
'Ketika saya memikirkan tahun-tahun saya ingin bersamamu
When I think of all the years I wanna be with you
Bangun setiap pagi bersamamu di tempat tidurku
Wake up every morning with you in my bed
Itulah tepatnya yang saya rencanakan untuk dilakukan
That's precisely what I plan to do
Dan Anda tahu suatu hari nanti, ketika saya mendapatkan uang saya dengan benar
And you know one of these days, when I get my money right
Belikan Anda segalanya dan tunjukkan kepada Anda semua hal yang lebih baik dalam hidup
Buy you everything and show you all the finer things in life
Selamanya akan cukup, jadi tidak perlu terburu-buru
Will forever be enough, so there ain't no need to rush
Tapi suatu hari, saya tidak akan bisa meminta Anda cukup keras
But one day, I won't be able to ask you loud enough
Aku akan berkata, "Maukah kamu menikah denganku?"
I'll say, "Will you marry me?"
Saya bersumpah bahwa saya akan bersungguh-sungguh
I swear that I will mean it
Aku akan berkata, "Maukah kamu menikah denganku?"
I'll say, "Will you marry me?"
Lantunan lagu romantis mengiringi dansa mereka. Rona wajah keduanya terlihat bahagia. Walaupun sejak ilham mengatakan "will you marry me" Gadis itu belum memberikan jawaban.
Kaki siti mengikuti gerakan kaki ilham. Tangan mereka saling mengalung diatas pinggul. Senyum terus merekah dibibir kedua.
"Kamu bahagia?" Tanya ilham sambil mengikuti alunan musik romantis. Siti membalas dengan anggukan.
__ADS_1
"Terimakasih, ham. Ini kado terindah yang pernah aku terima. Terimakasih, kamu mau menerima gadis kampung seperti aku. Aku mencintaimu." ucap siti.
"Aku juga terimakasih padamu,siti. Kamu sudah banyak membantuku, aku yang dulu hidup dengan dunia surgawi, melupakan rasa syukur. Terimakasih sudah jadi rembulan menerangi hidupku yang kelam ini. Aku mencintaimu, Siti Marlina.
Sekali lagi aku bertanya padamu, Siti Marlina Will you marry me.. Maukah kamu menikah dengan lelaki yang berstatus duda ini, menerima keadaanku yang bukan lagi sekaya dulu, menerima aku yang punya masa lalu kelam ini, menerima..."
ilham belum selesai melanjutkan ucapannya, siti menutup bibir lelaki itu dengan jari telunjuknya.
"Dari awal sejak kita pacaran, aku sudah menerima apa yang ada dalam hidupmu, masa lalumu, semuanya. Aku harap ini adalah langkah awal hubungan kita. Cuma..." Siti menunduk membayangkan jihan melabrak mereka. Sama seperti saat Raisa melabrak ilham saat akan menikahi Gita.
"Kenapa..." ilham menatap sang kekasih yang kelihatan cemas.
"Aku belum bisa tenang soal kak jihan. Aku merasa seperti merebut kebahagiaan seorang anak yang tak berdosa."
ilham merengkuh wajah siti dengan kedua tangannya
"Ti, tolong dengarkan aku! Sumpah demi Allah! aku tidak pernah menyentuh kak jihan apalagi sampai menghamilinya. Tolong percaya sama aku,ti!" Ilham terus mencoba meyakinkan Siti yang masih pesimis.
"Kamu tahu jawabanku ham? Sebaiknya kita berkumpul di dekat mereka. Pamit pada mereka yang sudah membesarkan kita."
Ilham menyanggupi permintaan Siti. Mereka keluar dari private room yang berada di lantai dua. Saling bergandengan tangan. Ilham melihat Siti mulai kesulitan dengan hells nya. Lelaki itu menggendong kekasihnya ala bridal style.
"Ham.." Siti kaget saat ilham menggendongnya. Dia malu saat pengujung menatap adegan mereka.
Saat ada yang tersenyum kearah mereka, ilham pun membalasnya dengan ucapan "Cantikkan, istriku."
"Sayang, aku melihat kamu sangat lelah dengan sepatu ini. Makanya aku gendong, aku tidak mau kamu lecet sedikitpun istriku." Ucap ilham di depan para gadis yang menatapnya.
"Ham, kamu sehatkan? Nggak bau alkohol kok, tapi kok dari tadi kamu ngelantur ngomongnya." Siti pusing melihat tingkah ilham. Dia malu menjadi tontonan pengunjung.
"Emang kamu tidak mau menjadi istriku?" Goda ilham.
"Sudah ah, turunin aku!" Protes siti yang pada akhirnya tetap digendong ilham.
Sampailah mereka mendekati meja tempat keluarga mereka.
"Mama mila" Panggil siti
Mama mila menoleh, melihat siapa yang memanggil. Ada rona bahagia di wajah keduanya.
Mama mila memeluk Siti, calon menantunya yang disayanginya.
"Kamu apa kabar, nak? Mama kangen sekali sama kamu. Kamu lama dijakarta tapi nggak pernah kerumah, mama nggak ada temen buat masak kue."
Tangan mama mila terus membelai rambut Siti. Layaknya seorang ibu kepada anaknya. ilham melihat pemandangan itu merasa terharu. Dia tahu mamanya sangat sayang pada Siti.
__ADS_1
"Tunggu...Tiara mana,ham? Bukannya kamu tadi mau bertemu Tiara." Mama mila mencari gadis yang dikenalkan pada ilham.
Mama mila takut gadis itu marah kalau ilham bersama Siti. Dia juga tidak enak pada keluarga ford.
Ilham tersenyum pada mamanya "Disebelah mama." ilham menunjuk gadis yang masih menggelendot manja dengan mama mila. Mama mila dan Siti saling melempar senyum.
Tante Fatimah tak kalah kaget saat tahu siapa Rama. Dulu dia memandang ilham sebelah mata, karena mendengar cerita versi kakaknya. Tapi hari ini, Fatimah melihat betapa sayangnya Mila pada putrinya. Hal itu membuatnya sedikit tenang. Fatimah yakin putrinya tidak akan mengalami jahatnya mertua. Dia juga melihat ilham sangat sayang pada Siti.
Lain dengan ibu, dia tetap belum respect pada ilham. Ibu dengan kekerasan hatinya hanya diam saja. Tak ada respon apapun dari wanita itu. Pikirannya mengatakan bahwa ilham bukan lelaki yang bertanggung jawab.
"Jadi bagaimana?" Tanya papa pram pada tante Fatimah.
"Assalamualaikum, semuanya." Semua menoleh kearah suara.
Tampak ilham sudah memegang mic diatas panggung music resto. Semua yang ada di dalam resto menatap pria tampan tersebut. Dia beberapa kali berdehem untuk memantapkan suaranya. Sesekali menghempas nafas dan berdoa.
"Assalamualaikum, yang terhormat pemilik cafe ini, yang terhormat kedua orangtua saya, yang terhormat calon mertuaku, yang terhormat para pengunjung disini, dan yang terakhir wanita yang sangat aku cintai, Siti Marlina. Hari ini saya yang bernama Ilham Ramadhan, meminta izin pada kedua orangtua saya, untuk memberi restu pada gadis saya, menjadi menantu kalian. Ma...Pa..Ilham minta restu pada kalian untuk mempersunting Siti atau yang kalian tahu adalah Tiara.
Ma..Pa.. ilham cinta sama siti. ilham menjalani hidup bahtera rumah tangga yang bahagia bersama siti.
"Ma .. Pa .. bukan sebentar aku mengenalnya. Kalian tahu kan bagaimana perjalanan cintaku dengan beberapa wanita, dan dia juga saksi dari perjalanan itu. Dia yang dulu suka menasehatiku dengan kebawelan, dia yang dulu suka memarahiku setiap aku bermasalah dengan pacarku terdahulu, dia yang selalu sabar mengajarkan aku mengaji, walaupun pada akhirnya dia tahu aku mengerjainya."
Salah seorang staf resto menuntun Siti naik keatas panggung. Di tatap seluruh yang hadir diresto, ilham membungkuk membuka sebuah kotak berbentuk hati.
"Untuk kesekian kalinya aku meminta padamu, nona Tiara. Will you marry me .... mau kah menjadi istriku? Menjadi pendampingku sampai maut memisahkan."
Hening. Tiara memandang kearah ibunya. Terlihat senyum diwajah ibu, seolah memberi sinyal restu pada mereka. Tiara tersenyum lega. Matanya kembali beralih kearah Ilham yang masih menunggu jawaban.
"bismillahirrahmanirrahim... yes, i will marry you" ucap Tiara disambut tepuk tangan dari semua pengunjung.
"Jeng, Kapan kami bisa datang ke rumah? melamarkan Siti untuk anak kami" Tanya mama mila pada tante Fatimah.
"Bagaimana kalau sabtu saja, jeng. Karena suamiku mau ke indonesia" Usul tante Fatimah.
"Oke, Besan." mama mila menyalami tante Fatimah.
bersambung
...#####...
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
__ADS_1
Kalau berkenan bantu vote dan hadiahnya