Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
BONCHAP 12


__ADS_3

And even if the sun refused to shine


Dan meski mentari tak mau bersinar


Even if romance ran out of rhyme


Meski romansa kehabisan rima


You would still have my heart until the end of time


Kau masih tetap memiliki hatiku hingga akhir waktu


Cause all I need is you my valentine


Karna yang kubutuhkan adalah dirimu kekasihku


Oh, you're all I need my love my valentine


Oh, kaulah yang kubutuhkan cintaku kekasihku


Jakarta, 17 desember 2029.


Langit Jakarta terlihat hitam. Menandakan sebentar lagi akan datang hujan. Hujan berkah bagi sebagian orang, tapi akan menjadi musibah bagi warga Jakarta. Tampak anak-anak berlari dan menari ketika rintik hujan turun. Tak ada teriakan untuk masuk ke rumah. Bahkan terkesan membiarkan para anak-anak tersebut bermain dengan gembira.


“Bella, kamu nggak ikut?” Tanya Siti pada keponakannya.


“Enggak, bucik. Malu.” Jawab Bella duduk disamping Siti


“Loh, kenapa malu? Bucik saja waktu tamat SMA masih sering kok main sama anak-anak karang taruna di belakang rumah. Kamu ingat kan waktu Bucik ajaink main lompat tali.”


“Iya. Tali karetnya putus karena tidak sesuai muatan.”Ledek Bella.


“Hahahahaha... “


“HAAAA... mama sudah gede masih maen lompat tali.” Sahut Dita.


“Iya, Dita. Mamamu ini waktu gadis mainnya sama anak anak. Malah dia masih suka manjat batang rambutan. Mamamu ini nggak jaim orangnya.” Sambung Edwar yang nimbrung di tengah obrolan hangat antara anak, adiknya dan keponakannya.


“Hush, bang. Jangan buka kartu. Aku kan malu!” Wajah siti tersipu.


“Hahahaha... kan faktanya begitu.” Edwar makin gencar menggoda adiknya.


Sudah satu tahun Siti dan keluarganya pindah ke Jakarta. Setelah tujuh tahun berada di negeri orang, menemani suaminya sekolah, anak anaknya pun ikut pulang ke indonesia.


“Papa mana?” Tanya Siti pada putri sulungnya.


“Belum bangun kayaknya ma.” Sahut Dita sambil bermain bersama Zaki.


Muhammad Adzaki Ramadhan putra mereka yang sudah berusia empat bulan. Zaki panggilan yang mereka berikan lahir di Jakarta. Saat usia kandungan Siti enam bulan, mereka pulang sekaligus pindah ke indonesia. Tentu saja kepulangan mereka disambut bahagia oleh semua keluarga. Walaupun Siti hanya bisa menggeleng saat ibu Aisyah memuji suaminya tapi juga membandingkan pekerjaan Akbar, suami Jihan.


Siti berdiri didepan pintu kamarnya. Melihat suaminya tertidur pulas. Secara sekarang Ilham adalah Direktur rumah Kasih Bunda. Rutinitas suaminya bukan sekedar duduk memeriksa pekerjaan bawahannya, tapi dia masih menjadi dokter disana.


Senyumnya mengembang di wajah cantik wanita itu, mengingat perjalanan cintanya yang rumit. Perjalanan rumah tangganya yang berliku-liku. Diakuinya bahwa ilham memang sempurna secara fisik. Tapi tidak dalam bersikap, masih banyak kejutan dalam mengenal lelaki itu. Tapi ada hal yang di syukurinya, kesempurnaan dia dapatkan dalam bagaimana cara Ilham mencintai dirinya. Walaupun suaminya kurang peka, terkadang penuh kejutan membuat hari-harinya menjadi indah.


Tangan Siti membelai rambut ilham yang mulai menggondrong. Tubuhnya menyeret diatas ranjang ke arah suaminya. Tanpa dia sadari tangan Ilham berjalan ke arah pinggangnya.

__ADS_1


“Maaaaaaas!” Siti berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya.


“Hmmmm...” Ilham kembali mendengkur sambil memeluk telentang diatas ranjang.


“lepasin...” Ilham melahap setiap inci tubuh istrinya seakan menjadi candu.


“Sayang... i love you.” Bisiknya.


“ We love you. “


“Udah, mas. Bangun dong! Udah siang, nih.” Bujuk Siti membangunkan suaminya.


"Ini kan weekend, sayang. Nggak papalah bangun siang sekali-sekali."


"Kamu pasti capek, ya, mas."


"Suka tidak suka namanya juga kerja. Pasti ada capeknya, tapi setiap pulang melihat kalian rasa capekku hilang. Apalagi kalau sama kamu."


"Sudahlah, mas. Ini ada tiket liburan ke taman wisata baru di cibubur dekat rumah singgah kita."


"Taman? Kok aku baru tahu."


"Tuh, diantar calon kakak ipar kamu. Kan bu Direktur yang meresmikan." jawab Siti.


"Heeh, kalau ketemu dia nanti aku bakal tanyain sesuatu. Kapan dia meresmikan sama kakakku. Tujuh tahun pacaran masa belum nikah juga." Jawab Ilham.


"Katanya dia masih dalam percobaan sebagai direktur." Jawab Siti.


"Ah, dia kan pewaris Gunawan corps."


“Paaaaa..” Daffa langsung menerobos masuk melihat kemesraan kedua orangtuanya.


“Ya, ampun!” Ilham dan Siti seperti sepasang anak muda yang kepergok mesum oleh warga. Seketika mereka reflek melepas diri satu sama lain.


“kenapa?”Tanya Siti mendekati putranya.


"Ada bude Jihan." Jawab Daffa meninggalkan kedua orangtuanya.


Suasana di kediaman Wijaya begitu rame. Apalagi dengan kehadiran bayi mereka yang sudah empat bulan. Mirip dengan kelahiran twins couple mereka, lagi-lagi harus lahir lewat dari sembilan bulan.


"Iii lutu nya ponakanku." Jihan menowel pelan pipi Adzaki.


"Kak jangan ditowel, dong. Pipinya masih sensitif." Protes Siti.


"Ya, siapa tahu kalau nowel dia, bisa langsung brojol si utunnya." balas Akbar.


Setelah meninggalnya Tia, Jihan dan Akbar sepakat untuk program bayi tabung. Setelah beberapa bulan melakukan proses bayi tabung. Sekarang Jihan sedang mengandung empat bulan. "Walaupun dokter mewanti agar Jihan menjaga kandungannya. Mengingat usia jihan sudah kepala 4.


"Halo ponakan onty" Sapa Siti mengelus perut Jihan.


"Kamu mau nambah lagi, ti." Tanya Jihan.


"Nah, boleh tu yang." Ilham menyahut obrolan istrinya dan Jihan.


"Nggaak! Ini udah cukup!" Siti sudah tidak mau berharap hamil lagi.

__ADS_1


"Aku kekamar dulu, ya."


"Oh, kami juga mau pamit. Soalnya mau ke bandung nengokin Azka. Kebetulan lewat jadi sekalian mampir." Jihan memberikan beberapa oleh-oleh untuk para ponakannya. Tak lama mereka pamit.


"Aaaaaaaa...." Semua berhambur ketika mendengar teriakan Ilham dari dalam kamar.


"Mas, ada apa?" Siti panik melihat suaminya ketakutan. Wajah Ilham merah dan pucat saking takutnya.


"Itu..." Ilham memeluk Siti seperti anak yang berlindung pada ibunya.


Siti memegang jidat. Dia lupa suaminya phobia kucing. Beberapa hari yang lalu Zalika menemukan bayi kucing. Siti mengizinkan ketiga anaknya memelihara si bayi kucing tersebut dengan syarat harus benar-benar dipelihara.


"Pa, lihat beby nggak?" Zalika muncul mencari meongnya.


"Beby siapa?" Tanya Ilham.


"Meongku"


Siti melihat Ilham hendak memarahi Zalika. Dia minta putrinya untuk keluar sebentar. Zalika menurut, dia bingung melihat sikap ayahnya yang mau marah.


"Kamu biarkan Zalika memelihara kucing! Kan kamu tahu kalau aku..."


"Maaf, mas. Aku lupa kalau kamu phobia kucing, makanya aku izinkan mereka memelihara. Aku melihat mereka sayang banget sama beby, makanya aku biarkan. Jangan marahi anak-anak, mereka hanya menyalurkan apa yang mereka suka. Selama itu positif nggak masalah, kan."


"Astagfirullah! maafkan aku, ti. Aku tadi panik. Kamu kan tahu kalau aku phobia kucing dan ayam."


Siti mencoba memberi pengertian pada suaminya. Supaya mendukung apa yang dilakukan anak anak mereka. Selama yang dikerjakan adalah hal yang positif. Selama ini Siti selalu menekankan agar tidak meluapkan emosi ke anak-anaknya ataupun di depan anak-anak.


Ilham melihat luar, ada rasa aman saat melihat Zaki sedang asyik bersama Mila. Dengan cepat dia mengunci pintu dan memeluk Siti dengan erat. Tangannya mulai bermain ke punggung istrinya.


Beberapa hari ini dia belum bisa menjamah istrinya dengan segala kesibukannya. Dan juga kesibukan Siti sebagai seorang ibu.


"Mas kok dikunci!"


"Sayang, aku mengingkannya. Boleh?"


"Mas, ini masih pagi."


"Dosa, lo. Nolak keinginan suami."


Siti menghela nafas. Kepalanya mengangguk tanda menerima permintaan suaminya. Tanpa basa basi ilham langsung merengkuh tubuh istrinya, menjangkau setiap inci lekuk tubuh Siti.


"Aku sudah mau sampai." Bisiknya.


"Aaaaahhhh." desah Siti


"Makasih, ya sayang." Ilham mengecup kening istrinya.


Siti tertidur dibahu suaminya. Ilham mengecup kening istrinya. Mereka akhirnya tertidur karena kelelahan.


"Maaaaaa.... adek zaki beol!"


...******...


Alhamdulillah akhirnya selesai juga part ini. Terimakasih buat para readers yang sudah mau mampir meramaikan Novelku yang receh.

__ADS_1


TAMAT.


__ADS_2