Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
132. Teror keluarga Barata


__ADS_3

Ilham mengernyitkan kepalanya. Menandakan dia pusing dengan permintaan keluarga Risma. Bahkan dokter Sasono menjanjikan dirinya naik jabatan jika menuruti permintaan untuk menjadi dokternya.


"Tapi masalahnya aku bukan bagian syaraf, dok. Aku masih menangani penyakit dalam seperti jantung. Dok, kalau bisa jangan saya. Cari dokter lain saja. Saya juga harus jaga perasaan istri saya."


Dokter Sasono mengangkat alisnya. Baginya yang ditawarkan adalah bakti profesi, bukan untuk selingkuh. Keluarga Barata juga punya andil dalam pembangunan rumah sakit Kasih Bunda. Tidak ada yang bisa menolak keinginan keluarga itu. Ilham adalah dokter pertama yang menolak Job itu.


"Om, harap kamu memikirkan lagi soal itu. Om, akan mempertimbangkan soal mutasi itu kalau kamu menyanggupinya." Bujuk Dokter Sasono.


"Om, saya akan bicarakan ini dengan keluarga saya."


"Oh, silahkan, ham. Keputusan ada dikamu..Keluarga Barata masih menunggu jawabanmu. Mereka sangat berharap pada kamu, ham." Jawab Dokter Sasono meninggalkan Ilham di ruangannya.


"Suster temani saya memeriksa pasien Risma." Titah Ilham langsung keluar ruangan.


Memang dia telah menolak menjadi dokter pribadi Risma. Tapi selama dirumah sakit Risma tetap pasien yang diamanatkan untuknya.


Ilham tidak punya pilihan lain selain tetap menjadi dokter selama di rumah sakit. Dia juga takut dipecat karena pekerjaan ini adalah impiannya sejak kecil. Tapi samping itu, dia juga harus menjaga perasaan istrinya. Apalagi Risma masih mengira dirinya adalah Sakha.


Ilham duduk diruang prakteknya yang bisa dibilang lumayan wah untuk dokter pemula seperti dirinya. Dengan berat hati harus mengunjungi Risma karena amanat dokter Sasono.


"Aku tahu itu kamu, mas. Kamu tidak pernah melupakan aku dan pernikahan kita." Risma datang memegang tangan Ilham.


"Bu, tolong. Saya bukan Sakha tapi nama saya Ilham Ramadhan." Ilham dengan pelan melepas tangan Risma.


"Maaf, bu. Saya memeriksa anda sebagai kewajiban seorang dokter. Tapi kalau anda masih seperti ini? Maaf saya mundur jadi dokter anda."


"Oke ... oke. Maafkan saya, kamu mirip sekali dengan mendiang suami."


Padahal ini memang kamu, mas. Aku yakin kamu masih hidup.


Risma terus memperhatikan gerak-gerik Ilham sepanjang lelaki itu mengecek kondisinya. Sosok didepan yang diyakini adalah suaminya. Sampai akhirnya semua yang ada dikepalanya dia ungkapkan.


"Kamu suka ayam kampung serundeng"


"Tidak, bu."


"Kamu masih suka pempek adaan"


"Suka. Tapi buatan mama saya."


"Mama? Orangtuamu masih lengkap?"


"Masih."


Sakha bukannya kamu yatim piatu. Jangan mengada-ada, kamu bisa berbohong tapi aku sudah mengenalmu sejak kecil. Aku kenal kamu yang diadopsi kedua orangtuaku.


"Bu, saya kembali ke ruangan dulu. Istri saya pasti sudah menunggu diruangan." Kilah Ilham.


Padahal sebenarnya istrinya belum datang mengantarkan makan siang. Ilham keluar dari ruangan diikuti tatapan pilu Risma. Lalu wanita melepas jarum infus hingga kulitnya terluka.

__ADS_1


"Dokter!" panggil suster saat Ilham belum lima menit keluar dari ruangan Risma.


"Iya, ada apa?"


"Bu, Risma tadi melepaskan infusnya dan terluka." adu suster.


Ilham menghela nafas panjang. Dengan berat hati dia kembali ke ruangan Risma.


"Drama apa yang mau anda lakukan?" Ucapnya sinis.


Risma tetap meratap kesakitan. Tak peduli dengan sikap ilham yang ketus padanya. Dia tetap mencari celah agar lelaki itu bertahan diruangannya. Selesai mengobati luka ditangan Risma, Ilham pamit dari hadapan wanita itu. Sayangnya, pintu ruangannya sudah terkunci.


Bagaimana mungkin bisa dikunci?


"Ma, jangan seperti itu. Kasihan dokter ilham." ucap pak Barata saat sang istri mengunci Ilham dan Risma di dalam kamar rawat.


"Biarin, pa. Biar mereka bicara dari hati ke hati. Demi kesembuhan anak kita, pa."


Pak Barata menggelengkan kepalanya. Dia tahu istrinya ingin kesembuhan putrinya. Tapi dia juga tak ingin kesembuhan istrinya menjadi petaka untuk oranglain.


Klik


Dokter Sasono menemukan surat pengunduran diri dari Ilham. Tangannya membuka kertas dan membacanya. Senyumnya sedikit mengembang saat membaca isi surat tersebut.


"Kamu masih keras kepala, ham. Seharusnya kamu bersikap profesional. Bukan mengandalkan urusan pribadi semata." Ucapnya dalam hati.


Ilham muncul dihadapan dokter Sasono. Setelah kejadian tadi, dia semakin mantap untuk berhenti menjadi dokternya Risma. Kejadian tadi malah membuatnya semakin was-was.


"Apa karena istrimu? kamu takut istrimu cemburu? harusnya istrimu paham pekerjaanmu berkaitan dengan banyak orang."


"Dok, Risma selalu menganggap saya suaminya. Saya takut ini mempengaruhi rumah tangga saya. Bukan saya yang ahli menangani orang depresi. Suruh dokter Jaya saja, Dok."


"Mereka maunya kamu, ham. Karena parasmu mirip dengan mendiang suaminya Risma."


"Maaf, dok. Saya tetap keputusan saya."


Dokter Sasono sangat menyesali tindakan Ilham. Menurutnya kemunduran diri Ilham akan berpengaruh dengan image kinerja Ilham. Keluarga Barata adalah pengusaha yang bergelut dibidang kesehatan. Perusahaannya juga ikut menjadi investor rumah sakit swasta tersebut.


"Kamu tahu apa dampaknya kalau kamu mengundurkan diri?"


Ilham menoleh kearah dokter senior tersebut.


"Kalau saya disuruh pilih, saya pilih resign, om." Ilham merubah panggilan terhadap dokter Sasono.


Ilham pulang kerumah mendapati banyak barang bayi dirumahnya. Matanya mencari sang istri yang masih asyik memasak.


Tiara merasakan ada yang melingkar di pinggangnya. Dia sudah menebak siapa pemilik tangan tersebut. Tiara tetap menjalankan pekerjaannya walaupun suaminya tidak melepas dekapannya dan menikmati sentuhan sensual.


"Mas, aàaahhh"

__ADS_1


"Sayang, kamu belanja ya?"


"Enggak, mas."


"Terus itu apa?" Ilham menunjuk barang perlengkapan bayi dikamar mereka.


"Ooo .. itu dari keluarga pasien kamu, Mas. Katanya sebagai rasa terimakasih kamu sudah mengobati anaknya. Kasihan, mas anaknya depresi karena keguguran." Ucap Tiara.


Ilham memandang paket perlengkapan bayi didepannya. Dia mengenal siapa pengirim sebenarnya, tangannya mengepal penuh amarah.


Ngapain mereka bisa sampai datang kerumah? Apa mereka mau menyogok aku supaya mau mengikuti keinginan anak mereka. Dasar keluarga sinting!


Dengan cepat Ilham memasukkan barang-barang itu ke mobil dan berniat mengembalikan pada pemiliknya.Tiara melihat suaminya kembali memasukkan barang hadiah ke dalam mobil.


"Mas, ini mau diapain barangnya?"


"Mau dikembalikan pada pemiliknya."


"Kenapa?"


"Karena ini sogokan supaya aku mau jadi dokter anak mereka. Kamu harusnya jangan asal menerima barang dari orang tak dikenal."


Sebenarnya ada apa sih, Mas. Bukannya wajar kalau mereka memberikan tanda terimakasih karena kinerjamu. Apa ada hal yang tidak aku ketahui?


Tiara masih merasa heran dengan sikap suaminya yang menurutnya aneh. Saat hendak kembali kedalam matanya tertuju pada sebuah kertas amplop coklat didekat pintu.


"Ini surat apa?"


Sebuah tulisan bertuliskan tinta merah darah.


JANGAN GANGGU SUAMIKU


By R...


Siapakah pengirim berinisial R ini?


Kalau dia bilang suami, berarti ..


Ah, tidak mungkin dia ... dia sudah meninggal..


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2