
Assalamualaikum semua pembaca disini.
Terima kasih sudah sempatkan mampir di karya saya. Ya walaupun tidak sekeren yang pemes. Tapi insyaallah bisa menghibur anda semua.
Maaf ini bukan up, saya mau promosi novel terbaru saya. Lanjutan novel SAYEMBARA JODOH. Jika ada kesempatan boleh lah mampir. Insyaallah, cerita ini dikemas menarik.
Saya mau memperkenalkan novel lanjutan sayembara jodoh kisah mereka di karya baru saya.
SEMESTA MERESTUI KAMI
SINOPSIS:
Selagi masih ada cinta, pasti masih ada jalan untuk pulang.
Sebuah keyakinan yang membuat Dira tetap yakin bahwa suaminya masih hidup dan suatu saat akan kembali. Tak peduli meski semua orang menganggap Arjuna telah meninggal dalam kecelakaan, tetapi selama jasad belum ditemukan, Dira percaya suaminya masih bernyawa.
Setahun dalam penantian, Dira dipertemukan dengan Sandi—seorang lelaki yang sangat mirip dengan Arjuna. Dira bersikeras menganggap Sandi sebagai Arjuna, tanpa mau tahu dengan status lelaki itu.
Sampai akhirnya, waktu yang menjawab segalanya, mengungkap siapa Sandi dan apa hubungannya dengan Arjuna.
Jika semesta merestui kami pasti akan bersama lagi
~Dira~
blurb :
Malam ini aku terbangun mendengar suara gelegar petir. Suara gerimis terdengar sangat kencang. Kilat mengerjap dan halilintar menyambar. Suasana di rumah sakit tampak begitu lenggang. Netraku beralih pada kaca rumah sakit yang basah di guyur hujan.
"Ma, mas Juna mana?" tanyaku.
"Suamimu tadi dapat kabar, kalau papanya jatuh sakit. Jadi dia ke Lembang, dia menitipkan kamu sama mama."
"Ma, aku merasa sesuatu yang tidak enak?"
"Kamu hanya tidak biasa jauh dari Juna. Nanti setelah kamu pulih, mama izinkan kamu ikut sama Juna ke Lembang."
"Tapi bagaimana dengan pekerjaanku?"
"Ada mama, ada kakakmu Feri. Kamu tenang saja."
Aku melihat mama mendapatkan telepon entah dari siapa. Aku tidak tahu kenapa perasaanku gelisah. Satu yang ku pinta darimu ya Allah, lindungilah suamiku dimanapun dia berada.
"Assalamualaikum, Dira."
"Waalaikumsalam, Eta. Terimakasih sudah datang menjenguk aku."
"Sama-sama, Ra. Kamu yang sabar, mungkin si debay belum rezeki, lagian kalian masih banyak waktu untuk bikin lagi."
Aku mendengar suara orang berdebat di luar pintu ruang rawat. Entah apa yang apa yang mereka ributkan. Aku seperti mengenal pemilik suaranya. Ya, itu suara mama dan kakakku.
"Mama mohon jangan sekarang kabari Dira."
"Cepat atau lambat Dira harus tahu, ma."
"Tapi situasinya sedang tidak memungkinkan, Dira baru semalam di operasi."
"Sampai kapan, ma. Sampai dia nanti tahu kalau sekarang dia sudah jadi janda."
Deg! janda! apa-apaan ini! aku bukan janda, aku masih punya suami. Kenapa mereka bilang aku sudah jadi janda.
Entah kenapa aku membuang rasa bingungku dengan membuka televisi. Entah kenapa jantungku seperti berdetak kencang.
"Pemirsa telah terjadi kecelakaan tunggal di simpang desa Mening agung. Mobil dan pemiliknya jatuh ke dalam jurang yang dalam. Di pastikan mobil dan pemiliknya masuk ke dalam danau. Saat ini mobil sudah di evakuasi. Hanya saja pemiliknya masih dalam pencarian."
__ADS_1
Mobil itu!
Tidaaaak!
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Rasanya ada sesak yang aku rasakan.
Mas Juna kenapa kamu pergi di saat aku membutuhkan kamu.
Kenapa aku berada pada permasalahan yang tidak pernah adil buatku!
cuplikan :
Satu tahun yang lalu
Semesta merestui kami
Part 1
satu tahun yang lalu
{Sayang, maaf aku belum bisa pulang. Masih ada urusan di pabrik. Kamu kalau takut sendirian nginap sama mama Dewi saja.}
Dira membawa pesan yang dikirim suaminya. Netra memperlihatkan kekesalan. Dimana saat dirinya membuka mata di malam hari, suaminya belum menjemputnya ke rumah mamanya.
Di lemparnya handphone keatas ranjang. Dengusan kekesalan semakin menjadi. Dira menyandarkan kepalanya di dashboard ranjang. Pikirannya menerawang seakan kata-kata kakaknya kembali berputar.
"Apa benar dia ada something sama sekretarisnya? tapi ada benarnya kata kak Feri. Kalau dia saja bisa pindah dari Delia ke aku, bisa jadi dia juga bisa buka hati untuk Maria.
Ah, tidak Dira jangan suudzon sama suamimu. Selama satu bulan menikah, Mas Juna tetap memperlakukan aku dengan baik."
Dira membuka salah satu artikel tentang ciri-ciri perselingkuhan suami. Entah kenapa sejak tahu kalau Maria pernah suka sama Juna di masa SMA, membuat Dira semakin curiga. Dalam bayangannya, suaminya tertawa bahagia bersama Maria.
(Dalam khayalan Dira)
"Istriku percaya kok sama aku jadi tenang saja, sayang." Juna mengelus pipi tirus Maria.
Maria memancing Juna dengan mengelus tubuh lelaki itu. Juna sepertinya terpancing dan mulai bereaksi. Keduanya melepaskan hasrat seksual mereka. Maria tersenyum menang. Dia merasa sudah memiliki Juna seutuhnya.
Kejadian yang berputar dalam khayalan Dira. Membuat wanita itu menangis, dia terus menutup telinga seakan takut khayalannya menjadi nyata.
"Nggak! Nggak!" Dira terasa sesak. Tubuhnya menjorok ke pinggir ranjang.
Dira berjalan menuju ke kamar mandi. Tangannya mengerutkan dahinya, serasa ada kupu-kupu yang berputar di hadapannya. Perutnya terasa seperti naik, kaki nya hendak melangkah menuju kamar mandi. Dira merasa pandangannya semakin gelap. Dan tak tahu lagi apa yang terjadi, tubuhnya sudah merasa lemas. Pada akhirnya Dira tak sadarkan diri di lantai depan kamar mandi.
Pagi ini, mama Dewi sudah masak untuk ketiga anaknya. Tampak Vira sudah bangun dan membantu mamanya di dapur.
"Kak Dira jadi di jemput sama kak Juna, Ma?" tanya Vira.
"Enggak, sayang. Tadi malam Juna menelepon mama. Katanya dia masih banyak kerjaan. Tidak bisa pulang ke Jakarta." kata mama Dewi sambil meracik bumbu opor ayam.
"Ya, kalau tahu begitu aku sudah tidur nemenin kak Dira. Kasihan tahu, tadi malam aku lihat kak Dira kayak orang sakit. Pucat sekali."
"Mama yakin kalau Dira itu sedang hamil. Hanya saja dia belum menyadari gejala itu." kata mama Dewi.
"Kak Juna keren, baru sebulan menikah dia sudah kasih cucu buat mama."
"Alhamdulillah, patut di syukuri, nak. Berarti Tuhan sudah mempercayakan mereka dengan memberi amanat."
Mama Dewi meminta Vira membangunkan Dira di kamar balkon. Tak berapa lama Vira pun menuruti perintah mamanya.
Ceklek!
Vira menebak kakaknya tidak mengunci pintu karena menunggu jemputan Juna. Vira menghentikan langkahnya melihat tubuh kakaknya tergeletak di depan kamar mandi.
__ADS_1
"Ya Allah, Kak Dira."
"Mamaaaaa... kak Feri ......" Pekik Vira.
Tak berapa lama, mama Dewi dan Feri mendekati kamar Dira.
"Ya Allah, kakakmu kenapa, nak?"
"Nggak tahu, ma. Pas Vira buka pintu sudah seperti ini."
Feri dengan cekatan menaikan tubuh Dira ke atas ranjang. Tampak wajah Dira terlihat pucat. Mama Dewi duduk disamping putrinya. Feri pun terlihat menelepon seseorang.
"Assalamualaikum" suara seorang wanita terdengar di depan pintu kamar Dira.
"Masuk, dok." Mama Dewi mempersilah dokter masuk ke kamar Dira.
Dokter yang bernama Melati tersebut mulai memeriksa Dira yang masih tak sadarkan diri. Feri melihat raut mama dan adiknya cemas. Helaan nafas berat terdengar dari bibir lelaki itu.
"Bagaimana keadaan adik saya, dok?" tanya Feri.
Dokter tersenyum menatap orang-orang di ruangan tersebut.
"Selamat kalian akan kedatangan keluarga baru." kata dokter.
"Dira saat ini sedang mengandung dua minggu. Tolong di jaga Dira-nya. Jangan banyak melakukan aktivitas berat."
"Oh ya, apa ini suaminya." dokter menunjuk kearah Feri.
"Oh, bukan. Saya kakaknya. Suaminya sedang dinas di luar kota." jelas Feri.
"Oh begitu. Maaf saya tidak tahu. Seandainya ada suaminya saya perlu bicara dengan dia. Karena kehamilannya masih sangat muda. Di sarankan jangan banyak aktivitas." kata Bu dokter.
"Iya, dok. Terimakasih, nanti saya sampaikan ke suaminya." jawab Feri.
"Saya pamit dulu, ya. Selamat buat Dira, ya bu." kata dokter menyalami mama Dewi.
Sepeninggalan Dokter Melati, Mama Dewi duduk di samping putrinya. Tangannya mengelus pucuk rambut putrinya. Mama Dewi memeluk putrinya yang masih terlelap dalam tidur panjangnya. Ada rasa bahagia ketika mendengar putrinya sedang mengandung. Bulir-bulir air matanya menetes mengenai wajah Dira.
Tak berapa lama Dira pelan-pelan membuka matanya. Dia sedikit heran kenapa semuanya berkumpul di kamar. "Mas Juna mana?" tanya Dira.
Semua yang ada di kamar bertukar pandang. Mereka juga tidak tahu kabar Juna. Feri yang sedari tadi menghubungi Juna, terdengar mengumpat.
"Sialan Juna, saat seperti dia malah susah dihubungi. Sedang apa sih, dia?"
"Kak," panggil Dira.
"Iya, Dira." Feri berjalan mendekati adiknya.
"Nggak usah dihubungi. mungkin kak Juna lagi sibuk. nanti biar aku saja yang mengabari dia." kata Dira.
"Ma, Dira mau ke kantor. Hari ini ada pertemuan dengan Nona Angel, putri bupati Bandung barat. Katanya dia mau bekerja sama dengan perusahaan kita tentang pengolahan limbah sampah." kata Dira.
"Jangan, nak. Kamu masih kurang sehat. Biar kakakmu yang mengurusi pertemuan itu." kata Mama Dewi. "Kamu fokuskan tentang kandunganmu saja." tambah Mama Dewi.
"Kandungan? jadi aku hamil, ma?" mama Dewi mengangguk.
"Iya, nak. Kamu hamil dua minggu." kata mama Dewi.
Dira menyandarkan kepalanya di bahu mamanya. Dia bahagia dengan kabar kehamilannya. Tapi dia ingin kabar kehamilan pertama yang tahu suaminya, bukan keluarganya. Ya meskipun begitu, dia tetap mensyukurinya. Tangannya mengelus perut yang masih rata.
"Selamat datang anak mama."
__ADS_1