"Iya, sayang." Ucap Ilham yang asyik membenamkan kepalanya di leher Siti.
"Iih, udah mas. Geli!" Tak memperdulikan protes istrinya. Ilham masih terus menikmati momen ini dengan rakus.
__ADS_1
"Kamu tahu, Ti. Rindu itu berat, maka aku akan menghukummu karena sudah menyiksaku."
"Mas, aku mau ketemu little Siti. Kangen sama putriku."
Ilham memanyunkan bibirnya "Apakah kamu tidak merindukanku. Seharian sejak kamu sadar hanya mereka yang dibahas."
"Astaga suamiku ini! Masa cemburu sama anak sendiri. Udah, mas antarkan aku ke tempat putriku."
Ilham menuntun Siti menggunakan kursi roda menuju ruang inkubator. Semua staf rumah sakit menunduk hormat saat berpapasan dengan Ilham. Siti menatap orang-orang tersebut dengan rasa penasaran.
"Mas, kenapa mereka seperti itu?"
"Karena Papa Adolf sekarang pemilik rumah sakit. Mereka tahu kalau kita adalah keluarga si pemilik Rumah Sakit. Makanya mereka hormat sama kita."
"Ooo..."
Mereka sudah memasuki ruang inkubator, tangan Siti memegang kaca inkubator sang putri. Ada rasa haru saat menatap putrinya yang tengah berjuang untuk melanjutkan hidup "Kenapa bisa dia didalam sana, mas?"
"Pernafasannya bermasalah saat lahir, Sayang."
Manik mata coklat milik wanita itu berurai airmata. Siti menyalahkan dirinya sendiri karena merasa tidak bisa menjaga selama mengandung. Ilham mengelus pundak istrinya, berusaha menenangkan siti yang mendadak sensitif.
Nak, cepat sehat, ya. Biar kita bisa berkumpul lagi. Mama rindu sama kamu, little Siti."
"Sudah sayang, jangan terus menyalahkan diri. Ini bukan salah kamu, tapi adalah jalan takdir yang harus diterima. Dia hanya perlu sedikit pengobatan dan mungkin seminggu lagi kita bisa bawa pulang."
Ucap Ilham menenangkan istrinya.
Mereka sampai di kamar Inap Siti. Sudah banyak keluarga yang berkumpul disana. Kedua orangtuanya, Mertuanya, Oma dan keluarga besar Wijaya, Edwar dan tentunya sohib kentalnya Alam. Mereka bergantian bermain dengan little Rama. Siti dan Ilham menatap penuh haru, mereka senang kalau kehadiran sang anak sebagai pemersatu keluarga.
"War, aku dengar Dinda hamil lagi?" Alam membuka percakapan.
"Iya, sudah masuk lima bulan." Jawab Edwar.
"Tokcer kamu, war." Alam menepuk pundak sahabatnya.
"Iyalah, daridulu gue tokcer. Istri dikasih tanpa pacaran, anak malah mau tiga. Banyak anak banyak rezeki, Lam."
__ADS_1
Alam menjelit kearah Edwar "Maksudnya apa nih? Pamer? Eh, harusnya kamu berterimakasih sama aku, War. Kalau aku nggak salah sebut nama pasti Dinda sudah jadi istriku."
"Padahal emang sengaja kamu buat seperti itu supaya pernikahan kamu batal. Kamu kan nggak cinta sama Dinda. Tadinya kalau kamu seandainya yang beneran nikah sama Dinda, aku yang mau nyusul Gita ke jakarta."
Pletak!
Semua yang ada diruangan tertawa melihat celotehan duo sahabat tersebut.
"Mereka kalau ketemu emang gitu, mas." Bisik Siti pada Ilham.
"Dari kecil Edwar dan Alam selalu sama-sama. Layaknya Upin dan Ipin. Makan sama-sama, tidur sama-sama dan .."
"Dan apa?"
"Suka pada wanita yang sama."
"Kak Dinda?"
Siti menggeleng. Dia ingat saat bermain bersama semasa kecil, Dinda dan Alam selalu didaulat jadi pasangan. Siti tahu sejak kecil Alam dan Dinda sudah saling suka. Makanya waktu Alam dikira meninggal karena kecelakaan bersama Gita, Dinda down sekali, malah sempat hendak bunuh diri. Siti juga ingat bagaimana perjuangan Edwar memberi motivasi pada Dinda yang dikira depresi karena meninggalnya Alam saat itu.
Terkadang perjalanan hidup alurnya susah ditebak. Kita berjuang untuk orang yang dicintai, tapi endingnya ternyata berbeda, itu yang Siti lihat dalam perjalanan Cinta Ilham, Gita dan Alam.
"Kak Dinda dan Gita, Mas."
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab yang lain.
Mama Yulia dan Papa Dul muncul membawa kado besar untuk cucu kembarnya. Sebagian para tamu sudah pulang seperti mama Fatimah dan Papa Adolf yang harus kembali ke kantor. Begitupun keluarga besar Wijaya, hanya mama Mila yang masih dirumah sakit.
"Mama, papa, cuma berdua disini ... Terus Sasha sama siapa?" Tanya Alam saat melihat mertuanya datang.
"Ada kok sama..."
"Assalamualaikum..." Sosok gadis masuk ke dalam ruang rawat Siti.
Ibu dan Edwar terdiam melihat siapa yang datang. Seketika ibu mendekati gadis itu lalu memeluknya dengan erat. Sebuah kerinduan pada pemilik wajah gadis itu.
__ADS_1
"Kalian pasti mengira dia Gita, kan. Ibu Aisyah, Edwar ... Ini Karina, adikku beda Ibu. Ina salam sama ibu Aisyah, ibu angkatnya Gita. Ini Shasa, putri Alam dan Gita, usianya satu tahun empat bulan."
Alam memandang suasana itu dengan rasa haru. Apalagi sebentar lagi Ina akan kuliah di jepang.