
Setelah acara lamaran
"Aku ikut, ya." Siti merengek saat Jo pamit pulang ke Jakarta.
"Ikut?Jangan sayang. Bulan depan kita nikah. Kamu itu harus dipingit. Pamali calon manten keluyuran." tolak Jo saat mendengar keinginan calon istrinya mau ikut ke Jakarta.
"Bulan depan? Cepat amat, sih. Masih banyak persiapan yang harus kita urus. Belum undangan, baju pengantin, tanggal pernikahan, dan sebagainya." cerocos Siti.
Cup!
Jo mengecup kening Siti, Lalu membungkuk agar sejajar posisi dengan Siti. Kedua tangannya memegang tangan Siti
"Siti, kita nikah di KUA aja, kok. Nggak pake resepsi, ribet! Yang penting sah Dimata agama dan negara. Itu aja mau aku."
Siti maaf aku tidak bisa mengajakmu pulang ke Jakarta. Aku takut, Siti. Aku takut kamu terombang-ambing lagi saat bertemu Ilham disana. Boleh kan kalau aku berusaha mempertahankan kamu. Karena aku yakin saat ini pun kami belum sepenuhnya yakin menerimaku.
"Bu bolehkan aku ikut kak Jo? Aku mau jenguk Sheila." Siti masih merengek saat ibu muncul di tengah mereka.
"Jangan, ti. Nggak bagus calon pengantin keluyuran. Kamu disini saja." ucap ibu melarang Siti ikut dengan Jo.
"Udah, Bu. Nggak papa. Siti bisa tinggal sama aku. Biar Siti mengenal calon mertuanya dulu. Biar nanti pas udah nikah nggak kaget lagi." Jawab Jihan.
"Kak Jo, emang kamu nggak mau deketin Siti sama keluargamu? Lagian kalau nikah bulan depan terlalu buru-buru deh. Nanti aku bantu persiapannya." usul Jihan.
Jihan menatap Siti. Setelah semalam ngobrol perkenalan dengan Jonathan. Jihan mengetahui keluarga Jo bukan orang sembarangan. Termasuk terpandanglah. Jihan tahu seperti apa orang tua Jo. Mereka masih memandang seseorang dari statusnya. Jihan janji akan mendidik Siti menjadi wanita yang tidak gampang ditindas.
Siti aku kenal keluarga Jo. Mereka terkenal sangat sombong. Apalagi si Raisa tuh, sebelas dua belas sama Keisya. Aku akan membimbingmu agar tidak diremehkan keluarga itu. Jo sepertinya sangat menyayangimu.
Jo memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil. Lalu pamit pada calon istrinya juga keluarganya.
Tapi ternyata Jihan membawa sebuah barang yaitu milik Siti. Setelah penuh perjuangan Jihan merayu ibu, akhirnya Siti diperbolehkan ikut dengan Jo. Asalkan, tinggalnya sama Jihan, bukan di rumah Jo.
Entah kenapa Jo berat sekali hatinya saat mengetahui Siti akan ikut. Selama perjalanan jo hanya terdiam. Dia takut kalau Siti akan bertemu kembali dengan Ilham.
Jihan di mobil menceritakan lelaki idamannya yang katanya akan di jodohkan dengannya. Siti dengan seksama mendengarkan cerita Jihan.
__ADS_1
Entah kenapa saat Jihan menceritakan sosok itu, Siti membayangkan jika lelaki adalah Ilham. Tapi di tepisnya, Siti sudah berjanji pada dirinya sendiri akan melupakan Ilham. Siti berjanji pada dirinya sendiri akan mencintai Jonathan.
"Kamu tahu, ti. Beberapa hari yang lalu, sebelum aku kesini. Aku bertemu teman masa kecilku. Iya sih usianya jauh di bawah aku. Kira-kira lima tahun lah dibawahku. Kakaknya dulu temen sekolahku, tapi ya aku kurang suka sama kakaknya, orangnya sombong. Ya, mungkin karena keluarganya diatas angin. Beda dengan adiknya, ramah, baik dan sopan.
Kamu tahu,ti. Dia sudah jadi duda, katanya sih istrinya meninggal. Tapi aku saat menjaga mamaku di rumah sakit, aku ngeliat dia sholat di ruangannya. Siapa yang nggak meleleh melihat laki-laki seperti itu. ya kan, ti." Jihan menoleh melihat Siti sudah tidur.
Padahal banyak sekali yang ingin dia ceritakan soal lelaki itu.
Jihan menoleh ke Jo yang masih melek "Kak Jo, kalau aku ngantuk kakak mau kan gantiin nyetir." sahut jihan.
"Maaf, aku sudah lama tidak menyetir sudah 10 tahun yang lalu. Tanganku sudah kaku. maaf, ya?" Jo menolak sebagai sopir pengganti.
Jo menatap kaca mobil, melihat jalanan yang dipenuhi pohon-pohon. Pikirannya menerawang. Dia teringat saat membereskan barang, menemukan buku tuntunan sholat. Tapi bukan itu masalahnya, Jo membuka tulisan yang di yakini dari Siti untuk Ilham.
Yang isinya : Teruntuk calon imanku.
klik
Pukul 04:55, dikediaman Pramono
Pagi itu, mama Mila melewati kamar Ilham. sebuah pemandangan yang tidak biasa. Mama Mila terkejut melihat putranya sedang duduk diatas sajadah. Tak lama Ilham mengucapkan salam tanda sholat telah selesai.
"Ham." panggil mama saat melihat anaknya baru selesai sholat subuh.
"Iya, ma." jawabnya mendekati Mama Mila.
"Hmmmm ... jam berapa kamu berangkat?"
"Aku ambil pesawat jam 8 pagi, ma."
"Semangat ya, nak. Mama minta maaf tidak bisa menemanimu. Tapi kan ada ayahmu yang menggantikan."
Sejak pulang dari kampungnya Siti, aku melihat banyak perubahan dalam diri Ilham. Sejak kepulangan itu, Ilham sudah mulai sholat lima waktu. Dulu, dia cuma sempat Magrib saja. Sekarang, dia sudah mulai belajar sholat malam.
Mama bangga sama kamu, nak. Maafin mama dan papa yang tidak bisa mendidik kamu dalam agama. Apakah ini pengaruh Siti? Semoga perubahan kamu bukan sekedar untuk Siti semata.
__ADS_1
"Ma, Ilham berangkat dulu, ya." Ilham pamit pada mama Mila membawa Tante Tami dan ayah Brian sebagai wali untuk melamar Siti.
"Hati-hati, ham. Bilang sama Siti, mama tidak bisa datang karena papa masih belum sadar. Mama pasti merestui kalian. Siti itu gadis yang baik. Sejak kenal dia, kamu sudah banyak berubah." kata mama Mila sambil mengusap rambut Ilham.
Ilham langsung berangkat ke Jambi.
Siti, aku datang. aku datang menepati janjiku padamu. Aku harap kamu tetap menungguku.
Ilham menatap cincin yang dia kenakan couple dengan Siti. Matanya terus menatap langit, Sambil melamunkan kenangan kenangan bersama Siti.
Mobil melaju menuju bandara Soekarno-Hatta.
Beberapa jam kemudian, mereka sampai di Sukasari. Ilham berdiri didepan rumah Siti. Ada ibu yang membuka pintu rumah.
"Bu saya kesini untuk menepati janji saya. Membawa keluarga saya untuk meminang Siti."
Lama ibu terdiam. Lalu tiba-tiba ibu berkata
"Maaf, ham. Siti sudah menikah dengan Jonathan. Kamu terlambat, ham."
"Menikah? dengan kak Jo? Nggak mungkin, Bu. Kan perjanjiannya dalam waktu seminggu saya diminta datang kesini. Ini masih hari keenam. berarti masih ada waktu."
"Itu keputusan Siti sendiri, ham." jawab ibu.
Ilham pamit dari rumah Siti dengan perasaan hancur. Sepanjang perjalanan dia hanya melamun. Tak ada kata sedikitpun yang terucap.
Ti, Jadi ini alasan kamu mengabaikan aku.
Kamu lebih memilih Jonathan.
Oke kalau itu keputusanmu, aku hargai.
...###...
Bersambung
__ADS_1