
Pov Siti
"Saya datang kesini bermaksud ingin melamar putri anda, siti marlina." Ucap ilham yang setelah subuh sudah datang ke rumah.
Kutatap ekspresi wajah ibu dan tante Fatimah, datar. Membuatku cemas saat melihat wajah mereka. Masih untung mereka menerima kedatangan ilham, tadinya aku takut mereka mengusir ilham.
"Mana orangtuamu?" Tanya tante Fatimah.
Kenekatan ilham membuat kepalaku berdenyut. Seakan ilham menganggap hal ini untuk main-main. Kalau memang dia serius kenapa datang subuh begini, masih pakai baju tadi malam.
Atau jangan-jangan dia tidak pulang kerumah.
Aku kembali masuk kekamar. Sumpah aku malu saat melihat tindakan ilham barusan. lalu, kalau dia masih memakai baju semalam, dimana dia tidur?
"Mama dan papa insyaallah menyusul habis isya tante." jawabnya masih dengan rasa percaya diri.
"Terus kenapa kamu kesini?" tanya tante Fatimah
"Saya ingin meminta doa restu agar tante mengizinkan saya meminang Siti."
"Bukankah kamu pernah menikah? Tentu kamu tahu etika untuk melamar wanita. Bukan datang seperti ini." sahut ibu
Ah, aku pusing melihat kenekatan ilham pagi ini. Aku ingin lamaran yang sakral bukan yang seperti ini.
Aku tidak tahan lagi
"Maaf, tante, aku mau bicara sama ilham diluar, boleh?"
"Kenapa nggak disini aja,ti?" Tanya ilham yang belum paham kode dari wajahku.
"ikut aku!" kutarik ilham keluar dari apartemen.
"Ti. Aku tahu kalau kamu merindukanku. Tapi nggak kayak gini juga sayang."
Tangan ilham yang kutarik sekarang sudah menjalar ke pinggangku. Sekarang kami saling berhadapan berjarak beberapa centi. Kutelan salivaku saat ilham makin erat memegang pinggangku.
"Kamu mau ngomong apa sayang?" ucapnya saat tangannya mengusap rambutku.
Bahkan disaat begini, otak mesumnya kumat. Lagi-lagi sikapnya membuat aku terkunci.
"Kamu pasti nggak pulang, kan?" tebakku
"Kok tau?"
"Kelihatan tuh bajunya ngga ganti. Bau apek!" Aku melerai tubuhnya. Takut ada yang melihat.
"Hmmm..."
Eh, dia malah senyam senyum. Dasar duda mesum!
"So.." Tatapannya seakan ingin membungkamku.
"Kamu harus pulang, ham. bicarakan soal lamaran itu sama mama mila dan papa pram." desakku.
"Aku pasti melamarmu,ti. Tapi maaf kalau untuk hari ini jujur aku belum siap. Banyak yang aku harus persiapkan. Termasuk mematangkan pikiran orangtuaku.
Kamu tahu, ti. Kemarin siang keluarga kak jihan datang kerumah. Mendesak aku secepatnya menikahi kak jihan. Papa dan mama seperti marah padaku, mereka menolak datang kalau aku benar-benar menikahi kak jihan."
"Ham.."
__ADS_1
"Iya, sayang."
"Sekarang kamu pilih aku atau kak jihan!"
"Ya, kamulah."
"Terus kenapa kamu masih ragu menikahiku?Kenapa sikapmu seakan memberi harapan pada kak jihan."
"Ti, kamu kan tahu posisiku sekarang serba salah. Aku serius sama kamu, tapi .."
"Tapi apa, ham? Kamu keliatan nggak yakin sama aku ... Plin plan."
Aku menghembus nafas berat. Dari sepanjang perjalanan hubungan kami dia sendiri yang terlalu banyak mengulur waktu. Rasanya aku mau bilang sama dia "Aku capek".
Capek! Iya capek sekali. Aku mau yang pasti, bukan hubungan tarik ulur seperti. Rasanya sia-sia doaku di setiap penghujung sholat, kalau pada akhirnya begini juga.
"Ti.. tolong kasih aku waktu."
Aku pergi meninggalkan lelaki itu. Sesak mendera di dada. Entah kenapa seolah yang dibilang ibu ada benarnya.
Aku capek!
Aku mau yang pasti!
bukan di tarik ulur seperti ini!
klik
"Halo, jeng. Masih ingat sama saya?"
"Iya, iya jeng. Aku mengundang kalian dinner di sebuah restorant milik usaha suamiku."
Tante Fatimah menutup teleponnya. Sebenarnya sudah lama dia mau mengenalkan siti pada anak temannya. Dulu sering bekerja sama dengan suami temannya itu. Suaminya sangat dekat dengan keluarga itu.
" Siapa imah?" ibu muncul saat tante fatimah sedang mengambil makanan di dapur.
"Ini kak jeng mila. Suaminya itu teman mas adolf. Aku mengundang acara makan malam nanti. Ada sempat rencana mau mengenalkan anaknya namanya Rama, sepertinya cocok buat siti." cerita tante fatimah wajahnya sangat berbinar sekali.
"Siapa namanya?" Tanya ibu
"Rama, kak. Aku tidak tahu seperti apa wajahnya sekarang. tapi waktu dia sd aku pernah ketemu, ganteng anaknya, prestasinya bagus, kak.
Dia beberapa kali ikut kejuaraan sekolah saat itu. Kalau menurutku dia lebih baik dari si jonathan, kak."
Ibu menghela nafas panjang. Begitu banyak sosok lelaki yang ditawarkan untuk siti. Tapi sepertinya putrinya hanya bertahan pada ilham. Tapi mungkin dia akan coba meyakinkan siti.
Siti datang dengan wajah muram. Ibu mencoba berbicara dengan putrinya. Tapi siti menutup pintunya dengan keras. Ibu mencoba menebak apa yang membuat putrinya seperti itu. Seketika dia teringat kalau terakhir putrinya bersama ilham.
Apakah mereka bertengkar!
klik
Malam ini rencananya keluarga ford mengadakan pertemuan dengan keluarga teman tante Fatimah.
Siti malas ikut, tapi dipaksa ibu. Seandainya tadi siti tidak bilang keluarga ilham tidak akan datang. Mungkin akan beda ceritanya.
Dengan gaun hitam pemberian tante Fatimah. Rambut siti dihiasi bando menyerupai mahkota kecil. Gadis itu berjalan dengan anggun memasuki restoran keluarga ford.
__ADS_1
"Nona Tiara... Anda di tunggu tuan Rama di ruang private room."
Haduh! Kenal saja belum sudah sok sokan ketemu di private room.
Jangan sampai dia mau berbuat yang aneh-aneh diruangan itu.
Awas! Tak kebiri itunya nanti!
Huuuh dasar! Laki-laki sama saja.
Siti berjalan mengitari tangga yang sudah di taburkan bunga mawar merah. Dengan hati-hati dia melangkah, apalagi dia baru pertama kali memakai heels. Ada rasa takut memalukan orang-orang disana.
Sementara Tante Fatimah langsung bertemu sang tamu istimewa. Mereka berjabat tangan, menandakan saling melepas rindu. Ibu menatap tamu adiknya, seperti tidak asing.
Jadi itu Mila temannya Fatimah. Cantik, anggun dan berkelas. Tapi selintas orangnya penuh keibuan. Sebentar! Kok aku rasanya pernah liat dia? Tapi dimana, ya. Rasanya wajah itu tidak asing.
Ah, mungkin perasaanku saja.
Tante Fatimah mengedarkan pandangan mencari siti.
Kemana anak itu? Apa dia kabur untuk bertemu lelaki itu?
"Rama mana, jeng. Pasti dia sudah dewasa dan sangat tampan." puji tante Fatimah.
"Rama menunggu Tiara di private room. Biarkan mereka saling mengenal dulu." Ucap tante mila sambil menikmati hidangan mereka.
"Hmmm kalau boleh tahu, rama pekerjaan apa bu?" tanya ibu pada tante mila.
"Alhamdulillah anak saya dokter, bu."
"Dinas dimana, jeng?" tanya tante fatimah ikut kepo.
"Di rumah sakit swasta, jeng Fatimah. Eh, itu mas Pram... mas disini.." panggil tante mila pada suaminya.
"Mas, pram berangkat dari kantor, jeng. Jadi tidak serempak berangkatnya." cerita tante mila.
Sementara kaki Siti melangkah masuk ke sebuah ruangan yang dipenuhi bunga mawar merah. Matanya takjub melihat pemandangan langit malam jakarta penuh bintang-bintang.
"Selamat datang, nona Tiara Ford."
Sebuah suara memanggil namanya, Siti celingukan mencari pemilik suara. Siti membalikkan tubuhnya saat tahu siapa yang bernama Rama tersebut.
Siti kaget saat tahu siapa rama.
Begitupun Rama yang kaget saat tahu siapa Tiara.
Siapa Rama sebenarnya?
...####...
Bersambung
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiahnya
__ADS_1