Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
8. tujuh


__ADS_3

Masih flashback sebelum lamaran


Jam menunjukkan pukul 03:00, bis berhenti di sebuah rumah makan di daerah perbatasan lintas sumatera. Siti dan Jo yang masih tertidur di kursi bis. Kepala mereka saling menyender satu sama lain. Tubuh Siti yang di tutupi jaket milik Jonathan.


Tak lama Jo terbangun, diliriknya gadis itu yang masih tertidur lelap. Para penumpang sudah pada turun, tapi masih ada sebagian yang masih tertidur. Jo menatap wajah Siti yang masih pulas. Senyumnya mengembang, ada rasa bahagia yang membendung di hatinya.


Kamu sadar nggak sih, kalau pertemuan kita ini menandakan berjodoh. Padahal aku awalnya cuma mau pamit sama orangtuamu, pamit agar dapat restu untuk menikahimu. Tapi ternyata kamu punya keinginan pulang.


kamu sadar nggak sih, kamu itu sebenarnya cantik. ya, walaupun nggak secantik Vika, walaupun nggak seimut Gita. Tapi kamu beda, ada aura yang terpancar dalam dirimu. Itu yang membuat aku jatuh cinta sama kamu.


Jo membelai rambut Siti yang pendek ikal sebahu. Lalu berdiri turun karena panggilan alam menuntunnya ke kamar mandi.


Sementara saat siti tertidur, sebuah mimpi menghampirinya, di dalam mimpinya Siti melihat Ilham cuek melintas di depannya. Siti berusaha mengejar Ilham, meminta penjelasan kenapa cuek dengannya. Tapi Ilham cuma tersenyum lalu pergi begitu saja. Siti berlari mengejar Ilham sambil memanggil nama lelaki itu.


"Ilham!" Siti tersadar kalau dia masih di dalam bis.


Ya Allah! Apa yang terjadi pada Ilham! Semoga dia sehat wal Afiat. Semoga saja dengan kepergianku ini membuat dia sadar. Tapi kalau sampai dia tidak datang mencariku, itu artinya kami tidak berjodoh.


Ah, seandainya kamu tahu apa kesalahan terbesarmu. Tapi sepertinya percuma, kamu itu nggak akan pernah peka. Kamu sadar nggak sih,ham. Kamu memang bukan lelaki pertama di hatiku, tapi kamu lelaki pertama yang menorehkan luka di hatiku.


Btw, om Jo mana ya? Kok nggak ada di kursi. Ah, peduli amat sih. Dia udah gede juga, ntar balik sendiri.


Siti turun dari bis, lalu duduk di kursi panjang dekat rumah makan. Matanya masih mencari keberadaan Jo. Tak lama Jo muncul sambil membersihkan giginya dengan lidi. Keduanya tersenyum saat mata mereka bertemu. Jo duduk disamping siti, mengikuti tatapan Siti melihat langit bertabur bintang.


"Kamu nggak makan, ti." ucap Jo masih sambil mengorek giginya.


Siti merasa lucu dengan lelaki disampingnya. Tak ada rasa jaim dalam diri Jo. Siti membantu Jo membuang bekas cabe yang menempel di gigi lelaki itu. Jo menatap Siti dengan pandangan cinta. Kepala Jo mendongak ke wajah Siti, menikmati indahnya bibir gadis, dan Siti menikmati setiap gigitan dari bibir lelaki itu.


"Om!" panggil Siti mengagetkan Jo.


Ah, ternyata itu hanya lamunan belaka. Kalau dia tidak sadar mungkin dia sudah khilaf pada gadis itu.


"Iya,ti." jawab Jo dengan lembut.


"Itu cabe nya masih nempel." Siti menunjuk ke arah gigi Jo.


tiiiiiiit tiiiiiiit ....


Suara klakson bis, menandakan penumpang harus kembali ke dalam bis. Siti merasa kakinya kram untuk berjalan. Dengan sigap Jo menggendong ala bridal style. Saat sampai di dalam bis, Siti mengucap terimakasih pada Jo yang mau menolongnya.


"Apa yang nggak buat kamu?" jawab Jo sambil tersenyum simpul. Lesung pipinya membuat Siti tersipu melihatnya.


Siti langsung teringat dengan Ilham. Karena kekasihnya itu juga memiliki lesung pipi yang khas.


Siti merogoh hp nya, ternyata lowbat. Padahal dia ingin mengabari Ilham tentang keberadaannya. Tapi di urungkannya.

__ADS_1


Setelah perjalanan panjang mereka akhirnya Siti sampai di depan rumahnya. Di temani Jonathan, Siti mengetuk pintu rumahnya yang berlapis kayu dan beton.


Sebuah decitan pintu terbuka. Ada ibu yang berdiri di depan pintu. Mata ibu tertuju pada lelaki yang berdiri di belakang Siti.


"Ya, Allah nak Jo." Ibu langsung berhambur memeluk Jonathan.


Siti kaget, bukannya menyambut dirinya malah nyamperin Jonathan.


"Ayo, nak masuk." ibu mengajak Jonathan masuk ke dalam rumah.


Siti mendengus kesal. Ibu berbalik menatap Siti


"Kok kamu diam aja. Ayo masuk! Buatin tamu kita minum." Perintah ibu.


"Ini sebenarnya yang anaknya siapa sih?" jawab Siti kesal.


"Aduh, nak Jo. Kamu tambah tinggi aja. Tambah ganteng. Mirip itu yang disinetron yang sering ibu nonton." celoteh ibu yang terus memuji Jonathan.


Siti duduk di samping tempat tidurnya. Membuka hp nya, ada banyak panggilan dari Ilham. Sesekali menarik nafas. Menatap photo kebersamaan mereka. Manik matanya mengguratkan rasa bersalah.


✉️ Ilham


Siti kamu kemana?


✉️ Ilham


✉️ Ilham


please maafkan aku soal di cafe itu. Siti please!


Siti menatap beberapa pesan singkat dari Ilham. Dia ingin menenangkan diri dulu. Menata hatinya yang terlanjur sakit.


Kenapa harus jatuh cinta sama kamu, ham. Padahal dari awal aku juga sudah tahu bagaimana perasaanmu.


Ya, aku akui, aku yang bodoh. Bodoh karena terperdaya dengan ketampananmu.


aku yang bodoh, karena percaya dengan kata-katamu yang belajar melupakan Gita.


Siti keluar dari kamar dengan wajah sedikit sembab. Ibu yang melihat langsung bertanya pada putri bungsunya.


"Kamu kenapa, ti?" tanya ibu saat melihat wajah Siti yang sembab.


"Tadi, Bu. Saat saya bersihkan lemari, ada debu masuk ke mata. Pedih, Bu." Ucap Siti berbohong pada ibunya.


"Ya, udah sini ibu tiup matamu." ibu meniupkan ke mata Siti.

__ADS_1


Maafkan Siti,Bu. Siti sudah bohong sama ibu.


Siti membuang sampah ke halaman depan. Ada Jo yang duduk di dekat pondok samping rumah. Siti duduk di samping Jo, sedangkan Jo sibuk memotret suasana kampung Sukasari. Siti mencolek Jo, reflek Jo langsung mengarahkan kameranya ke arah Siti. Karena kaget, Siti menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kan cantik." ucap Jo memperlihatkan hasil jepretannya pada Siti.


"bisa aja sih om."


"Om?" Siti memulai obrolan dengan Jo.


"Iya." jawabnya masih sambil memotret.


"Gimana hubungan om dengan kak Vika?"


"Kenapa menanyakan itu?" Jo masih sibuk mengecek kameranya, lalu kembali memotret.


"Nanya aja."


"Aku udah putus dengan dia." jawab Jo singkat.


"Oh, jadi pacar Om yang mau ditemui sekarang."


Siti sendiri heran kenapa dia kepo sekali dengan urusan Jo.


"Belum pacaran sih. Tapi mau melamar dia langsung. Aku ini sudah tua, ti. nggak zamannya lagi pake pacaran, kalau cocok langsung ajak nikah aja."


"boleh aku tahu siapa gadis itu? Katanya orang Sarolangun."


"Kamu kenal sekali dengan dia,ti."


"Siapa?"


"Siti sudah mau Magrib ajak Jo masuk ke dalam rumah." Panggil ibu.


Mereka masuk ke rumah beriringan. Jo masuk ke kamar Edwar. Sampai saat mereka hendak ke Mesjid.


"Siti? kamu mau tahu kan siapa gadis itu." ucap Jo tiba-tiba.


"Aduh, om. ini sudah mau Maghrib. Pamali ngobrol menjelang jam sholat." elak Siti.


"Bu? Sehabis sholat saya mau bicara sama ibu. Penting!" ucap Jo.


...#####...


Kira-kira apa yang mau Jo bicarakan dengan ibunya Siti.

__ADS_1


Tetap pantengin cerita ini ya?


Maaf ya ceritanya masih dalam tema flashback


__ADS_2