
Pernikahan adalah impian setiap pasangan. Insan yang menyatukan cinta mereka menjadi cinta yang halal. Membina sebuah hubungan menjadi ikatan yang pasti.
Tak munafik aku juga mengharapkannya. Sama seperti pasangan lainnya. Hanya saja lelaki yang menikahiku bukanlah pilihan yang kuinginkan.
Akbar Syahputra sihombing adalah suamiku saat itu. Dia menikahiku karena aku sudah terlanjur hamil dengan Wira, lelaki yang aku cintai. Akbar lelaki yang baik dan pengayang. Usianya terpaut 3 tahun diatasku, layaknya seorang kakak kepada adiknya. Tak ada rasa cinta diantara kami, tapi saya tetap memperlakukannya sebagai suami walaupun kami tidak pernah sekamar.
Dia juga tidak pernah menuntut hak nya agar aku melayaninya. Mungkin karena dia tahu aku sedang hamil. Bisa jadi karena Akbar masih mencintai Sari, mantan kekasihnya.
Bicara soal Sari, Akbar cerita kalau dia dan Sari pernah kawin lari, hingga ayahnya Sari sakit parah dan mereka memilih berpisah. Tapi mereka masih dekat walaupun sudah tidak ada hubungan cinta lagi. Apakah aku cemburu? jujur saat itu tidak terbersit rasa cemburu diantara mereka. Aku melihat Sari itu gadis baik-baik, tidak mungkin mau pacaran dengan suami orang.
Hingga pada usia kandunganku masuk 4 bulan. Sebuah tragedi terjadi. Dimana aku terpeleset dikamar mandi. Beruntung Akbar sigap sehingga aku bisa ditangani oleh dokter. Saat dokter mengatakan bayiku tidak selamat rasanya hancur dunia ini. Ibu mana yang tidak sedih saat mendengar anaknya sudah pergi. Tapi Akbar menguatkanku, dia berjanji tidak akan menceraikanku hanya karena si bayi sudah pergi. Bak seperti orang sakit yang mendapat penawar obat. Aku senang kalau benar-benar membuktikan ucapannya.
Setelah satu bulan sejak keguguran itu, aku dan Akbar mulai sekamar. Belum ada interaksi ranjang seperti layaknya suami istri. Akbar yang masih pendidikan sering pulang pagi dan Aku sering sendirian dirumah. Mayang dan Aku tidak terlalu baik hubungannya. Dia tidak pernah ketus padaku, cuma ya karena dia tahu aku bukan hamil sama abangnya, jadi dia jaga jarak denganku.
Mayang sering sekali mengajak Sari menginap dirumah. Seakan tidak menghormati aku sebagai istri sah abangnya. Setiap Akbar pulang, Mayang malah memilih menginap dirumah Sari.
"Mas?"
"Iya, Tia."
"Aku boleh minta sesuatu nggak?"
"Boleh kalau permintaanmu masih batas kemampuanku."
"Aku mau kita layaknya seperti suami istri lainnya. Kamu berhak apapun atas diriku. Aku tidak akan menolaknya lagi."
"Baiklah tapi jangan sekarang. Kamu tahu aku sedang mengikuti tes untuk dikirim ke perbatasan."
"Hmmm...berarti aku akan ditinggal, ya."
"Tia, kamu akan ikut denganku. Aku sudah minta pengajuan agar membawa istriku."
"Terimakasih, mas."
"Buat?"
__ADS_1
"Buat pengakuanmu kalau aku istrimu."
"Kan kamu memang istri sahku, Tia. Kita memang menikah bukan karena cinta. Dan aku yakin lambat laun kamu akan menggeser Wira dihatimu." Akbar mengecup keningku.
"Entah kenapa aku menginginkannya malam ini?" Ucap Akbar yang membuatku kaget. Tapi aku tidak bisa menolak saat dia sudah menyatukan raga kami. Meski bagiku bukan yang pertama, tapi yang lebih halal lebih nikmat.
Dua bulan kemudian aku mendapat kabar kalau pihak sekolah menawarkanku kembali mengenyam pendidikan. Tentu saja hal itu ditentang oleh Akbar. Tapi aku bersikeras untuk ingin melanjutkan sekolahku.
Kalau Akbar saja bisa melanjutkan pendidikannya setelah menikah, masa aku tidak boleh.
Aku juga ingin melanjutkan cita-citaku yang tertunda. Kedua orangtuaku pun mendukung keinginanku. Apalagi mereka saat itu masih berkecukupan. Sudah pasti mereka mengerahkan harta untuk memasukkan aku ke Akpol. Rumit sih, karena statusku saat itu sudah menikah. Hingga orangtuaku memintaku berpisah dengan Akbar. Tentu saja aku tidak menolak karena inilah saatnya aku maju.
Akbar tidak mau menceraikanku, tapi aku bersikeras minta ditalak. Aku yang saat itu sangat egois memilih pulang ke orangtuaku. Ibu dan Bapak dengan cepat mengurus perceraian kami. Setelah kami bercerai resmi. Dua minggu kemudia aku mendapati kalau sudah berbadan dua.
"Kamu hamil, Tia!" berang ayahku.
"Iya, Pa. Maaf" Jawabku takut-takut.
"Kamu tahu berapa biaya yang papa kerahkan untuk memasukkan kembali ke Akpol. Nggak sedikit, Tia." Suara Ayah semakin meninggi.
"Dulu kamu menghancurkan harapan Ayah dengan hamil diluar nikah. Sekarang kamu kembali menoreh luka karena hamil saat jadi janda. Apa akbar tahu hal ini?"
"Gugurkan! kamu bisa melanjutkan pendidikanmu kalau melepas bayi ini!"
"Jangan, pa. Dia bukan anak diluar nikah tapi anak pernikahan sah!"
"Papa tidak mau tahu! kamu gugurkan anak ini atau kamu dicoret dari keluarga ini. Papa tidak enak dengan kolega papa yang di Akpol. Mereka berbaik hati menerimamu untuk yang kedua kalinya. Walaupun mereka tahu kamu adalah janda."
"Nggak papa kalau dia lagi Hamil. Tahun depan akan saya coba ikutkan lagi, dia masih 20 tahun dan masih muda. Lagian dia belum sempat saya daftarkan karena menunggu masa idahnya selesai."
Dia kak Wisnu, salah seorang sepupuku yang diminta papaku untuk memasukkan aku di Akpol. Kak Wisnu ini sudah punya jabatan tinggil di Kepolisian.
"Jadi soal keguguran itu hanya sandiwara kamu saja, Tia. Jadi ini masih anak Wira! Kamu kenapa mesti bohong sama aku. apapun yang terjadi aku akan menerima keadaanmu dan anak ini." Berang Akbar saat aku menceritakan kehamilanku.
Maafkan aku, Akbar. Aku terpaksa berbohong padamu soal bayi ini. Aku tidak ingin membebanimu lagi. Biarkan kami hidup bahagia tanpa harus kamu tahu kalau ini anakmu, Akbar.
__ADS_1
"Tia, walaupun kita sudah berpisah. Izinkan aku tetap menganggapnya seperti anakmu. Izinkan aku tetap mendampingimu saat melahirkan walaupun dia bukan anakku."
Ya Allah aku merasa bersalah. Suatu saat kamu akan tahu, bar. Kalau ini anak kita bukan anak Wira.
klik
Pov Author
Jihan menangis saat mendengar kisah asal usul Azka. Dia tidak menyangka bertahun-tahun Tia menyembunyikan rahasia ini. Apakah rasa sayangnya akan berkurang pada Azka setelah mengetahui hal ini? Tidak, Jihan akan merasa jahat kalau dia membenci Azka.
"Janji sama aku Jihan, kamu akan tetap menyayangi Azka apapun yang terjadi." Pesan Tia.
"Aku janji Tia. Aku janji akan tetap menyayangi Azka layaknya anak sendiri."
"Tia... kamu kenapa!" Jihan kaget saat Tia tiba-tiba kolaps.
"Maaaamammaaa...." Terdengar pekik Azka yang baru saja masuk ruang rawat Tia.
"Dokter!" Teriak Akbar berlari memanggil petugas rumah sakit.
"Azka janji sama mama akan jadi anak yang baik. Nurut sama Abi dan Bunda."
"Azka janji asal mama sembuh." Isak remaja tanggung tersebut.
Tak lama Tia mengucapkan sahadat lalu menghembuskan nafas terakhirnya. Tangisan kehilangan terdengar dari remaja tersebut.
"Mas, Azka itu anak kandungmu. Bukan anak Wira." Jelas Jihan pada suaminya.
"Aku sudah tahu." Jawab Akbar. "Makanya waktu Tia sakit aku mendampinginya karena aku merasa bersalah bercerai dengannya saat dia hamil. Tia sempat menghilang bertahun-tahun dan kembali muncul dipernikahan kita." Kenang Akbar.
"Saat itu aku masih mengira kalau Azka memang anak Wira. Karena janjiku pada Tia akan tetap memperlakukan Azka seperti anak sendiri. Hingga ayahnya Tia yang memberitahukan yang sebenarnya saat Azka sudah kelas dua SD. Awalnya aku tidak percaya, tapi setelah tes DNA ternyata 99% menyatakan Azka adalah anakku."
"Kenapa kamu tidak cerita, mas?" Jihan masih kaget karena suaminya banyak menyimpan rahasia.
"Maafkan aku, sayang. Aku takut kamu tidak menerima Azka setelah tahu kenyataannya."
__ADS_1
"Mas, kita ini sudah menikah. Kehidupanmu adalah kehidupanku juga."
"Nanti lanjut dirumah. Sekarang kita urus jenazah Tia dulu."