
Kau bukan cinta pertamaku
Namun aku berharap
Mulai hari ini, saat ini
Engkau cintanya aku
Kau bukan cinta pertamaku
Namun aku berharap
Mulai hari ini, saat ini
Engkau cintanya aku
Mulai hari ini, saat ini
Engkau cintanya aku
...🍇🍇🍇🍇...
Di kediaman Orangtua Sari
"Duh, anak ibu cantik sekali"
Sari menunduk malu saat Ibu kurnia memuji dirinya. Setelah satu bulan mencoba move on dari Akbar, mau tidak mau dia harus menerima pilihan orangtuanya.
Sari menatap dirinya dengan takjub didepan kaca, balutan set kebaya silver dipadu dengan hijab senada membuat auranya bersinar. Gadis berusia 27 tahun menatap kaca sambil tersenyum manis.
"Selamat, ya Sari." Ucap bu Hanum istri p RT
"Terimakasih, bu." Sari membalas salam bu Hanum.
"Kamu sudah siap, nak. Keluarga nak Radit sudah datang." Ucap ibunya Sari saat memasuki kamar putrinya.
"Sudah,bu." Sari melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.
*Hari ini aku akan menerima lamaran seorang lelaki yang bernama Radit. Aku belum pernah bertemu dengan lelaki itu, tampankah dia atau mungkin biasa saja. Setelah beberapa aku menata hati karena Akbar menikah mbak Jihan. Sungguh, saat aku mengantarkan Akbar ke akad pernikahan Jihan dan Rangga. Yang nyatanya Rangga tidak datang, hingga saat mbak Clara memberikan photo Akbar yang diakuinya lelaki dicintai Jihan.
Entah kenapa saat melihat Akbar melangsungkan Akad, ada rasa sesak didada. Mungkin inikah namanya patah hati. Sakit sekali. Tapi semua terobati dengan adanya lamaran ini*.
__ADS_1
"Kak sari."
"Eh, Mayang. Kamu kapan sampai ke jakarta."
"Baru sampai, aku langsung dengar kabar kakak mau lamaran. Langsung cus kesini. Selamat ya kak, Akhirnya kamu move on juga dari Bang Akbar."
Ini adalah Mayang, adiknya Akbar. Setelah menikah Mayang diboyong ke Bandung sama suaminya. Dan Rumah Orangtua mereka ditunggui sama Akbar dan Jihan. Sebuah rumah kecil yang aku pikir Jihan akan susah beradaptasi. Apalagi Jihan anak Orangkaya.
"Sari."
Sari menoleh ke sebuah suara, seorang lelaki berambut gondrong berdiri diantara para tamu. Lelaki yang sudah enam bulan menjadi atasannya. Sari mengkerut keningnya, pasalnya dia tidak mengundang bosnya itu.
"Pak Jo. Ngapain kesini malam-malam?"
"Loh, kamu ngadain acara tapi tidak mengundangku."
"Kan baru lamaran, pak. Belum nikah. Bapak tenang saja nanti pas aku nikah pasti aku undang kok. Sekalian ajak calon bapak. Ups maaf pak, aku lupa kalau bapak jones."
Jo menggeleng melihat mulut Sari yang tanpa filter. Tapi itulah daya tariknya wanita yang ada didepannya, cantik, lincah, cerewet jauh dari bayangan kalem. Selama ini Jo dipertemukan dengan wanita berbagai karakter.
"Padahal saya mau ajak kamu dinner undangan tuan Gilbert atas kesuksesan tender kita. Tapi ternyata momennya tidak tepat. Maaf, ya."
"Tunggu,pak. Saya mau ikut kalau memang ada kaitannya dengan urusan kantor."
"Ini acara kamu, sari. Kok malah mau ikut sama saya. Aneh kamu."
Sari hanya terkekeh, terlihat senyum manis wanita itu. Tawanya memperlihatkan ginsulnya, membuat Jonathan terdiam sejenak. Meraba jantungnya berdetak sangat kencang.
Seketika wajahnya menoleh dan matanya bertemu mataku. Sebuah senyum terbit dari bibirnya. Wajahnya bersinar terkena pantulan cahaya malam. Tanpa sadar, aku membalas senyumannya. Lalu, ia beranjak dari tempatnya dan pergi bagai daun diterpa angin. Saat itu aku menyadari, bahwa aku jatuh cinta. Mungkin ini konyol.
Konyol, iya rasanya aneh. Sari bukan wanita idamanku, bahkan Siti jauh lebih baik dari Sari. Tapi kenapa aku selalu tak berkutik saat didekatnya. Empat bulan kami satu team kerja. Bertemu setiap hari, inikah namanya tak kenal maka tak cinta, karena seringnya bersama maka cinta itu tumbuh.
"Pak... Pak Jo!" Suara itu mengagetkan lamunan Jonathan.
"Eh, Iya sampai dimana pembicaraan kita."
Sari mengerutkan keningnya "Pembicaraan? Tadi bukannya bapak mengajak aku ke acara dinner bareng tuan Gilbert."
"Eh, percuma. Ini udah jam berapa. Aku udah terlanjur batalin acaranya."
Sari menepuk bahu Jonathan layaknya sebagai teman akrab. "Ngomong, pak daritadi."
__ADS_1
"Lah, saya mau ngomong kamunya lalu nyelonong aja ngajak pergi. Lagian kamu aneh, malam lamaran kok malah kayak orang mau kabur."
"Heheheehe ... Maaf, pak." Sari menyengir.
Sari menghela nafas panjang. Acara lamaran memang sudah selesai tapi entah kenapa dia belum sreg sama Radit. Karena selama ini dia cuma dengar cerita dari orang-orang tentang Radit yang katanya lelaki baik, Yang katanya tidak banyak tingkah, dan hari ini Sari benar-benar bertemu dengan sosok yang dipuji-puji warga kompleks rumah.
Rumah Radit tak jauh dari kediaman Sari. Tapi sepanjang Sari tinggal disana, dia baru tahu kalau pak Dahlan punya anak laki-laki yang sepantaran dengannya.
Kaki sari terhenti pada sosok dua sejoli yang sedang bertengkar. Sosok pria yang baru saja dikenalnya, dan wanita yang masih asing dimatanya.
"Dit, aku hamil."
Lelaki itu menatap sang wanita dengan sinis.
"Terus apa hubungannya denganku?"
"Aku hamil anak kamu, Dit."
"Jangan ngaku-ngaku aku tidak mungkin punya hubungan perempuan seperti kamu. Bisa jadi ini anak pria lain."
Plaaaak
"Dit, aku pikir kamu beda. Makanya aku terima lamaran kamu. Tapi ternyata wajah polosmu menipu. Aku bersyukur belum menjadi istrimu."Amuk Sari.
"Sar, kamu jangan percaya sama dia. Dia perempuan murahan.Kamu lihat pakaiannya saja tidak mencerminkan wanita baik-baik. Percaya sama aku, Sari." Radit memohon-mohon sambil memegang tangan Sari. Sari mencoba berontak tapi Radit lebih kuat.
"Kamu bilang dia bukan perempuan baik-baik. Lalu apa bedanya dengan kamu, Dit. Kamu meladeni dia itu berarti kamu sama aja dengan dia. Lepasin aku, dit! Lepasin!"
Radit menyeringai "Aku nggak akan lepasin kamu, Sari. Ingat orangtuamu punya hutang dengan bapakku. Jadi lunasin dulu hutang keluargamu baru aku lepasin kamu." ancam Radit.
"Hey! Jangan kasar dengan wanita!"
Radit tak peduli. Tangannya terus menyeret Sari ke tempat yang jauh. Wanita itu terus menjerit saat Radit menyeret ke tempat yang gelap.
Bugh!
Kalau kau sentuh Sari kau akan mati.
Aku akan melindungimu Sari. Tidak akan kubiarkan lelaki manapun menyentuhmu. Tidak akan kuulangi kesalahanku pada Siti dulu, Dulu aku tidak pernah berada didekat siti saat dibutuhkan.
Jo meraih tangan Radit langsung menghujam perut dan wajah Lelaki itu. Sari yang melihat adegan itu mencoba melerai, tapi kaki sakit akibat terjatuh saat didorong Radit.
__ADS_1
"Pak .. udah ..." Lerai Sari.
Suara Sari membuat keduanya berhenti saling melemparkan bogem ke arah lawannya. Jo terus menghajar Radit, begitu pun sebaliknya. Sari menarik tubuh Jo jauh dari jangkauan Radit.