Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
113. Dinner


__ADS_3

Tiara duduk memandang langit pantai ancol yang berhadapan dengan hotel. Angin yang berhembus kencang. Sinar matahari masih menyisakan pantulannya sebelum berganti tugas dengan sang cahaya malam.


Tampak hamparan pasir, beberapa muda muda atau keluarga yang bermain di sekitar pantai. Ombak kecil yang menggulung pinggir pantai. Membuatnya tenang sambil menikmati angin sepoi-sepoi.Tak jauh dari lokasi tampak gedung-gedung bertingkat. Berdiri kokoh saling berhadapan.


Saat ini tiara masih dihotel. Dia mulai jenuh hanya dikamar saja. Sedangkan suaminya mendapat telepon dadakan dari rumah sakit. Padahal yang dia tahu Ilham sudah mengambil cuti untuk satu minggu. Dia tidak bisa mencegah namanya tugas negara.


Sudah dua hari aku disini, terasa tenang dengan hiburan ombak pantai.


Aku ingin pulang. Berkumpul dengan semua keluargaku.


Aku rindu Sukasari. Rindu dengan suananya yang tenang.


Tapi kalau aku kembali ke sana. Apa mereka masih mau menerimaku. Setelah kekacauan yang di buat mama Linda dulu.


Ibu saja sampai sekarang tak berani pulang kesana.


Tiara terus bermonolog sambil memandang deburan ombak. Rasanya ingin bermain disana, berlari kecil mengejar ombak. Tapi hasrat itu tertahan karena takut terjadi sesuatu pada dirinya.


Netranya berputar pada dua anak lelaki yang bermain bola di sekitar pantai. Tawa riang dua anak tersebut menjadi hiburan tersendiri baginya.


Kakinya melangkah mendekati dua anak tersebut. Mencoba berinteraksi dengan salah satu dari mereka.


"Hai, kakak boleh ikut main?"


Dua anak tadi saling memegang. Seperti orang ketakutan mereka langsung berlari meninggalkan dirinya.


Tiara hanya menggeleng saat dua anak tersebut menghilang dari pandangan.


Saat berbalik ada seorang lelaki asing menyapanya.


"Permisi bu Tiara. Perkenalkan nama saya Tomo. Saya diamanatkan menjemput bu Tiara ke rumah sakit."


"Siapa yang suruh?"


"Mas Rama, bu. Saya akan tunggu ibu di bawah, Ibu kalau mau bersiap-siap silahkan."


"Oke. Tunggu saya dibawah."


Tiara masuk kedalam hotel lalu kakinya berjalan menuju lift. Tangannya menatap handphone guna melihat waktu. Setelah keluar dari lift Tiara memasuki kamarnya.


Ada dua wanita yang sudah berada di sana.


"Kalian siapa masuk kamar saya?."


"Maaf, bu Tiara. Saya di tugaskan pak Rama untuk me make over anda."


"Make over?" Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tanpa basa basi Tiara dituntun ke kursi yang menghadap meja. Wajahnya dipoles sedemikian rupa. Tiara sempat mewanti sangg perias agar dibuat natural. Setelah beperia!ku dengan beberapa alat make up. Kini dirinya su dah siap berangkat menemui suaminya.


Mas Ilham melakukan ini pasti untuk memberi kejutan untukku.


Tapi apa ya, yang dia rencanakan saat ini.


Ah, lebih baik kuikuti saja alurnya.


Tiara sudah berada didalam mobil yang akan mengantarkannya ke tempat kerja suaminya. Perasaannya masih deg-degan, dalam hatinya masih bertanya - tanya apa yang sedang direncanakan suaminya.


Mobil berhenti dirumah sakit. Pak tomo membuka pintu mobil lalu menuntun Tiara mas!uk ke dalam rumah sakit. Tiara berjalan melewati tatapan demi tatapan karena penampilannya. Dirinya mencoba cuek walaupun sedikit penasaran dengan apa yang terjadi.


Tak lama ada Toni yang menggantikan pak Tomo membimbing langkah kakinya Tiara.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa sih?" Tiara masih mempertanyakan yang sebenarnya terjadi.


sede


"Pokoknya kamu terima beres nyonya Ramadan." Ucap Toni disertai dengan senyum khasnya.


Tiba di pintu menuju rooftop. Tempat biasa dirinya memadu kasih dengan suaminya.


"Kamu suka?"


Tiara mengatup mulutnya. Menandakan dirinya sangat terharu dengan kejutan suaminya. Matanya memandang kagum pada tempat itu. Rooftop rumah sakit yang sering mereka datangi sekarang berubah menjadi tempat cantik. Lampu warni dengan meja makan di hiasi dengan lilin.


"Ya, Allah keren banget. kamu siapin semua ini, mas."


Tiara memandang suaminya yang berdiri di dinding pembatas. Lelaki itu hanya tersenyum saat istrinya memandangnya. Langkah kakinya berjalan mendekati sang istri yang masih terpesona.


Lalu memegang pinggang Tiara seperti hendak berdansa. Tangannya menjentik keatas, tak berapa beberapa orang memegang biola, lalu ada seorang pria yang bernyanyi mengiringi dansa mereka.


Dia, hanya dia di duniaku


Dia, hanya dia di mataku


Dunia terasa telah menghilang


Tanpa ada dia di hidupku


Sungguh sebuah tanya yang terindah


Yea-yeah, bagaimana dia merengkuk sadarku


Tak perlu ku bermimpi yang indah


Karena ada dia di hidupku


Ku ingin dia yang sempurna (yang sempurna)


Ku ingin hatinya, ku ingin cintanya


Ku ingin semua yang ada pada dirinya


Ku hanya manusia biasa (yang biasa)


Tuhan, bantu ku 'tuk berubah ('tuk berubah)


'Tuk memiliki dia, 'tuk bahagiakannya


'Tuk menjadi seorang yang sempurna untuk dia.


Uh...


Oh, uh-oh


Ku ingin dia yang sempurna (yang sempurna)


Untuk diriku yang biasa


Ku ingin hatinya, ku ingin cintanya


Ku ingin semua yang ada pada dirinya


Ku hanya manusia biasa (yang biasa)

__ADS_1


Tuhan, bantu ku 'tuk berubah ('tuk berubah)


'Tuk memiliki dia, 'tuk bahagiakannya


'Tuk menjadi seorang yang sempurna untuk dia


Untuk dia


*


*


*


"Selamat ulang tahun, sayang. Semoga panjang umur sehat selalu. Jadi istri yang sholehah, jadi ibu untuk anak kita. Jadi penerang dalam rumah tangga kita.


Dan I love you."


"Terimakasih, mas. Maaf aku belum menjadi istri yang baik buat kamu."


Cup!


"Kamu itu adalah wanitaku yang terbaik. Tidak ada istri yang lebih baik dari kamu, sayang. Kamu selalu buat aku jatuh cinta, setiap detik, setiap menit, dan selamanya."


Tiara tersenyum simpul saat mendengar rayuan suaminya.


Selesai berdansa, Ilham menuntun Tiara untuk duduk di meja makan yang sudah disiapkan. Mereka saling melemparkan senyuman. Tiara belum bisa mengendalikan degup jantungnya yang masih berdetak kencang.


"Makasih, mas." Tiara mencium pipi Ilham sebagai tanda terimakasih.


"Youre welcome, beib." Tiara terkikih saat suaminya berbicara seperti itu. Rasanya aneh saja mendengar pelafalan bahasa inggris lelaki itu.


Aku tidak tahu kalau hari ini ulang tahunku. Merayakannya saja tidak pernah. Ini adalah perayaan yang pertama kalinya buatku.


Terimakasih, mas. Kejutan ini tidak akan aku lupakan seumur hidupku.


"Yuk... mereka sudah menunggu kita." Ucap Ilham menggendong istrinya ala bridal style.


"Kita mau kemana lagi, mas."


Ilham hanya diam saja. Sepanjang perjalanan menuruni tangga dirumah sakit istrinya terus bertanya tentang tujuan mereka. Tapi tetap saja lelaki itu bungkam seribu kata.


Mobil akhirnya membawa mereka pergi dari rumah sakit. Pemberhentian tertuju pada hotel mereka, dimana sebuah aula yang mereka masuki.


"Mas, ini bukannya aula yang dulu dipakai buat bridal shower Gita. Kenapa kita disini?"


Ilham membuka pintu ruangan tersebut. Gelap dan sepi suasananya. Tiara memegang keras baju suaminya, dia takut gelap. Tiba-tiba dia merasa suaminya lepas dari genggamannya.


"Mas...." pekiknya ketakutan.


Tiba-tiba lampunya menyala.


####


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate

__ADS_1


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung


__ADS_2