
Ina duduk di depan jendela memandang langit yang mulai menghitam. Akhir-akhir ini jakarta sering di guyur hujan lebat. Tapi untungnya tidak lagi menyebabkan banjir.
"Na.." Suara mama Yulia membangunkan dirinya dari lamunannya.
"Iiiya, kak." Ina mendekati perempuan yang mengaku sebagai kakak kandungnya walaupun mereka lebih pantas menjadi ibu dan anak.
"Kamu yakin mau pindah kuliah?"
Ina meneguk air mineral yang ada dinakas dekat lemari. Kepalanya menunduk lemah, lalu mengangguk menandakan bahwa dirinya ingin pindah kuliah.
"Kenapa?"
"Aku pengen cari kampus yang dekat aja,kak." Jawabnya singkat.
"Ya, udah kalau memang itu keinginan kamu. Kakak nggak bisa maksa, padahal kampus kamu yang sekarang itu bagus, lo."
Ina hanya tersenyum kecut. Ada sesuatu hal yang membuatnya bertekad menyudahi semuanya. Walaupun dia tahu, seberapa jauh dia berlari julukan itu tetap akan melekat pada dirinya.
Dengan hati yang lumayan kalut, Ina berjalan keruang makan. Pikirannya tak bersarang hingga menabrak meja makan. Mama Yulia menatap sang adik yang sedari tadi tak fokus, pikirannya kembali mempertanyakan apa yang terjadi pada gadis 19 tahun itu.
"Na, kakak perhatikan kamu dari tadi kacau banget. Sebenarnya ada apa, na?" Tanya mama Yulia
Ina menggeleng. Dia memilih bungkam, lalu duduk di kursi makan menyantap menu yang ada. Tak lama Ina kembali ke kamar dan menutup pintu kamarnya.
Sekarang Ina menempati kamar Gita, mama Yulia juga mempersilahkan Ina menggunakan pakaian atau semua barang milik Gita. Walaupun sempat ditentang oleh Alam, lelaki itu tidak terima kalau barang istrinya dipakai orang lain.
Flashback on
Alam baru akan berangkat ke kantor diminta mama Yulia mengantar Ina ke kampus. Tentu saja lelaki itu keberatan karena dia tidak pernah menyukai kehadiran Ina.
"Ma, dia kan udah gede. Ngapain pake diantar segala!" Protes Alam pada mama mertuanya.
"Sesekalilah, lam. Mama minta tolong kamu antarkan Ina kekampus. Inaaaaa ... sudah siap belum?"
"Sudah, kak." Ina turun tangga dengan hati-hati. Mata Alam tak berkedip saat menatap gadis itu, bukan karena keimutannya melainkan baju yang dipakai gadis itu.
Pakaian Ina memutar memori Alam saat dirinya dan Gita berkencan setelah menikah. Tubuh Gita yang mungil bak anak SMA membuat apapun yang di pakainya tetap menarik.
Gita
Alam yang sedari tadi berdiri menatap Ina, dikejutkan dengan tepukan wajah dari shasa.
Pletak
Tangan mungil itu ternyata mampu membuat sang ayah buyar dari lamunannya. Tawa kecil yang membuat seisi rumah bahagia.
Ina menggendong Shasa dengan kegemesannya.
"Maaaa...aaaamaaaaa..." pekik Shasa saat Ina menowel pipi tembem bayi cantik tersebut.
__ADS_1
"Yayayayah..." Panggil bayi cantik berusia 8 bulan tersebut.
Alam menyungging senyum saat putri kecilnya sedang menyowel pipinya. Lalu mengambil sang putri dari genggaman Ina.
"Uuuhhmm ... anak ayah makin cantik saja..." Alam menggelitik perut putrinya.
"Udah, Kalian berangkat ntar telat." Mama Yulia mengambil Shasa dari gendongan Alam
Dengan malas Alam masuk ke mobil. Pintu belakang mobil dibiarkan terbuka agar Ina bisa masuk. Tak ada obrolan, sepanjang perjalanan hanya membisu saja.
"Kamu turun disini." Ina kaget saat Alam menurunkan dirinya di pertengahan jalan. Padahal kampusnya masih jauh.
"Kok turun disini, sih. Kampusku masih jauh!" Ucap yang kesal diturunkan ditengah jalan.
"Mana jauh? itu pucuk gedungnya sudah kelihatan. Jangan manja kamu! baru jalan segitu aja udah protes. Aku sekolah dulu melewati sawah dan sungai, tau!" omel Alam.
Ina menatap kesal saat Alam tetap meninggalkannya ditengah jalan.
Alam bukan pergi ke kantor melainkan pulang kerumah mama Yulia. Melayangkan protes karena semua barang Gita dihibahkan ke Ina.
Mama yang sedang bermain dengan sang cucu kaget dengan kedatangan Alam.
"Kok balik lagi? Apa ada yang tinggal?" Tanya mama Yulia.
"Ma, kenapa semua barang Gita mama kasih ke Ina?"
"Emang kenapa, lam?" Tanya mama yang masih heran dengan sikap Alam.
"Ma, Aku tidak setuju mama memberikan barang Gita ke Ina. Kalau mama mau sedekah kasih ke yang lebih membutuhkan bukan ke yang mampu seperti Ina."
"Terserah mama dong, mau mama kasih ke siapa. Kamu nggak berhak mengatur mama, gita itu anak mama jadi apapun yang jadi barang milik Gita itu masih hak mama untuk mempergunakannya. Kenapa kamu yang sewot kalau mama memberikannya pada Ina?"
Alam hanya diam saja. Dia sadar sekarang statusnya bukan lagi menantu dirumah ini. Statusnya adalah ayah dari cucu dikeluarga itu. Tapi Alam juga sadar sejak kehadiran Ina, mama Yulia memperlakukan Ina seolah Gita masih hidup.
Dia cuma ingin mama Yulia menghibahkan barang istrinya ke orang yang lebih membutuhkan.
Flashback Off
Klik
Universitas Indonesia
Pukul 10: 00
Mama Yulia berdiri dikampus kuliah Ina. Guna mengurusi kepindahan Ina. Suasana kampus yang ramai karena sudah mulai semester baru. Dengan langkah mantap mama Yulia memasuki ruang dekan jurusan yang digeluti Ina.
"Tante." Panggil seorang gadis yang mencegah mama Yulia masuk ke ruangan dekan.
"Iya. Adik siapa?"
__ADS_1
"Saya laras teman kuliahnya Ina. Bisa kita bicara sebentar tante." Laras menarik tangan mama Yulia untuk pergi dari ruang dekan.
Mama Yulia dan Laras duduk disebuah kantin. Mama Yulia penasaran apa yang sebenarnya akan diceritakan pada Laras. Terlihat mereka seperti ibu dan anak yang sedang berbincang hangat.
"Langsung saja nak laras. Apa yang mau kamu sampaikan pada saya?"
Laras bingung harus memulai pembicaraan darimana. Karena dia pernah berjanji pada Ina tidak akan mengadukan masalah itu ke keluarga Ina. Tapi saat Ina bilang mau pindah kuliah tentu saja dirinya. Dia makin yakin dengan keputusan Ina saat melihat mama Yulia akan menemui Dekan kampus.
Aku yakin Ina mau pindah pasti gara-gara masalah itu. Aduuuuh, Ina kenapa kamu mesti pindah sih. Keenakan mereka dong nantinya. Itu sama saja kamu memberi peluang menang ke mereka yang membullymu.
Aku ngomong nggak ya sama tante Yulia. Ya Allah kok aku jadi gemetaran gini, ya.
"Laras?" Suara mama Yulia mengagetkan lamunan gadis itu.
"Sebenarnya apa yang mau kamu sampaikan, nak?" sambung mama Yulia.
"Ituu... anu ... tante .. soal Ina, tante."
Mama Yulia mengkerutkan dahinya. Dia masih penasaran dengan hal yang mau disampaikan teman adiknya itu.
"Inaaaa.. mau dikeluarkan dari kampus tante."
"Apaaaaa!" Pekik mama Yulia membuat orang-orang dikantin menoleh kearah mereka.
Maaf Ina, terpaksa aku beritahu yang sebenarnya sebelum tante Yulia dengar dari versi oranglain.
"Apa salah Ina sampai mau dikeluarkan dari kampus? Apa dia membolos? Terlibat skandal? narkoba atau apa?"
Lagi-lagi Laras hanya diam. Dia bingung bagaimana menjelaskan pada Mama Yulia tentang masalah yang dihadapi Ina.
"Sebaiknya tante tanya langsung ke Ina apa yang sebenarnya terjadi?"
Mama Yulia akhirnya tetap menemui dekan kampus membicarakan kepindahan adiknya.
...####...
Apa yang dialami Ina sehingga membuat gadis itu hampir dikeluarkan dari kampusnya?
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung
__ADS_1