Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
154. Pulang Ke Sukasari 1


__ADS_3


...Bukan sosok sempurna yang aku cari, tapi sosok yang menyempurnakan hidupkulah yang aku cari. Di manapun kita berada, akan terasa indah karena kebersamaan kita...


...~Ilham~...


Enam Bulan Kemudian


"Sayang tutup matamu." Ilham melilitkan kain hitam ke mata Siti.


"Kita mau kemana, mas?"


"Udah kamu ikut saja" Ilham menyunggingkan senyum.


Sejak melahirkan Siti belum pernah diajak jalan-jalan. Istrinya itu selalu menolak dengan alasan tidak mau jauh dari anak-anaknya. Dia paham kalau istrinya terkena sindrom new mother, dimana sang ibu hanya fokus pada bayinya tanpa memikirkan orang-orang disekitarnya.


Sebuah landasan luas terlihat pesawat kecil yang sedang menunggu kedatangan mereka. Siti masih menggunakan tutup mata berjalan dipandu suaminya.


"Mas, kok kayak bunyi suara pesawat, ya?"


Ilham tetap diam tak bergeming "Sayang, didepanmu ada tangga. Kamu naik pelan-pelan ya."


Siti dengan pelan berjalan menaiki tangga dipandu dengan Ilham.


Pesawat akhirnya mulai mengepakkan sayapnya. Siti akhirnya menyadari kalau dirinya sudah dalam pesawat. Ilham membuka penutup mata istrinya saat pesawat dalam posisi stabil. Semakin tinggi pesawat, hanya terlihat peta dari atas langit lama lama pemandangan itu tertutup awan.


"Mas, kita mau kemana?"


Lagi-lagi pertanyaan itu melayang dari mulut Siti. Walaupun begitu tetap saja lelaki itu bungkam seribu kata. Kepala Siti memutar melihat sekelilingnya, tak ada siapapun didalam sana. Hanya mereka berdua. Pesawat yang hanya ada sofa dan meja makan. Tidak seperti pesawat lainnya, dekorasi isi pesawat layaknya dirumah sendiri.


"Selamat pagi Nona Tiara dan Tuan Ilham Ramadhan yang terhormat, selamat datang di penerbangan Ford Airlines dengan tujuan Jambi. Penerbangan ke Jambi akan kita tempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam dan 45 menit, dengan ketinggian jelajah 32.000 kaki di atas permukaan air laut. Perlu kami sampaikan bahwa penerbangan Ford ini adalah tanpa asap rokok, sebelum lepas landas kami persilahkan kepada anda untuk menegakan sandaran kursi, menutup dan mengunci meja-meja kecil yang masih terbuka dihadapan anda, mengencangkan sabuk pengaman, dan membuka penutup jendela. Atas nama Ford Airlines kapten Anton dan seluruh awak pesawat yang bertugas mengucapkan selamat menikmati penerbangan ini, dan terima kasih atas pilihan anda untuk terbang bersama Ford Airlines."


Siti memandang Ilham yang hanya senyam senyum sendiri. Dengan rasa gemasnya tangan cantik itu mencubit pipi suaminya. Sungguh tidak menyangka kalau dia akan kembali ke Jambi, kota yang sudah membesarkannya. Terakhir dia menginjak Jambi saat dirinya masih berstatus tunangan Jonathan. Terakhir dirinya menginjak Jambi saat tragedi yang menimpa dirinya dan keluarganya. Dan sekarang dia kembali ke Jambi membawa suami dan anak-anaknya.


"Si kembar mana, mas?"


"Sudah berangkat bareng mama dan papa Adolf"

__ADS_1


"Makasih, mas."


"Buat?"


"Buat hadiahnya, yaitu pulang ke Jambi. Aku nggak nyangka bisa kesana lagi. Tapi..."


"Tapi apa, sayang? kamu mau ke kota lain?"


Siti menggeleng, dia justru takut kalau orang sukasari mengusir dirinya lagi.


"Aku takut, mas." Ucap Siti memeluk lengan suaminya. Tersirat nada kecemasan yang melanda hatinya.


"Kenapa, sayang?"


"Aku takut kita diusir lagi. Lagian kenapa musti ke jambi, sih?"


"Kata ibu, kak Dinda sudah melahirkan. Jadi sekalian kita nengokin mereka sebelum berangkat ke Belanda." Jelas Ilham.


"Ah, iya, Mas. Aku lupa kalau kita sebentar lagi meninggalkan Indonesia. Semoga mereka masih menerima kita ya, Mas."


Ilham menatap Gulungan awan dibalik jendela pesawat. Beberapa waktu yang lalu dia sudah dilantik sebagai Direktur Rumah Sakit Kasih Bunda. Tapi karena dia sudah terlanjur lulus sebagai mahasiswa S2 kedokteran di Belanda, maka Ilham memilih mengundurkan diri. Dia masih ingin fokus dengan kuliahnya dulu.


"Mas."


"IYA"


"Aku tidur bentar, ya."


"Sini" Ilham menepuk bahunya agar Siti tidur dibahunya.


Tapi Siti menolak. Dia memilih merebahkan tubuhnya dengan menurun kursi dashboard pesawat. Lama lelaki itu menatap wanita yang sudah dihalalkannya. Ilham mencondong kepalanya kearah wajah Siti.


"Aku tahu apa yang mau kamu lakukan, tapi ..."


"Tapi apa?"


"Lihat sikon, mas. Nanti saja kalau sudah sampai."

__ADS_1


Wajah lelaki itu langsung berseri "Benar, ya. Aku tagih lo."


"Dasar Omes, yang kayak gitu cepat banget nyambungnya."


"Normal itu. Dari omes ku sudah terlahir dua bayi lucu dan menggemaskan."


"Sudah, Mas. Aku capek. Kamu mah enak molor panjang. Aku sudah nyusuin Dita pas dinihari tadi nggak bisa tidur lagi. Dan sekarang saat aku mau istirahat, kamu malah gangguin aku terus." Protes Siti.


Ilham hanya menyunggingkan senyuman. Beberapa bulan ini istrinya sering bangun tengah malam bergantian menyusui sikembar yang rewel atau sekedar mengganti popoknya. Ilham takjub melihat kegesitan istrinya dalam mengurusi bayi mereka. Bahkan saking fokusnya dia menolak bantuan orang lain, dunianya hanya seputar dirinya dan kedua bayinya.


Para penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat di Bandar Udara Sultan Thaha, perbedaan waktu antara Jambi dan Jakarta adalah 2 jam. Kami persilahkan kepada anda untuk kembali ke tempat duduk anda masing-masing, menegakan sandaran kursi, menutup dan mengunci meja-meja kecil yang masih terbuka di hadapan anda, dan mengencangkan sabuk pengaman. Akhirnya kami seluruh awak pesawat Ford Airlines di bawah pimpinan kapten Anton mengucapkan terima kasih telah terbang bersama kami, dan sampai jumpa di lain penerbangan lain waktu. Terima kasih.


Siti masih terlelap tidak menyadari kalau pesawat sudah mendarat di Bandara Sultan Thaha Saifudin. Salah satu pesawat Pribadi milik keluarga besar Ford pun sudah mendarat terlebih dahulu.


Pesawat pertama mendarat yang mengangkut Adolf dan istrinya, Ibu Aisyah dan kedua cucunya, Jihan dan suaminya, Alam dan putrinya Sasha, beserta baby sisternya. Alam memang sengaja membawa Sasha agar diperkenalkan dengan sang bibi. Rencananya Alam akan mengajak bibinya tinggal bersamanya.


Pesawat kedua pun sampai yang mengangkut Siti dan Ilham. Pesawat yang dinaiki keduanya memang lebih kecil ketimbang pesawat yang dinaiki Adolf dan keluarga besarnya.


Mereka akhirnya berkumpul diruang khusus. Siti langsung menghampiri ibu Aisyah yang sibuk dengan Si kembar dan Sasha. Dengan penuh rindu Siti mencium kedua buah hatinya seakan lama tak bertemu. Ilham hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya.


"Yuk, itu jemputan kita sudah sampai."


Semua keluarga besar pun berangkat menuju keluar ruang kedatangan. Sebuah kebahagian tak terkira karena mereka akan pulang kekampung halaman.


Edwar sudah menunggu didepan parkiran bersama Pak Irwan, mertuanya. Mobil mereka pun melaju menuju Sarolangun.


Pagi semuanya Satu part terakhir lagi ya.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiahnya


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2