
Tiara menerima kedatangan perias yang masuk ke kamarnya. Mereka sedikit malu karena kedapatan sedang bercumbu, tanpa menyadari kedatangan MUA dan Jihan.
"Mas, kamu tunggu di luar, ya. Aku mau siap-siap dulu."
Ilham tersenyum mendengar panggilan pertama sang istri. Tak lupa mengecup kening Tiara sebelum keluar dari kamar. Jihan masih syok, memilih keluar dari ruangan Tiara.
Dia tahu yang dirasakannya salah. Tapi perasaan tidak bisa dibohongi kalau dirinya masih mencintai ilham. Kakinya melangkah ke sebuah rooftop hotel, Jihan menangis sejadi-jadinya, mungkin itu lebih baik daripada dirinya mengamuk dan mengacaukan semua.
Kenapa! Kenapa perasaan itu masih bersarang disini? KENAAAAAPAAA!
Jihan memekik guna melepaskan kesedihan. Tangannya terus menepuk dadanya. Tubuhnya terasa lemas setelah mengeluarkan seluruh energi kesedihan.
"Apa kamu masih mencintai Ilham?"
Jihan menoleh kearah sumber suara. Entah kenapa dia ingin meminjamkan dada lelaki didepannya, melepaskan semua yang dirasakannya.
"Peluk aja, nggak papa! Jika ltu bisa membuatmu sedikit tenang. Gratis kok!"
Jihan menghambur ke dada Jonathan. Kembali tangisan itu terdengar dibalik dada pria itu. Jo mendekap erat tubuh Jihan, seakan memberi tanda kenyamanan pada wanita itu.
"Beneran gratis?" cetus Jihan menatap kearah lelaki yang usianya 9 tahun diatas dirinya.
"Nggak gratis, sih. Aku nggak minta uang, aku nggak minta ditraktir, aku cuma minta .." Jo menoleh kearah Jihan.
Jihan menatap Jo seakan menunggu lanjutan dari lelaki itu.
"Jihan, aku cuma minta tolong? Tolong buka hatimu buat aku. Kita akan sama-sama belajar memulai kehidupan. Jujur aku masih mencintai Siti dan kamu masih mencintai Ilham. Kita mulai membangun perasaan dari awal lagi. Bagaimana?"
Jihan melerai tubuhnya dari jangkauan Jonathan. Entah kenapa dia belum bisa membuka hatinya untuk lelaki itu. Di tambah papanya tidak suka dengan Jonathan, kata-kata Clara pun masih teringiang di pikirannya.
Aku yakin dia tidak tulus. Entah kenapa aku merasa dia mempunyai tujuan tertentu mendekatiku.
Ya, Allah bagaimana caranya menghindari lelaki ini.
klik
Tok tok
Pintu kamar pengantin sedikit terbuka. Ada Oma yang sedang menemui Tiara.
"Ti, ada yang mau ketemu sama kamu."
"Siapa Oma?"
Tak lama beberapa anak anak berhambur memeluk Tiara. Tentu saja dirinya sangat senang saat anak-anak tersebut memeluk dirinya.
"Kak Tiaraaaaaa!!" pekik mereka bersamaan.
Tiara membalas pelukan anak satu persatu. Oma terlihat sibuk melerai beberapa anak karena memainkan barang di ruangan tersebut. Terlihat wanita berusia 78 tahun itu kewalahan menghadapinya.
__ADS_1
"Mbak acara sudah mau dimulai" Ucap panitia WO nya.
Tiara berdiri berjalan ke luar ruangan. Diiringi anak anak yang dibawa oma untuk menjadi pengapit Tiara dan Rama. Gaun pengantin yang panjang membuat Tiara sedikit kesulitan berjalan. Jihan datang membantu Tiara dengan memegang ekor gaun.
"Siti!" Sebuah suara memanggil dirinya di lorong Hotel.
"Tante Yulia!" Tiara menyambut mama Yulia yang menyempatkan diri datang ke pernikahannya.
"Selamat ya, nak. Akhirnya kalian menikah. Tante senang sekali melihat kamu menemukan pasangan hidup."
"Terimakasih, tante. Tadi kata kak Alam, tante tidak bisa datang."
Mama Yulia tersenyum, memang tadi niatnya mau mengerjai menantunya. Padahal ibunya Ina meninggal sudah dua hari yang lalu. Tepat saat Alam berangkat ke sukabumi bareng keluarga besar Ilham.
Mama berdiri tidak sendiri, ada ina yang asyik menggendong Shasa. Oma mengenali Ina mengira gadis itu Gita.
"Kamu bukannya gadis yang dulu diajak Rama ke rumah singgah."
Mama Yulia tersenyum saat Oma mengira Ina adalah Gita.
"Bukan Oma, ini adik saya namanya Karina." Mama Yulia memperkenalkan Ina sebagai adiknya.
Klik
Ilham menggenggam erat tangan Tiara untuk duduk di singgasana pengantin. Pesta Pernikahan putri tunggal dari keluarga Adolf memang diadakan secara mewah. Undangan dihadiri beberapa kerabat saja, ada beberapa kolega kerja Brian yang datang. Termasuk tetangga sekitar rumah Ayah Brian.
Bermacam-macam aksesoris dan hantaran dijadikan hiasan di pesta pernikahan itu. Bermacam-macam makanan tradisional tersaji dimeja prasmanan. Bukan hanya makanan tradisional saja, makanan modern pun tersaji khusus untuk pejabat daerah dan kolega.
Beberapa tamu undangan mulai berdatangan. Baik dari dalam kota dan luar kota. Papa Adolf dan Ayah brian menyambut tamu-tamu penting. Begitu juga Alam dan Jonathan yang ikut menyambut beberapa tamu penting, termasuk artis ternama Rossa dan Afgan.
Lampu blitz panggung dimatikan. Tampak layar hologram yang menampilkan photo kecil Tiara dan Ilham. Tampak kebahagiaan masa kecil Tiara sampai remaja, beberapa photo menampak kebersamaan Tiara dan Gita. Hal itu membuat Alam menangis saat melihatnya. Beberapa keluarga baik dari pihak spencer maupun keluarga Gunawan seperti mengenang kepergian.
Begitu juga dengan photo kenangan masa kecil ilham. Wajah tampannya memang sudah terlihat sejak kecil. Apalagi beberapa photo menunjukkan tubuhnya yang bongsor. Beberapa photo remajanya juga ditunjukkan.
Setelah itu Rossa dan Afgan pun menyanyikan lagu duet mereka yang berjudul "Kamu yang Kutunggu".
Rossa menggandeng Tiara dan Afgan menggandeng Ilham. Tiba diatas panggung Rossa dan Afgan menyatukan kedua tangan pengantin tersebut. Ilham mencium tangan dan kening Tiara.
Beberapa orang berteriak meminta mereka untuk berciuman. Tapi mereka lebih memilih berpelukan.
Kembali tepuk tangan dari para undangan.
Tibalah saat Finally acara, Tiara dan Ilham memegang satu buket bunga khusus untuk jomblowati. Tampak Jihan dan Ina ikut didalamnya.
Satu ..
Dua ....
Tiga ....
Bunga dilempar. Beberapa wanita berebut menangkap, dan jatuh pada
__ADS_1
Ina ...
Setelah itu bunga kembali dilempar para jomblowan.
"Lam, lo mau ikut?" Ajak jonathan.
"Kak Jo aja deh. Aku malas!" Alam sibuk dengan gawainya.
Jo menarik badan Alam setengah memaksa. Mereka berdiri sambil menunggu lemparan bunga. Alam malah berbalik untuk kembali ke kursi.
Tuuuukkk
Serasa ada yang menimpuk kepalanya. Ternyata bunga lemparan malah mengenai dirinya.
Ina disuruh berdiri dipanggung, sedangkan Alam tidak memperdulikan hal itu dan memilih kembali kursi.
"Kamu kenapa sih, lam? Kayak orang kurang semangat." ucap Jo
"Kak Jo lihat dia, seenaknya saja memakai gaun punya Gita, dasar parasit!"
"Kalau ina parasit? Terus kamu apa? Sama aja kalian sama-sama numpang?" Balas Jo yang heran sama sikap Alam.
Ina yang mendengar kata parasit dari mulut Alam. Langsung turun panggung, malu. Iya dia malu! Karena secara tidak lelaki itu mengatakan didepan orang banyak.
Gadis itu menangis ditaman belakang. Iya dia sadar kalau sekarang hidupnya menumpang dengan orang lain. Orang lain yang ternyata kakak kandungnya.
Kamu lihat saja nanti Alam!
Klik
Setelah masalah Ina dan Alam. Pemandu acara meminta tenang. Pengantin diminta kembali ke singgasana, beberapa tamu mulai datang memberi salam.
"Selamat, ya Siti. Semoga Samawa, cepat dapat momongan." Ucap Seorang tamu yang bernama Nofi khanza.
"Terimakasih mbak Nofi, salam ya buat jeff dan Jenny"
Tak lama seorang lelaki datang bersama istrinya
"Selamat pak dokter. Akhirnya nikah juga."
"Terimakasih ikhsan, dan ini.." Ilham masih asing dengan wanita disamping ikhsan.
"Oh, ini Istriku Alyra. Sayang, kenalkan ini dokter ilham, dulu waktu SMA pernah menjadi pemandu PMR kami."
Alyra hanya memberi salam jauh.
"Jadi sudah move on dari bekantan." Goda Ilham.
Ikhsan hanya tersenyum saat Ilham menggodanya. Mereka pamit pada pengantin.
"Siti, Ilham selamat ya." Beberapa ibu-ibu berseragam sama maju menyalami pengantin.
__ADS_1
"Makasih Teh rhina sri, Bunda Aqila, teh Nuna." Jawab Siti.