
"Mas."
"Iya, sayang."
"Aku hamil." Siti menyerahkan testpack pada Ilham.
"Serius!" wajah Ilham tampak berseri. Lalu memeluk tubuh Siti dengan erat. Tampak wajah Ilham sangat bahagia dengan kabar itu. Beda dengan Siti, dia tampak tidak senang dengan kehamilan barunya.
"Mama. Why?"
"Mas lupa kalau aku baru saja diterima disebuah perusahaan perhubungan. Masa iya aku baru kerja sudah hamil."
Ilham menatap kesal kearah Siti. Dia beberapa kali melarang istrinya kerja. Tapi Siti tetap bersikerap ingin bekerja. Ilham mau Siti fokus di rumah saja.
"Kamu harus berhenti." Ucap Ilham tegas.
"Mas ini karir impian aku. Kapan lagi, Mas? Nunggu dia lahir gitu. Mas lupa gara-gara aku hamil Zalika, aku nggak jadi bekerja di perusahaan itu. Setelah Zalika sudah besar dan aku diterima kerja.Masa aku harus mundur lagi, sih. Ini nggak adil."
Ilham mencoba tidak mengintonasikan nada tinggi. Meskipun istrinya mulai menyolot tapi tetap Ilham berusaha tenang. Siti didepannya bukanlah yang dulu, Wanita didepannya sekarang lebih mementingkan mengejar karir.
"Mas lihat Sari, dia walaupun istri CEO tapi kak Jo nggak pernah melarang untuk berkarir. Sekarang kak Sari sukses dengan pekerjaannya." Ilham kesal melihat istrinya mulai mencari perbandingan.
"Ti. Please, apakah yang kuberikan kurang selama ini. Sampai kamu ngotot pengen kerja. Anak-anak butuh kasih sayang mamanya. Aku mohon kamu berhenti dari perusahaan itu." Bujuk Ilham saat Siti mengunci diri dikamar.
Aku dulu mungkin seorang ibu rumah tangga biasa. Wanita yang duduk manis dirumah, Wanita menunggu ketiga buah hatinya pulang ke rumah, setelah rutinitas sekolah mereka yang cukup padat. Misalnya Ditta yang harusnya pulang sekolah duduk manis dirumah harus menyambung kelas khusus mengaji. Untuk putri pertamaku ini memang beda dari Daffa dan Zalika. Ditta termasuk pendiam dan anak rumahan, beda dengan Daffa yang sepulang sekolah langsung keluyuran bersama teman sekolahnya. Mas Ilham pun tak lepas tangan, sepulang kerja dia selalu membawa ketiga buah hati kami hanya untuk jalan-jalan walaupun hanya makan es krim di minimarket terdekat.
__ADS_1
Daffa, kembaran Ditta beda lagi. Anak ini lumayan keras kepala dan susah diatur. Aku rasa karena Mas Ilham terlalu memanjakannya.
Setiap aku menegur kelakuan Daffa, mas Ilham selalu bilang seperti ini.
" Anak laki-laki emang gitu, nanti dengan bertambahnya umur dia berubah."
Selalu begitu kalau aku menegur Daffa. Padahal aku sudah panas mendengar aduan tetangga dan panggilan sekolah tentang kelakuan Daffa. Itu sejak anakku main sama anak-anak dekat lapangan. Anak-anak dari perkampungan kecil dibelakang kompleks rumah kami. Bukan aku membedakan status sosial mereka, tapi feelingku mengatakan kelakuan Daffa dipengaruhi anak-anak itu.
Putri bungsu bernama Zalika. Dia lahir kelang satu minggu setelah Oma meninggal dunia. Saat mendengar Oma sakit dan kritis, mas Ilham tidak pulang karena aku sedang menunggu waktu.sebagian keluarga disana memaklumi, tapi kata mas Ilham Tante Tari marah karena pesan terakhir oma mau ketemu cucunya. Tak kelang seminggu Zalika lahir, semua keluarga senang sekali.
Zalika ini anaknya cerewet. Apa yang dia mau harus dapat bagaimanapun caranya. Kadang dia sampai mogok ngomong kalau mau nya tidak turuti. Ketiganya tidak ada yang akur. Dita pendiam sering berseberangan dengan Daffa, sedangkan Zalika yang tidak pernah akur dengan kedua kakaknya. Aku bahkan pernah memarahi Zalika yang memanggil Dita dengan sebutan Lelet.
Mama Fatimah langsung ke Belanda berangkat dari Brunei Darussalam. Oh, ya papa Adolf dan mama Fatimah sudah kembali ke Brunei. Sementara apartemen ditempati Ibu Aisyah dan Kak jihan beserta suaminya. Sampai sekarang kak Jihan belum dikarunai seorang anak. Sempat keguguran dua kali, untung ada Azka anak sambung Akbar.
Sedangkan aku, setiap bahas masalah ingin bekerja, mas Ilham selalu melarang. Hingga saat usia Zalika dua tahun aku beranikan diri melamar kerja disebuah perusahaan fashion. Tapi saat diterima aku keburu hamil, lalu bulan keempat aku keguguran.
Hingga tahun ini setelah Zalika Paud, aku merasa mantap untuk kembali melayangkan lamaran kerja.
Sebelum nanti keburu bobol lagi, masalahnya mas Ilham melarang aku pake KB.Tapi impianku gagal lagi karena anak ini.
klik.
Suasana rumah kediaman dokter Ilham sejenak hening. Ilham mengumpul ketiga buah hatinya untuk mengumumkan kehamilan mama mereka.
"Dita, Daffa dan Zalika. Papa dan Mama mau kasih kabar bahagia buat kalian bertiga."
__ADS_1
"Kabar bahagia?" Jawab mereka serempak.
"Iya, coba tebak."
"Papa mau belikan aku mobil listrik seperti punya Paul." Tebak Daffa.
"Papa pasti mau menaikan uang jajan kami." Tebak Daffa lagi.
"Papa mau ajak kami ke Disneyland kan, pa." Tebak Zalika.
Ilham melirik ke Dita "Aku ikut aja, pa. Mana suara terbanyak."
"Oke. Kalau begitu papa umumkan. Kalian bakal ... punya adik!" seru Ilham.
Hening.
"Kami nggak mau punya adik!" Seru Daffa dan Zalika.
"Alhamdulillah, pa." Jawab Dita datar.
"Hei, kenapa kalian nggak mau punya adik. Kan seru kalau punya adik. Jadi ada temennya." bujuk Ilham pada kedua anaknya.
"Kalau ada adik nanti papa dan mama nggak sayang lagi sama aku." Ambek Zalika.
"Mas, sudahlah mereka butuh waktu menerima semua ini. Kamu tahu sendirikan Zalika emang gitu anaknya. Egoisnya tinggi, karena dia anak bungsu."
__ADS_1