
Masih dengan suasana resepsi pernikahan. Beberapa tamu mendekati meja prasmanan mencicipi hidangan yang ada.
"Aku mau yang itu .." Teriak seorang anak kecil.
"Nggak boleh itu makan orang dewasa." Timpal yang satu lagi.
"Bundaaaaaaa..." Pekik si anak tadi.
"Iya, kenapa nak?" Seorang wanita berhijab menghampiri kedua anaknya.
"Ada apa ini?" Seorang pria sambil menggendong anak laki-laki.
Ya mereka adalah keluarga Elliana dan Rama. Hehehe, namanya sama dengan si pengantin. Rama dan Elliana datang jauh dari jogja buat memenuhi undangan Tiara dan Ilham.
Mereka membawa si triplet twins, Hana, Fakhru dan Fakhri. Kembaran Elliana, Alan juga ikut bersama istri dan kedua anak kembarnya.
"Ti, Selamat menempuh hidup baru. Semoga langgeng sampai kakek nenek. Cepat dapat momongan." Ucap Elliana sambil menepuk bahu Tiara.
"Ham, saya dan istri mendoakan kalian semoga langgeng sampai maut memisahkan. Satu pesan saya. Kalau udah nikah jangan ingat mantan lagi." Ucap Rama.
"Terimakasih mas, Rama. Ah, nama kita sama."
Rama dan keluarganya pamit pulang. Pesta yang tadi nya dikira sepi karena pandemi, ternyata mulai menunjukkan aktivitasnya.
Lagu lagu romantis terus mengalir indah dari wedding singer, membuat suasana romantis pesta tersebut. Ilham terus menggenggam tangan Tiara.
"Ham" Ilham menyambut teman-teman sejawatnya saling berpelukan.
"Selamat bro, akhirnya kamu sold out juga." Toni tersenyum ramah kearah sahabatnya yang terlihat sangat bahagia tersebut.
Senyum mengembang di wajah Ilham. Memeluk Tiara dengan erat seakan tak ingin lepas.
"Makasih bro, lani nggak ikut?" tanya Ilham menanyakan istri Toni.
"Lagi mabuk" bisik Toni.
"Selamat ya, ton." Ilham balik menyalami dokter Toni.
"Pak dokter selamat ya. Semoga langgeng sampai kakek nenek." Ucap dua Ibu-ibu yang bernama Ayu widia dan Rasti Yulia.
"Iya, pak dokter. Main ke tempatku dong, ntar aku kasih ayam geprek gratis buat pak dokter dan Siti." promosi mbak Rasty.
"Oy... Apa kabar?" Seorang lelaki datang mengenakan jas hitam. Tubuhnya kurus, wajahnya sangat pucat.
__ADS_1
"Dodo!" Ilham memeluk sahabatnya yang hilang tanpa kabar sejak dipecat dari pekerjaannya.
Tiga sekawan saling bertemu dan melepas rindu. Ilham, Dodo dan Toni menjalin persahabatan sejak pertama mereka bekerja di rumah sakit Kasih bunda 5 tahun yang lalu.
Mereka saling berbagi suka duka bersama, bertukar pikiran. Apalagi saat itu Dodo dan Toni hanya dokter magang, beda dengan Ilham yang memang kedua orangtuanya memiliki andil dalam mendirikan rumah sakit.
Dodo mengedarkan pandangannya, seakan mencari seseorang. Mata Dodo membulat saat melihat seorang gadis yang sedang bermain dengan bayi kecil. Tawa bahagia terlihat di wajah gadis itu, seolah lupa dengan kejadian barusan.
Masih pantaskah aku mendekatimu. Begitu banyak kesalahanku padamu.
Ina aku sangat merindukanmu, gadis kecil yang manja.
Maafkan aku, Ina.
Dodo menggerakkan kakinya mendekati Ina. Walaupun orang yang dia cari bukanlah Ina. Hanya kebetulan Dodo melihat Ina.
"Na."
Ina menoleh melihat siapa yang menyapanya. Wajah gadis itu tersenyum saat Dodo datang mendekatinya.
"Aku turut berdukacita atas meninggalnya Tante Kania. Kamu yang sabar, ya." Dodo menepuk pundak Ina.
"Terimakasih. Maaf aku kesana dulu, kakakku pasti mencariku." elak Ina.
Dodo mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan pesta. Mencari Rangga, kakak tiri Karina. Tapi nihil, malah dia mendapati Jihan sedang mengobrol asyik dengan seorang lelaki. Lelaki itu bukan Jonathan, Dodo kembali berkumpul dengan Toni dan ilham yang asyik mengobrol.
Suasana pesta kembali hening, lampu blitz kembali dimatikan. Sorot lampu menyorot tubuh ilham yang berdiri memegang Al-Quran kecil. Tangannya memegang mic.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
Hari ini adalah Hari sakral untuk saya dan juga istri saya. Dimana kami sudah mengikrarkan janji sehidup semati, berjanji akan selalu bersama dalam suka dan duka.
Hari ini benar-benar kejutan untuk kami berdua. Dimana awalnya, kami hanya akan dinikahkan dengan pasangan pilihan orangtua kami. Sungguh Aku juga istriku tidak menyangka kalau akan benar-benar dipersatukan dengan ikatan cinta yang sakral, yaitu pernikahan.
Siti, sesuai janjiku dulu, bahwa mahar pernikahan kita surat Al - Baqarah ayat 221 dan 223.
Ayat 221 :
وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Artinya: Dan janganlah kamu menikahi perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Dan sungguh seorang hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik, meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan laki-laki musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, seorang hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik, meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.
Ayat 223:
__ADS_1
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya: Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dan dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.
Semua orang takjub mendengar lantunan yang dibacakan ilham. Terutama Tiara yang sudah tahu kemampuan suaminya dalam membaca Ayat Al-Quran. Semua yang berada dipesta bertepuk tangan setelah ilham menyelesaikan bacaannya.
"Ilham itu, waktu SMA adalah ketua Remaja Islam se-Jakarta. Hanya saja saat sudah kerja dia sudah mulai dunia malam. Apalagi waktu awal pacaran sama Raisa dulu." Bisik Toni pada Tiara.
Berarti pengaruh Raisa pada Ilham sangat buruk. Ya Allah, aku mikir apa sih? Raisa sudah tenang, jangan diungkit lagi keburukannya. Maafkan, aku ya Allah.
Pesta telah usai, semua undangan satu persatu sudah pamit pada pengantin. Kini keluarga Pramono, keluarga Spencer dan keluarga Adolf kembali ke hotel, setelah seharian mereka mengikuti rangkaian acara. Satu persatu kembali memasuki kamar hotel. Rencananya malam ini mereka akan mengadakan makan malam bersama. Karena besok keluarga akan kembali ke jakarta.
Tiara dan Ilham masuk ke kamar pengantin. nuansa putih mendominasi ruangan tersebut. Tiara takjud dengan dekorasi kamar mereka. Mereka duduk ditepi ranjang saling membelakangi punggung. Saling menunduk malu-malu, sampai bingung memulai pembicaraan.
"Ti!"
"Ham!"
Mereka saling memanggil bersamaan. Walaupun terkadang Ilham sering agresif, tapi entah kenapa dirinya dibuat gugup kali ini.
"Aku!"
"Aku!"
Lagi-lagi mereka mengucap bersamaan.
"Kamu dulu."
"Kamu aja dulu"
"Ladies first!"
"Man first!"
"Ya, udah, ham. Aku mau ganti baju dikamar mandi. Gerah seharian pake baju ini. Tolong dong bantu buka resletingnya."
Ilham berdiri membantu Tiara membuka resleting gaun pengantin. Entah kenapa tergerak dirinya mencium punggung Tiara.
"Ti, malam ini kita nggak usah ikut mereka dinner, ya." Ucap Ilham yang mulai mencium punggung milik istrinya.
"Ham, geli. Nggak mungkinlah, kita harus menghargai undangan mereka." Tiara melepas diri dari suaminya yang mulai kumat otak mesumnya.
Ya, Allah kenapa aku takut, ya. Apa nanti aku tidur sama ibu aja.
__ADS_1