
Hadirmu membuat diriku kembali bahagiaSetelah sekian lamaku merasakan hampa
Sekejap duniaku menjadi berwarna
Kau ubah segalanya
Dalam hatiku bertanya
Sekejap duniaku menjadi berwarna
Kau ubah segalanya
Dalam hatiku bertanya
Mengapa dirimu tak bisa menghilang dari pikiranku
Mengapa hatiku selalu saja mengarah kepadamu
Dan memang hanya kamu
Lagi-lagi kamu terlintas di benakku
Mungkin memang aku sedang jatuh cinta
Diriku bertanya pada bintang-bintang
Apakah dia jawabnya
Dan ini saatnya akan ku nyatakan
Segala isi hatiku kepada dirinya
Mengapa dirimu tak bisa menghilang dari pikiranku
Mengapa hatiku selalu saja mengarah kepadamu
Dan memang hanya kamu
Lagi-lagi kamu terlintas di benakku
Mungkin memang aku sedang jatuh cinta
Ilham pov
Aku membuka mataku ketika sinarnya menyilaukan indera penglihatanku. Secercah wajah manis tepat berada diatasku. Wajah itu sedang memperhatikan ramainya suasana jalanan.
"Yang, kamu nggak ngambek lagi, kan."
Parasnya menatapku, senyumannya membuatku terpaku. Wajah yang selalu kulihat setiap bangun pagi, wajah yang selalu kulihat untuk membangkitkan moodboosterku.
__ADS_1
Setelah petualanganku dengan beberapa wanita, sekarang pemberhentian hatiku ada pada dirinya. Menemukan wanita yang menerima semua kelemahanku, walaupun banyak wanita yang mengatakan aku tampan, atletis atau apalah. Tapi hanya dia yang tidak pernah memandangku dari segi itu.
Dialah Siti Marlina, wanita yang dulunya hanya teman baikku, wanita yang dulu selalu ketus padaku, apalagi kalau menyangkut wanita yang dekat denganku. Nggak nyangka, ti, nggak nyangka hatiku kepentok di kamu.
"Mas" panggilnya.
Kurebahkan kepalaku diatas paha istriku. Membelai wajahnya, rasanya ingin aku mereguk indahnya bibir istriku. Tapi kutahan dulu.
"Iya, sayang."
Mata kami saling menatap, jantungku berdetak kencang. Ya Tuhan, kenapa wajahnya tak bisa membuatku berpaling.
"Kamu kenapa mas?"
Jangan tanya kenapa, ti. Kamu yang membuat aku seperti ini, kamu yang membuat aku selalu gagal fokus, ti. Dulu aku tak sekencang ini saat dengan Gita. Tapi, dengan kamu ... Ah, susah kujelaskan.
"Aku kangen twins"
Kuletakkan tangan diperut istriku. Ku kecup twins, terdengar detak Jantungnya dengan kencang. Ini apakah detak anakku atau detak mamanya. Kayaknya ini punya mamanya, terasa kencang sekali.
"Ti. Makasih ya."
"Buat?"
"Buat cinta yang kamu berikan untukku. Terimakasih sudah mau sabar dengan sikapku yang kamu bilang nggak peka ini."
"Karena kamu sudah menjadi suamiku, mas. Kalau masih pacaran sudah aku tinggalkan."
"Yakin? Yang dulu nangis nangis pas aku dekat sama Jihan, siapa hayo?"
"Auuwwwww, sakit sayang."
Ku bangkitkan tubuh ini ketika cubitannya mengetuk hati untuk mendekatinya. Mendekatkan wajahnya, ingin rasanya kureguk bibirnya.
"Ti, kamu itu bidadari yang dikirim untuk mengikat hatiku. Melengkapi hidupku dan menjaga hatiku. Hasrat terindah untuk cintaku, takkan pernah aku lepaskan. Kamu itu duniaku, ti."
"Udah, ah. Bisa diabetes aku nanti. Aku lapar, mas. Kita ini masih monas lo, kamu lihat tuh. Orang-orang pada ngeliat kita, mas."
Benar. Semua pelancong menatap aneh kearah kami. Tapi biarlah, masa bodoh sama mereka. Sah saja aku mesra sama istriku, bukan istri orang lain.
"Mas."
"Iya, Sayang"
"Emang kamu nggak ke rumah sakit?"
Aku menggeleng. Tadi dalam perjalanan menuju ke monas, Nanda mengabari bahwa aku termasuk dokter yang kena mutasi dinas. Aku malah berpikir untuk mengundurkan diri dan fokus buka praktek dokter mandiri.
"Enggak, sayang. Aku libur dulu."
__ADS_1
"Perasaan kamu libur terus, mas. Emang nggak papa, ya? Ini nggak ada hubungannya sama masalah kemarin, kan?"
"Maafin aku, mas. Gara-gara aku, kamu malah kena masalah."
"Sayang, aku nggak papa, kok. Nggak ada masalah."
Ya, Allah bagaimana aku bisa bilang padanya soal mutasi kerja. Dia pasti menyalahkan dirinya lagi. Lebih baik aku cari waktu yang tepat. Aku tidak mau masalah ini mengganggu kehamilannya.
"Ya udah. Kita kesana yuk, aku lapar nih."
"Maaaaassss! Turunkan aku!"
klik
"Mau makan apa sayang?" Tawar ilham saat mereka tiba di lapak makanan masih sekitar monas.
"Aku lihat dulu, tapi aku pengen rujak." Pesannya sambil mengambil kursi yang kosong.
"Bang rujaknya dua."
"Bang cabenya sepuluh, ya."
"Ampun Siti, ngapain pesan rujak cabe sepuluh. Pedes itu, sayang. Kasihan bayi kita."
"Dia yang mau, mas."
"Enggak pokoknya kamu jangan makan pedes."
"Nak, papa nggak sayang sama kita. Buktinya dia nggak mau menuruti keinginanmu."
"Bang, rujaknya sepuluh cabe."
Tiara tersenyum saat suaminya menuruti kemauannya.
"Itu baru suamiku."
Ilham hanya tersenyum kecut. Dia berharap yang ditakutkan tidak terjadi.
"Nih udah jadi rujaknya." Ilham menyodorkan rujak sesuai pesanan istrinya.
Tiara menggeleng. Lalu mendorong piring ketengah meja.
"Kenapa?"
"Anak kita maunya papanya habisin rujak ini."
Mata Ilham membulat. Bagaimana bisa dia harus menghabiskan Rujak 10 cabe rawit. Sedangkan dua cabe saja dia sudah kepedasan.
"Ya salam, aku di prank nih."
__ADS_1