Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
133. Teror "R"


__ADS_3

Suamiku...


Dialah ayah dari anak-anakku, Bila dekat suka salah paham, saat jauh aku justru merindunya. Dia selalu ada dalam suka dan duka.


Semoga Allah menguatkan cinta kita. Semoga kita tetap seperti ini selamanya.


Terimakasih atas sikap sabarmu selama ini. Cintamu, pelukanmu, senyummu tak pernah pudar. Walaupun aku sering ngambek.


I love you


Siti Marlina


...💓💓💓💓...


Tiara atau Siti duduk merenung diteras rumah kediaman Wijaya. Entah kenapa kejadian tadi masih membingungkan baginya. Kenapa suaminya sangat marah saat keluarga pasiennya memberikan hadiah? Menurutnya, seharusnya Ilham senang karena itu bentuk rasa terimakasih pasien pada dokternya.


Sebenarnya ada apa sih, Mas. Bukannya wajar kalau mereka memberikan tanda terimakasih karena kinerjamu. Apa ada hal yang tidak aku ketahui?


Tiara masih merasa heran dengan sikap suaminya yang menurutnya aneh. Saat hendak kembali kedalam matanya tertuju pada sebuah kertas amplop coklat didekat pintu.


"Ini surat apa?"


Sebuah tulisan bertuliskan tinta merah darah.


JANGAN GANGGU SUAMIKU


By R...


Siapakah pengirim berinisial R ini?


Kalau dia bilang suami, berarti ..


Ah, tidak mungkin dia ... dia sudah meninggal..


"Nggak .... nggak mungkin! Nggak mungkin!"


Tiara berjalan menjauhi surat tersebut. Surat yang pemiliknya "R" sangat di yakininya adalah dari Raisa. Karena yang dia tahu mantan istri Ilham nama depannya R ya Raisa.


"Ti, kamu kenapa?" Mama mila melihat menantunya seperti ketakutan.


"Nggak mungkin! Nggak mungkin!" Tiara memeluk mama mertuanya seperti ketakutan.


"Ti..." Mama mengguncang tubuh menantunya yang sudah tak sadarkan diri.


"Indroooo!"


Lelaki itu datang terbirit-birit saat mendengar teriakan majikannya.


"Ada apa, bu?" Mata indro beralih dengan sosok yang di papah mama Mila "Non Tiara kenapa?"


"Nggak tahu, ndro. Saya temukan dia udah ketakutan terus pingsan."


Mama Mila dan Indro mengangkut tubuh Tiara keatas ranjang. Dengan telaten mama Mila mencoba membuat menantunya sadar dari pingsannya.


"Ham, kamu dimana?"


"Nanti selesaikan urusanmu, istrimu pingsan kayak orang ketakutan."


"Oke mama, tunggu."


Aku mendengar mama menelepon mas Ilham. Sayup-sayup kutatap wajah itu terlihat cemas. Mama mertuaku yang satu ini tidak pernah memperlakukanku layaknya menantu, tapi dia seperti menganggapku layaknya anak perempuannya sendiri.


"Ti"

__ADS_1


Mama Mila melihat menantu mulai sedikit sadar. Tangannya disandarkan kebahu Tiara, menggantikan posisi bantal.


"Ma.." Suaranya terdengar serak.


Mama mila menyodorkan segelas air putih pada Tiara.


"Kamu kenapa, nak?"


"Aku .."


"Sayang!"


Ilham datang dengan wajah penuh khawatir. Ilham memeluk tubuh istrinya. Tiara membalas pelukan suaminya, tubuhnya masih terasa bergetar.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Aku takut, mas." Suara Tiara semakin bergetar.


"Takut kenapa?"


"Mas, bisakah kita bicara berdua."


Mama Mila memilih keluar dan membiarkan keduanya didalam kamar.


"Sayang, kamu sebenarnya kenapa?"


"Mas, aku boleh bertanya?"


Ilham mengangguk "tanyalah?"


"Mas, apakah Raisa benar-benar sudah meninggal dunia?"


Ilham lumayan terkejut dengan pertanyaan Tiara. Kenapa tiba-tiba istrinya menanyakan soal Raisa. Lalu lelaki itu mengangguk pelan. "Bukankah kita sudah lihat makamnya?"


"Apa kamu datang saat pemakaman Raisa?"


Tiara memeluk suaminya masih dalam kondisi ketakutan "Aku yakin dia masih hidup, mas! Aku yakin dia masih hidup! Dia pasti kembali datang merebut kamu! Aku takut, aku takut!"


"Ti, dengarkan aku. Walaupun seribu Raisa datang menghancurkan cinta kita. Aku tidak akan tergoda sedikitpun. Karena apa? Hatiku cuma buat kamu, sekarang, esok dan selamanya. Asal kamu percaya sama aku, Ti. Itu sudah cukup menguatkan aku untuk bertahan.


Kamu lupa janji kita?"


Tiara menggeleng, dia tidak akan pernah lupa janji cinta mereka "Aku adalah rembulan yang menyinari kamu dalam kegelapan. Dan kamu.."


"Dan aku adalah matahari yang menghangatkan hatimu."


Tiara membenamkan wajahnya ke dalam dada six pack nya Ilham. Wangi parfum khas yang membuat dia enggan mengeluarkan wajahnya. Menumpahkan rasa sayangnya yang terdalam. Jiwanya menghangat atas perlakuan suaminya.


"Aku mencintaimu, mas."


Ilham menatap wajah Tiara, tangannya dibenamkan kedalam tengkuk leher istrinya. Sedikit melerai pelukan "Aku juga mencintaimu, sayang."


"Papa juga mencintaimu,nak." Ilham mencium perut istrinya yang mulai membuncit.


Dugh!


Seakan paham tentang perasaan kedua orangtuanya, Tiara merasakan tendangan keras dari kandungannya yang sudah masuk lima bulan.


"Mas?"


"Iya, sayang."


"Kamu belum cerita padaku soal pasienmu yang membuat kamu tidak mau menerima hadiah mereka."

__ADS_1


Ilham menunduk, sesekali menghela nafas, melepaskan beban yang menghimpit didadanya. Ilham memandang wajah Tiara yang masih menunggu ceritanya. Tangannya membelai wajah cantik dihadapannya.


"Tapi sebelum aku cerita, kamu harus jawab dulu. Kenapa kamu tiba-tiba pingsan lalu menanyakan soal Raisa. Apa arwah Raisa gentayangan?"


Tiara mengeluarkan kertas ancaman yang dia temukan di bawah pintu.


"Disitu dia bilang jangan ganggu suamiku. Inisialnya "R" bukankah mantan istrimu yang berinisial R itu Raisa."


Ilham terdiam saat membaca surat kaleng yang dipegangnya. Sesaat dia mengerumuk kertas tersebut menandakan emosi yang mulai tersulut.


"Mau kemana,mas?"


"Ke rumah sakit."


"Jangan, mas. Aku takut."


Tiara menahan tubuh suaminya agar tidak pergi keluar rumah. Perasaannya masih tidak karuan karena kejadian tadi.


"Sayang" Dia ingin melabrak keluarga Barata


"Pokoknya kamu nggak boleh pergi." Tiara memeluk pinggang Ilham, tampak nada ketakutan dalam dirinya.


"Ham, Siti benar. Dia masih syok tuh, kamu malah mau ninggalin dia. Jadi suami itu harus siaga." Ucap mama Mila yang muncul ditengah mereka.


klik


"Apa, ham? kamu mau keluar dari rumah sakit itu?" Mama Mila kaget saat Ilham mengumumkan bahwa dirinya akan resign.


"Aku sudah tidak sejalan bekerja disana, ma. Banyak hal yang bertentangan dengan nuraniku sebagai seorang dokter." Jawab Ilham.


"Apa karena kejadian arisan itu?" Tanya mama Mila.


"Salah satunya iya. Mereka mengatasnamakan uang untuk kepentingan rumah sakit. Tapi mereka mengabaikan kepentingan pasien. Bahkan kakak sepupu papa yang tersayang itu juga terlibat."


"Sasono bilang kamu menolak menangani pasien anak dari Barata, benar itu ham?" Papa mulai menginterogerasi putra.


"Iya, pa." Ilham mengangguk.


"Dengan alasan menjaga perasaan istrimu. Alasan apa itu, ham, apakah istrimu melarang kamu memeriksa pasien wanita."


Ilham menatap kearah Tiara yang mulai syok dengan pertanyaan Pramono.Tiara mencoba jauh dari arah pembicaraan, seakan dia sedang dipojokan. Tapi Ilham menahan tangan istrinya. Tatapannya mengisyaratkan agar istri tenang dan tetap disisinya.


"Ma, pa, ini tidak ada hubungannya dengan Siti. Ini karena putri pak Barata yang mengira aku adalah mendiang suaminya. Sehingga dia seperti mulai terobsesi sama aku. Apakah salah kalau aku mencoba mencegah sebelum hancur nantinya."


Semua terdiam saat mendengar penjelasan Ilham. Papa pramono menatap menantunya. Ada rasa bersalah saat melihat Tiara mulai tertekan.


"Maafkan papa dan mama, ti. Bukan maksud kami menyalahkanmu atas semua masalah ini. Tapi papa kaget dengan keputusan Ilham yang mendadak ini."


Tiara masuk kekamar untuk menenangkan perasaannya.


Bruuuuk!


"Maaaass, sakiiiit!"


Ilham berlari kekamar melihat apa yang terjadi.


"Ya Allah, SITIIII!" Seketika tubuh Tiara mendadak lemas saat melihat darah mengalir di pelipis kakinya.


Tetap terus pantengin cerita ini.


Teimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya

__ADS_1


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


__ADS_2