Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
87. Setelah Resepsi #2


__ADS_3

Dirumah sakit, sukabumi


"Pak bagaimana keadaan Papa saya?" Ilham menanyakan keadaan Papa Pramono kepada dokter.


"Alhamdulillah, ayah anda sudah stabil." Ucap dokter yang membuat semua diruangan sedikit tenang.


Dokter mempersilakan keluarga untuk menengok keadaan Papa Pram. Mama Mila dan Ilham masuk menengok papa Pram. Melihat Papa Pram sudah sadar mama langsung berhambur memeluk suaminya.


"Papa nggak papa, kok. Kan dengar kata dokter papa cuma kecapekan saja." Ucap papa Pramono saat mama menangis mengira suaminya kritis.


"Apanya yang tidak apa-apa, pa? Denyut papa tadi lemah. Ilham takut papa kenapa-kenapa?" Protes ilham yang melihat papanya santai saja. Pada tadi nyawa papanya hampir diambang maut.


Papa pram menatap ke langit dinding rumah sakit. Entah apa yang ada dipikirannya. Yang pasti ada kegundahan dari wajahnya.


"Papa tadi mimpi di datangi mamanya Keisya dan juga Keisya. Mereka mengajak papa tapi aku tolak. Tanggung jawabku didunia masih ada,ham." kenang papa mengingat mimpinya tadi.


"Ham, istrimu mana? Udah gol belum?" Papa Pramono langsung mengalihkan pembahasan saat melihat sang putra masih memakai piyama.


"Papa, ih? masih sempat gangguin ilham. Fokus tuh sama jantung. Papa tahu nggak mama tadi cemas takut papa kenapa-kenapa." Mama yang kesal melihat suaminya masih sempat bergurau.


Papa menatap mama mila dengan tatapan menggoda "Kenapa, ma? Takut nggak ada meluk lagi, ya?"


Mama Mila mencubit papa yang terus menggodanya. Sepasang suami istri yang menikah 28 tahun itu, masih sempat saling menggoda. Itulah yang membuat pernikahan mereka awet. Ilham tersenyum melihat kemesraan kedua orangtua, teringat istrinya yang tinggal dihotel. Ilham pamit pada kedua orang tuanya, dia merasa tidak ada lagi yang dikhawatirkan.


"Istri kamu mana?" Tanya tante Tari, adik papa Pramono.


"Ada di hotel" jawab Ilham


"Ih, gimana sih? mertua sakit dia malah enak enakan dihotel." Ucap tante Tari ketus.


Ilham melengos melewati tantenya. Sejak kecil Ilham memang disayang sama Oma, Opa, Tante Tami (adik papa Pram no 1) dan tentu saja kedua orangtuanya. Tante Tari dari dulu memang ketus pada dirinya. Dulu saat kecil, Ilham selalu takut kalau bertemu tante Tari. Sekarang dia paham, kenapa tante Tari lebih sayang Keisya daripada dirinya.


Dirinya memang bukan anak kandung Pramono. Itu yang membuat Ilham sadar diri kalau ada keluarga lain yang membencinya, termasuk tante Tari dan anaknya yang paling besar bernama Andre. Bedanya Dea, adiknya Andre dan suaminya tante Tari masih bersikap baik padanya.


Langkah kakinya terhenti saat melihat istrinya menyusul dirinya bersama Jihan. Padahal tadi dia melarang istrinya ikut.


"Kok nyusul? Kan aku bilang tadi kamu dihotel aja."

__ADS_1


"Ham, siti tadi ketakutan. Tadi kayak dapat gangguan gitu pas dikamar." bela Jihan.


Ilham menatap istrinya yang masih pucat. Mereka duduk ditaman sekitar rumah sakit. Tiara berkeliling menatap kanan kiri, dirinya masih bergidik ngeri teringat air dikamar mandi hidup sendiri.


Sekarang berada dirumah sakit yang jauh lebih horor dari tempat menginapnya tadi.


"Kamu tenang saja, sayang. Kan ada aku disini." Ilham mencoba menenangkan istrinya yang masih syok.


"Aku takut,mas. Kita pulang ke villa papa Adolf aja, ya." Rengek Tiara menggelendot manja pada suaminya.


"Besok aja, ya. Sekarang kita kekamar Papa. Dia daritadi nanyain kamu. Disana rame kok, jadi kamu nggak akan takut lagi." Ilham membimbing istrinya menuju ruang kamar rawat papa Pramono.


"Loh kok balik?" Mama Mila kaget melihat Ilham datang bersama Tiara. Apalagi wajah menantunya terlihat pucat.


"Kamu kenapa, ti?" Mama Mila membelai rambut menantunya.


"Takut, ma. Masa air keran hidup sendiri. Terus selimutku ada yang narik." adu Tiara pada ibu mertuanya.


Mama Mila tersenyum sambil menggoda ilham dan Tiara "Tuh, ham. Dengar! jangan tinggalin istri sendirian, kesempatan hantunya gangguin istrimu. Untung siti tidak ada riwayat jantung. Kalau ada kamu bisa duda tiga kali."


Ilham melotot mendengar ucapan mamanya "Ma, ucapan bisa jadi doa lo."


Tak lama Tiara tertidur dipangkuan mama Mila. Mama memilih mengalah dan meminta Ilham menemani istrinya. Ilham membelai rambut Tiara dengan penuh kasih sayang.


"Mama harap kalian seperti ini bukan di awal nikah aja. Tapi mama akan sangat bahagia, jika kamu seperti ini terus pada istrimu."


Klik


Pagi ini Jihan berlari mengelelilingi sekitar kebun teh, namanya kampoeng curug sawer. Jihan memandang luasnya perkebunan teh, dan banyak spot yang lainnya. Lokasinya tak jauh dari vila kediaman Adolf.


"Sendirian aja? Bodyguardnya mana?" Seorang lelaki berlari kecil mengikuti langkah jihan.


"Emang sejak kapan aku punya bodyguard, bar?"


"Itu yang terus ngikutin kamu?" Akbar menangkap lelaki yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Hanya saja Jihan tidak menyadarinya.


"Oh, kak Jo. Itu cuma teman kok. Kebetulan aku sama dia kenal baik sama Siti dan Ilham. Jo itu mantan Siti dan Ilham adalah mantan tunanganku."

__ADS_1


Cerita Jihan.


"Oh, jadi cerita mantan dekat sama mantan. Tapi kok nggak cocok kalian.Cowoknya terlalu dewasa untuk cewek seimut kamu. Cocokan sama aku? Aku rasa kita ini seumuran deh, paling umur kamu ngga jauh dari aku. Sekitar 27-an."


Jihan tertawa, dia membayangkan kalau Akbar tahu umurnya 33 tahun pasti laki-laki itu langsung pingsan. Akbar memberikan senyuman mautnya, berharap Jihan klepek-klepek.


Jihan membalas tatapan lelaki berwajah arab tersebut. Senyumnya mengembang saat lelaki itu berlari kecil melewati dirinya.


"Balapan yuk, bar! Siapa yang sampai ke arah gardu


dia harus traktir makanan khusus daerah sini!" Tantang Jihan sambil melewati akbar.


"Siapa takut! Tapi kalau kamu kalah, kamu harus ngedate sama aku, gimana?" Balas akbar.


Jihan tertawa, sejak pertama mengenal akbar, lelaki itu selalu menunjukkan kenarsisannya. Ya, walaupun dimata Jihan akbar itu lebih ganteng dari Jonathan.


Sepertinya aku harus berjuang menaklukan kamu, jihan. Terlihat kalau kamu bukan wanita sembarangan yang mudah menerima jika ada seorang lelaki mendekatimu. Akbar Rahmatsyah, kamu harus dapatkan gadis itu! Beng sehat dengan si Jo! batin Akbar


Jo berbalik berjalan untuk kembali ke rumah. Dia merasa hp nya bergetar lalu mengangkatnya.


"Iya, vika ada apa?"


"Jo, aku minta kamu jangan dekati jihan lagi?"


Jo mengerutkan keningnya.


"Maksudnya apa kamu pagi-pagi menelpon cuma mau ngomong kayak gitu? Kamu masih cemburu lihat aku sama Jihan? Vik, move on, laki-laki bukan cuma aku saja! Jangan kamu siksa dirimu dengan kehadiranku."


"Jo.. kamu bilang aku belum move on, lalu kamu apa? Kamu sendiri belum move on dari Siti, terus menjadikan Jihan sebagai alat untuk balas dendam!"


"..."


"Asal kamu tahu, jo. Setelah aku selidiki, Jihan itu bukan anak kandung Alex. Jadi percuma juga kamu balas dendam tapi salah sasaran!"


"Sudahlah, vik. Itu cuma alasan kamu saja. Kamu tidak berada diposisiku vik. Jadi kamu diam saja!" bentak Jo pada vika di telepon.


"Oke aku tidak akan mengurusi urusanmu lagi! Tapi satu yang kamu harus kamu ingat, bahwa yang terjadi pada keluargamu adalah KARMA. Karma atas perbuatanmu pada Siti dan keluarga. Dan kebetulan om Alex adalah perantara dari Tuhan untuk menyadarkan kalian!" Terdengar Vika menutup teleponnya.

__ADS_1


Jo menghela nafas panjang. Matanya nanar saat melihat Jihan pulang bersama Akbar. Entah kenapa dirinya tidak suka Jihan dekat dengan lelaki itu.


__ADS_2