Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
26. Dua puluh enam


__ADS_3

Malam semakin larut, Siti yang sudah kembali ke rumah Gita. Duduk di jendela kamar Gita. Ya, tadi pagi Jonathan mengantarkan Siti pulang ke rumah Gita.


Walaupun Gita sekarang tinggal di kediaman Spencer. Tapi saat mendengar Siti di rumahnya, dengan sigap Gita langsung pulang di temani suaminya.


Tatapan Siti masih kosong, mengingat ucapan Jo tadi siang


"Kenapa, Ti? Kenapa saat dengan Ilham kamu mau disentuh? Kenapa saat bersamaku kamu jaga jarak? Kenapa, ti. Apakah sebegitunya berharga sosok Ilham buat kamu?"


Siti cuma bisa menunduk "Maaf, kak Jo. maafkan aku."


Jo tahu Siti sangat mencintai Ilham. Jo cuma bisa menghela nafas panjang. Jo mengusap wajahnya dengan kasar. Tanpa basa basi dia membawa barang Siti.


Kenapa rasanya sakit sekali, Siti? Tidakkah kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu. Tidakkah kau lihat sedikit saja rasa cintaku padamu. Tidakkah kamu lupa kalau Ilham yang membuat Raisa menderita.


Kamu tahu itu tapi kamu mengabaikannya. Aku akan tetap berjuang mendapatkatmu, aku akan tetap berjuang dengan menikahimu. Aku yakin kalau kita terikat kamu tidak akan memikirkan Ilham lagi.


Siti tersentak dari lamunannya tentang Jo. Dia merasa hp nya bergetar, lalu melihat siapa yang menelepon "Ilham!" ucapnya dalam hati.


Siti mencoba mengabaikan telepon Ilham, tapi sepertinya deringan itu tidak berhenti. Hingga pada akhirnya Siti mengangkat telepon tersebut. "Sayang, aku kangen! Bisakah kita bertemu."


Sama, ham. aku juga merindukanmu. Tapi aku tidak ingin menyakiti kak Jihan. Dia sangat mencintaimu, ham.


"Maaf, Tolong jangan hubungi aku lagi." Siti menutup telepon Ilham.


✉️ Ilham


Siti apapun yang terjadi. Aku akan memperjuangkan hubungan kita. Aku akan bilang pada Jihan tentang hubungan kita. Aku sudah berusaha menerima Jihan, tapi aku belum bisa mencintainya.


Ku mohon jangan bilang seperti itu lagi.


klik


Semenjak itu, Siti dan Ilham kembali dekat. Walaupun harus sembunyi di belakang pasangan mereka masing-masing. Kedengarannya jahat, tapi mereka tidak bisa memungkiri kalau cinta itu masih ada. Butuh waktu untuk Siti dan juga Ilham untuk berterus terang kepada Jihan dan Jo.


Rooftof rumah sakit menjadi tempat mereka untuk bertemu. Saling memadu kasih untuk hasrat cinta mereka berdua.


Seperti malam ini, dengan alasan menjenguk papa Pram, Siti memberanikan diri datang ke rooftof rumah sakit, menatap lampu kelap-kelip jalanan kota. Sebuah tangan melingkar diatas tangan Siti. Senyum mengembang dari bibir keduanya. Siti menyandarkan kepalanya di bahu Ilham, dibalas dengan Ilham mengecup kening Siti.


"Sayang." ucap Ilham sambil mengusap kepala Siti.

__ADS_1


"hmmmm... apa?" kepala Siti yang sedang menyandar memutar menghadap kekasihnya.


" i love you. Aku mencintaimu Siti. Aku tidak ingin kehilangan kamu lagi. Mari kita menikah."


"menikah? Aku sudah pernah memberikan kamu kesempatan tapi tidak kamu gunakan. Kamu malah lebih memilih menerima pertunangan dengan kak Jihan." Siti melepas dekapan Ilham.


"Maafkan aku, Siti. Keadaan papa yang membuat aku lambat datang. Aku sudah datang ke tempatmu, tapi ibumu bilang kamu sudah menikah dengan kak Jo. Kamu tahu,ti? Saat mendengar hal itu, aku merasa hancur. Aku merasa kamu tidak mau menungguku hingga lebih memilih kak Jo." terang Ilham sambil memeluk Siti dari belakang.


"Alasan! Kamu tahu saat melihatmu menggandeng kak Jihan di acara pertemuan itu. Rasanya sakit banget, ham. kamu itu tidak setia, Tapi mungkin iya kamu memang tidak setia. Buktinya selepas putus dari Gita kamu cepat memacari Raisa. Terus saat Gita sudah dengan kak Alam kamu dekati aku. Sekarang, sejak kejadian itu kamu memilih kak jihan. Apa itu namanya setia, ham?


Aku datang ke Jakarta berharap bisa menyelesaikan masalah kita. Tapi ternyata Tuhan membuka mataku. Kamu itu nggak nyata, berulang kali kamu mengajakku menikah. Tapi apa? cuma omong doang, aku butuh bukti bukan kata-kata, ham. Paling tidak kak Jo lebih baik dari kamu. Dia melakukan dengan bukti bukan janji." Siti menunduk malu. Sudah lama dirinya ingin meluapnya semua ini.


Ilham menarik tangan Siti, keluar dari rooftof rumah sakit. Siti mencoba melepaskan tangan Ilham tapi ternyata dirinya kalah kuat.


"Mau kemana,ham?"


"Mau bilang sama kak Jihan tentang kita." jawab Ilham masih fokus turun tangga tanpa menoleh Siti yang kewalahan dengan gerakan kaki Ilham.


"Tapi... ham."


Mereka terhenti di sebuah kelokan tangga.


"Aaa...aku .. aku ... takut, ham. Aku belum siap." Siti berjalan mundur. Dirinya belum siap dengan dampak yang akan terjadi.


Ilham mengunci tubuh Siti. Jantung mereka serasa berdetak kencang. Untuk kesekian kalinya Siti kembali luluh saat Ilham menyandarkan kepala Siti ke dadanya. Tangannya mengeratkan pinggang Ilham untuk lebih rapat ke tubuhnya.


Plaaaaak


Sebuah tamparan mendarat di wajah Siti. Seketika dirinya terkejut saat tahu siapa yang menampar wajahnya. Sosok yang sebenarnya sangat dia segani.


"Pengkhianat! Aku nggak nyangka sama kamu Siti! Kamu menggoda papaku, sekarang kamu menggoda tunanganku. Jahat kalian! jaaaahat!" teriak jihan.


"Kak, maafkan aku. Ini semua salahku,kak. aku mencintai Siti. Kami sudah lama pacaran jauh sebelum bertemu kak Jihan." jelas Ilham pada jihan.


Jihan tetap merasa di tikung oleh Ilham dan Siti. Matanya menatap Siti dengan penuh amarah. Tangannya kembali hendak mengcekeram tubuh Siti, tapi ditangkis oleh Ilham. Jihan kesal karena Ilham lebih membela Siti daripada dirinya. Gadis itu berlari keluar sambil menangis.


"Kalian jahat!!!!" pekik jihan.


Siti dan Ilham mengejar Jihan. Ada perasaan bersalah diantara keduanya. Karena telah mengkhianati Jihan. Siti terus menangis saat melihat jihan hendak berdiri di dekat jalan raya. Tak lama ada sebuah kendaraan roda empat lewat hampir menabrak Jihan.

__ADS_1


"Kak jihaaaaan! awaaaaas!" Siti mendorong tubuh jihan mereka terjatuh bersama.


Siti dan Jihan terpental ke pinggir trotoar. Jihan membuka matanya melihat Siti yang kepalanya sudah jatuh bersimbah darah. Kaget bercampur panik, Jihan berteriak ketakutan melihat Siti. Sementara dirinya hanya lecet tangan saja.


Ilham dengan cekatan mengangkat tubuh Siti masuk ke rumah sakit.


Syukurlah aku tidak papa. Hmm... semoga dengan kejadian ini bisa jadi pelajaran buat kamu, Siti. Ya, kalau kamu tidak selamat Ilham bakal nikahin aku. Lagian masa aku kalah saing dengan kamu, ti. Bukan Jihan namanya kalau tidak dapat apa yang aku mau. Termasuk mendapatkan Ilham.


bye ...


bye siti


klik


praaaaannggg!!!


ibu terkejut saat sedang memasak air panas. Hampir saja mengenai kakinya. Ibu mengelus dada, merasakan feeling yang tidak enak.


Ya Allah, semoga ini bukan hal yang menakutkan. Lindungilah anakku yang sedang di luar sana. Lindungilah Edwar yang sekarang berada di tambang.


Ibu mencoba menelpon Siti. Lagi-lagi ponsel Siti tidak bisa dihubungi. Perasaan ibu semakin kalut. Dengan cepat ibu mengambil wudhu, mengadukan kegalauannya kepada Allah.


####


bersambung


Terkadang harus ada konsekuensi dari apa yang sudah kita lakukan. Mungkin karena yang di lakukan Siti dan Ilham salah. Salah karena bibit perselingkuhan terjadi diantara mereka.


Salah karena mereka backstreet di belakang pasangan masing-masing.


Kalau kalian menanyakan puncak konflik nya, sebenarnya sudah ada di episode 2 dan 3 dimana Siti galau pernikahannya dengan Jo semakin dekat.


Hubungan yang rumit itu akan ada jalannya. Dimana akan ada yang mengalah dan akan ada pemenangnya.


Maaf ya agak belibet tulisannya.


Pokoknya pantengin terus cerita ini.


jangan lupa like dan ratenya

__ADS_1


jangan lupa votenya


__ADS_2