
Siti menatap amplop kuning yang diberikan mama Jo. Sebenarnya Siti tahu maksud Mama Linda memberikan amplop yang berisi uang. Tapi Siti pura-pura tidak tahu.
Dia pasti mau menyogok aku untuk menjauhi kak Jo. Huh! dasar orang kaya, selalu bermain dengan uang. Dia pikir aku polos mau di ancam segala. Aku bukan perempuan lemah mama Linda.
Aku akan tetap mempertahankan kak Jo. Karena aku sudah berjanji akan berjuang bersama. Maaf mama Linda, aku tidak memenuhi permintaan anda. Kecuali kak Jo sendiri yang meminta menjauh. Karena aku menjaga amanat ibuku untuk menikah dengan kak Jo. Ya walau aku belum bisa mencintainya. paling tidak aku akan belajar mencintainya.
"Ini apa, ma?" Siti bertanya pada mama Linda.
"Ini adalah sesuatu yang kamu cari selama ini. Itu kan tujuan kamu mendekati anak saya." Mama Linda menatap Siti seperti meremehkan.
"Maksudnya?"
"Sudahlah Siti, nggak usah pura-pura nggak tahu. Orang seperti kamu itu, pasti butuh duit kan. Makanya kamu dekatin anak saya. Saya sudah hapal perempuan seperti anda." Mama Linda tertawa melihat Siti.
"Pak sopir butuh duit kan. Ini buat bapak saja. Saya tidak butuh uang ini, dan anda ibu Linda, jangan anda kira saya akan mundur. Tidak! saya tidak akan mundur! saya dan kak Jo saling mencintai, dengan sikap anda yang seperti ini, membuat saya semakin mantap melangkah bersama Jo." Siti merobek tiket yang diberikan mama Linda dan melemparkan ke wajah mama Linda. Lalu keluar dari mobil mama Linda.
"Sudah miskin belagu pula." omel mama Linda saat Siti keluar dari mobilnya.
Pak sopir yang melihat kejadian itu cuma bisa menggelengkan kepalanya. Dia paham betul bagaimana karakter tuannya.
Tuan, Nyonya dan non Raisa sama aja. Karakternya tidak jauh beda. Untung non Sheila dan mas Jo nggak begitu. Semoga non Raisa di ampuni dosanya. ucap pak sopir dalam hati.
"Sini uang saya! enak saja mau duit sebanyak itu. Jangan mimpi kamu!" bentak mama Linda menarik uang yang tadi di berikan Siti.
Huh! kamu pikir saya akan menyetujui hubungan kalian. Kamu itu beda level dengan kami, Siti. Kita lihat saja nanti, siapa yang menyerah duluan.
Mama Linda mengeluarkan hp nya lalu menelpon seseorang.
"Tolong kamu selidiki perempuan yang bernama Siti. Cari tau keluarganya, semuanya tentang wanita itu."
__ADS_1
klik
"Kamu yakin mempertahankan hubungan dengan Jo. Ti, yang aku tahu kamu masih cinta sama Ilham. Buktinya kamu masih simpan photo kalian. Sudahlah, ti semakin kamu kasih harapan dengan kak Jo. Itu sama saja kamu menyakitinya perlahan-lahan." Gita kesal saat mendengar cerita Siti tentang kelakuan mama Linda.
"Jadi aku harus gimana Gita! Menunggu dia yang nggak jelas itu! ngapain! Dia aja nggak pernah berjuang buat kami. Soal perasaanku dengan kak Jo, seiring berjalannya waktu aku pasti bisa belajar mencintainya. Karena kak Jo nyata, bukan Ilham yang nggak nyata. Udahlah, Gita, aku malas bahas ini!" Siti merebahkan tubuhnya di tempat tidur kamar bayi Gita.
"Ya, kalau kamu nggak mau dengar pendapat aku ngapain cerita. Toh, yang ngejalanin kamu bukan aku, ti." Gita ikut berbaring disamping Siti.
"Gita, Dimata kamu kak alam itu gimana sih? kok kamu masih bertahan sama dia. padahal dulu kamu dan Ilham hampir menikah sudah dua kali Lo."
Gita menatap dinding langit kamarnya.
"Alam itu nyebelin tapi ngangenin. Kalau kita nyari yang sempurna kita harus berkaca diri dulu. Apakah kita sempurna? Seperti aku, walaupun alam lebih banyak nyebelin daripada nyenengin tapi dia selalu membuktikan rasa cintanya padaku. Kamu tahu sendiri kan, aku ini penyakitan. Alhamdulillah masih ada yang mau sama aku."
Gita menatap Siti yang tertidur disampingnya. Sahabatnya ini ternyata mempunyai perjalanan cinta yang cukup rumit. Gita kembali membalikkan badannya, netranya memancarkan kesedihan. Mungkin Siti bisa bilang begitu, tapi bagi Gita Siti hanya akan menyiksa dirinya sendiri. Bukan hanya Siti yang terluka tapi juga Jonathan dan jihan.
klik
Kenapa aku baru tahu kalau keluarga Hermawan punya anak laki-laki. Kalau tahu sejak awal sudah aku jodohkan Jihan dengan anaknya Hermawan.
Aduh kiki, bodohnya kamu, kalau jihan sama Ilham malah tidak dapat keuntungan apa-apa. Tapi kalau Jihan sama anaknya Hermawan bisa mendapatkan keuntungan besar untuk perusahaan.
Aku harus bicara pada papa dan jihan. Lebih baik batalkan saja perjodohan jihan dan Ilham.
Lagian ilham pernah meninggalkan istrinya demi mantan pacarnya. Aku tidak mau Jihan bernasib sama seperti mantan istrinya Ilham.
Beberapa waktu kemudian Jihan dan papa Alex pulang bersama. Karena jihan berkerja di perusahaan papanya. Tante Kiki tidak sabar ingin membicarakan masalah perjodohan itu.
"Pah, aku mau ngomong soal Jihan?" Tante Kiki memulai pembicaraan.
__ADS_1
Papa yang sedang mengganti baju. Awalnya cuek dengan pembahasan istrinya. Karena dari awal papanya kurang sreg dengan Ilham. Rumor tentang Ilham yang meninggalkan istrinya demi mantan pacarnya sudah merebak luas. Hanya saja karena Jihan sangat cinta pada Ilham membuat mereka menyetujui rencana itu.
"Jihan kenapa?" papa masih belum paham maksud Tante Kiki. Papa duduk disamping ranjang mendengarkan istrinya bercerita.
"Gimana kalau kita jodohkan dengan keluarga Hermawan. Kan mereka punya anak laki-laki. Jadi kalau kita nikahkan mereka, siapa tahu kita dapat saham dari perusahaan-perusahaannya.
Gimana, pa?" usul Tante Kiki.
Pucuk dicinta ulam tiba, papa sepertinya mendukung usulan istrinya. Karena menurut papa perjodohan mereka yang kemarin hanya sekedar kasihan dengan keluarga Ilham.
"Iya, dulu kan papa sempat usulkan pada salah satu kerabat mereka. tapi katanya ponakannya itu sudah punya calon."
"Papa tahu tidak siapa calon menantu Hermawan?"
Papa menggeleng. Mana dia tahu soal seperti itu. "siapa?"
"Siti! gadis yang di bawa jihan dari Jambi kemarin. Bayangkan yang gadis kampung itu yang jadi keluarga konglomerat? Masa ngalahin Jihan, apa kurang Jihan? jihan kuliah di Harvard. Masa mereka malah milih menantu yang entah tamat SMA atau mungkin nggak pernah sekolah."
Papa terdiam sejenak. Dia membayangkan Siti sangat manis, papa tersenyum "Kalau Siti nggak jadi menantu Hermawan, kan bisa jadi istri keduaku." ucap papa dalam hati.
Papa pergi keluar kamar untuk menemui Jihan. Tapi matanya melihat Siti yang sedang cuci piring di dapur. Papa menatap Siti seperti bergairah. Tangan papa mulai mencoba merayu Siti. Siti berontak, dia kaget saat papa Jihan mencoba memeluknya.
tiba-tiba
Buuuughhh!!!!!
Sebuah tangan yang menghajar papanya Jihan.
Siapa itu!!!!!
__ADS_1
...##### ...
Bersambung