
"Kamu ingat nggak,ti? saat pertama kali kita bertemu. Dimana ada seorang gadis manis sewot terus tiap bertemu aku."
Siti mengulum senyum mengingat awal pertemuannya dengan Ilham. Kala itu status Ilham ada tunangan Gita, bagi Siti saat itu Ilham perebut pacar orang. Ilham tahu kalau Gita masih dibayangi hubungannya dengan Alam. Tapi lelaki itu malah berusaha menjauhkan Gita dari Alam. Sejak itu pandangan Siti jelek terhadap Ilham. Apalagi sejak tahu kalau Ilham melecehkan Gita karena cemburu sama Alam.
"Iya aku ingat, mas. Aku ingat kamu itu nyebelin suuuper nyebelin!"
"Dan cowok nyebelin itu sekarang adalah suamimu" Suara Ilham terdengar percaya diri.
"Iya, kok bisa ya cintanya sama kamu."
"Itulah namanya Jodoh,ti. Kayak perjalanan cinta kak Alam sama Gita. Yang kelokannya melebihi kelok jalan yang dipadang itu."
"Dan sekarang mereka kembali melewati kelok itu lagi." Jawab Ilham.
"Mereka? Ah, iya aku tahu yang kamu maksud, mas. Itu yang namanya perjuangan. Bukan yang suka kasih harapan ke perempuan lain." Sindir Siti ketika mengingat begitu mudahnya Ilham dekat dengan Jihan saat mereka terpisah.
Siti masih risih dengan pandangan matanya yang gelap. Tangannya pun terikat layaknya tawanan penyamun. Tak terasa matanya mulai menurunkan tensinya. Akhirnya Siti tertidur dengan nyenyak.
Ilham melihat sang istri tertidur hanya tersenyum tipis. Paling tidak sampai tujuan mereka.
Tujuh tahun yang lalu ada sepasang anak manusia yang dilanda kegalauan. Galau karena nasib percintaan mereka diujung tanduk, galau ketika mereka dihadapkan kenyataan bahwa dipilihkan pasangan dari orangtuanya, galau ketika mereka harus menghentikan perjuangan cinta yang sudah terlampau jauh. Saat itu hanya pasrah yang mereka rasakan.
Tujuh tahun yang mereka diberikan kejutan tak terduga. Dimana mereka yang awalnya dikira tak berjodoh. Ternyata mereka berakhir duduk bersama dipelaminan. Memulai sebuah hidup yang baru sebagai suami istri. Menjalani sebuah babak baru dalam suka maupun duka, tangis tawa mereka lewati bersama. Bagi Ilham yang sudah mereka raih sekarang adalah buah dari perjuangan mereka.
Salju mulai menutupi jalanan. Ini tahun kedua Ilham melihat salju secara langsung, sedangkan lima tahun sebelum dia terlalu sibuk dengan kuliahnya dan ketiga buah hatinya. Ini adalah salju perpisahan karena tak lama lagi akan pulang ke indonesia.
Sekarang mumpung punya waktu dia akan menikmati salju terakhirnya. Saat ini dia hanya ingin berdua dengan Siti, wanita yang sangat dicintainya.
Tiba mobilnya terhenti disebuah ruko. Ilham keluar dari mobil untuk membeli beberapa cemilan.
"Mas, sudah sampai, ya? Kok masih gelap sih?" Siti terbangun menyadari penutup mata dan tangannya belum dilepas.
__ADS_1
Siti mengira dirinya sengaja ditinggal suaminya. Lagi-lagi dia mengira Ilham pergi dengan Mauren.
"Jahat kamu, mas. Sengajakan kamu ninggalin aku sendirian, biar kamu bisa ketemu sama nona belanda itu, kan. Hiks .... hiks .. hiks.."
Siti terus menangis merasa suaminya sudah tak peduli lagi. Siti dirinya ditinggalkan suaminya hanya untuk bertemu dengan Mauren.
"Sayang, kamu kenapa?" Siti berhenti menangis setelah mendengar suara Ilham.
"Kamu kemana saja, Mas. Ketemuan sama perempuan itu, Iya kan?" Tuduh Siti.
"Aku beli makanan sayang. Kamu tuh suudzon terus sama aku. Sekali sekali hudsnuzon. Karena omongan adalah doa."
"Oooo... jadi kamu mau aku doakan seperti itu?"
"Huft .... salah lagi" gerutu Ilham sambil kembali melajukan mobilnya.
Mobil yang dikemudikan Ilham masih melaju ke suatu tempat. Ilham masih fokus dengan kemudi sesekali melirik istrinya yang masih ngambek. Ilham memasang headset untuk menelepon Grandma Carry demi mengontrol keadaan anak-anaknya.
"Kamu tenang saja. Anak-anak aman, kok. Sudah fokus saja sama liburan kalian. Ini kan hari anniversary kalian, jadi nikmati masa indah kalian." Carry berusaha menenangkan anak angkatnya.
"Ya, udah, mommy. Mommy jangan diforsir, kalau lelah bisa gantian sama Dita. Dita bisa kok jaga Zalika." sahut Ilham.
Ilham menyimpan headset ke kantong kemejanya. Lalu kembali menggoda sang istri yang masih mode ngambek.
"Mas, kamu tenang saja. Aku yakin mommy bisa jaga anak-anak. Apalagi kalau Dita yang bantu."
"Mas?"
"Iya"
"Sebenarnya kita mau kemana, sih? Kalau mau jalan-jalan kan ajak anak-anak kan bisa. Masa mereka ditinggal. Liburan keluarga itu harus lengkap."
__ADS_1
"Ini anak kita juga ikut." Ilham menunjuk perut istrinya.
"Aku ingin berdua saja sama kamu,ti. Sebagai permintaan maafku soal dirumah sakit tadi. Soal kurangnya waktuku buat kamu. Aku tahu kok kamu masih marah. Tapi please, izinkan aku menebus semua kesalahanku."
Siti sadar hari-harinya lebih banyak dirumah. Kesibukan sebagai ibu rumah tangga membuatnya lupa kalau dia butuh waktu bersama suaminya. Ilham pun menyadari kalau dirinya masih sedikit punya waktu berdua bersama istrinya.
Ilham memberhentikan mobilnya kemudian membuka penutup mata dan ikatan tangan istrinya. Kedua tangannya menggenggam erat seakan tak ingin lepas. Siti yang tadinya kesal berubah sedikit melunak.
"Ti, maafin aku jika dalam tujuh tahun pernikahan kita belum jadi suami yang baik buat kamu. Maafkan aku yang masih ngelarang kamu untuk bekerja. Itu semua aku lakukan karena tidak ingin memberatkan kamu. Jadi orang kantoran itu nggak enak,ti."
Siti menundukan kepalanya. Sekarang dia sadar kalau anak-anak masih membutuhkan perhatian mereka. Dia sadar kalau selama ini merasa egois karena iri melihat orang lain yang bisa berkarir.
"Maafkan aku, Mas. Aku sadar selama ini terlalu memaksakan diri. Tuhan menegurku dua kali, itu tandanya tidak diizinkan."
Senyum mengembang pada keduanya. Ilham mengecup kening istrinya lebih lama.
"Mulai sekarang kalau ada masalah kita selesaikan baik-baik, ya. Nggak usah kabur-kaburan lagi seperti tadi. Kasihan anak-anak kena imbasnya. Aku akan mengurus kepindahan kita, seperti keinginan kamu untuk melahirkan di indonesia."
"Makasih, mas." Siti memeluk suaminya.
"Mas, salju!" Mereka melihat salju yang mulai turun ke bumi.
"Pake jaket, sayang. Sebentar lagi pasti udara dingin sekali." Ilham menutupi tubuh istrinya dengan jaket tebal.
"Mas, kita turun yuk. Aku mau menikmati salju."
"Ti, tujuan kita masih jauh. Nanti, ya."
"Nggak mau! aku mau turun disini. Ayo lah, mas sebentar aja! kan yang mau dia!" Rengek Siti menunjuk perutnya.
"Heeeh... pinter ya cari alasan." Ilham mencubit hidung Siti.
__ADS_1