
Masih berada di hotel milik ine
Hari kedua
Pukul 08:00 WIB
Tiara membuka mata, terpampang nyata dihadapannya wajah yang sedang tertidur pulas. Tangannya membelai wajah itu dengan pelan.
Maafkan aku, mas. Gara-gara aku kamu harus rela libur dari pekerjaanmu. Gara-gara aku, kamu bertengkar dengan orangtuamu. Tapi aku senang karena kamu mau menemaniku sepanjang waktu. Menjagaku setiap saat, semoga dengan semua permasalahan menguatkan cinta kita.
Terimakasih atas cinta yang selama ini kau curahkaon untukku. Terimakasih karena kamu tetap menungguku hingga kita menjadi halal.
Maafkan aku yang selalu meragukan perasaanmu selama ini. Aku tahu kamu saat itu sedang dilema antara melupakan gita dan memperjuangkan perasaanmu padaku.
Tiara beranjak dari tempat tidur. Membersihkan kamar yang berantakan karena habis menonton drama romantis bersama sang suami. Awalnya Tiara ingin menonton film coming soon, Film thailand yang serem abis. Tapi sayangnya suaminya menolak.
"Nanti kalau kita punya rumah sendiri. Aku akan pasang tivi besar untuk nonton berdua dikamar." Janji Ilham saat menonton drama romantis berjudul "This time".
"Jangan, mas."
Ilham mengkerutkan keningnya "Kenapa? Bukannya itu hal romantis untuk pasangan seperti kita."
"Mas, kasihan anak kita nanti terganggu tidurnya. Kalau anak kita sudah punya kamar sendiri baru bisa seperti itu." jelas Tiara.
Jangankan anaknya, dia saja kadang sering nggak bisa tidur kalau edwar sedang menonton bola malam-malam.
Setelah mengenang obrolan indah malam tadi. Tiara bangkit akan membersihkan kamar yang sedang ditempatinya. Tubuhnya tertahan oleh balungan tangan besar yang melingkar di tubuhnya. Dengan pelan memindahkan tangan itu, tapi bukannya terlepas malah tambah erat.
"Kamu sudah bangun kan, mas."
Masih mode terpejam " Aku belum bangun sayang."
Tiara tertawa melihat tingkah suaminya "Belum bangun tapi bisa menyahut ucapanku."
Tiara merasa tangan itu merasa tubuhnya keatas kasur. "Maaaaaas" Pekiknya. Posisi tubuhnya sudah dibawah suaminya.
Ilham membalikkan tubuh Tiara posisi dibawahnya. Tanpa permisi Ilham sudah mendaratkan bibirnya di leher istrinya. Meninggalkan tanda kepemilikan di leher Tiara.
"Mas, aaaahhh" Terdengar ******* dari bibir istrinya.
Ilham tersenyum melihat istrinya menikmati momen ini. ******* terus terdengar dari bibir keduanya, dimana mereka melakukannya dengan status yang sudah halal.
__ADS_1
Sekarang mereka adalah sepasang suami istri. Dengan perjuangan cinta mereka yang begitu berat. Mengejar restu ibu Aisyah lalu papa Adolf yang sangat keras hatinya. Dirinya bersyukur sudah bisa menghalalkan pujaan hatinya dan sekarang mereka dititipkan anugerah yang terindah.
Ilham melakukannya dengan pelan mengingat istrinya sedang hamil tiga minggu.
"Mas, jangan dong. aku lagi hamil, nih." protes Tiara.
"Nggak papa, ti. Aku akan pelan-pelan nih." Ilham membelai rambut istrinya.
Langit siang sudah semakin terasa teriknya. Keduanya masih berbaring terbalut selimut. Setelah bergeriliya membara, Ilham kembali terlelap. Tapi tidak dengan Tiara. Dengan cepat dia berlari kekamar mandi, memuntahkan isi perutnya.
Ilham meraba bantal disampingnya, tak ada sang istri.
"Kamu nggak papa,sayang."
Tiara melambaikan tangannya, memberi sinyal kalau dirinya baik-baik saja. Tapi tetap saja Ilham tak percaya, apalagi melihat wajah istrinya sangat pucat. Lelaki itu menuntun sang istri merebahkan dipembaringan.
"Aku nggak papa, mas. Ini biasanya kok, namanya juga bawaan ibu hamil." Tiara meyakinkan suaminya kalau itu hanya gejala wanita hamil.
"Tapi kamu pucat sekali,sayang"
Tiara mencoba tertawa paksa "Mas, kamu ini. Kayak nggak berpengalaman aja. Bukannya kamu pernah menghadapi saat.." Tiara menghentikan ucapannya.
"Maaf, mas kalau aku mengingatkan kamu soal Raisa. Aku nggak ada maksud mengungkit soal itu."
Tiara memeluk Ilham, menguatkan suaminya agar tidak terpuruk dengan masa lalu.
"Mas, kamu harus bangkit dari semua ini. Aku yakin kamu bisa berubah menjadi lebih baik. Kan ada aku dan dedek utun yang selalu bersamamu."
Ilham meletakkan tangannya diatas perut istrinya.
"Kamu lihat, nak. Mamamu itu orang yang bijak. Setiap tutur katanya yang lembut papa makin cinta."
Tiara mencubit pinggul suaminya "Auuuw, kok aku dicubit, sih." Ilham meringis kesakitan.
"Gombal!" Tiara mencibir suaminya.
"Itu bukan gombal, sayang. Itu dari hati yang lebih dalam."
"Tetap saja terdengar gombal." Lagi-lagi Tiara memanyunkan bibirnya.
"Jangan, sayang." Rengek ilham mencubit bibir Tiara.
__ADS_1
"Apanya yang jangan sih, mas?"
"Jangan bikin aku nggak kuat iman melihat bibirmu. Tapi ternyata aku benar-benar tidak kuat." Ilham menuntun kepala istrinya, menikmati indahnya bibir sang istri. Tiara menarik rambut suaminya memperdalam rasa bibir suaminya.
"Mas"
"Hmmm... Apa sayang?"
"Sampai kapan kita seperti ini terus. Bersembunyi dari mama mila dan papa Pramono. Kalau seperti ini, kesannya aku yang mengajakmu membangkang pada mereka."
Ilham merubah posisi duduknya sejajar dengan Tiara. Sepertinya layaknya seorang murid mendengar penjelasan guru, tangan Ilham menopang pada dagunya.
"Kamu mau pulang, sayang? Aku sih tergantung kamu. Kalau kamu siap bertemu mereka, kita pulang. Aku mengajak kamu kesini supaya kita bisa menenangkan diri dulu. Aku takut kamu down lagi melihat sikap mereka."
"Mas, aku siap bertemu mereka asalkan kamu tetap disampingku. Aku akan kuat melaluinya asalkan kamu tidak meninggalkan aku." Ucap Tiara memegang erat tangan Ilham.
Baginya cinta yang dimilikinya adalah sumber kekuatan. Dimana sejak mereka pacaran hatinya tetap terpaut pada lelaki itu, meskipun dia hampir menikah dengan Jonathan dan Ilham pun hampir menikah dengan Jihan. Tapi tetap saja, perasaan cintanya pada Ilham tak tergores. Buta memang, secara dia tahu bagaimana Lelaki itu selalu memperlakukannya seperti Gita. Bahkan dia yakin masih ada sisa cinta Ilham pada Gita. Buktinya mereka harus menginap dihotel yang memiliki kenangan pada Gita.
Sekarang masalah yang mereka hadapi cukup rumit. Mama Mila dan Papa Pramono tidak percaya bahwa bayi yang dikandungnya adalah cucu mereka. Semua berawal dari Ilham yang sangat meyakini bahwa dirinya mandul. Tapi setelah 4 bulan menikah mereka dititipkan janin. Bagi Tiara dan Ilham itu adalah keajaiban yang harus di syukuri.
"Oke... besok kita pulang. Kita temui mama dan papa, kita hadapi mereka maunya apa? Tapi kalau mereka masih belum terima, kita tinggalkan rumah." Ucap Ilham dengan lantang.
Tiara menggelengkan kepalanya. Pergi dari rumah bukan solusi yang bagus menurutnya. Kalau bisa dihadapi kepala dingin tanpa harus mengandalkan emosi.
"Mas, aku mandi dulu, ya. Aku gerah" Tiara beranjak dari tempat tidur.
Saat sampai di pintu kamar mandi..
"Maaaas turunin, aku!"
...#####...
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
__ADS_1
Bersambung