Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
72. Lamaran dadakan (Jihan dan Jo) 1#


__ADS_3

JIHAN


Aku terbangun ketika mendengar suara handphone.


Ah, tadi malam aku begadang setelah telponan semalam dengan Jonathan.


Aneh,kan! Sama, aku juga merasa aneh. Jonathan yang selama ini aku kenal tapi tidak terlalu dekat. Tiba-tiba menelponku dengan alasan yang tidak masuk akal.


"Aku lagi suntuk butuh teman ngobrol!" Ucapnya ditelepon.


Suntuk! Ngapain dia malah menelponku? Kayak kurang kerjaan saja!


Apa mungkin dia masih belum menerima rencana pernikahan siti dan Ilham? Ah, udah tua tapi masih ngambek seperti anak kecil! Dasar bujang lapuk!


Pov Author


Jihan terbangun di jam subuh, dikagetkan dengan telepon dari Jonathan. Padahal lelaki itu sudah menelponnya dari jam 11 malam sampai 3 pagi. Banyak diobrolin lelaki, sampai telinga jihan panas, lalu jihan membiarkannya dan tertidur.


Bagi Jihan sangat aneh saat beberapa hari ini Jo memberi perhatian padanya. Dulu saja, Saat Jihan masih dekat dengan ilham, Jo tidak pernah begitu baik padanya. Sekarang, lelaki itu tiba-tiba mendekatinya.


zreeet zreeeet


Dia lagi! astaga!


Jihan mengabaikan telepon jonathan, kakinya melangkah menuju kamar mandi. Guyuran air shower membasahi tubuh indahnya.


Selesai mandi, jihan mengintip handphonenya. Begitu banyak panggilan video call dari Jo. Kembali mengabaikan telepon lelaki itu, dia malas meladeni curhat yang menurutnya nggak penting.


Pada akhirnya Jihan menyerah saat teleponnya kembali berdering.


"Pagi"


Jihan terlonjak kaget saat seseorang yang asing dimatanya.


Ini nomor jo kan!


Kenapa orang lain yang memakai handphone jo.


"Ka...mu .. si ..siapa?" tanya jihan dengan hati-hati


"Halo nona Jihan Almira!" masih terdengar sayup-sayup suara lelaki itu.


Suara persis dengan kak Jo.


"Ini..." Jihan masih menebak- nebak apakah yang meneleponnya itu jonathan.


"Kaget, ya? Ini aku, Jonathan Abraham. Si pengangguran banyak acara.


Sheila aja tadi hampir gebukin aku dikiranya aku penyusup?"


Lagi-lagi jihan harus mendengarkan celotehan yang menurutnya nggak penting.

__ADS_1


Dia juga merasa bodoh meladeni Jo yang terus-terusan mengganggunya. Jihan mematikan Video call lelaki itu dan bersiap-siap hangout bersama Clara, sahabatnya.



"Kamu yakin Jo itu suka sama kamu?" tanya clara.


Jihan dan Clara saat ini sedang berada di sebuah cafe ternama. Mereka duduk di arah teras biar bisa melihat langit siang jakarta.


Jihan menceritakan perilah jonathan yang beberapa hari ini mengusiknya. Kepada Clara, Jihan mengatakan dia mulai risih sama Jo.


"Kenapa tidak kamu abaikan? Ntar juga capek sendiri!"


Iya juga sih! Kenapa nggak aku abaikan aja! Pusing tau sama ini orang!


" Tapi kamu harus hati- hati jihan."


"Kenapa?"


"Kamu lupa kalau papamu pernah bermasalah dengan keluarga jo."


Clara mencoba mengingatkan jihan agar hati-hati pada Jo. Dia ingat bagaimana papanya jihan merebut perusahan dan semua aset keluarga jo.


Lama Jihan berpikir tapi entah kenapa dia tidak percaya dengan pikiran Clara.


"Jihan?"


Jihan menoleh kearah suara. Seorang lelaki yang sangat dibencinya sekarang ada didepan mata.


Kakinya berdiri sambil menarik Clara pergi dari cafe. Tangan itu menahan Jihan. Dodo memeluk jihan dengan erat.


Jihan risih dengan ucapan dodo. Sejak kejadian itu, jihan sudah tidak mau tahu lagi soal dodo. Baginya kejadian itu merupakan akhir dari segalanya.


"Lepasin, Dodo!" Jihan melepas tangan Dodo yang sudah memeluknya.


Dodo tetap memeluknya.


"Aku akan tanggung jawab. Aku akan menikahimu, jihan."


Plaaaaak


"Jangan kurang ajar kamu, ya. Tidak akan pernah aku mau menikah dengan kamu!"Jihan menampar wajah dodo.


Buggg!!!


Bogem mentah menghantam wajah dodo. Tak hanya sekali tapi berkali-kali mengenai perut, sehingga lelaki itu terpental.


"Jangan kamu ganggu jihan!"


"Kak jo!" ucap jihan lirih.


Jihan kaget ternyata jonathan menyusulnya. Dalam hatinya merasa dia mulai di kuntit sama lelaki itu.

__ADS_1


"Terimakasih, kak jo" jawab jihan sambil memeluk lelaki itu.


"Kamu nggak papa, kan? Nggak ada yang luka kan?"


Jihan menggeleng.


"Ingat jihan jangan terpedaya sama jo." Pesan clara di whatsApp nya.


Jihan dan Jo duduk di sebuah pelataran taman. Terdengar sebuah isakan tangis dari gadis itu. Jo menatap Jihan dengan tatapan penuh arti.


"Kamu ada urusan apa sama Dodo?"


Jihan hanya terdiam. Baginya terus terang pada Jo juga percuma. Karena jo masih orang luar baginya.


"Nggak ada apa-apa kak? Kak jo ngapain kesini, nyusul aku?"


Jo tertawa "Idih ge-er. Ngapain juga aku nyusul kamu? Kayak kurang kerjaan aja?"


"Lah, emang kak jo punya kerja?" jihan sambil tertawa mendengar ocehan jonathan.


"Kan cantik kalau ketawa."


Pletak


"Jadi kalau diam nggak cantik, gitu?"


"Hahahahaha.. Dasar perempuan, dibilang cantik salah. Dibilang jelek juga marah. Udah ah, aku mau jalan dulu. Kamu mau ikut nggak?"


Jihan mendongak keatas karena jo sudah berdiri didepannya. Jihan menggeleng karena dia malas terlalu dekat dengan Jo.


"Ya, udah kalau nggak mau ikut. Tapi, aku nggak tanggung jawab kalau balik lagi dekatin kamu. Tapi aku juga nggak rela kamu diganggu sama Dodo."


Jihan kaget mendengar ucapan Jo yang terakhir. Lagi-lagi ucapan Clara terngiang dipikirannya. Jihan mulai merasa waspada dengan sikap manis jonathan.


Kak jo aneh. Seolah sikapnya memberi harapan. Tapi tenang saja, aku tidak akan mudah tertipu oleh lelaki seperti dia. Siapa tahu memang benar yang dibilang Clara kalau Lelaki ini ada maksud tertentu padaku.


Aku tidak akan tertipu!


Tidak akan!


Apa benar jo punya maksud tertentu mendekati Jihan?


Atau memang jo sudah mulai move on dari siti.


####


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate

__ADS_1


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung


__ADS_2